Ikanaide

Ikanaide
Cara antusias JJS


__ADS_3

"Antusias JJS begitu terbentang nyata, namun tetiba saja ada yang menggelitik, lucu."


🪐🪐🪐


Sebulan ini vidio big thanks berada dalam HP tapi Harris J masih datar tak minat lirik project dibuat gadis itu sendiri.


"Makanya kah, Din, kalau bule itu bilang tidak usah. Kenapa masih keras kepala sih?" Kesal Vero.


"Lah? Kan, dia suka baca buku, siapa tahu dengan cara rangkul JJSnya berkarya, bisa hilangkan benci mereka tapi termotivasi buat produksikan karya?" Justru Adinda protes, membela diri.


Vero juga tahu persis sahabat yang satu ini paling tidak bisa prioritaskan waktu istirahat, menjadikan diri terbaring lemah diatas kasur.


"Trus..sudah coba hubungi Harris J lagi?" Kata Vero, mengalihkan topik.


Yang di dapati hanya gelengan, "jangankan hubungi, dia saja sudah marah sekali sama saya."


Hm. Vero tidak tahu untuk ngambil hati bule london tersebut, yang bisa menyatukan keretakan tersebut cuma Varinta.


Sayang, perempuan hijabers itu sangat memprioritaskan egoisme diri dibanding sahabat sendiri.


"Kalau Rinta tidak begini, mungkin.." Kata-kata itu menggantung, "tidak ada namanya lost kontak karena kesalahan yang dia buat sendiri." Vero menyambungkan dengan nada protes.


"Haha..tuh tahu!" Tawa Adinda penuh renyah.


Jujur, sebulan ini mendapati vidio sweet dari sahabat rambut mie, terasa kosong karena sosok menyebalkan tidak sedang menemani hari-hari memproduksikan karya dari bunga harapannya sendiri.


"Hm..kalau Harris J tidak marah, mungkin kita berdua diskusi penerbit apa yang bagus bahkan.."


Dengan cepat membalas, "bule itu bisa tawarin buku kalian terbit versi inggris di penerbit london, bener nggak sih, Din?!" Vero memotong dengan intonasi sumringah.


Ada getir-getir tercetak di sana.


"Eh..be the way, JJSnya Harris kok antusias gini dalam grup?" Vero melirik grup tersebut.


Yang Adinda sendiri tidak menyadarinya. Apa karena terlalu fokus dengan kehilangan kabar dari sahabat rambut mie london itu kah?


Memerhatikan benda pipih itu. Mengangguk-ngangguk tak nyangka.


Benar. Memperlihatkan sebuah cara antusias kepunyaan JJS, sangat berbalut hangat.


Andai saja kelas sejurusan dapat di perlihatkan semanis ini, sama halnya mereka dalam grup walai belum bertemu kedekatannya sangat nyata.


"Vey..coba eh, waktu itu saya lanjut saja? Daripada pusing sama omongan grand ma, yang ngata-ngain bodoh dan cuek dengan tingkah laku Nafa, mungkin.."


Ada yang di gantung dari kalimat gadis itu, "sudah..sudah, yang terjadi tidak perlu di bahas lagi. Sekarang, bagaimana caranya kamu bangkit dan buat Harris tidak marah lagi." Kata Vero menenangkan sahabatnya itu.


Well. Perempuan berdarah papua itu tahu apa yang menjadikan diri menahan perkataan barusan, sangat menyayat isi hati mengingat kembali ipk hangus tak tersisa detak mengejar langkah mereka semakin aksa dari deretan sks milik Adinda.


"Hehe, sori nah kalau ndak tepati janjiku untuk pertahanin ipk-ku." Getir gadis itu.


Vero membuang napas lelah, "ok, fine. Jangan lagi salahkan diri, okay?! Bangkit yok?! Tidak mau toh kalau Harris J marah-marah lagi kalau tahu kuliahmu berantakan? Trus lebih prioritaskan JJSnya?"


