
"Ternyata bukan hanya datang membesuk melainkan meninggalkan pesan dibaluti oleh sorot dingin. Oh, diksi menenangkan ruas imaji, kah?"
🪐🪐🪐
Adinda pun memutuskan berhenti kejar sebagai teman diskusi dibalik perjuangan lewat novel.
"Buat apa lagi sih, Ges, hah?! Anaknya saja berubaha sana, heh!" Kesal gadis itu.
Perempuan berdarah papua itu hanya membuang napas gusar, bingung harus mempertahankan komitmen sahabatnya, agar tetap bermimpi sampai keinginan itu tercapai, kolaborasi sampai memiliki satu benda favoritnya berada dalam genggamannya sendiri.
"Percuma. Capek, Ges. Harris pergi trus sudah gitu teman main filmnya saat diindonesia juga pasti ilfil sama saya, karna heters unfaedah." Keluh Adinda.
"Din, sa pernah bilang toh, yang mereka kejar tuh obsesi bukan prestasi. Sudah tidak usah urus mereka tapi fokus sama mimpimu."
Please, Ges untuk kali ini saya malas dengar hal-hal meyakiti imaji susah payah dibangkitkan dengan sungguh-sungguh. Dalam batin bergetir hebat, menahan tangis.
"Kayaknya harus saya ralat deh kata-katamu, Ges. Yang harusnya saya fokus itu ke cita, bukan kah waktu itu Harris sendiri bilang jangan terlibat dengan hobi lagi?" Ucap Adinda dengan intonasi remeh-temeh, tak lagi memikirkan mimpi telah mati.
Kedatangan sahabat berdarah papua itu adalah memberikan kecup sweet sebelum berangkat ke london.
Tak mengelak kok, sedikit lagi masuk libur semester.
"Din, trus..Harris sudah kirim tiket itu?"
Arg. Menggeretak sangat brutal dalam hati.
"Tolong kah, jangan sebut dia dulu, lagi kesel dengar namanya. Muak."
Bukan Gessa namanya kalau keras kepala dan trus perulangan pertanyaan itu terdengar sampai di respon barulah sedikit sunyi.
"Belum. Mana saya tahu, dia saja katanya kirim tiket itu lewat Kak Lefan." Ketusnya.
"Bagus dong, setidaknya dia sudah penuhi janjinya mau kolaborasi dengan kamu."
Uh, bukan itu juga diinginkan melainkan sikap dingin tersebut terhempaskan dulu kek sebelum jadwal keberangkatannya ke london. Hah. Lelah.
Alhamdulillah sih semester kemarin tidak ada yang harus di perbaiki, lulus semua dapat 24 beban sks.
Kalau membicarakan hal di luar mimpi, Harris, tiket keberangkatan, kolaborasi, sudah jelas ketangkap sangat peka oleh Gessa.
Fiuh. Lebih baik sibuk main game saja deh.
Karena sudah sepakat tidak bakal menginginkan hal apa-apa yang mendatangkan keindahan tapi justru sebaliknya, tangis berjangka.
A Dreams saja masih melekat begitu miris, belum dibawa sama sekali di london.
Seolah-olah kerja keras semalam itu berdua dengan adiknya untuk membungkus serapi mungkin, ditambah kertas-kertas yang digunting agar menambah kekesalan Harris, berakhir berdebu tak terawat baik di sana.
"Din, saya tahu kalau masih ada cercah untuk percaya bawa pulang benda favoritmu dari Harris."
Cukup, Ges.
Gadis itu memejamkan mata, sangat penat sekali dilempari tanya mengenai mimpi telah dimanipulasi bukan hal penting untuk di diskusi lagi.
"Buktinya ini, kan?" Lagi, Gessa mengambil antologi sudah rilis dalam kamar.
Lembar per lembar di buka lalu tak memercayai sweet caption di berikan dari JJS adalah bukti terhebat di miliki oleh sahabatnya.
Sangat tersentuh.
Bahkan sebagian JJS masih mendukung kepitusan mimpi sedang di perjuangkan hingga tercapai.
Gessa terdiam saat kata-kata dari JJS ..
