
"Struktur mimpi berikan bekas harap pada data-data gadis aksara lewat novel. Pengolahan data mimpi ternyata perjuangan sang gadis aksara batas sampai."
🪐🪐🪐
Banyak luka di produksi apalagi JJS ngambil vidio tanpa ijin.
Ditambah Intan yang memberikan luka baru muncul lewat chatroom whatsapp dengan salah satu admin Harris J.
Kok, tetiba saja jemari itu penasaran lihat akun salah satu JJS, "mungkin ganti nomor kali," gumamnya kecil.
Muncul ruas-ruas sakit hati, tidak ada lagi tempat untuk bercerita bebas.
Yang pasti udah di kasikan novelnya.
Rahma tidak sepenuhnya tahu, batas menyenangkan Intan saja, karena mungkin batas sebagai penanggung jawab bagian lain bukan masuk ke kantor DNA Production sembari melihat-lihat situasi di dalam sana.
Sewaktu masih semester empat, tidak ada gairah belajar melainkan melamun atau sibuk mencorat-coret sesuatu di kertasnya.
Ditambah matkul yang menggunakan logika stuktur data dengan iseng terbitlah struktur mimpi dalam catatannya bentuk puisi.
Struktur mimpi
Mengukuri besar harap
Tak kira banyak sakit
Ceceran dilapisi perih
Kabel mimpi
Kesangkut di ketakpastian
Data-data mimpi
Sekedar kapasitas tangis
Berkas harap di novel
Menyimpan dokumen kecewa
Kemudian file tersimpan air mata
Terbuka dalam tampilan gagal
Struktur data
Singgah beri file ilusi
Mengcopy database sesaat
Lalu berkawan coding merah.
Sempat ada yang melempar tanya, "Dinda novelmu sudah sampai di Harris J? Apakah sudah dibaca atau ditanggapi seperti apa oleh Harris J, Din?"
Bergeming, ada tawa-tawa getir tercipta.
Andai sahabat rambut mie london tidak melempar sebuah amarah yang meledak-ledak kala telponan, kemungkinan besar bakal fokus pada studi pun struktur mimpi tersebut tak tercipta.
Apa yang salah dari mengajak JJS berkarya? Kan, jauh lebih kreatif juga mengelupas delusi-delusi dirawat mereka, bukan?
"Kok sampai segitunya sih? Marah ndak jelas, kek cewek PMS dah.." Adinda mencibir pelan.
Oh, kembali lagi dengan isi puisi tercipta saat malas mendengar dosen berkicau depan kelas, menjelaskan mengenai mata kuliah itu.
Adinda memerhatikan dengan lamat-lamat penuh luka.
Ris..ke mana sih?! Katanya ndak boleh marah lebih dari tiga hari, lah..sekarang hilang kabar hampir berbulan-bulan. Gusar gadis itu dalam batin bersuara sangat protes.
__ADS_1
Daripada menambah-nambah beban pikir, lebih baik melihatkan puisi itu ke Marthin, teman sekelasnya yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Bih..lagi sakit bisa buat puisi sebagus ini?" Berdecak kagum.
Dibalas cengir miring, sangat lirih.
Memang sedang sakit, karena memaksakan otak memahami mata kuliah yang bersangkutan dengan angka juga logika, terpaksa menciptakan sebuah puisi, langsung sembuh.
Hm. Kalau berkaitan dengan hobi pasti ada saja kekuatan untuk pulih tiba-tiba.
Sepulang kampus, sudah berbaring di atas kasur, kembali membuka puisi tadi terbuat dalam kelas.
Duh, kenapa sih sesakit itu dalam menunggu kabar sahabat rambut mie london?
Kalau saja tidak selancang itu, kemungkinan bakal curhat dan mencari keberadaannya.
Tapi, kalau mengetahui nomor whatsapp Harris J, bisa-bisa tersebar luas lagi ke JJS dengan pesat.
Huaa ke mana lagi gadis aksara cerita, saat sedang penat seperti ini?
Oh, masih ada Nanda Badi, tapi perubahannya cukup menyayat hati.
Jika menemukan sebuah diksi indah tercipta, maybe bakal mencetuskan rasa kagum tak henti-henti.
Varinta pun belum ngasih kabar, hanya destinasi terpenuhi imaji mengelus-ngelus kepala Adinda saat ini.
Sangat menyebalkan, ketika bersitatap diksi, hanya sebuah delusi tak menampakkan kehangatan realita yang biasa Harris J berikan, tiap kali menemui kalut seorang diri.
Apa benar, sebuah struktur mimpi batas menjadi gadis aksara dalam diksi? Yang bahkan takkan bisa lagi mengecup hangat-hangat intonasi milik Harris J dalam dekapan bola mata, begitu nyata?
Luka. Kenapa melulu tertawa begitu pongah, dibuncahkan puas lewat lorong sunyi kala Adinda jemput larik dalam sepi?
"Dengar lewat laptop aja deh!" Seru Adinda.
Bismillah. Semoga mendapati hal-hal seru selain luka bermalam melulu dalam dada.
"Wih..kren, bisa jadi penyair dadakan!" Celetuh gadis itu, usai mendengarkan suaranya sendiri.
