Ikanaide

Ikanaide
Irresistible


__ADS_3

“Bersitatap pada kapuk, batas memberikan ruas sesak, kenapa melulu luka di tawari semesta?”


🪐🪐🪐


Daripada boring nunggu asdos masuk ngajar di lab, lebih baik menghabiskan waktu lanjutin tugas nanti sore dikumpulkan saja deh.


"Beh..calon-calon programmer nih. Jarimu lincah sekali, Din." Decak kagum kakting, Devo.


Cih. Tahu kok ke mana arah pembicaraan itu, bukan puji melainkan menjatuhkan karena diiringi oleh kekehan meremehkan.


Sejak dulu selalu gagal jemput prestasi di sekolah. Bukan hal baru kok kalau dengar intonasi meninggikan tapi sebenarnya berbalut mengejek.


Hah. Sekarang suasana dalam angkatan berbeda canggung yak. Semenjak Ika tidak amanah pun lebih mengutamakan seorang teman tak berperasaan dibanding diri yang tulus berteman tapi di tusuk dari belakang, menjadikan nafsi sebagai figuran saja di pelupuk mata mereka.


Ditambah Nava yang terlalu gemar menebeng otak teman bercampur drama, sudah..gadis aksara batas duduk bincang sunyi saja dalam kelas.


Padahal dulu sudah sepakat berempat bakal jemput topi toga tanpa merangkak ketertinggalan mata kuliah, ternyata salah.


Mereka meninggalkan dan lebih percaya omongan hoax dibanding orang selama ini beri ketulusan.


"Din, lagi apa?" Ika menghampiri.


Oh, ternyata sudah berdatangan seangkatan menunggu asdos datang ngajar dalam lab.


"Lagi revisi cerita JJS nih," tidak tahu kenapa ada sebuah intonasi getir.


Apa karena permasalahan sks tak terambil?


Sangat jelas kecewa, apa uang semester mereka yang bayarkan? Tidak kan.


Padahal saya juga mau kontrak KP sama kalian. Ingin sekali mencetuskan kalimat itu, tapi sayang tidak memiliki kekuatan untuk melontarkannya.


Kan, sudah dijauhkan sebab Nava yang buat drama dalam kelas, kenapa harus takut lagi sih?


Andai mereka berdua disisi gadis itu juga kampus sama beda kejuruan, kemungkinan besar bakal menghampiri kelas mereka, seperti kala duduk di bangku putih abu-abu.


"Serius, Din! Kalau kamu kuliah tahun depan, saya bakal bantu matkul apa yang susah!" Mengambil jeda beberapa detik, lalu melihat langit-langit honai di kampus, "hm..jurusan komputer eh, Din? Ah, it's okay, nanti saya usahakan bantu kerja kalau kamu rasa ada yang susah."


Diksi-diksi membalut begitu manis, sayang mereka tidak di samping. Melainkan membiarkan diri memeluk tangis juga kerumitan seorang diri.


"Din, sebentar mau ikut karokean?" Ika mambagunkan gadis itu dari lamunan.


"Eh? Bagaimana?"


Dibalas bengong dong dari teman kepercayaan.


Lalu mengulangi pertanyaan tadi, "aih, ndak hobi nyanyi. Kalian pergi saja sudah?" Menolak secara halus.


Usai belajar di lab, mereka pun turun ke arah kantin.


"Kenapa? Masih marah soal sks yang saya tidak ambil kan kah?"


Please deh, tidak usah bahas lagi, napa sih?! Sudah jelas kecewa dan marah, pakai bertanya segala.


Bukan itu sedang berada dalam kepala Adinda melainkan berupaya untuk buat JJS berkarya tanpa harus mengambil hak orang lain tanpa ijin.


Menggeleng tanpa harus memberikan penjelasan kenapa dengan dirinya sedang tidak bersemangat.


"Maaf.."


Uh, lagi dan lagi mendengar suatu hal tidak mesti ada perulangan jika matkul dalam deretan krs Adinda tidak mengalami perubahan sama sekali.


Andai kata maaf dapat mengembalikan situasi dan keajaiban di beri, kemungkinan bukan berteman gelisah beberapa bulan mendatang akan melihat mereka turun ke lapangan melainkan senang bisa bergandeng ramai-ramai menyelesaikan kuliah.


Dan, semua itu batas delusi doang.


Bukan hanya mata kuliah berantakan yang menjadi beban pikir tapi kelakuan JJS sangat keterlauan mengambil suatu kreatifitas tanpa ijin.


Well. Sebagian JJS ada kok yang ngedukung tapi kan, setidaknya berjuang dengan kemustahilan itu sangat susah, kenapa sangat santai mengambil begitu paksa vidio tersebut, hah?!


Ika melirik gadis itu sedang menahan emosi, "kenapa? Din, kalau hobimu merusak proses masa depanmu, lebih baik fokus saja sama kuliah. Kasihan uangmu kebuang-buang, kalau ada matkul eror lagi?"


Sangat perhatian walau menyadari sempat melakukan kesalahan, Adinda bisa menghargai hal itu.


