
“Sebuah ruang tak berikan bersemuka, ada diksi-diksi jelma motivasi namun rumit mengusir pelik terlanjur dalam jeruji asa penuh palsu."
🪐🪐🪐🪐
Mimpi. Terbilang sangat mustahil bahkan tawa-tawa pongah terdecih lewat terowong perjuangan tak bermain-main pada detak waktu.
Kebanyakan dari orang bermimpi besar, terjatuh lalu berbalik meninggalkan semua ceklist terbuat. Padahal, jika kembali mengejar ketertinggalan akan membuahkan hasil menyenangkan.
Dan, apakah Adinda bisa menjemput ulang sebuah mimpi terlanjur terjeruji pada besi-besi bengis?
Menangis dalam puisi, sembari mencakar penuh amarah mengenai asa diberikan ruang hangat, sebatas senang sesaat.
Sahabat yang selalu ada saat susah, terbukti mengemas kidung dari sana.
Friends reall, berarti takkan meninggalkan tanpa alasan walau sedang berada pada atap-atap sesak-mendesak pikiran, mereka masih menyempatkan buka jendela mendengar keluhan seputar mimpi besar.
Gessa kenapa menjadi orang asing tak dikenali? Bahkan Varinta pun masih belum berikan sebuah kabar, apakah mendapati keinginan kasih sayang orangtua dan dekapan hangat lalu melupakan arti AVN?
Gadis itu sudah berupaya menyampaikan keluh kesah yang meronta dalam jiwa, Varinta minggat dari AVN cukup memakan waktu yang lama. Durasi prahara paling panjang tak memiliki jeda, iseng menanyakan kabar sekali pun tidak ada sama sekali.
Oh, sahabat saat butuh setelah dapat terbuang menjadi orang tak dikenali, seperti itu kah Varinta menanggapi sebuah arti dibalik diksi sahabat?
Egoisme nafsi tak bisa di kontrol dengan mudah, sangat terpengaruh oleh luka lama dan dendam berkecamuk dalam diri.
Sudah jelas memiliki peraturan dalam rumah, kalau tidak boleh lewat dari jam sembilan malam pulang, masih saja ngeyel dan menyalahkan sahabat yang sudah menyatukan ikatannya dengan orang tua.
"Kalau tahu sombong dan tidak tahu diri, mana mau bantu bicara sama mamamu." Kesal Adinda, berdialog sendiri.
Seperti, HANYA DI MANFAATIN saja.
Dasar..Varinta bermuka dua! Bukan kah kebaikan gadis itu saat menyatukan ikatan anak-orangtua terbilang tulus, tak bercanda pada situasi di AVN yang telah di praktekkan oleh perempuan itu?
Gessa membentuk sebuah ikatan penuh harmonis, nyaris tak menemukan kembali titik-titik nestapa, ternyata batas delusi saja.
Realita tertawa sangat belagu sambil memangku tangan depan benang di rajut keikhlasan, mendadak putus pelan-pelan.
Tak lagi memiliki pertahanan yang bagus dalam menjemput reall best friends. Mereka semua palsu, Varinta dengan balutan kicau bijak tersemat sebuah licik di sana.
Gessa memiliki pendengar setia tanpa menyela dengan lantang protes, ternyata sangat mudah melongos tanpa pertimbangan banyak, kalau AVN tidak terlalu penting baginya.
Semua palsu dipenuhi rasa benci, iri dan keki tersemat pada AVN.
Kalau saja tak memiliki sebuah kecacatan di atas, mungkin saja AVN bakal tersemat harmonis tanpa perlu mengundang-undang bengis paling nyeri.
Juga bola mimpi tertidur dalam tumpukan debu, mendapati alternatif dalam menyatukan sebuah pendapat berbeda tapi tersambung menggapai kembali pintu asa tersebut.
Terkoleksi sangat sesak. Benar, luka itu menjadi membludak dalam meja sajak, tak di undang tanpa ragu lompat riang-riang diselimuti tawa pongah di ujung asa.
Adinda sendiri bingung harus ke mana lagi, saat tahu pintu mimpi beranjak sangat belagu. Tertambah sahabat baru rambut mie london itu tidak pernah berikan kabar menyenangkan, hanya menembak amarah tiap kali bersua lewat telepon.
"Hmm.." Mendesah sangat gusar.
Memperhatikan sebuah karya yang sedang menjadi topik hidangan hangat di kalangan JJS, samar-samar menerbitkan senyum, sangat nyeri.
__ADS_1
Belum mendapati respon saja, sudah mengumpulkan banyak sumringah dalam rongga aksara.
Bahkan sahabat sendiri pun minta mentahan tanpa harus mengorek uang banyak lagi, print dokumen A Dreams lewat printer gadis itu saja. Lalu, bakal di bayar seadanya saja sebagai sahabat.
Oh, jelas dia tidak menginginkan itu, dengan tangan terbuka lebar memberikan karya tersebut sudah di sanjung sangat bangga, tanpa harus meminta rupiah dari sahabat sendiri.
Jika itu dalam fisik cetak dari penerbit sekalipun, Adinda takkan mau meminta kertas-kertas yang ada di sahabatnya.
Sekarang? Ke mana orang yang menjadi telinga setia saat mimpi di pandang sebelah mata?
Bisa saja Adinda menelpon kakak translation, mengusir nestapa yang tersemat pada rongga asa, sayang kakak translation sibuk di sana.
Ah, benar juga. Saat bola mata Adinda memerhatikan sebuah akun yang sudah lama tidak bersua, ada rasa ingin mengirimi chat tapi terselimuti gensi.
Getir. Tercetak begitu saja di wajahnya.
