
"Detak waktu berada di angka sembilan malam, Harris masih berkutat dengan lembar hvs, sangat rumit."
🪐🪐🪐
Ok. Kali ini mereka mengadakan games masak papeda yang sudah diajari pun mengenalkan menu dasar makanan tersebut dari Gessa.
Yang menjadi juri kali ini adalah Gesa bersama Meske, mamanya dan kakting Leno dengan Abraham ayahnya.
"Kalian bebas ekspresikan rasa di masakan kalian, tapi ingat menu dasar yang sudah saya kenalkan, jangan sampai salah meracik, karena yang bakal di nilai bukan hanya dari rasa melainkan langkah-langkahnya. Paham semua?" Kata Gessa.
Jelas menerbitkan sebuah ekspresi melongo juga bingung hebat dari JJS, karena kali pertama tahu makanan itu. Jangankan makan, namanya saja cukup menjadi hal baru dan membingungkan.
"Duh, gimana nih? Nanti masaknya enak nggak yah?" Kata Lusiana berbisik ke teman kelompoknya.
Mereka yang hadir disini adalah pemenang dari sepuluh besar yang ikut games di meet and greet awal tak hanya diambil dari juara puisi melainkan nyanyi dan bermusikalisasi.
Dan Lusiana termasuk ikut lomba masak papeda hari ini di Solo lebih tepatnya.
"Kamu bisa masak papeda kah, Din?" Ucap Harris J.
Menggeleng, "geli gimana gitu, tapi rasanya enak sih."
"Oh, berarti kamu suka dengan makanannya?" Lagi Harris J kerkicau.
Dapat gelengan pelan, "tidak suka, tapi makanan ini sudah banyak artis loh yang cicipi. Kamu harus rasa juga, sebagai sahabatku!"
Kurang tahu pasti, cocok apa tidak di lidah bule london itu. Kemungkinan tidak suka, but dengan adanya acara games masak papeda, mencetak sejarah terbaik yang tak hanya share ilmu kepenulisan melainkan perkenalkan makanan daerah sahabat berdarah papuanya itu ke JJS.
Tidak ada waktu sibuk hanya duduk santai melihat peserta lomba menyiapkan bahan untuk masak papeda tersebut dari arah samping tenda.
Sedangkan Harris J sedang berkutat dengan benda pipih, tidak tahu lempar chat sama siapa, paling sama keluarga.
Merasakan aroma-aroma ketenangan, saat mendengar keseluruhan penjualan kemarin meledak di angka yang nyaris menyentuh angka sepuluh juta.
Rasa syukur terus mengalir deras dalam hati.
Uang itu sepenuhnya untuk gadis aksara, adanya novel serta musikalisasi tersebut, cukup menghabiskan stok album Salam sisa kemarin saat tour Harris J.
"Baik. Disini kami sudah mencicipi dan melihat beberapa peserta lomba masak, sekarang waktunya untuk memberikan point kepada peserta," mc mengambil alih, saat lomba usai pun papeda sudah dicicipi oleh juri beberapa detik lalu.
Jujur, kali pertama Adinda merasa deg-degan karena ada adik kesayangannya ikut di grand final.
"Santai. Insyaallah dia jadi pemenangnya." Seperti tahu isi kepala gadis aksara, Harris J membuang suara, menenangkan.
"Kalau tidak, gimana? Soalnya kan, ini hal baru bagi dia." Respon Adinda begitu khawatir.
Melempar senyum, "berdoa saja yang terbaik buat dia. Tapi, menurutku sudah ada di grand final, sangat hebat."
Adinda mengangguk sebagai jawabannya.
Dan, percakapan kedua sahabat itu pun berhenti sementara mendengar mc mengambil alih untuk membacakan pemenang dari lomba tersebut.
"Juara pertama adalah tim B sedangkan juara kedua adalah tim C dan juara ketiga adalah tim A. Untuk pemenang lomba final ini, dipersilahkan untuk maju ke depan."
"Yey! Mereka bertiga menang!" Sumringah Adinda.
Buat senyum-senyum terus menghiasi wajah gadis aksara pun rambut mie london.
Usai sesi pembagian piala serta hadiah lainnya, Pemenang pun disuruh turun dan istirahat untuk menunggu jemputan ke hotel, acara dinner.