__ADS_1
Bagai sebuah bulan terang sendiri di kegelapan mungkin itu yang bisa saya gambarkan untuk kakakku, Dinda. Harapan dan sebuah mimpi, apa itu hanya sebatas harapan? Terkadang aku larut dalam mimpi itu hingga lupa akan kenyataan hidup yang ku jalani. Menulis bukanlah hobi atau cita-cita melainkan pelampiasan tentang perasaan di dalam hati namun semua itu berubah ketika kak Dinda datang dan merangkulku untuk lebih maju dan mengapai anganangan yang nampak mustahil. Terimakasih sudah menggapai mimpi itu. (Ahya Norfajria, JJS Ina, Barabai, Kalimantan Selatan.)
Kak Adinda itu seperti kupu-kupu yang tak sengaja hinggap di bungaku. Dia tak sekedar menetap, dia juga memberikanku banyak sekali motivasi untuk dapat membiarkanku mekar kembali. Memang tak mudah tapi setidaknya aku bisa berdiri sendiri lagi. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa. Ucapan terimakasih saja mungkin itu tak cukup. Dan bukan hanya itu, dia juga membawa serbukku terbang jauh untuk menggapai mimpi. Mimpi untuk menyapa seseorang dengan aksara. Dia adalah Harris J. Sungguh keberuntunganku bisa mengenalnya lebih jauh. Thank you so much kak Adinda Shintya Dewi ❤. (Sherin Virdayanti, JJS Ina, Banyumas, Jawa Tengah.)
"Din.." Gessa memanggil, justru kepunyaan nama sibuk nonton anime dong menggunakan headset.
Menepuk jidat, kebiasaan lama kumat, tidak mau dengar orang lain bicara dan alternatif adalah sumpal headset di telinga.
"Din.." Gessa menggoyangkan badannya.
"Hm?" Dapat sahutan tak minat sama sekali, tak lepas dari layar HP.
Menarik napas panjang, sabar..sabar, demi mimpi sahabat bisa tercapai. Batin Gessa mengelus-ngelus penuh kalem.
Menunjuk kata-kata dari dua orang JJS.
"Trus?" Sewot dong di balas dari sahabat sendiri.
"Siapa bilang kalau mimpimu palsu, hah?! Pantas diapresiasi, ini buktinya, Din! Mereka bisa rasakan apa yang sudah kamu perjuangkan buat Harris. Please..jangan berhenti bermimpi?" Tegas Gessa.
Pantas? Kalau memang demikian, kenapa banyak manipulasi mimpi itu bahkan di kantor manager indonesianya sekalipun tak mendapati respect apa-apa selain menyamakan novel dengan kado biasa datang ke sana.
"Haha, sudahlah, Ges. Jangan buat saya tertawa. Tidak ada yang spesial, karna bukan nasi goreng pake karet merah." Lalu Adinda kembali memasang headset itu.
"Bagaimana tanggapan Rinta kalau tahu sedikit lagi kamu berangkat ke london? Pasti senang!"
Oh iya, lupa dengan keberadaan satu sahabat yang sudah dikepung sibuk juga egoisme diri.
Ada decih keki berasal dari gadis itu, "please deh, tidak usah sebut nama itu. Sudah Harris di bahas, dia lagi." Jengahnya.
Heran. Kenapa yak berbuat baik bahkan sama sahabat sendiri, ada saja luka ditawari padahal dia tidak minta.
"Ok, fine, tapi..mimpi dan apresiasi dari JJS masih mau kamu terima dan pertahankan?" Lagi, Gessa memastikan.
Apa sih yang bagus dalam pertahankan sosok sahabat sudah berubah itu?
Gessa menyerah. Yang pantas buat gadis itu bertahan hanya sahabat berada di padang, hanya saja sedang vakum sementara dalam obrolan chatroom whatsapp karena ulah perempuan padang itu, sudah mancing emosi meletup-letup parah sampai sekarang.
🪐🪐🪐
Yey. Akhirnya libur semester tiba. Kok ekspresi yang terbit bukan senang melainkan masam.
Bukan kah bakal terbang ke london?
London loh, negara yang jauh dan bertemu sahabat menyebalkan memiliki rambut seperti mie itu.
Lesu.
"Hallo, dek, assalamualaikum, kakak sudah kirim tiket keberangkatannya yak. Ingat, jangan lupa tidur lebih awal, biar tidak terburu-buru ke bandaranya."
Semalam sudah dapat kabar, sekalian ngobrol sebentar dengan Kak Lefan. Oke, sudah istirahat dengan baik kok, tidak bandel. Hanya untuk kali ini ada rasa kurang minat buat terbang ke sana. Lebih ke arah... Kecewa, tahu sahabatnya berubah pelik.
