Ikanaide

Ikanaide
Pembatas Lupa


__ADS_3

“Be the way, pembatas lupa digantikan vidiomu, sebenarnya belum memulihkan vidioku dimanipulasi.”


🪐🪐🪐


"Din, boleh minta antologi yang nanti rilis?"


Melirik sinis, "haha, jangan buat saya tertawa, Ris! A Dreams saja belum ada di tanganmu, bla..bla mau minta antologi yang lagi saya susun?!" Sarkas Adinda tak ada ampun.


Cukup buat Harris J menelan slavina susah payah, sangat keras kepala juga benar apa kata Kak Lefan.


Sebelum balik ke london pun jadwal tertumpuk sedang menunggu, bule itu mencoba ngambil hati sahabat gadis aksaranya lebih dulu.


Sebab ada hal penting harus di lakukan, karena ketakrelaan memotret mata terluka juga kondisi kurang membaik perulangan usai meninggalkan indonesia.


Yang diinginkan Harris J adalah kebahagiaan membingkai-bingkai hidupnya.


"Saya benar-benar minta maaf soal novel yang tidak di bawa ke london." Kata Harris J penuh tulus.


"Pembatas lupa. Di sengajakan atau bagaimana sih, Ris, hah?! Lihat sana heh, managermu terlalu sombong kali. Apa susahnya sih kasih informasi kamu bawa atau tidak, baru jadi manager saja sudah sombong, bagaimana kalau jadi orang besar?!" Kesal Adinda.


"Apapun pekerjaan orang lain, jangan pernah di jugde, Din. Karna Allah tidak suka itu. Wallahi, Pak Hafiz waktu urus tourku, pegang HP pun hanya berapa jam."


Hm. Sangat-amat keki di perlihatkan Adinda depan sahabat rambut mie london.


Tidak tahu dari mana lagi menjelaskan bahwa begitu kecewa ketika novel dipandang sebelah mata. Seolah-olah novel? Ah, biasa-biasa saja kok, buat apa sih terlalu obsesi mau sampai ke tangan Harris J? Menanggapi remeh-temeh tak istimewa sama sekali.


"Jujur eh, saya rasa novelku memang tidak istimewa, makanya Pak Hafiz bikin nangis trus di PHP." Ketus Adinda.


Harris J memejamkan mata, sungguh lelah sekali berdebat dengan sahabat yang sudah diakui perjuangannya bahkan ruas-ruas kagum tak henti tercipta dri bibir bule itu, sebab novel di produksi seorang diri dalam dua bahasa.


"Whatever, yang penting saya tidak pernah bilang kalau novelmu kurang layak di apresiasi."


Mata panas, napas yang memburu sangat buat sosok gadis aksara menahan amarah.


"Haha, iyalah. Apa tuh novel? Bla..bla eh? Pen banget dah di akui perjuangannya depan fans trus di kasih undangan, padahal dia sendiri tidak mengakuinya." Menarik napas panjang lalu, "saya tahu kok, Ris, kamu bilang begitu supaya tenangkan perasaanku toh? Karna lupa bawa novelku?!" Sungut Adinda.


Tidak tahu harus menjelaskan perihal sesal pun salah ke sahabat sendiri bagaimana? Hanya mengulum senyum tipis.


Fix. Lelah sekali berdebat persoalan novel menjadi pembatas lupa itu.


"Saya tahu kamu masih marah soal vidio itu? Bagaimana lagi supaya saya bisa tebus semua kesalahan dan jadi penawar terbaik, setelah JJSku ambil vidioku?" Kata Harris J sangat hilang kepercayaan diri mengembalikan mood sahabag sendiri.


Membuang muka sangat murka.


Oh, masih sangat marah. Gumam Harris J dalam batin.


"Boleh lihat kah karya-karyanya JJSku di laptopmu?" Pinta Harris J.


Kali ini menginginkan gadis aksara melunak.