Kak!
Ping,
Yah, kenapa adik cantikku?
Ping,
Lebay!
Memang jarang sekali komunikasi dengan kakak kandung sendiri. Apalagi cowok. Pasti kebanyakan adik perempuan menginginkan posisi di manjakan atau perhatian lebih dari sang kakak cowok.
Bohong kalau saat ini dia tidak bersemu, digoda oleh kakak cowok sendiri.
Sudah lama sekali tidak merasakan sesuatu yang menghangat dalam dada.
Aha! Tiba-tiba gadis aksara itu memiliki ide dalam mengalirkan percakapan mereka tanpa harus terkepung oleh diksi kaku.
Background lembut dan tenang, awan, di mana terletak sebuah judul Dunia Awan, buku hasil lomba walau menjadi kontribusi, cukup meninggikan percaya dirinya untuk memulai percakapan dengan sang kakak, Wiguna.
Setelah terkirim, tanpa mengulur waktu panjang, langsung to the point kenapa sedang tidak bersemangat.
Mengejar orang asing untuk dijadikan sahabat pun novel itu harus di potret menjadi saksi kalau di hargai setiap proses yang di jalani selama merajut A Dreams.
Ulala, kejar terus impianmu.
Jangan lelah sampai terwujud.
Curhat di kakak memang tidak mendukung terlalu banyak untuk gapai bola mimpi terlanjur bersemuka debu, seenggaknya menghilangkan nestapa dalam dada.
Benar. Beban mimpi yang sedari tadi di pikul, sedikit-sedikit berubah menjadi lega dalam hati.
Masih banyak cerita perjuangan yang batas sampai juga bulir-bulir perih, sajak paling merah, pintu asa jelma pongah ingin disampaikan ke kakak.
Tapi, dia rasa cukup sampai di sana saja. Karena beku dalam percakapan mereka takkan benar-benar mencair menyenangkan dalam berbincang-bincang seputar mimpi ke Wiguna.
🪐🪐🪐🪐
__ADS_1
Napas tersendat-sendat, tak memiliki kembali sebuah kesempatan bersitatap dengan A Dreams juga Harris J di atas panggung.
Benar-benar pergi tanpa pamit.
Meninggalkan banyak kisah pelik di perjalanan mimpi mengejar Harris J memeluk anak yang di kandung penuh sungguh-sungguh, tanpa harus memungut banyak sebuah unfaedah.
Susah di hubungi. Menyebabkan hati bergemuruh sangat hebat dalam sunyi.
Memerhatikan sebuah karya itu masih berjejer manis di meja belajar, dengan sorot kosong tak lagi memiliki pondasi kuat dalam bertahan lewat mimpi.
Miris. Ternyata manager indonesia sangat pelik tak mengapresiasikan sangat manis, justru beri hal tangis lewat puisi tersemat pada sosok gadis aksara serius kejar Harris J.
"Kenapa?" Hana kali ini bertanya, akhir-akhir ini ananda menjadi pendiam dan muram, kali terakhir tahu Harris J tidak berikan kabar bagus sejak kedatangannya jemput ke london, setahun lalu.
Menggeleng dengan pelan pun tak mendukung untuk menyembunyikan pekat dalam wajah gadis itu.
"Soal Harris J lagi?" Ugh. Sakit sekali, diingatkan dengan nama penuh luka itu transit dalam daun telinga, mengiramakan nada-nada keki.
Lagi, menggeleng dan memberikan senyum tipis.
Hana tahu persis ananda kalau sudah tidak menjawab, takut memberatkan pundak ibunda. Dengan menghela napas pelan lalu berikan nasihat sekedarnya saja mengenai jangan terlalu larut dalam sedih, dengan menambahkan sedikit motivasi dan melongos ke bawah setelah selesai menaruh panci ke gudang samping kamar ananda.
Dan, Adinda hanya menunduk sangat terluka. Memerhatikan lagi kontak yang tak memberikan banyak asa.
Ugh. Nyeri tak berperasaan pada bola mimpi terlanjur lupa oleh manager indonesia.
Apa karena ucapan terakhir kali itu, buat presepsi bule london berubah mengarah ke bengis dan amarah?
Oh, tidak, tidak. Mana mungkin terjadi pada sosok motivator bak humble murah senyum itu?
Apakah ada hal yang buat Harris J tidak ingin di usik oleh sahabat sendiri?
Hm, mana ada sejarahnya itu lari dari sebuah masalah. Bukan tipekal Harris J sekali.
Karena bule london kalau ada masalah sepeleh bahkan menyeruak sekali pun dapat mencari solusi terbaik bagi nafsi, juga tidak terlalu terpaku dalam kesedihan itu.
Huaaa..terus apa yang buat bule itu menghilang tanpa kejelasan yang mendahagakan asa Adinda?
Apakah ini sebuah kejutan yang sangat menyenangkan?
Tidak sama sekali.
Semalam ingin tukar kabar, batas menghilangkan luka, terbangun dalam kapuk mengejutkan banyak asa mimpi pada aksara.
Nomor Harris J sudah diganti. Nomor kontak tersebut tidak dikenali lagi.
Padahal bule berambut mie itu masih ada di indonesia. Sudah ganti nomor.
Meremas sangat kuat benda pipih tersebut, lalu mengeluarkan aplikasi icon hijau tersebut, sangat bercuaca masam dalam jiwa.
Kalau memang tidak ingin terusik seenggaknya jangan lari dari sebuah pintu mimpi yang dibuat. Bahkan melantangkan Adinda sebagai sahabat depan orang asing di london.
Karena mimpi bukan sebuah permainan. []
__ADS_1