Ikanaide

Ikanaide
Psikosomatis


__ADS_3

“Kamu tuh sahabat rambut mie dari london yang sudah saya usahakan jadi nyata. Dan, saya pengen kita berdua kolab."


🪐🪐🪐


Aroma haru sedang berselimut di rongga-rongga mereka.


"Kak Lefan .." Adinda merengek.


"Hm?"


Seperti mengerti maksud adik cerewetnya itu, meminta mereka yang sedang berada dalam ruang inap keluar untuk sementara waktu.


Setelah hanya mereka berdua saja dalam ruangan itu, dia pun membuka obrolan.


"Kak..kenapa sih dia datang ke sini?!" Kesal gadis aksara itu.


"Loh? Kok ade protes sih?" Lefan bengong.


Menggeleng sangat lemah, "kak..tahu ndak sih, hah..kalau waktu itu kepalaku pusing sekali ngerjain project JJS, eh tahu-tahu sudah disini." Menahan tangis depan Lefan pun hal percuma.


"Dek, kalau mau nangis. Jangan di tahan-tahan, nanti ade tambah sakit loh?"


Sebenarnya ada ruas amarah yang meletup-letup ketika dengar kebiasaan buruk terulang transit daun telinga cowok berkacamata tersebut.


Kenapa tidak bisa membagi porsi waktu tidur dengan hobi sih?


Hah. Adinda memang kebiasaan sekali ngumpul penyakit yang buat diri limbung tak berdaya seperti itu.


Jelas. Harris J sangat murka tahu sahabat memiliki bola mata aksara jauh lebih prioritas orang lain di banding kesehatan diri.


Lalu Adinda pun menceritakan selama koma memimpikan sebuah keindahan di balik tindakan sweet manager indonesia termasuk ..


"Harris J buatkan saya musikalisasi judulnya gadis aksara. Jujur kak, senang sekali, sayang..semua hanya mimpi dan anehnya kok bisa sih saya pingsan diatas pesawat pas makan coklat?"


"Em..mungkin ade kepengen manisan kali? Kan, perut ade belum masuk makanan sama sekali kecuali cairan infus kan? Mau kakak belikan coklat?"


Menggeleng cepat.


"Jangan kak, nanti kalau mereka berdua tahu, bisa kena marah tuh."


Lefan paham betul kok kalau dia tidak diperbolehkan makan manisan, salah satunya coklat. Kan, hanya sekali?


"It's okay. Nanti sepotong saja yah?"


Uh..andai perilaku manis Lefan berasal dari sahabat rambut mie london.


Haha..impossibel banget. Gumam Adinda sangat getir dalam batin.


"Boleh nih?" Seru gadis itu.


"Iya..asal jangan makan banyak-banyak oke? Janji dulu sama kakak?" Sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


"JANJI!!" Seru Adinda yang cukup buat Lefan menggeleng tak habis pikir.


Ok. Pamit keluar sebentar setelah meninggalkan ruang inap mereka kembali masuk dengan ekspresi bengong menyambut kegirangan sahabatnya itu.


Lefan balik kah ke kost?


"Din..Kak Lefan pulang?" Tanya Gessa, masih heran.


"Ada deh.." Justru di balas dengan cengiran.


Ngobrol panjang di ruang inap rumah sakit, memang adalah moment paling ditunggu kedua sahabat gadis aksara tersebut, selama koma begitu merindukan sosok cerewet itu.


Walau demikian, suara-suara parau milik Adinda cukup mengundang ulang ruas amarah dalam dada Varinta.


Melirik ke arah Harris J yang sibuk memerhatikan benda pipih, tahu persis ada sorot menyimpan keterlukaan juga sesal terbit di sana tanpa sepatah kata.


Sejak kepergian Lefan dari ruang inap, gadis itu tidak menghiraukan pembicaraan bule berambut mie. No respond.