Ah, perkataan perempuan itu ada benarnya juga. Kenapa dulu tidak menampilkan sikap cuek dan menjalani dengan santai tanpa harus terbebani oleh omongan grand ma mengenai porsi otak tak bisa mendapati topi toga? Karena bodoh selalu tercetus beliau?


Arg. Sekarang menyesal kan?


"Eh..eh, Din, coba lihat grup deh?!" Seru Vero.


Sebenarnya sangat penasaran apa saja yang sedang di bahas mereka dalam chatroom itu? Tapi ntar sahabat keras kepala yang satu ini ngamuk lagi kalau tidak ijin.


"Hah? Ada berita baru lagi yak?" Adinda bengong sendiri.


Kedua bola mata menjelajah setiap diksi tersampaikan dalam chatroom tanpa terlewatkan sedikit pun.


Jey..itu benar akun Linenya Bang Harris J?


Ada salah satu JJS menanyai kontak bule london itu, apakah benar atau hoax?


Sebenarnya Adinda sendiri juga kepo walau tahu langsung dari bule itu tidak memiliki akun Line sama sekali selain whatsapp, instagram dan twitter.


Masih memantau dengan seksama.


JJS sangat antusias pun berkicau kalau meng-add akun Line tersebut sudah tersambung otomatis ke nomor whatsapp-nya.


Yang diperjuangkan Adinda adalah mendapati apresiasi nyata dari manager indonesia, bukan lewat kado berupa jam tangan, doodle, baju design lalu di sebutkan namanya lewat live instagram.


Itu semua batas delusi pun senang sesaat saja.

__ADS_1


Diinginkan gadis tersebut adalah mencetak sejarah telah memproduksikan karya teruntuk orang yang jauh di sana, beda daerah pun negara.


Walau tahu telah di anggap langsung lewat acara penting di london setahun lalu.


Tapi kan, JJS Ina butuh aset nyata lewat kamera tanpa harus mengcopas kreatifitas orang dibuat dengan air mata.


Wih, bagi dong id-nya Jey..


Adinda menggelengkan kepala tak habis pikir, terlalu obsesi tinggi mendapati hal dengan instan.


Mau..


Hah. Ada lagi JJS yang ngebet banget mendapatkan kontak tersebut.


Saya tidak bisa kasih, karena belum izin ke Harris J.


"Haha! Parah sih." Tawa itu menggelegar seisi ruangan kamar gadis aksara.


Yang cukup buat Vero mendelik sebal.


"Apa sih, Din?! Tertawa tiba-tiba, bikin spot jantung saja!" Ketus perempuan berdarah papua tersebut.


"Coba deh, kamu baca ini.." Sambil mengarahkan telunjuk ke chat yang cukup menggelitik perut Adinda.


Ah..bohongan pasti itu. Palingan ada adminnya yang pakai.


"Kok bisa eh, mereka pada heboh hanya persoalan hoax gini? Apa Harris tahu soal ini?" Sungguh Vero pun sama halnya dengan dia, tertawa tak habis pikir dengan ide mereka yang di bilang fanatik luar biasa.


"Mana tahu dia, hilang-hilang nggak jelas gitu." Adinda menyudahi tawa itu, seketika moodnya berubah.


Kak, sudah tahu akun Line Harris J belum?


"Eh?" Mendadak melongo dong.


Chat dari salah satu JJS, Intan Widiya.


Santai membalas walau sebenarnya tahu ingin sekali berbagi kisah tentang setahun lalu di kota big ben london juga kontak reall kepunyaan Adinda di HP.


Tapi, yang ada bakal boomerang dalam grup dan manager indonesia menjadi sasaran spam JJS Ina.


Belum ada tiga menit mengirim chat itu ke Intan, melirik dalam chatroom grup JJS Ina. Salah satu dari mereka mengirim sebuah bukti chat dengan Harris J.



"Aneh!" Tawa Adinda kembali menderai.


🪐🪐🪐


Rizka Setiani : Kak, terima kasih sudah mau nampung karya belajar Rizka ke dalam buku :) terima kasih juga sudah menjadi inspirasi Rizka nulis cerpen buat tugas sekolah. 


Intan Widiya : Kak, Din, Intan punya sedikit lagi jadi nih..


