
"Please..jangan mengundang pamit, kenapa terlalu mementingkan amarah saat bersitatap tanpa alasan?"
πͺπͺπͺ
Banjarmasin adalah destinasi memecahkan rekor terbanyak JJS nonton konser bule london.
Memang konser tour itu telah berlalu, tapi kok buat dada Adinda sesak?
Iri bercampur cemburu dengan kekompakkan mereka begitu nyata. Bukan karena bisa nganyunkan langkah untuk nonton, melainkan miris memotret sebuah kelas sistem informasi melebur tak tersisa kasih lagi.
Hah. Apakah Harris J tahu sedang kuliah? Ketika pekerjaannya sudah di hentikan karena pesewat rusak dan beralih pada cita?
Menggeleng, "tidak sama sekali." Gumam Adinda sendiri.
Kenapa sih harus cemburu dengan IPK yang memang murni di dapati bukan nebeng otak teman?
Harus kah masih memelihara tradisi pembullyan dalam kelas?
Sangat mendesak-desak dada, ketika mengetahui fakta menyeruak sangat getir lewat bingkai bermuka dua dari mereka.
Nava yang mematah-patah harap mendapati tawa seringkali terawat kala sampai di kampus.
Harris J juga masih belum ada kabar pun JJS yang sudah terkumpulkan dalam grup kepenulisan, mendadak hilang perlahan-lahan, hingga menyisahkan beberapa saja di sana.
"Din.." Ika memanggil, ada intonasi yang menggantung, sangat ragu campur takut.
Cukup buat Adinda mengernyit, bingung, hal apa yang buat teman kepercayaan takut menyampaikan sesuatu ke dirinya?
"Jangan marah eh?"
Sangat greget dengan sikap Ika pagi ini.
"Kenapa kah?" Desak Adinda tak sabaran.
"Saya tidak ambil kamu punya variabel matkul."
Deg. Ada getir-getir tercetak di wajah Adinda, memang ini sudah masuk semester lima, tapi harus kah di permasalahkan lagi waktu semester dua?
Variabel dimaksud adalah matkul yang di kontrak dari hasil ipk semester lalu. Jika ipk mahasiswa capai 24 sks, paling tertinggi, bisa kontrak matkul atas. Tapi, kalau ada matkul di bawah eror di haruskan untuk prioritaskan matkul eror tersebut dan jika terdapat sisa dari jumlah sks itu, bisa ngambil matkul atas.
Dan, ini sudah masuk dua minggu aktif perkuliahan. Sudah dipastikan tidak bisa ngurus lagi di bagian akademisnya.
Lagian yak yang salah itu Nava sudah mengacak-ngacak hidup orang dengan dia yang salah padahal faktanya bukan gadis itu. Hanya untuk menutupi kesalahan diri. Maka dari itu Nava bersikap egois sampai separah ini.
Masih melekat kesalahan di semester dua, kentara kok tatapan intimidasi walau terlapisi tawa tetap terbaca oleh kedua sorot mata Adinda.
Kalau masih dendam, kenapa mau main sih?
Oh benar juga, "Din, mereka main tuh karna uangmu." Vero berkomentar.
Dia juga tidak mengelak kok kalau teman seangkatan batas memanfaatkan dari uangnya tidak tulus.
Jika dua minggu terpakai tak terbaring lemah diatas kasur kemungkinan takkan minta bantu sama teman yang sudah melukai harga dari kepercayaan.
βKetika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.β Β -Imam Syafi'i-
Hal paling dibenci adalah ketertutupan mereka persoalan matkul.
"Lain kali jangan kasih harapan kalau nggak bisa tolong."
Sungguh sangat kecewa sekali sama teman kepercayaan sendiri.
"Kenapa?" Yanti menyenggol lengan perempuan itu.
"Sa yang salah." Tutur Ika apa adanya.
"Karena?" Ih kenapa semakin kepo sih?
Memuakkan sekali. Kenapa saat ada prahara begini persoalan cita, harus kah ada keterlibatan tangan pun mulut hanya sekedar penasaran terus memperluas cerita jelek ke orang lain.
Hah. Membuang napas sangat lelah, memijit pelipis sedikit menahan emosi yang hampir saja meletup-letup hari itu juga. Lebih baik pergi dari depan wajah mereka terutama teman kepercayaan.
Ika menyadari kalau teman yang satu ini sekedar mencari celah untuk ungkit-ungkit permasalahan mereka berdua.
__ADS_1
"Tidak. Hanya ada masalah sedikit saja sama Dinda." Ika hanya cetuskan ini, hanya untuk menutupi perasaan salahnya.
Sedangkan gadis itu, bersiap mengenakan helm, bersamaan dengan dua temannya yang baru tiba, "mau ke mana, Din?" Marthin mengernyit diatas motor Irja.
"Pulang!" Ketus Adinda.