Tahu kok, kalau ada rasa sesak melebur dalam dada. Sakit tak tertahan ketika ingin sekali menyuarakan protes kenapa baru menampilkan batang hidung setelah nafsi merasa sakit seperti ini?


Ke mana Harris J kala gadis aksara yang katanya dianggap sahabat memiliki bola mata imajinasi, penuh bangga terlantang kali pertama di manager indonesia, kok melenggang pergi?

__ADS_1


Oh, begitu kah? Tunggu sesuatu terjadi setelah itu berikan perhatian tanpa di minta, gitu?!


"Sori .. Gadis aksara?" Lirih Harris J.


Kedua sahabatnya hanya memantau dari sofa yang tadi di duduki bule itu.


"Jangan minta maaf kalau tahu bakal ngulangin lagi. Saya tahu kok, hanya karna masuk rumah sakit, kamu bela-belain tinggalkan undangan konser itu toh?!"


"Din .." Lagi, Harris J memanggil.


"Berhenti gunakan nada seperti itu, Ris. Cukup! Kamu tahu?! Dalam mimpi kamu sweet tidak seperti ini, bengis!" Adinda sangat murka.


Sweet? Pikir bule itu dalam hati.


Arg. Harris J harus diskusi berdua dengan Kak Lefan. HARUS!


Sebab tadi di luar ruang inap, gadis itu banyak bercerita tentunya prilaku sweet apa yang sedang di singgung dia?


Jujur, sangat buntu dan bingung untuk mengambil hatinya yang sedang meletup penuh benci.


Di lain tempat,


Duduk seorang wanita dengan pria berhadapan dengan sosok berjas putih, sibuk memerhatikan hasil diagnosa pasien bernama Adinda Ariani Arafah itu.


Ternyata selama ini mereka tidak tahu-menahu persoalan penyakit ananda sendiri.


Psikosomatis. Terdengar aneh di daun telinga kedua orangtua gadis aksara yang selalu ceria depan mereka. Ternyata memiliki kewaspadaan setelah balik dari rumah sakit, terutama jam tidur harus di perhatikan sangat teliti, dan tidak boleh terlambat makan atau paling dicemaskan adalah pikiran berlebihan.


Kembali ke ruang inap Adinda,


Mereka berdua tidak berbicara setelah mendengar amukan yang sangat murka.


Dua sahabat pun Kak Renata hanya diam ditempat.


"Kamu tuh sahabat rambut mie dari london yang sudah saya usahakan jadi nyata. Dan, saya pengen kita berdua kolab." Lirih Adinda, sangat pelan.


Mendengar hal itu, cukup menyayat perasaan Harris J.


Tapi, sungguh .. Tidak bisa menyangkal dalam hati sangat panas, mengingat sahabat yang sudah diakui penuh nyata depan banyak peserta di london, jauh lebih memprioritaskan karya orang dibanding kesehatan sendiri.


Jujur, Harris J sangat tersentuh namun masih belum bisa meredamkan amarah tersebut.


Sebisa mungkin menyampingkan egoisme, karena sahabat aksara sedang tak berdaya diatas bed rawat inap, dengan selang penginfusan yang diganti tiap kali habis.


"Yang ku butuhkan itu perjuanganmu, saya tidak peduli JJS ambil hasilmu karna dari awal, itu semua kepunyaanmu. Fine, setelah pulih, ayo..kolaborasi di london?" Tegas Harris J bersungguh-sungguh.


"Serius?! Hahaa..paling hanya iming-iming supaya saya tidak kepikiran lagi, toh?!" Tetiba wajah yang sumringah mendadak lesu.


Karena sudah terbiasa di berikan kata-kata manis tapi diakhiri dengan bengis.


Terlihat Harris J menggeleng pelan, "tidak, dan itu semua yang saya bilang serius, Din. Tapi, ingat..prioritaskan cita dulu, okay?!"


