
“Tak ku temukan lagi sorot kehangatan melainkan intimidasi terus perulangan menghunus aksara serta antologi terbentang kedua bola mata.”
🪐🪐🪐
Adinda menyerah dalam mempertahankan gadis aksara and rambut mie london dalam deret diksi, saat tahu sebuah fakta perubahan drastis pun berada di argency beda.
Jarang berkomunikasi sejak menandangi surat konrak di sana, yang memproduksikan kecewa dari bunga harapannya selama beberapa tahun membesarkan nama Harris J di dunia musik.
“Kenapa, kak?! Kenapa Harris J jahat sama saya terutama JJS?!” Adinda masih belum terima, sesak menjalar di seluruh tubuh.
“Dek, kakak sudah sempat diskusi kenapa mau pindah ke Winfinity tapi no respon.” Lefan berusaha menenangkan gadis itu pun hal percuma.
Padahal ngajak kolab saat fokus dengan cita, “kan, anak itu sudah berubah. Arg! Feel-ku sudah benar! Percuma dong kak, liburan semester yang saya pakai ke sini hanya dapat sikap seperti itu.”
Sangat terluka dan kecewa sekali.
Jadi, ke mana mereka sekarang saat ini? Menjelajahi kota london hanya bertiga kah? Tanpa sosok menyebalkan sering kali mencuri waktu dalam menjaili gadis aksara.
Terasa begitu sunyi ada yang beda saat perubahan drastis milik sahabat rambut mie london berikan.
Din, ini salah satu mimpiku bisa berkolaborasi di genre pop, kan waktu itu sudah pernah saya sampaikan juga kan?
Tidak. Bukan itu ingin di dengarkan oleh daun telinga Adinda melainkan alasan terkuat kenapa mau pindah ke argency lain? Sedangkan mengetahui ada segelitir heters buat diri terkulai oleh ketaksemangatan menebar inspirasi lagi lewat musik islami.
Perubahan yang di potret bola mata gadis itu bukan sosok sahabat ramah ditemui lewat nada, melainkan orang asing terbentang sangat drastis.
Ke mana sosok ramah tersebut?
Jangan bilang berpengaruh dari heters juga orang-orang baru ditemui?
“Oh, saya tahu kamu begini karena mereka kan, hah?!” Seru Adinda, masih protes. Belum terima.
Justru mendapati tatapan datar yang seharusnya tidak terbit di sana.
Fine. Sudah lelah juga menginginkan sosok ramah kembali setelah mendapati perubahan drastis seperti itu.
Lebih baik usai liburan juga kolaborasi dengan Harris J balik ke indonesia tanpa harus memberikan jejak kenangan sudah berbulan-bulan ini di kemas.
“Dek lebih baik antologi itu kasih saja ke dia, hadiah perpisahan. Pasti dia senang dan apresiasi bakat JJS lainnya.” Kata Lefan.
Menggeleng, “buat apa, kak? Paling dibuang. Bukannya apa-apa eh, kak, kasihan karya JJS yang sudah antusias ingin sampaikan keinginan itu ke Harris J, tapi idolanya saja sudah berubah begini.” Tolak gadis itu.
“Trus, dulu kenapa masih perjuangkan karya mereka, padahal sempat hampir buat ade sakit lagi, kan?” Lefan meledek dong.
Cukup buat gadis itu memutar bola mata dengan malas.
“Kak..” Kata Adinda dengan nada jengah.
Tak menyangka juga kenapa ayunan kaki itu terasa berat sekali untuk mengetuk sembari duduk silaturahmi di kediaman Jung?
“Aisha sempat khawatir dengan kondisi ade, karna tahu perubahan dan keputusan final sepupunya.” Lefan mengabari.
Hanya ada seulas senyum miris dari gadis aksara.
Apa pantas di sebut gadis memiliki bola-bola di mana selalu berkeliaran dalam deret imajinasi?
