
"Simfoni dilapisi oleh keheningan sebuah ukhuwah di bentuk Harris J, mendadak hilang dari dekapan asa.”
🪐🪐🪐
"Maaf, Din. Bukan bermaksud lari dari masalah. Saya juga ingin sekali acara launch ini undang kamu ke sini." Lalu dengan berat hati, penuh lirih sebuah benda persegi sangat kecil itu di patahkan.
Bukan mematahkan sebuah asa dibalik perjuangan nyata seorang gadis sederhana, dalam menjadikan dirinya sahabat.
Sangat berat memang.
Mengetahui ketat dalam peraturan milik manager indonesia, tak ada hal lebih dalam mengayunkan sebuah bakat seorang gadis sederhana itu ke Jakarta.
Oh, benar juga, kalau saja Harris J yang menyuarakan langsung mungkin dengan cepat Pak Hafiz menghubungi gadis aksara itu.
Tapi, mengingat waktu sangat sempit tidak memungkinkan dalam ngundang dia ke Jakarta.
Kalau saja Adinda ingin dengar penjelasannya bukan beri amarah, bule itu bakal mengubah pikirannya tanpa berjangka lama.
Saat ada rasa setitik asa dalam hati, Harris J lalu bungkam tak bisa bergerak bebas lagi.
Tidak enakan dengan gadis yang selalu berikan titik asa juga motivasi. Bule itu merasa ada yang berbeda dibalik amarah itu.
Apa benar tidak menginginkan sebuah pertemuan? Kalau saja tidak membutuhkan, kenapa sih harus melantangkan amarah?
Harris J ingin sekali duduk diatas panggung sambil dengar semua cerita mengenai perjuangan itu menjadikan nafsi sebagai sahabat, bukan idola.
Berdecak kagum. Kali pertama mendengar seseorang nekat rebut ikatan jadi berbeda dari JJS diluar sana.
"Sori.." Tidak tahu kenapa diksi itu terucap begitu saja dari mulut rambut mie london.
Melihat beberapa ceklist orang yang akan launch and dinner dengannya, ada senyum getir tercetak di sana.
Kenapa, tidak menyempatkan kesempatan buat gadis sederhana di balik bakat telah di perlihatkan sangat nyata penuh perjuangan?
Kok mereka harus diberikan selembar rupiah merah agar bisa lihat dia duduk sambil membagikan kisah itu ke fansnya?
Bruntung sekali. JJS yang memberikan sebuah kemewahan di balik rupiah, agar menempati posisi sedekat itu dengannya.
Harris J terkadang berpikir, kenapa bisa bakat seorang anak bangsa di telantarkan begitu saja?
"Kenapa tidak ada satu orang yang dukung mereka?" Gumam Harris J sangat kecil, dengan sorot penuh penasaran.
Sambil menunggu jadwal ditentukan oleh manager pun panitia, Harris kembali buka sebuah lembar foto saat kali pertama mengumandangkan sebuah undangan saat bakal konser di indonesia.
Tetiba .. Ada senyum miring tercipta di sana.
"Maaf, saya tahu kamu pasti sangat marah dengan keputusan ini." Lagi, berdialog sendiri.
Tanpa harus menganalisis lebih jauh, rambut mie london bisa menerka isi kepala sahabat aksaranya itu di sana.
Beberapa jam kemudian, setelah minum vitamin diberikan oleh panitia, Harris J bergerak masuk dalam mobil lalu menuju ke lokasi yang telah di tentukan mereka.
__ADS_1
Tepat di salah satu hotel, tampak terlihat dekorasi telah menempel cantik di atas atap-atap tempat yang akan di pakai mereka untuk dinner.
Setitik senyum tertarik sangat manis di wajah Harris, apakah ini yang diinginkan mereka berlabel fans, keluarga kedua bule rambut mie itu?
Hm, berbanding terbalik dengan gadis aksara yang bawel, hanya menginginkan sebuah apresiasi darinya juga manager indonesia tidak lebih dari itu.
Mengikuti arah kaki panitia untuk digiring dalam kamar, sementara istirahat lebih dulu sebelum acara di mulai.
Karena menunggu peserta lainnya datang ke lokasi tersebut.
Tidak lupa untuk registrasi nama mereka yang telah di sediakan oleh panitia, tepat di depan pintu masuk hotel.
Harris di sibukkan dengan berbagai hal yang berkaitan oleh dinner.
Tinggal menghitung jari dalam menyambut kedatangan mereka yang telah membayar sebuah acara dibuat panitia.
"Hm.." Mendesah sangat kasar.
Potongan ukhuwah yang sengaja di biarkan hilang, apakah pantas dilabelkan sebuah sahabat?
Harris masih belum memahami, kenapa bisa manager indonesia tidak menginginkan hal mengangkat gadis sederhana yang memiliki bakat pantas di ajungkan jempol itu?
Detak waktu di berikan kala masih di bawah big ben london, penuh simfoni manis dilapisi warni.
Harris telah berikan selipan janji yang mungkin masih saat ini belum terkelupas dalam benak gadis aksara.