🪐🪐🪐
Penat. Kepala rasanya ingin pecah.
"Apa itu?" Kata Rina.
Bergeming. Tak berani mengatakan isi dalam kardus terbilang besar tersebut ke beliau.
Tapi, melihat raut menunggu responnya, "em..itu salah satu kado dari fans Harris J, bu. Setahun yang lalu."
"Kalau itu, buku punya siapa yang ada di meja saya?" Jari telunjuk wanita tersebut mengarah diatas mejanya.
Saat ini beliau sedang duduk santai, sambil mencicipi kue, makan siang di sofa panjang, kursi tamu.
"Novel, Bu." Singkat Hafiz.
"Novel?" Ulang Rina.
Lalu Hafiz pun menjelaskan kronologis novel tersebut.
Paket Untuk DNA Production memang sempat di baca sekilas oleh Rina, yang menerbitkan rasa penasarannya untuk bertanya.
Call
0821xxx (Indonesia)
"Siapa nih?" Adinda terbengong sendiri.
Saat ini sedang mengurus banyak cerita JJS, semakin memperburuk kepalanya saja.
__ADS_1
Dan, berpikir kalau nomor asing yang masuk di HP adalah ulah salah satu JJS mungkin menyebadkan nomer tersebut.
Huf .. Padahal hanya kepentingan dalam grup kepenulisan, mesti begini kah? Nomor asing muncul di HP?
Panggilan itu muncul lagi, ke tujuh kali barulah Adinda merespon, "hallo, maaf ini dengan siapa yah?"
"*Kami dari pihak DNA Production*."
Tertegun. Cukup buat gadis aksara itu mengerjap-ngerjapkan kedua bola mata, tak percaya.
Lalu mereka pun menceritakan saat menemukan novel tersebut penuh simfoni manis.
Mimpi-mimpi sempat menjadi keterlukaan dalam realita juga batas pengelupaan menjelma tangis haru milik Adinda.
Mereka juga menginginkan untuk mengundang gadis itu ke Jakarta saat kedatangan Harris J mengadakan meet and greet film iqro.
Ris, apa ini rencanamu? Surprise? Serius? Gumam Adinda sangat senang.
"T-tapi bu, saya kuliah. Tidak bisa ambil cuti." Getir-geti dalam batin pun terasa sekali, sesak.
Menginginkan sebuah penerbangan ke Jakarta, sayang terhalang oleh perkuliahan.
"Alamat kuliahmu di mana? Insyaallah kami ke sana seminggu lagi."
Mereka ngobrol sekitar sejam lalu mengakhiri dengan ruas-ruas berterbangan tak nyangka berasal dari Adinda.
Apakah benar pihak DNA Production bakal datang ke Jayapura?
Lantas untuk apa menanyakan alamat kuliah?
Jujur, saat ini dia masih belum bisa mencerna semua kata-kata indah itu, seperti .. Mimpi.
Rina juga sudah mengirimkan ucapan itu serta foto ke Harris J lewat whatsapp.
Terima kasih, gadis aksara. Novel ini cantik sekali, berbeda dengan waktu yang saya lihat di london.
Promise, bakal saya baca sampai habis.
Maaf kalau beberapa bulan ini saya tidak kasih kabar, karena satu hal. Tapi, nanti kamu sendiri tahu kok.
Tas nokennya bagus dan ganci papua jauh lebih cantik pilihanmu.
Pernah, Harris J bercerita kali pertama mencari alamatnya di Jayapura sempat membeli oleh-oleh gantungan kunci khas papua, tapi sepertinya bule itu lebih menyukai ganci pemberian Adinda.
Apakah merasa bersalah, makanya mengirim chat sweet itu ke gadis aksara?
Tetiba saja ada getir tercetak di bibirnya.
Kenapa sih saat dulu hilang kabar dan marah tidak jelas, sangat minim pengertian mengenai project ngajak JJS berkarya?
Bukannya ngedukung justru memilih menyelinap pamit tanpa aba-aba trus meninggalkan jejak amarah pula.
Lah, sekarang datang dengan diksi sweet cukup meluluhkan hati gadis itu sendiri.
Promise. Jika bisa pergi dan mendapati tiket keberangkatan ke london, Adinda bakal membuatkan satu kue favorit untuk mereka cicipi, sebelum itu buka notes HP lihat kembali resepnya.
"Aman.." Kata Adinda sambil ngelus dada.
Oh yah jadi teringat grup yang katanya sudah di resmikan oleh manager indoenesia, berdesakan untuk menampilkan capaian mereka, termasuk nomer sah manager besar DNA Production.
Hum. Kalau saja mengibarkan berita bahwa dia sudah mendapati nomer manager besar DNA Production dalam grup, di pastikan JJS mengantri untuk minta pun bakal lewat japri.
Dan, lagi Adinda tegaskan bahwa kesuksesan itu butuh proses yang panjang di mana diselimuti oleh air mata, luka, kecewa bukan instan yang cuma-cuma copas vidio thanks from Harris J for Adinda.
Oh benar sekali, nanti bakal menyampaikan rasa bahagia itu ke Hana. []
__ADS_1