Disambut dengan ekspresi melongo hebat dong, sedangkan kuliah saja belum mulai sudah main pulang.
Adinda rasa sangat sesak sekali. Sungguh melukai jejeran krs itu berulang-ulang tanpa perubahan.
Memikirkan bahwa bergandeng bersama sembari merangkul cita tertatih-tatih tanpa harus meninggalkan teman seorang diri meratapi kegagalan tidak bisa mengimbangi langkah terbilang aksa dari mereka.
Tapi, kenapa pagi ini mendapati informasi sangat mengejutkan bercampur kesal, teman kepercayaan sendiri melukai harap untuk bisa berjuang kejar toga bersama?
Menangis bukan jalan terbaik menemukan solusi.
Bismillah, menekan tombol panggilan gratis di whatsapp.
"Assalamualaikum, kenapa dek?"
Cukup mendengarkan suara Lefan saja melegakan hati yang sedari tadi tertekan seorang diri.
"Dek? Kenapa diam?"
Belum ada respon, hanya deru napas terdengar.
"Kalau ada masalah, cerita. Jangan pendam sendiri."
"Hiks..Kak, kuliahku berantakan." Akhirnya tercetus juga kan.
"Kamu kuliah dek? Kok kakak tidak tahu kamu kuliah, bukannya kerja? Atau kerja sambil kuliah?"
Rasa nyeri masih berada di hati. Mengenai sks sangat disayangkan terbuang.
Kalau saja tahu Ika tidak bisa terpercaya dan menolong sepenuhnya, mungkin tergopoh-gopoh mengurus semuanya walau sakit berupaya tak menjadikan hambatan.
Mubasir sekali sks yang terbuang itu.
"Masuk angkatan 2016. Kak, kok sakit sih teman kepercayaan sendiri nolongnya setengah-setengah gini." Masih terdengar getir.
Bruntung memiliki kakak yang bukan hanya bawel, ngeselin melainkan beri pengingat tentang akhirat. Karena memang benar, sangat mudah bagi Dia untuk mendapati hal impossibel.
"Kak, tahu nggak kalau porsi otakku gak sepintar anak di luar sana, walau berusaha sekeras apapun, hasilnya tetap sama." Adinda sambil menjejerkan KRS itu diatas kasur, sambil meringis.
"Ade itu pintar kok, buktinya bisa buat novel untuk Harris J. Bahkan ada dalam versi inggris loh." Mengambil jeda tiga detik, "ingat, dek, tidak semua orang bisa di semua bidang. Bisa saja mereka yang pintar di akademik belum tentu menguasai di non akademik. Coba ade suruh mereka yang banyak bawa pulang pringkat satu untuk nulis novel? Pasti nggak bisa kan? Jadi, masing-masing orang sudah di berikan garis keistimewaannya sendiri."
Pintar buat novel kok di banggakan? Cibir gadis itu dalam batin, masih belum ikhlas sks yang terbuang sia-sia tidak bisa ngontrak matkul eror di semester bawah.
πͺπͺπͺ
Sorot mata penuh simfoni hangat, berubah amarah jauh sebelum kali pertama Lefan sodorkan surat tertinggal itu di bawah bantal gadis aksara.
Begitu nanar tahu fakta telah di sembunyikan sahabat gadis aksaranya selama hilang kabar ini.
"Kakak rasa kalian harus bicarakan masalah itu terutama kenapa bisa kamu hilang dan hanya kasih vidio thanks ke dia."
Ah, benar juga. Pelupuk mata yang berbalut intimidasi berubah melunak ketika diingatkan oleh vidio thanks saja setelah itu berangkat memenuhi undangan konser di Amerika.
"Ini nomornya Dinda, tapi satu hal yang harus kamu tahu, jangan lagi buat dia nangis. Okay?"
Tidak mengangguk pun menggeleng hanya menampilkan wajah datar.
"Thanks. Kalau begitu kakak mau makan apa? Biar saya yang traktir." Kata Harris J.
Menggeleng, "biar kakak saja yang kali ini traktir ade, sudah lama kan kita nggak ketemu?" Mengambil jeda, "kalau ketemu pasti ade yang selalu traktir."
Seulas senyum terbit.
Mereka saat ini duduk di restaurant favorit Restaurant Nandos Jl. Upper Tooting no. 224-226 London SW177EW yang jadi titik fokus untuk mereka diskusi dan ngobrol santai.
Nandos adalah makanan favorit rambut mie london itu.
"Kakak mau coba makanan Nandos?" Kata Harris, menawari.
__ADS_1
Satu alis terangkat, "Nandos? Makanan apa itu, dek? Kakak baru dengar." Lefan bingung.
Wajah-wajah terhiasi senyum mengembang lalu mengatakan kalau itu adalah makanan terenak yang ditemui Harris J dan selalu merindukan aroma tersebut kala konser di luar london.