“Kayaknya saya sudah tidak layak di sebut sahabat gadis aksara lagi deh, kak?” Tawa sumbang itu terdengar.
Lefan menggeleng, menampik perkataan tersebut, “ingat, dek. Harris masih yang dulu, tidak berubah sama sekali. Hanya benar kata temannya ade, karena perbedaan negara dan pergaulan disini buat Harris seperti itu, wajar. Kakak selalu berdoa yang terbaik dan insyaallah hapalannya tetap terjaga.”
“Kak, tahu Kak Derry Fransakti?” Adinda mencoba mengalihkan topik.
Butuh menit-menit waktu panjang agar Lefan mengikuti ke mana arah pembicaraan itu.
“Yang rambutnya kribo itu?”
Seperti memiliki peluang besar untuk bercerita bebas, “kakak tahu kan, kalau saya sempat di bully habis-habisan sama JJS?”
Sebentar, sedikit berpikir, “yang waktu ade nangis telpon kakak?”
“Kalau tidak ada Kak Derry yang mangku lukaku, trus saya mau harapin siapa kak buat kasih kebahagiaan alternatif selain dia?”
“Dek, ingat..kesedihan tidak bersifat permanen, ada allah menjadi obat mengusir semua beban pikir. Tapi, sekarang alhamdulillah ade sudah mendapatkan apa yang ingin di capai, kan?”
Yup. Tak menyangkal kok, sudah bisa di berikan tiket keberangkatan ke london trus menjelajahi kota london apalagi bisa naik kereta ke kota Darlington walaupun tak bersama sahabat rambut mie london menyebalkan, seenggaknya sedikit memberikan lega pada rongga-rongga Adinda sempat terjeruji oleh keterlukaan sikap bengis JJS ditambah perubahan drastis Harris.
“Kak, kapan sih saya bisa meet dengan anak tengik itu?!” Ketusnya.
“Dek..jangan pernah sebut-sebut nama orang dengan buruk, tidak baik.” Lefan mencoba mengingatkan.
“Kesel sih, ah!”
Setelah balik dari kota Darlington, mereka langsung ke apartement.
__ADS_1
“Kak? Seriusan nih, besok Harris mau meet dengan saya?” Lagi, pertanyaan itu sudah perulangan bahkan telinga Lefan begitu terganggu.
“Iyaaa, dek. Sudah, masuk istirahat sana..jangan terlalu banyak pikiran. Oh satu lagi, tidak boleh begadang!”
Malam itu dalam kamar apartement, masih sibuk dengan pikiran-pikiran bagaimana nanti pertemuan perdana sejak kepulangan bule london dari indonesia?
Saling lempar diam kah?
Menggeleng sangat cepat. Semoga saja Harris bisa ngajak ngobrol lebih dulu dan gadis itu bakal heboh lewat serentetan bawelnya.
Kok, ada senyum-senyum miris tercipta di sana, sebelum menjemput pulau mimpi?
Esok hari, di Charlie’s Cafe & Bakery ..
“Ingat, tidak boleh maki-maki?” Lefan mulai mengingatkan.
Hanya dibalas dengan anggukan singkat tapi berbalut dengan sorot menahan emosi.
“Tidak pesan dulu, dek? Sepertinya Harris telat, takut maghmu kumat.”
Menggeleng sebagai balasan menolak.
Sedari tadi hanya simbol tubuh bukan kata-kata yang keluar dari bibir gadis cerewet itu.
Hah. Cowok berkacamata tersebut hanya memejamkan mata dengan napas lelah. Sampai kapan mereka seperti ini?
“Assalamualaikum?” Harris menyapa keduanya yang sedari tadi menunggu.
“Waalaikumsalam,” keduanya kompak menjawab.
Please deh, jangan keringat dingin saat-saat seperti ini dong, bisik Adinda dalam batin.
Excited? Tentu dong tanpa harus di tanyai lagi, bersitatap dengan sahabat rambut mie london telah resmi menjadikan nafsi sebagai sahabat lalu menghapus jarak sebagai idola dan fans adalah keberuntungan yang tidak bisa di dapatkan oleh JJS diluar sana dengan modal instan.