"Irresistible." Tetiba tercetus satu kalimat, yang cukup menyayat hati Adinda.


Ika mengernyit, heran campur bingung dengan satu kalimat itu.


Sambil melihatkan karya-karya sudah di kirimkan dari JJS lewat chatroom chat whatsapp.


"Tidak ada yang salah sih, kok tadi kamu bilang begitu?"


Hah. Ternyata teman kepercayaan sekalipun sedekat nadi di kampus, tidak menjamin dalam memahami isi hati Adinda saat ini.

__ADS_1


"Oh, sudahlah. Kalau saya jelaskan juga, pasti kamu masih bingung, yah kan?" Lalu Adinda pun membuang napas lelah.


Ke mana Gessa?


Rambut mie london juga tidak ada kabar sama sekali, semenjak ikanaide terlantang lewat telpon gratisan whatsapp, nihil mendapati diksi manis lagi kecuali tangis diri.


Kalau saja saat ini mengimbangi cita dan hobi, dipastikan Harris J mengamuk ulang.


Lalu .. Project juga tiket liburan ke london hangus.


Hah..kzel dah! Gerutu Adinda dalam batin.


Varinta sampai detik ini pun belum beri kabar atau maaf. Harus kah yang korban datang melantangkan sapa?


Kenapa perempuan hijabers ditemui lewat sosmed itu sangat egois? Justru mengatakan Adinda lebih mementingkan keinginannya.


Hei .. Apakah kurang tulus pengorbanan sahabat saat makan di Texas, membicarakan suatu hal yang sudah lama diidamkan perempuan itu?


Merayakan ulang tahun walau di usia delapan belas tahun, seenggaknya Adinda bisa buat mimpi sahabatnya bisa mengecup simfoni manis di hari istimewanya.


Pernah, "kenapa eh? Rinta anggap saya ini egois? Padahal toh, apa yang dia inginkan saya diam-diam bantu termasuk satukan ikatan mamanya yang jarang kasih perhatian, sekarang sudah nyadar kalau anak paling pertamanya butuh kasih sayangnya." Adinda melantangkan rasa protes ke Gessa.


"Hm, benar juga sih, Din. Tapi tidak ada salahnya juga kok, kalau kamu bantu dia bisa dekat sama orangtuanya, doakan saja yang terbaik, semoga dia berubah. Tahu sendiri kan, kalau dia baru pertama kali di kasih perhatian gitu sama orangtuanya."


Oh astaga, gadis itu merutuki diri sendiri, melihat kedua bola mata lamat-lamat penuh getir.


Maaf..Gessa, lirih Adinda dalam batin.


Sekarang saat ini sibuk memerhatikan benda pipih tersebut. Sudah terbangun dari lamunan percakapan dengan sahabatnya yang menyelinap pergi entah ke mana.


Berharap Gessa menelpon, tapi nihil.


Sunyi sekali.


Yang biasanya pulang dari kampus ada orang memberi ruang lempar ledek, tawa sekarang berubah dingin tak sehangat dulu lagi.


Harris J berubah.


Apa rambut mie itu tidak suka kah dengan kejutan di berikan sebuah antologi yang di rangkup dari JJS, bunga harapan sekaligus keluarga keduanya itu kah?


Tadi seingat Adinda ingin sekali membicarakan persoalan rambut mie, tapi diundo.


"Din, ingat satu hal..jangan pernah kasih tahu soal nomor real Harris J bahkan teman kampusmu sendiri." Pernah Gessa memperingati.


Tidak tahu karena hal apa?


"Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka¹. Thanks sudah jadikan saya sahabat dalam mengeja jannah-Nya." Diksi begitu manis.


Sekarang tidak ada kabar sama sekali. Dasar..rambut mie meresahkan.


🪐🪐🪐


Saat sebelum ke kantin, sempat Ika melirik ke laptop ..


Aksara for Harris J


Mimpi butuh kejutan hebat dan hidangan duka saat menjadiakannya sebuah pelangi indah.


Gift for Harris J


From JJS Ina


"Ingat, jangan terlalu fokus sama hobimu. Sebisa mungkin imbangi keduanya eh, Din?" Ika menyarankan.


Ok. Saat ini dia sedang berusaha untuk bisa selangkah lagi membawa sayap-sayap JJS semakin dekat dalam mendekap kedua bola mata sang idola lewat antologi mereka.


Beberapa karya mereka menyusul dalam grup, mengejar deadline pengumpulan.


Cukup tersenyum. Sangat antusias tanpa harus memaksa.


Intan Widiya dan Dita Fitri, memiliki karya yang cukup menyita waktu santai kepunyaan Adinda.


It's okay. Seenggaknya harus bisa menrangkup semua tanpa harus terbuang atau kelewat menjadi satu cover cantik, lalu disodorkan ke rambut mie menyebalkan.


Oke JJs, saya akan seleksi karya kalian yah.


Kok mengirim chat itu dalam grup, ada desir-desir tidak mengenakan terproduksi sih?


Kasihan mereka yang baru belajar nulis tapi karya mereka tidak diikutsertakan dalam buku.