Lusiana menghampiri kakak onlinenya itu, "kakak! Menang, kak?!" Serunya sambil memeluknya erat.
Adinda manggut-manggut, sangat terharu.
"Selamat yak dek?! Ini kan mimpi ade? Bisa banggain mama?"
Benar.
Lusiana jadi teringat persoalan beberapa tahun lalu, menceritakan tentang diri yang masih belum bisa apa-apa selain beban pun di omelin kalau ada masalah lain, lampiasan.
Now? Really happy!
Sudah tidak sabar untuk pulang ke Bekasi membagikan moment haru campur bahagia ini ke mama.
"Kak, makasih udah ijinin Sasa di mama buat dateng ke sini." Kata Lusiana.
Adinda tersenyum lebar.
"Kan, ini juga salah satu mimpi ade, kan? Bisa bantu mama dengan cara ade, termasuk hobi itu bisa di akui mama?"
Mengangguk. Masih belum percaya, kenapa semua ini terasa cepat berbalut manis di mata?
"Be the way, pokoknya harus ikut kakak nginap di hotel! Nggak boleh pisah kamar!" Ancam gadis itu.
Cukup buat Lusiana tertawa geli, "siap bu komandan!"
Malam pun tiba, mereka di persilahkan untuk makan malam sekalian ngobrol ringan tanpa batas ketat seperti tour yang sudah lewat itu dengan Harris J.
Khusus pemenang tiga besar saja.
"Kak, makan nasi gih. Jangan konsumsi spageti melulu, ntar magh kakak kambuh loh?" Lusiana mengingatkan.
"Bosan dek, kapan lagi coba makan spagethi gratis haha."
"Ih..Kak Din mah ngeyel mulu dah kalau di kasih tahu. Ntar Sasa laporin deh ke Bang Jey, kalau kakak seharian belum makan nasi?"
Dengan cepat gadis aksara itu pun mencubit canda perut adik kesayangannya itu. Sebab, kalau sampai terdengar yang di mana bule london duduk tidak jauh dari mereka berdua, bisa-bisa dapat khotbah satu hari satu malam.
__ADS_1
"Makanya makan nasi dong, kak." Lusiana terus mencoba kakak panutannya itu konsumsi nasi.
Membuang napas lelah, "ok fine, nih..kakak makan nasi." Tapi tak lepas dari bibir yang di manyunkan.
Lusiana pun tersenyum puas, "nah, gitu kan enak. Jadi, Bang Jey tidak bakal marah deh sama akak." Sambil terkekeh pelan.
Selepas makan malam, mereka berdua pun masuk ke kamar hotel.
Wait, "Kak, Din! Ih..curang! Masa Lusiana aja kakak ajak tidur bareng sih?! Aku nggak?!" Oh, menepuk jidat, ada Layla yang sudah menahan pintu kamar itu tidak diperbolehkan tertutup.
"Hehe..sori, kakak lupa kalau ada ade, yok..masuk gih. Udah-udah, jangan ngambek." Adinda cengir kuda.
Dengan menggebu Layla pun masuk dengan hati riang lalu menghempaskan badan dikasur.
"Cie..yang hari ini menang!" Layla menyenggol perempuan bekasi tersebut.
"Alhamdulillah, semua ini karna dukungan Kak Dinda juga. Kakak jangan putus asa, insyaallah tahun depan ada kompetisi ginian lagi." Respon Lusiana dengan malu-malu.
"But, makasih yah kak jaketnya!" Seru Layla.
Kalau sudah ada Layla, kamar pun heboh.
Mereka bertiga ngobrol ringan sampai tertawa lebar dalam kamar.
Sedangkan di sisi lain, ada yang sibuk berkutat dengan kertas hvs sambil menggaruk kepala tak gatal itu, rumit sekali terasa.
Kok bisa ada ide seperti itu di kepalanya?
Sambil mengangangkat kedua bahu, tidak tahu.
Tapi yang jelas kedatangan Adinda banyak mengirimkan inspirasi juga tawa penuh tulus dari bunga harapnya.
Sangat di luar dugaan, ide-ide dari lomba telah di buat begitu manis dan memiliki makna yang bahkan manager indonesianya pun salut juga bangga dengan gadis memiliki bola mata aksara tersebut.