Dita Fitri : Kak, gpp kalau ceritanya kolaborasi dengan teman lainnya, maksud nulisnya bareng dua teman Dita? Takut nanti kakak gak terima.


Nanda Mulyaning : Assalamualaikum, Kak Din, puisiku udah jadi, mau dikirim ke mana?


Setitik senyum terbit dengan haru dan bahagia. Tak masalah hanya beberapa saja yang semangat dalam mengirimkan karya mereka.


Seenggaknya dengan begitu dapat melanjutkan project tanpa harus kesal oleh sebagian JJS out atau mantau grup doang.


"Semoga dengan adanya antologi ini, kamu tidak marah lagi yah, Ris?" Adinda berdialog sendiri, terdengar meringis.


Sudah beberapa chat-nya tidak di respon hanya read.


Lebih baik fokus membalas semua chat dalam grup, tetiba Adinda mengernyit, tidak ngerti dengan ..


Assalamualaikum, kak, saya mau kirim naskah, tapi ini ke curhat, masih bisa diterima gak?


Namaku Liana, seorang gadis penyandang disabilitas.


Aku lumpuh sejak usia 12 tahun, tepat sehari sebelum ulang tahunku yang ke 13 tahun.


Aku tak tahu pasti apa penyebab kelumpuhanku ini, yang pasti itu terjadi secara tiba-tiba.


Aku sempat dibawa ke rumah sakit, tapi saat diperjalanan aku sudah lumpuh.


Pada saat di rumah sakit aku sempat mengalami step dan koma, selama dua hari, kata ibuku.

__ADS_1


Saat satu tahun berlalu dan aku merasa bosan, hanya bisa nonton tv sebagai hiburanku tapi disitulah aku menemukan seorang yang dikagumi hingga sekarang. Dialah seorang remaja muslim dari inggris bernama Harris J.


Aku pun mulai penasaran tentang dirinya dan mencoba mencicipi salah satu acara musik yang dibintangi oleh Harris J. Makin tertarik dengan dirinya karena ternyata dia melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan sangat indah.


Beberapa tahun berlalu dan aku terus saja berharap dia datang ke kotaku dan terus saja berpikir hal itu sebatas halusinasiku. Tapi, ternyata ketakmungkinan iru dijawab dengan Harris J ke kotaku dan itu membuatku sangat senang bahkan merasa semua itu mimpi.


Aku rencana untuk menemuinya di bandara dan akan nonton konsernya, bahkan sudah beli satu tiketnya. Beberapa hari kemudian aku pergi ke bandara dengan bermodal kursi rodaku untuk menemuinya dan saat aku di sana, berpikir akan bisa berfoto lalu minta tanda tangannya.


Tapi..ternyata takdir berkata lain lain, dia hanya lewat dibelakangku dan disaat yang sama aku ditabrak oleh kerumutan orang di sana. Dan aku hanya bisa bungkam di kursi rodaku. Sedih tidak bisa raih kenyataan yang telah tersapa oleh mata.


Aku tahu sudah lumpuh tapi keras kepala ingin bertemu Harris J, dan bisa diberikan pintu kesempatan bertemu langsung dengannya! Sosok yang aku kagumi atas semua itu hanya angan-angan saja. Dan aku tidak akan menyerah dengan mimpi-mimpiku untuk bertemu dengan Harris J!


Rasa ketakmengertian itu tergantikan oleh haru campur berdesir, lirih. Usai baca sampai habis cerita milik Norliana tersebut yang dikirim via japri itu.


Tak menyadari ada sebuah bulir-bulir besar mengalir di pelupuk mata.


Ternyata masih ada tersisa seorang yang tak memiliki fasilitas bebas hanya batas duduk di atas kursi roda namun tekad luar biasa itu terus di tanamkan agar suatu saat bisa menjemput mimpi bersitatap dengan Harris J, walau dengan sebatas perempuan yang duduk diatas kursi roda bukanlah sebuah penghalang raih mimpi besar.