Apa sekarang saja sodorkan antologi itu? Tapi, DMUHJ belum rilis sama sekali sejak melihat ulang tingkah JJS sebagian cukup memancing amarah dan tidak ada semangat lagi untuk revisi apalagi pikiran terbitkan.
Duh, kasihan juga sih dengan karya ditambah selipan kata-kata yang ingin disampaikan JJS ke idolanya.
Tapi, rasa jengkel jauh lebih mendominasi.
🪐🪐🪐
“Kenapa nekat terbitkan karya mereka?!” Sarkas Harris J.
Harris yang dikenali dulu mengalun-ngalun merdu pun ramah, kok sekarang pongah tak lupa menghunus antologi itu tak berperasaan.
Ok. Semua antologi dimana karya JJS sudah berada depan kedua bola mata Harris J justru tak menarik perhatian sama sekali selain sikap dingin terberi.
Mereka berdua sedang duduk di restaurant Fishcotheque pun antologi batas pajangan saja diatas meja makan.
“Sori and thanks?” Hanya itu yang bisa Adinda balas selebihnya batas diam.
Sangat jelas tertangkap bola mata, kalau sikap dingin diperlihatkan.
Fine, kolaborasi itu sudah berjalan beberapa hari, tapi kalau Harris memiliki mood rusak seperti itu, kenapa ngajak duduk makan sih?
“Makasih juga sudah buatkan saya novel, oh yah satu hal, setelah kolaborasi kita selesai. Please..jangan pernah terlalu baik ke JJSku, fokus dengan kesehatan saja.”
Kok diksi-diksi berbalut sangat bengis sampai menusuk ke rongga gadis itu sendiri. Sesak.
Apa yang salah dari mengajak mereka berkreasi lewat imaji sih? Kan, jauh sebelum Harris berubah sudah lebih dulu mengabari bakal buat JJS mengelupas hal unfaedah membuang sikap pamer dengan berkarya. Kok sekarang marah tak berperasaan?
Saling diam. Tidak ada lagi percakapan selain kebisingan sekitar.
“Excuse me,” masih belum menyadari sosok itu di samping Adinda.
Sampai perulangan keempat, “yah?” Melongo seperti orang bodoh dong.
Ngambil antologi bertumpukan diatas meja sambil lempar senyum lalu bertanya boleh kah minta nomer HP gadis itu, untuk menanyai berapa kisaran harga buku tersebut?
“Oh, sure.”
Dalam hati, tidak bisa mengontrol kegirangan hari ini bisa bertemu orang penting saat sedang bergemuruh hebat berperang dingin dengan sahabat sendiri.
Butir-butir syukur terus ngalir dalam batin, allah maha baik, memberikan kado pengganti selama ini dirawat seorang diri; luka, air mata, pengkhianat, kecewa, sesak-mendesak dada, Zayn Malik.
Tunggu dulu, Zayn Malik? Gadis itu menyipitkan kedua bola mata, menyakinkan apakah benar?
Calm down. Bisik Adinda dalam batin, jangan sampai terlihat udik depan sahabat rambut mie.
Ok. Sudah bertukar nomer HP.
Huaa..senang pingin sekali lompat sumringah bisa mendapati nomer HP Zayn Malik dengan cuma-Cuma dong.
__ADS_1
Keberuntungan sekali.
Tidak lama kemudian, setelah kepergian mantan personil one direction, benda persegi itu bergetar ..
“Hallo, assalamualaikum, ade di mana?”
“W-waalaikumsalam, kenapa kak?” Kok langsung gugup setelah mendapati nomer HP artis london sih?
Terdengar tawa ringan di sebrang HP.
“Tidak, hanya memastikan saja sih,” tidak lama kemudian, suara itu semakin kentara di belakangnya lalu menoleh.
“Kak Renata!” Seru Adinda.