"Boleh. Kakak pesan itu juga sudah." Putus Lefan.
Sementara makanan lagi di buat, mereka kembali mendiskusikan tentang Adinda, mimpi tak teranggap, hilang kabarnya bule itu, cita berantakan terutama JJS yang dirangkul cuma-cuma seorang diri.
"Kenapa sih dia keras kepala begini?! Kakak tahu, kalau dia berpikir keras, bakal buat kepalanya sakit."
"Hm. Kakak tahu hal itu." Lefan justru balas dengan santai.
"Kok kakak tidak larang dia?" Greget Harris J.
Bentar, "sebenarnya kamu peduli nggak sih sama kesehatan dan mimpi gadis itu?"
Ah, benar juga, hal ini sudah yang selalu mengusik isi kepala Harris J.
Jauh sebelum Lefan memberitahui persoalan antologi sedang di buat oleh Adinda seorang diri, lebih dulu tahu dari bunga harapannya.
Cukup buat dia hilang kabar untuk sesaat agar bisa buat dia memfokuskan diri istirahat, tapi satu fakta lain tahu dia kuliah dan berantakan, semakin menjalarkan amarah itu.
Malam pun tiba, setelah bersitatap siang tadi bersama Lefan ada satu keinginan mau disampaikan secara tegas ke gadis aksara.
"Assalamualaikum. Apa kabar?"
Suara yang berbulan-bulan ini di rindukan akhirnya kembali tertangkap daun telinga.
"Waalaikumsalam. Lagi santai saja, why?"
"Ada masalah kah dengan kuliahmu? Kenapa tidak kasih tahu kalau kamu tidak kerja?"
Hah? Jangan ngelawak bisa nggak sih? Dari mana saja sih bule rambut mie itu?
Seenak jidat menanyai kabar cita, sudah dipastikan Lefan yang menyampaikannya.
Duh, kenapa juga sih tahu cita sedang terbengkalai gini?
"Em..maaf yah, sepertinya kamu tidak ada hak untuk tanya kabar kuliahku."
Tidak ada respon selain deru napas yang beraturan terdengar lewat sebrang telpon via whatsapp.
Sebenarnya nyesek sendiri, tahu bule london selama ini di cari setelah bertamu lagi bukan hal keindahan di tawari melainkan keki.
"Kalau memang kamu serius dengan mimpi itu, fokus sama studimu dan insyaallah tahun depan kalau nilaimu ada perubahan, saya beri hadiah tiket liburan ke sini. Bagaimana?" Cerocos Harris J.
Sungguh ini kah yang di dengarkan Adinda, setelah pamit tidak berikan kabar setelah menangis sejadi-jadinya dalam kamar, sebab novel itu tidak di bawa pulang?
Setelah datang mengibarkan intonasi berbalut bengis?
Apakah adil dalam mengimbangi sebuah cita sedangkan semua terasa keluh untuk di susun ulang?
"Gadis aksara yang saya temui satu tahun lalu, bukan seperti ini. Jika memang masih dzolimi diri, lebih baik saya pergi."
Deg. Suara itu tidak terdengar main-main melainkan keseriusan telah terlantangkan.
"Harris..Ikanaide.." Lirih Adinda.
"Kalau kamu pergi, bagaimana saya ciptakan puisi indah di destinasi imajiku?" Imbuh gadis aksara itu, sangat kalut.
"Sudah saya putuskan kalau kamu tidak fokus dengan kuliahmu. Lebih baik saya pergi, oh satu lagi, novelmu tidak bakal saya minta kalau kamu masih menyiksa diri sendiri." Penuh dengan ketegasan dan penekanan dalam kata dari Harris J.
Bingung campur kalut. Dari mana rasa ketertakutan itu berasal?
Harris J melantangkan sebuah kata yang di mana telah mengetahui sedang nyusun mimpi JJS lewat antologi.
Tidak..tidak! Adinda menggeleng sekuat tenaga, menghapus semua ketertakutan itu dalam benak.
"Kalau kamu datang hanya buat saya nangis, lebih baik tidak perlu kasih kabar sekalian!" Amarah meletup-letup langsung mematikan sambungan itu.
Adinda tidak habis pikir tempat untuk berbagi kisah sembari mengalunkan melodi lewat diksi tercipta dengan indah justru bertamu sekedar berikan kibaran begitu pekat, nanar tak berperasaan.
Ok fine, memang sebelum Harris J hilang kabar menyempatkan ngeluh akibat sering sakit kepala. Karena memfokuskan diri dengan nulis hingga lupa waktu.
__ADS_1
Tapi hak apa hilang berbulan-bulan setelah itu datang menyelipkan luka?
Bukannya menanyai kabar cita dengan baik-baik justru berikan amarah dan mengundangkan pamit? []