"Haha, buat apa coba?! Tidak penting lagi. Pasti nanti saya delete semua filenya. Haha..lihat sana, JJSmu sudah pakai vidioku sana-sani, berasa berjuang padahal pakai orang punya usaha." Ketusnya.


Huee..mama pengen kasih lihat ucapan-ucapan dari JJS untuk bule tengik ini. Jerit Adinda dalam batin.


Aksara for Harris J sedang di garap seorang diri yang cukup buat kesehatan itu semakin melemah, terutama tahu fakta JJS sebagian mencuri vidio tanpa ijin terupload di akun media sosial mereka, sangat sombong sekali.

__ADS_1


Tidak tahu kah di balik vidio itu banyak kelas ujian yang harus di lewati proses bengis, air mata, nyerah pun luka bahkan buat diri terkulai lemah di rumah sakit.


Sudahlah. Hanya batas ucapan doang, menunggu kepulangan bule itu ke london, bakal melanjutkan project tertunda.


"Kapan kamu balik sih ke eropa?!" Kesal Adinda tiba-tiba.


"Kalau masih marah, it's okay. Saya salah dan soal kolab yang waktu itu, betul bukan tenangkan perasaanmu tapi menebus kesalahanku."


Ada sedikit tenang dirasa.


Beberapa detik hanya keheningan menyergapi kedua sahabat beda negara tersebut.


Tidak tahu kenapa ada kecanggungan terasa Harris J, tidak terbiasa saja dengan sikap dingin sahabat aksaranya.


Mengingat mengenai nostalgia ..



Saat itu Harris J benar-benar tidak mengenal gadis tersebut, tak sengaja menemukan puisi dengan diksi bersimfoni manis tapi terselimuti tangis, akibat liburan sia-sia, gagal menemukam alamatnya di london.


Oh yah bisa artis bule itu garis bawahi nama asli sahabat aksaranya yaitu Adinda Chintya Dewi dan nama Adinda Ariani sebatas lukisan di karyanya saja, bisa di sebut nama pena.


"Dinda begitu, dek. Kalau sedih, pasti bicara lewat puisi," pernah kok Kak Lefan menginfokan tentang itu.


Padahal sudah berjanji bakal berikan simfoni manis setelah konser berakhir saat di indonesia.


Duh, detak-detak bergulir begitu cepat pun mengubah ketulusan ke bengis. Tanpa sadar mengetahui realita sahabat aksara sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Andai waktu itu tidak melantangkan amarah rumit terkontrol, kemungkinan bakal mendapati kejutan manis dari dia juga bunga harapannya.


Yang terjadi begitu miris takkan bisa mengembalikan semuanya dengan manis.


🪐🪐🪐


Mendarat mulus juga syukur bisa tiba di london bersama dua orang, Renata dan Lefan.


"Makasih?" Ucap Harris J.


"Dek, besok bisa ketemu di cafe?" Justru di tahan lebih dulu oleh Lefan.


Mengernyit sangat heran, "ada hal penting apa yang mau kakak sampaikan?" Langsung bisa menebak dong, cukup buat cowok berkacamata itu tersenyum.


"Soal mimpi waktu itu dia ceritakan ke kakak."


Ah, benar sekali hanya garis besar saja disampaikan, tidak sepenuhnya semakin buat rambut mie london diperangkapi oleh penasaran.


"Oh, okay, inshaallah, kak." Harris J pun menutup obrolan mereka lalu masuk ke rumah.


Sebelum itu melihat kepergian Lefan dengan taksi yang membawanya ke apartement.


"Assalamualaikum, umi..abi?" Salam Harris J.


Sunggut penat sekali berada diatas pesawat apalagi pikiran tertimbun dengan sikap sarkas juga dingin sahabat gadis aksaranya, cukup menyita banyak energinya.


"Waalaikumsalam." Yang menjawab adalah Yusha.

__ADS_1


Seperti biasa menanyakan posisi kedua orantuanya, ternyata sedang berpergian sebenyar ke supermarket.


"Bagaimana kesehatan gadis itu?"


"Alhamdulillah sudah pulih."