Ah! Benar sekali. Kenapa bisa melupakan satu hal penting untuk mengenakan toga?


"Hehe..makasih loh udah perhatian sama citaku." Tawa tak berdosa milik Adinda cukup mengundang bola mata malas Harris J pun yang lainnya di dalam ruangan.


Klik..decihan berasal dari pintu, cukup mengalihkan perhatian mereka.


"Yey!! Kak Lefan datang!" Seru Adinda.


Cukup mengundang bengong mereka, terutama dua sahabatnya.


Lefan mengeluarkan coklat dari bungkusan, "ingat..jangan makan banyak!" Memperingati.


"Maciw kakak bawel!" Timpal Adinda dengan intonasi dibuat-buat.


Tanpa sadar, asik makan coklat ada kedatangan Ika rombongan dengan teman kampus, membesuk gadis itu.


Ada senyum-senyum tipis di perlihatkan Adinda.


Ika sudah mengambil tempat di samping bed rawat inap, "sori..soal krs itu, Din?" Loh, kok masih di bincangkan lagi?


Cukup buat Adinda tersenyum getir.

__ADS_1


Tak mengelak kalau ada rasa senang berasal dari teman kepercayaan gadis aksara, bisa lihat dan fotbar langsung dengan bule london.


"Thanks eh sudah mau datang jenguk." Tawa sumbang milik Adinda.


🪐🪐🪐


Harris J begitu kepikiran setelah mendengar suara serta getir kepunyaan gadis aksara sering kali mendapati wajah ceria berubah mendung pun tak bersemangat lagi.


Hah. Salah diri, kenapa waktu itu terseruputi oleh egoisme? Pun menomorduakan Pak, novel A Dreams tolong kirim ke london, bisa? Pertanyaan tersebut.


Ditambah banyak JJS mentag vidio dirinya sedang mengucapkan selamat ke Adinda lalu di cover dengan lagu.


Membuang napas sangat gusar.


Bukan hanya project doang yang buat Adinda drop melainkan pikiran bergelayut terus-menerus mengenai JJS mencuri vidio istimewa tanpa ijin.


Pantas sangat murka kali pertama melihat sorot penuh luka itu terbuka mendapati diri membesuk.


Dan, Harris J mengira dengan kedatangannya akan meminimalisir luka-luka tercetak begitu jelas di wajah akibat ulah diri telah melantangkan amarah yang berkoar tak berperasaan.


Salah. Tak tahu-menahu kalau sahabat gadis aksaranya sedang lebam-membiru akibat sikap JJS, bunga harapannya mencuri vidio thanks dan di manipulasi lewat instagram, bertujuan mencapai perhatiannya.


Oh yah, Harris J juga dengar Layla sempat berkicau mengenai kelemahan fisik gadis tersebut, tapi kenapa justru mementingkan amarah dibanding karya patut diapresiasikan depan panggung yang akan ditonton fansnya sendiri.


Dengan begitu, bisa buat mereka menghapus koleksi foto dan vidio menjadi berkarya dan fans yang berproduksi. Bukan kah, keinginan Harris J adalah lihat JJS saling rangkul kasih? Tak memotret kebengisan kala nama sebagian fans tidak ada, yang memicu ruas benci.


"Dek.." Lefan memanggil, membuyarkan lamunan itu seketika.


Ah, benar sekali. Saat ini kedua cowok itu sedang duduk santai di cafe resistance, jayapura. Papua.


"Kak .. Saya benar-benar minta maaf, kejadian itu buat Adinda masuk rumah sakit. Dan--"


Dengan cepat memotong rasa bersalah bule london berkesan memiliki bentuk rambut seperti mie seringkali diomongin oleh Adinda, "Ris..kamu sudah tahu di london, kan? Kalau Dinda tidak boleh banyak pikiran, apalagi bersangkutan dengan novelnya yang dianggap sampah sama fansmu terutama manager ade tidak memprioritaskan justru menyamakan dengan kado lainnya yang datang di sana." Urai Lefan dengan jelas.