Tentu saja. Fakta telah tertuju pada denting informasi dibalik chatroom whatsapp milik rambut mie london.
Sangat mendesah berat, saat mengetahui sahabat aksara telah menumpuk pertanyaan mengenai selipan asa itu.
Nestapa dipenuhi luka masih basah dan sulit mencari penawar terbaik jika bukan Harris sendiri memberikan dengan tulus.
Ok. Ayunkan kaki menuju pada ruangan terbilang mewah itu.
Duduk sembari menunggu mereka selesai registrasi di panitia.
Dan, bagian ditunggu mereka pun tersambut hangat dan sumringah dibalik wajah-wajah terselimuti malu.
Harris hanya menanggapi senyum tipis, sambil sesekali melempari pertanyaan dan menjawab apa yang ingin di katakan mereka ke dirinya.
🪐🪐🪐
Hilang .. Tidak bisa melempar sebuah kabar seperti biasa. Bahkan, saat kali pertama Harris menelpon pun hanya maaf selebihnya buncah amarah terlanjur meledak.
Dia terduduk lesu. Sambil nonton konser tour rambut london.
Menyulam-nyulam senyum kecut, lalu membuang napas sangat kasar.
"Kenapa lagi?" Kata Gessa, bengong.
Saat ini memang sedang di luar, sambil tunggu pesanan datang ke meja makan.
__ADS_1
Sambil menggeleng.
"Kalau soal bule itu lagi, lebih baik tidak perlu di pusingkan sudah, Din."
Adinda hanya melirik sinis, tak suka.
"Kesehatanmu jauh lebih penting dibanding mengharapkan prestasi dari mereka."
Benar juga sih, kenapa tidak ingin berkemas saja lalu mengucapkan sebuah memoar takkan teraih itu?
SULIT! Jika sudah mengantongkan harap dari sebuah bakat, tidak bisa putar haluan ke baik-baik saja saat meninggalkan semua catatan mimpi tinggi, yang masih memikili sebuah satu apresiasi ingin teraih manis.
"Sekarang apa yang ingin kamu dapatkan dari Harris J?" Kata Gessa, kali ini menyakinkan sangat serius dibalik sorot mata.
"Kurang tahu, Ges. Yang jelas saya ingin prestasi dan kalau memang nggak bisa, seenggaknya novelku ada kejelasan sudah di pegang Harris. Itu saja sih prioritasku." Jelas Adinda.
Hm, Gessa tampak berpikir sangat panjang, apa sanggup mendapati keinginan itu? Jika kabar-kabar itu tak lagi tampak di balik chatroom Adinda?
Bahkan .. Sahabat yang sudah jadi sah tersebut, pelan-pelan hilang dari dekapan mimpi Adinda.
Apa gadis itu ingin melanjutkan kejar catatan mimpinya? Sedangkan dia tahu jelas kalau hanya melahirkan luka.
"Dua hari lagi, konser terakhir Harris di indo." Getir Adinda, sambil menatap makanannya tak ada minat.
Gessa melongo dengar penuturan sahabatnya itu. Sambil meletakkan sendok dan garpunya ke mangkuk, lalu melihat serius ke Adinda.
"Yakin?! Trus..bagaimana dengan novelmu di sana, Din? Eng..Pak Hafiz sudah kasih kah belum ke Harris?" Tanya Gessa berentetan.
Hanya sebuah balasan gelengan sangat lemah dari dia. Tidak memiliki banyak harapan di berikan selain delusi, selalu saja di pelihara Adinda seorang diri.
Kalau saja menganggap serius sebagai sahabat, mungkin tidak bakal merasakan penat menunggu asa dibalik pintu kesempatan dari Pak Hafiz.
Tentu saja Harris J akan menagih keberadaan novel gadis itu, tanpa harus hilang dan susah lagi di hubungi seperti ini.
Tapi, yang dilihat oleh gadis aksara adalah delusi dan sibuk oleh rutinitas tour di sana.
Sangat menyebalkan sekali.
Kalau tahu seperti ini menjadi ending tak menyenangkan hati, novel serta sovenir cantik itu terurungkan terbang ke kantor DNA Production.
Arg. Sangat kesal sekali.
Adinda bisa apa? Minta kembali paket itu dengan mencak-mencak penuh wajah protes?
Oh..mana mungkin terjadi. Melihat manager indonesia sangat cuek dan datar, terlapisi sifat pembohong pasti, mana bisa mengambil kembalj paket terlanjur sampai di sana yak.
Huuuh, mendesah sangat menyesal. Tidak pikir sampai ke sana.
Lumayan sekali kalau novel versi english terpajang cantik di rak buku tanpa harus di desak oleh kado lainnya di sana.
Benar juga. Sebuah simfoni terlapis sunyi telah beranjak serta membawa kemasan ukhuwah dibingkai hangat oleh Harris.
__ADS_1
Harris yang bingkai sendiri juga mengelupaskan ukhuwah tanpa sebab. Hilang tanpa aba-aba, cukup buat dahaga imaji memberontak sangat brutal. []