Yusha ingin tahu kenapa bisa masuk rumah sakit, tapi mengurungkan niat karena lihat abangnya sangat lelah tampak jelas terpotret kantung mata segera menjemput pulau kapuk.


Membiarkan kepergian Harris J menuju kamar tanpa melontarkan pertanyaan berat. Mungkin besok.


Esok hari, di cafe de provence ..


Mereka berdua sudah duduk dengan tatapan keseriusan. Dan, Harris J sendiri telah menentukan apa yang ingin disampaikan.


"Kamu tahu kalau penyakitnya serius, bukan? Dan, kakak sendiri tidak mau lihat dia masuk rumah sakit kedua kalinya." Lefan membuka obrolan.


"Harusnya dia istirahat bukan habiskan waktu untuk ajak JJSku berkarya. Fine, itu semua kesalahanku sudah mengabaikan bahkan marah besar ke dia, tapi kak? Saya kecewa dengan dia."


"Dalam hal apa? Bukannya kamu bangga dengan apa yang sudah dia kasih lewat novel?" Lefan justru mengernyit.


Tak mengelak kok ruas-ruas bangga terus tercetak dalam batin seorang bule memiliki rambut mie itu, tapi kecewa kenapa mementingkan orang lain yang bahkan melupakan kesehatan sendiri.


Senang? Jangan dilempari tanya persoalan tersebut tapi sangat kecewa bahkan rumit mencari-cari sorot ketenangan di balik bola mata sahabat aksara melainkan keterlukaan vidio itu terambil paksa oleh JJS-nya.


"Soal kolab waktu itu saya bicarakan dengan dia, benar adanya. Tapi, kak, masih kecewa kenapa dzolimi diri hanya kepentingan orang lain?"


Fine. Lefan menyadari bahwa sosok bule di hadapannya paling membenci ada orang terdekat bahkan sempat tercetus bangga terus-menerus melukai diri dan jauh lebih mementingkan prioritas orang lain yang bahkan tidak membantu justru sebaliknya, mengambil vidio thanks dari Harris J lalu terupload tanpa sesal sedikit pun.


Adinda akan berada dalam jeruji nestapa, tahu menyeruak realita sahabat rambut mie london lagi dalam fase kecewa tak tertandingi.


Padahal Lefan ngajak bersitatap adalah mengembalikan detak sempat retak justru semakin menganga lebar, memperparah keadaan.


Diluar dugaan, masih belum menyangka kenapa bisa Harris J melantangkan kecewa ditambah sorot-sorot intimidasi tak bersahabat membincangkan persoalan gadis aksara tersebut?


"Saya masih bisa kembali, kalau Dinda prioritaskan cita terutama kesehatannya, kak. Karna dua hal itu sangat penting buat dia sendiri, kan?"


Tetiba suara itu membangunkan Lefan dari lamunan panjang.


"Kenapa tidak jelaskan langsung ke dia, dek?" Lefan sempat bingung harus seperti apa lagi untuk menyampaikan asa gadis itu ke Harris.


Ada sesuatu yang rumit terdeskripsikan lewat potret-potret mengalun simfoni itu menjelma kebengisan pun intimidasi tak terduga.


Pembatas lupa adalah prantara supaya Harris J tidak lagi mengulangi atau bahkan menerbitkan ekspresi bengis yang tak diminta Lefan hadir saat temu di kafe siang ini.


Kalau bule london sudah kecewa seperti ini yak? Ah, Lefan bingung harus bagaimana lagi untuk menyatukan keretakan diantara keduanya.


"Yang jelas, kakak tahu kamu bukan tipekal orang pendendam. Karena tahu cara bagikan bahagia bahkan dakwah lewat nada."


Moga-moga Harris J bisa menangkap arti yang sudah dilempari cowok berkacamata itu.


Benar.


Ada senyum tipis terbit di wajahnya.


Membuang napas sangat lega tapi tidak menjamin buat mengembalikan kecewa ke ekspresi ramah lagi. []

__ADS_1


__ADS_2