Dibalas dengan senyum tipis, “boleh gabung?” Kata Renata.
“Bo..” Sambil melirik ke arah bule itu yang sedari tadi diam, lalu mengangguk pertanda boleh.
Ada sesuatu yang disodorkan Renata, mengernyit lalu menerimanya, “ih..kakak kebiasaan deh!” Membisik ke area daun telinga perempuan itu.
“Senang?” Dibalas anggukan cepat dari Adinda.
“Makasih banyak, kak!”
Sudah melupa kehadiran Harris J sedari tadi lempar sorot dingin, yang terpenting adalah kejutan manis dari kakak translation-nya, begitu berarti.
Renata tahu apa sedang dibutuhkan adiknya itu, walau tak seberapa setidaknya bisa melukis senyum setelah berlarut-larut dengan luka. Pun mendapati kabar itu dari Lefan.
“Kalian ngobrol lagi, saya tinggal dulu,” sambil ngode ke arah lain untuk ngambil tempat duduk sendiri, ngerjain tugas kuliah.
Yah..yah, jangan ditinggalin berdua dong, kak, rengek gadis itu dalam hati, masih belum ikhlas.
Fiuh. Perang dingin dimulai lagi lewat sorot menghunus antologi dibalik ketakpeduliannya.
“Nada?” Kata Harris, sedikit tak minat.
Padahal seharusnya ada obrolan menarik dibalik nada yang sudah terlantang begitu tidak menarik perhatian sahabat rambut mie london.
Memijit pelipis, kalut.
Lebih baik tukar pendapat dengan Zayn Malik mengenai antologi serta A Dreams ingin dibelinya dibanding terperangkap dengan sosok dingin menghunus semua perjuangan seorang diri terbitin antologi tapi tak direspon baik sama sekali.
Adinda mengeluarkan secarik kertas lalu menuliskan ulang salah satu keinginan yang mau disampaikan ke idolanya itu, dengan tangan gemetar berbalut senyum miris.
Ya walaupun aku belum pernah bertemu dengan Harris J, tapi dengan berkarya ini sudah mewakilinya. Meskipun aku agak iri dengan yang lain, karena udah ketemu sama bang jey.. Tapi aku yakin dengan berkarya bisa mengobati rasa yang belum tersampaikan. Kak Dinda itu sangat menginspirasi. Aku bersyukur kenal dengan kakak. Kak Dinda dengan senang hati mengajak jjs untuk berkarya. -Anita Ulfah-
Usai menulis kata-kata tersebut, menggeser pelan ke arah sahabat rambut mie londonn yang benar-benar telah berubah.
“Kalau sudah tidak ada pembahasan lagi, saya pamit dulu, assalamualaikum.” Akhirnya dia menutup obrolan yang dari tadi batas menjatuhkan mental aksaranya saja.
Sedangkan sesosok itu sedikit mengernyit, sesal pun terbit kah, usai baca pesan dari Anita Ulfah prantara sahabat gadis aksaranya itu? []
Notes :
Yey!! Readerss dapat dua part bonus dari autors😘
Gimana..gimana? Seru atau kurang menarik nih endingnya? Hihi, sori yah kalau tidak semenarik cerita lainnya.
Be the way kisah ini muncul karna sosok inspirasi yang memang ku kejar sebagai sahabat till jannah bukan idola.
Tapi, kenapa bisa berubah? Sudahlah, setidaknya bisa jadi rekam jejak yang insyaallah bisa ke baca sama Harris J, amiin😇💕
Makasih banyak loh yang udah dukung ikanaide sampai akhir dan dapat bonus dua part dari autors hoho.
Salam Online
Dinn💚
Semangat puasa semuanya! Jangan lupa tadarusannya💚
.
Hello readerss..untuk novel Ikanaide on proses revision yah, makasih yang udah dukung karya ini~
Jangan lupa kunjungi karya-karyaku yang lainnya juga, thank kyu.
Salam online author,
💚💚
-Dinn-
__ADS_1