Dek, boleh cerita sedikit soal kenapa bisa ade lumpuh dan penyebab lebih detailnya? Kakak salut dengan perjuangan ade yang tak main-main, berbeda dengan fans lain sudah bertemu bahkan dipamerkan ke fans lain tujuan untuk kasih sakit hati sesama JJS. Tapi, yang kakak lihat dari ade itu beda.


Nggak tahu kenapa tiba-tiba terbesit sebuah ide untuk meminta mendengarkan kisah itu secara rinci mengenai kelumpuhan tersebut dari Norliana.


Ping,


Boleh kak, tapi..aku sudah curhat dan kasih tahu kok di cerpenku.


Hm. Fix, setidaknya dengan adanya cerpen itu cukup menginspirasi sesama fans Harris J, bahwa menjemput mimpi besar bukan lewat copas ide orang apalagi vidio yang susah payah di dapatkan oleh Adinda dari Harris J.


Oh iya lupa, kan, Norliana sudah menceritakannya lewat cerpen kok gadis aksara meminta rinci lagi? Haduh, akibat terlalu sumringah nih.


Ris, semoga kamu baca kisah Norliana dan ketemu sama dia langsung. Gumam Adinda penuh harap.


Andai saat ini sahabat rambut mie london tidak hilang kabar, kemungkinan besar bakal mengabari dan langsung kirim cerita itu tanpa menunggu jadi fisik, cetak.


Satu lagi, tadi dia minta foto itu walau hanya batas dari belakang sedang duduk diatas kursi roda, setidaknya bisa menunjukkannya nanti ke Harris J. Semoga tersampaikan.


Dan, kini Adinda beralih dalam chatroom grup whatsapp, membalas chat yang tertumpuk.


Adinda : Waalaikumsalam, yang sudah buat karyanya, bisa kirim via japri atau disini. Dan yang berkolaborasi bebas. Asal panjang halaman cerbung itu jangan overload. Yang belum buat ceritanya jangan keburu karena teman lain sudah pada selesai. Santai saja yah, kakak tidak mau kalian buat ceritanya tabrak lari! Harus bisa buat karya bagus dibanding kakak punya, okay?!


Usai mengirim chat itu dalam grup. JJS pada heboh menanyai persoalan karakteristik penulisan mereka.


Seulas senyum pun muncul dari wajah Adinda. Sangat bahagia.


Yang mengembalikan kesadaran gadis itu sangat penting dalam mengapresiasikan perjuangan jemput pintu temu dengan Harris J adalah gadis penyandang disabilitas.


Aha! Dapat ide sangat cermelang. Kenapa tidak kirim foto Norliana saja ke sepupu rambut mie london?


Tanpa pikir panjang, dengan cepat langsung menekan ..


"Cielah kok salah kirim sih?!" Gerutu gadis itu sendiri.


Hah. Menghelakan napas sangat lelah, di pastikan nanti dapat intograsi panjang nih.


Huee..kembali lihat foto yang sudah di kirim itu, kalau sudah di read pasti langsung auto di telpon nih.



"Arg..Harris J!! Kenapa sih marah-marah ndak jelas, tuh kan, jadinya saya salah kirim!" Ketus Adinda, gemas sendiri.


Kalau nanti hapus foto itu, dapat tumpukan pertanyaan lebih lagi dari Kak Lefan.


Ade tadi chat apa? Kok tumben di hapus pesannya?


Pasti tanpa harus di laksanakan menghapus chat, bakal terbit chat tersebut.


Hah. Membuang napas lelah.



"Duh..bilang apa nih?!" Adinda jadi panik sendiri.


Kemungkinan besar Kak Lefan bakal memuntahkan semua pertanyaan mengenai foto dikirim itu.


Walau belum bersitatap lagi dan batas telponan pun vidio call whatsapp, tetap saja kan, Kak Lefan menyelipkan rasa khawatir, apalagi foto yang dikirim sedang duduk diatas kursi roda. Ditambah wajah tidak kelihatan.


Jelas menimbulkan pertanyaan dari sosok kakak yang ditemui Adinda sewaktu liburan sendiri di London. []

__ADS_1


__ADS_2