Tapi, justru mendapat respon manis dari mereka semakin memperluaskan keepecayaan untuk menerbitkan tanpa perlu seleksi cerita karena karya mereka layak diterbitkan juga.


Sebagai salah satu inspirasi buat mereka ke depannya agar bisa berkarya sendiri, tanpa harus mencuri ide-ide beberapa bulan ini di salurkan gadis aksara ke mereka.

__ADS_1


Duh, takut nih karyaku gak diterima,


Iya benar. Saya juga merasa yang sama, Jey.


Puisiku pasti gak diterima, karena jelek.


Adinda membaca deret-deret chat pesimis, mengembalikan mengenai memoar kali pertama menciptakan A Dreams bertujuan menghapus idola dan fans melainkan sahabat mengeja jannah.


Potret perjuangan nyata terbentang air mata, ternyata membawakan gadis aksara pada pintu temu tak terduga dengan sosok sahabat yang sekarang entah di mana ruas ramah itu menyelinap pergi?


Oh be the way, alternatif terambil disini adalah buat JJS belajar revisi cerita mereka sebaik mungkin, walau tahu akan ada yang absurt, otomatis Adinda bakal turun tangan bantu kok untuk mempercantik diksi mereka.


Walau dia sendiri juga masih belajar.


Dan, kalau saja ikanaide tak terlantang dari Harris J, mungkin saja akan mendiskusikan mengenai event meet and greet lalu memberikan sebuah tiket dinner tanpa ada batasan waktu dengan Harris J.


"Sayangnya kamu saja marah gini, gimana mau share event itu coba?" Keluh Adinda berdialog sendiri dalam kamar.


Melirik menit-menit berdetak di jam, kedua bola mata Adinda pun tertutup.


Drrtt..Drrt..,


Duh, mengusik sekali, apakah tidak lancang mengganggu waktu beliau saat ini?


Nihil. Tidak ada respon sama sekali dari beliau.


Hah. Membuang napas lelah, lebih baik mempersempit rasa kepercayaan diri.


Wait, ada panggilan dari nomor sama,


"Hallo? Ini bunda Asma Nadia?” Kata Adinda, dengan intonasi grogi. Takut salah orang.


"Iya sayang. Ini dengan siapa? Maad, bunda tadi nonton barenh di bioskop. Ini lagi luangkan wakgu nelfon balik ke kamu."


Uh..sungguh tidak bohong atau settingan deh?! Itu suara bunda Asma Nadia!


Penulis terkenal yang sangat dikagumi setiap karya-karyanya terproduksi jadi cetak.


Tanpa aba-aba, gadis itu pun curhat mengenai mimpi yang berakhir tragis.


“Iya Sayang, ini dengan siapa? Maaf Bunda tadi nonton bareng di bioskop. Ini lagi luangkan waktu nelfon balik ke kamu.” Jawabnya dengan hangat.


Dengan hati penuh gembira, “Oh saya Adinda, bun.”


Lalu disitu Adinda curhat tentang mimpinya yang berakhir tragis. Tak dapat apa-apa melainkan luka dan kecewa.


Ups, bentar..bentar, sebelum curhat mengenai mimpi tersebut, tadi bunda sempat share mengenai tips kepenulisan juga bangunkan mood saat mogok nulis di tengah jalan.


Sungguh sangat membantu kok, tapi yang mengganggu saat sela-sela beliau menjelaskan tips menulis adalah mimpi serta-merta novel tak di bawa pulang Harris J ke london.


Huh .. Dasar.


Menyebalkan, bukan?!


Ini bukan terjadi pertama kali, melainkan perdana ngejae Harris J lewat draf novel, menemukan di balik pulau kapuk setelah itu di tepuk-tepuk realita dengan cangkir delusi.


Benar sekali. Ngobrol asik dengan bunda batas mimpi doang.


Huee..nyesek sekali.


Apakah karena terlalu tidak sabar sambil memikirkan karya JJS jadi buku kah? Maka dari itu memimpikan sosok penulis terkenal?


Ok. Setidaknya dalam mimpi sedikit lega, bisa meluangkan waktu untuk curhat walau tak nyata.


Seperti biasa. Qoutes berselimut getir tercipta di layout whatsapp yang dijadikan status malam ini.


Kak, jangan nangis dong. Kalau kakak sedih, siapa yang akan bantu karya kita jadi buku?


Kok tahu sih? Adinda bertanya dalam benak.


Padahal batas story tanpa dimbumbui curhat.


Ah, Nanda memang salah satu adik online terbaik bisa menebak isi hati dan pikiran gadis itu.


Kak, tidak usah nangis, kita buat buku sama-sama dan kirim ke London saja.


Belum buka chat Nanda sudah ada balasan kedua dari Intan.


Please..kalau saja Harris J tidak sedang dalam fase bengis, mungkin saja antologi mereka di buat dengan penuh senang tanpa dibelenggukan oleh gelisah.


Dan, dipastikan Adinda bakal menceritakan sebagian JJS yang sudah mendukung prosesnya Aksara for Harris J jadi fisik ke rambut mie london itu. []


Notes :

__ADS_1


¹Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka \= Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu.


 


__ADS_2