Bola mata mengerjap-ngerjap, sangat lelah, ingin segera bertemu pulau mimpi.
Esok hari ..
"Ges?" Panggil Harris J.
Gessa yang sibuk ngobrol dengan mamanya, langsung menoleh sambil mengode kenapa? lewat bola matanya.
"Eng..maaf tante, boleh minta waktunya Gessa, sebentar? Ada hal penting yang harus saya sampaikan ke dia." Harris J ijin lebih dulu ke beliau.
"Oh, boleh. Silahkan." Meske pun langsung beranjak dari sana, "tante disini saja, saya butuh tempat yang segar untuk bicara sama Gessa. Em, salah satunya di depan mini market?" Kali ini tatapan Harris J beralih ke sahabat gadis aksara itu.
Gessa paham lalu berdiri dari tempat duduknya.
Setibanya mereka di sana, langsung to the point.
Karena ini adalah sesuatu yang langka. Seorang penyanyi genre islamic mau belajar puisi?
Serius?!
Harris J belajar buat puisi?
"Untuk siapa sih? Ah..biar saya tebak, pasti mau kasih kado ke Dinda, kan?" Kata Gessa yang diangguki cepat dari bule london itu.
"Hm..kalau puisi sih, yang bisa ajar kamu bukan saya, tapi.." Sedikit menggantung, penuh cemas juga sih apakah bisa membantu?
"Siapa?" Buru Harris J, tidak sabar.
Gessa hanya memerhatikan lamat-lamat wajah bule itu.
"Varinta," putus Gessa dengan cepat.
"Dia siapa?"
Sontak buat Gessa melongo heran, "kamu bahkan tidak tahu siapa Varinta, Ris?"
Dan, benar saja ketika anggukan itu di perlihatkan.
Bukan kah mereka pernah bertemu saat kali pertama Harris J mencari alamat rumah gadis aksara tapi berakhir di warung makan Varinta?
Kok, tetiba saja tidak tahu sahabat satunya Adinda yang ini sih?
"Ok, fine. Tidak perlu di bahas lagi, tapi yang harus kamu tahu, anak itu lagi turun lapangan, dan kurang tahu pasti bisa apa tidak bantu kamu buat belajar puisi. But, saya akan coba hubungi dia." Urai Gessa.
"Jangan nanti, bisa kah sekarang?" Harris J menjawab dengan cepat.
Membuang napas panjang, "ok..tunggu sebentar saya telpon dia dulu."
Drrtt..Drrtt.., sebuah tampilan persegi panjang menampilkan berdering tapi belum juga direspon.
"Coba ulangi lagi?" Pintah Harris J.
Ok. Ini keempat kalinya Gessa menelpon perempuan berdarah padang itu, akhirnya di respon juga.
"Yo..kenapa Ges? Sori tadi ada kelas, makanya tidak angkat."
Hah. Sangat lega.
"Nothing. Em, ada orang yang mau bicara sama kamu, katanya sih penting sekali." Lalu benda pipih itu pun terarah ke wajah Harris J.
Sontak buat Varinta terkejut bukan main.
"Loh..kok kalian bisa ketemu?! Trus, Dinda mana?!" Jawab Varinta sangat terkejut.
__ADS_1
"Sstt..dia lagi di hotel, kita disini sengaja diskusi buat telpon kamu and pointnya Harris J mau belajar buat puisi di kamu. Gimana?"
Daripada membuang-buang waktu perempuan itu langsung masuk ke intinya.
Setelah ngobrol panjang lebar juga sebagai kado untuk Adinda, mereka pun mematikan sambungan itu.
"So? Kapan saja bisa hubungi dia, kalau ada waktu kosong, pasti dia bantu. Sekarang kita balik?" Putus Gessa.
Harris J pun tersenyum lalu membayar bill pesanan mereka tadi di kasir.
🪐🪐🪐
Kali ini Varinta membagi waktu dengan dua sekaligus, bimbing online rambut mie buat puisi dengan buat tugas kuliah.
It's okay. Selama mimpi-mimpi sahabat sendiri tekah membuktikan bisa jadi sahabat bukan fans, justru jauh lebih senang.