Jujur, sebenarnya sudah muak dengan apa yang selama ini disembunyikan kedua adiknya itu. Terutama gadis memiliki bola mata aksara.


Hah. Membuang napas sangat gusar. Sungguh sangat-amat frustasi, bagaimana tidak? Kalau setiap lewat vidio call, selalu tawa riang diberikan Adinda.


Kalau Novelnya sudah Harris J bawa blum dek ke london? Selalu ditepis dengan, kak, katanya mau belikan saya oleh-oleh di jepang?


Tapi, setelah mengetahui fakta dia sempat cerita garis besarnya mengenai novel dipandang sebelah mata pun ditambah kesehatannya drop seperti itu, semakin tidak bisa menahan diri untuk meluapkan ruas sesak juga amarah ke bule london itu.


"Fine, semuanya saya yang salah, kak. But, kenapa akhir-akhir ini dia murung?" Getir Harris J.


Lefan hanya senyum tipis.


"Sori? Apa kakak tahu perihal sikapku manis di mimpinya?"


Jika tidak kasih tahu, bakal menjeruji dirinya dengan rasa penasaran pun bersalah.


"Percaya atau tidak, yang jelas dalam mimpi selama Dinda koma, kamu buatkan musikalisasi puisi bahkan dikirimkan undangan workshop menulis di Jakarta. Dan, kenapa dia berubah mendadak? Yah..karna dia tahu semua bukan nyata tapi mimpi." Jelas Lefan.


Arg. Lagi rasa bersalah menyergap di kepala Harris J.


"Maaf..maaf, astagfirullah..gadis aksara yang setahun lalu saya berikan banyak janji, ternyata bikin dia sakit. Maaf, kak."


"Jangan minta maaf di kakak. Tapi, langsung ke orangnya. Dek, ingat, buat novel dalam dua bahasa itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dengan kondisi fisik Dinda terbatas. Dia hanya minta prestasi dan apresiasi. Sudah itu saja."


Benar. Ternyata menyandang sebagai gelar sahabat dari london belum cukup menyenangkan rongga-rongga imajinasi milik gadis yang benar-benar berjuang dengan bola mata aksara.


Butuh apresiasi nyata bukan hanya kamu sahabatku, gadis aksara melainkan terima kasih buat perjuangannya kejar saya sebagai sahabatmu di tulisanmu depan JJS-nya, yang tentunya diatas panggung.


Hal percuma kalau batas mengakui perjuangannya di tamu undangan pernikahan Calvin Harris di london yang tidak ada satu pun JJS di sana.


"Karna Dinda kejar itu prestasi dan ubah mindset fansmu, kalau waktu yang mereka pakai itu unfaedah. Tapi, yah..kamu tahu sendiri, Ris, kalau JJSmu sudah curi vidio yang dianggap istimewa ditambah buat project untuk cari perhatian dan redamkan emosimu yang buat dia drop sampai sakit begitu."


Harris J tahu persis isi kepala sahabat gadis aksaranya adalah percuma memperjuangkan kembali bola mimpi di balik deret diksi menjadi fisik, kalau ide saja sudah termanipulasi di mana-mana. Jadi? Buat apa dibanggakan lagi?


Hah. Pantas buat dia lemah tak bersemangat bincang A Dreams yang lupa ditanyai lewat Pak Hafiz. Ternyata ketakistimewaan, tahu menyeruak sebuah fakta vidio itu terambil paksa.


Lefan membuang napas lelah, "dek, ingat satu hal penting ini, kalau penyakit yang dia dapat tidak mudah buat sembuh. Tolong, kakak minta jangan buat dia pikiran berlebihan lagi?"


"Inshaallah, kak. Makasih nasehatnya?" Jawab Harris J begitu tulus. []

__ADS_1


__ADS_2