Dengan gerakan malas memasukkan antologi-antologi itu ke dalam ransel, bukan ini di minta gadis aksara saat mau meet dengan sahabat di london.
Tapi, sudahlah.
Harris sendiri yang mulai duluan, kejutan tak menyenangkan.
Lagi, melihat tiket keberangkatan itu dengan wajah datar.
"Din, sudah siap kopermu?" Hana menghampiri, cukup mengejutkan gadis itu dong yanh sedari tadi melamun.
"S-sudah, Ma."
__ADS_1
Eits..ada yang kelupaan. Obat magh dan minyak kayu putih.
"Bilang sudah, ini apa?!" Kesal ibunda sambil memasukkan ke dalam tasnya.
Dan hanya di balas cengir tak berdosa.
Keberangkatan kali ini bukan nafsi yang excited melainkan keluarga terutama mama.
Karena yang mereka tahu adalah dapat kado berupa tiket keberangkatan ke london untuk memenuhi undangan dari Harris J.
Sudah di persiapkan apartement segala di sana, siapa sih yang tidak senang, hah?
"Ma, saya bawa laptop juga kah ke sana?" Adinda bertanya, mengusir rasa lamunan itu.
"Bawa toh, masa kasih tinggal?! Kalau butuh bagaimana mama mau kirim, jauh begitu, sana heh!"
Ananda hanya tersenyum manis, dulu berjuang seorang diri untuk mendapati restu Hana agar perjalanan mimpi terasa ringan, tapi penolakan lebih mendominasi. Oh, bukan Adinda namanya kalau keras kepala masih di pelihara dan takkan mau berhenti kejar mimpi sendiri, yang sekarang sudah mengantarnya pada titik membahagiakan jiwa, yang sempat di temani oleh luka pun cibiran tetangga campur orang terdekat tidak merestui perjalanan mimpi tersebut.
Kalau keras kepala itu tidak terpelihara, kemungkinan saat ini bukan siapa-siapa Harris J.
Membicarakan persoalan bule itu, kok tetiba mood gadis aksara rusak?
Esok hari, depan bandara ..
Wih, banyak sekali yang ngantar termasuk Gessa.
"Hati-hati, kalau sampe jangan lupa lempar kabar!" Seru Gessa.
"Kak!! Alhamdulillah .. Akhirnya mimpi kakak bisa terbang ke london ketemu Bang Jey!" Kata Lusiana Rossa tak kalah girang.
Sengaja semalam sudah mengabari kalau sebelum berangkat meet virtual dulu.
Banyak yang memberikan apresiasi karena hobi mengantarkan gadis sederhana bermodal aksara bisa bertemu artis ternama.
Bentar, dulu pernah dijemput juga kok tapi lain cerita sebelum A Dreams naik daun seperti sekarang.
"Baemana? Sudah sa bilang toh, santai mi dunia ji ini, titip ini kah buat Harris." Anha menyodorkan jaket yang sempat di lihatkan setahun lalu di rumah.
"Makasih besti!! Saranmu membantu oey! Uhuy .. Akhirnya mimpiku terwujud trus novelku bakal terbaca sama Harris J." Girang gadis itu.
Sebenarnya menutupi kegelisahan saja sih. Bohong kali kalau novelnya mau di baca bule london, A Dreams masih di kantor DNA Production, gegayaan bilang mau di baca sama Harris J.
Beberapa jam kemudian ..
Sampai di london dengan selamat, Lefan yang datang jemput di bandara lalu transit ke apartement setelah itu balik kantor.
Dalam mobil, "ih..kakak nih memang kepala batu! Sudah saya bilang nanti pesan taksi saja, ngeyel mau jemput." Adinda muncratkan protes dong.
"Untuk adik cerewetku apa sih yang tidak."
"Dih, sejak kapan Kak Lefan pintar ngegombal?" Tetiba saja bulu kuduk gadis itu merinding.
Eh, dibalas tawa renyah dong. Tapi sedikit mengobati rasa kekhawatiran itu.
Piu..piu..ada notifikasi whatsapp
Dengan cepat Adinda buka,
Assalamualaikum my bestie, congras .. Sudah ketemu Harris J, ciee A Dreamsnya sampe juga ke tangan Harris. I proud of you, bestie❤
"Varinta?" Bengong gadis itu.
Detik kemudian ada garis-garis lengkung tercipta, senyum merekah terbit. []
__ADS_1