Apalagi artis ini dengan sendiri datang minta diajari buat puisi.
"Well. Walau tahu diksiku dengan Dinda masih bagusan dia, tapi kamu tidak keberatan kan?" Kata Varinta lewat panggilan whatsapp.
"It's okay, selama saya bisa belajar dari Sensei dan paham, insyaallah secepatnya jadi."
Dari mana Harris J belajar bahasa Jepang? Perasaan tidak tahu kalau bule itu menyukai aroma Jepang selain hapalan quran.
Oh, benar juga. Kemungkinan besar tahu hobi Adinda dari Gessa.
"Haha, jangan panggil saya guru. Nama saja sudah cukup."
"Ok. Sensei."
Varinta mengatakan kalau hari ini belajar tentukan kata kunci puisi, tentukan diksi, rima, bait dan penutupan dalam puisi.
"Nanti saya kirim penjelasan serta contoh puisinya lewat chat, gimana?"
"Oh, okay."
Setelah melihat penjelasan singkat juga contoh pembuatan puisi dari Varinta jauh berbeda saat bule itu buat lirik lagu.
Ah, cukup rumit tapi tertantang juga buat Harris J belajar buat puisi.
Masa sahabat gadis aksara sudah berjuang mendapati restu sebagai sahabat lewat dua bahasa yang sudah terproduksi susah payah, masa hanya ngundang dan adakan kompitisi juga workshop kepenulisan doang sih?
Harris J juga harus menghadiahkan hal istimewa untuk sahabat aksaranya itu.
Yah. Salah satunya dengan belajar buat puisi serta dikolaborasikan lewat nada.
Sisi lain, Varinta sibuk menyelesaikan tugas kuliah yang bertumpukan bagai laundry itu.
Jadi teringat percakapan kemarin dengan Harris J.
“You’re going to be a teacher. You can be more than an hour after what you say.” Harris J memujinya.
Sengaja mereka speak english tujuan bisa lebih lancar lagi pengguna bahasa inggris Varinta yang masih blepotan itu.
Thanks, Din, karna kamu saya bisa teruskan mimpiku untuk bisa bicara bahasa inggris tanpa harus les private lagi. Gumam Varinta, sangat senang campur bangga.
Bangga dengan diri sendiri yang mau mandiri dalam hal belajar otodidak juga bangga dengan sahabat keras kepala sudah menjemput prestasi itu lewat tulisan walau sempat ide termanipulasi, seenggaknya allah punya rencana jauh lebih manis.
“I have nothing with she yet. I’m so happy to write a poem. Thank you for trusting me!”
“I’m proud, and i can have a chance to learn how to write the same poem as you.”
"Sama-sama, Harris J."
“How many time shall i show you my poem next time?” Tanya Harris J.
“Anytime. Ill let you know later.”
Dan, lamunan percakapan itu pun hilang setelah di kejutkan dengan suara teman kampusnya yang baru datang beli makanan.
Well. Varinta saat ini sedang di kantin, kerja tugas di sana daripada kerja di rumah.
Kembali lagi ke Harris J yang sedang berjalan santai dengan kacamata orange, tidak sengaja melihat JJS baru pulang sekolah ngajak foto bareng.
Ada senyum-senyum tipis terbit dari wajah bule london itu. Bisa lihat keluarga keduanya sebahagia ini, cukup melegakan dan menularkan rasa senang juga buat Harris J.
Sampai depan kamar, dengan cepat masuk dan mengambil selembar hvs serta pensil.
Setelah berjam-jam berkutat dengan selembar berwarna putih itu, akhirnya memutuskan untuk minta pendapat guru onlinenya.
Perjuanganmu sungguh nyata,
Juga akan buatku bahagia.
Adinda....gadis berbakat,
Pun ingin sekali merasakan...
Harris J kehilangan diksi itu, lama sekali Sensei-nya balas apakah sibuk dengan tugas kuliah di sana?
Pun ingin sekali bersama lebih lama, gimana Ris?
Ping,
Done. Thanks.
Usai mendapatkan diksi tambahan, kali ini lebih memilih untuk istirahat. Insyaallah sampai di Jakarta bakal meminjam ruangan studio musik untuk rekaman. []
__ADS_1