
“Terkadang bermimpi tinggi butuh air mata dan luka panjang, agar tahu sukses butuh perjuangan lebih.”
🪐🪐🪐
Bertemu melalui Mimpi 28 Desember 2017 Flash
back,
A Dreams, begitulah judul novel yang sedang berada di kantor DNA Production. Hanya tunggu hasil, kepastian. “Kenapa..sulit temukan kebahagiaan itu?” Lirihnya melirik story Pak Hafiz, salah satu admin sekaligus Manajer Harris J di indonesia.
Adinda rasa novel cara salah tak dapat menerbangkan asa itu pada titik temu dengan Harris J. Selalu menyembunyikan tangis lewat puisi. Pandai berdialog dalam sajak lemah saat bertatap online lihat fans fotbar dengan Harris J.
“Iya, sa tahu itu adalah kesenangan bersifat sementara.” Ucapnya sendiri.
Adinda sendiri selalu menyalahkan dirinya, belum bawa langkah Harris J ke indonesia. Walau sudah berjuang lewat novel selama enam bulan ditambah penyakit somnia yang sering kali menerjang kepala ketika sedang fokus pada novel itu. Ternyata saat sudah sampai pun belum ada kepastian dari Pak Hafiz. Samar-samar.
Tujuanku mendekap sempurna
Justru menggenggam arah luka
Mana kala mimpi gelap gulita
Melihat senyum mama buat hati berdesir
Sanggup kah ku temukan temu?
Kita butuh kegagalan sebagai guru terbaik dalam mengejar langkah mimpi tertatih lewat halusinasi proses rajut aksara, karena belum tentu yang beda itu tak dilirik oleh idola, right?! Karena komitmen yang dibuat Adinda sejak satu tahun ini belum ada ketertarikan dalam ‘berhenti kejar mimpi’ karena bagi gadis itu ‘ini awal bermimpi’ dan bagaimana dia harus setia dalam menyetir mimpi itu sampai ke destinasi berarti dengan panggung apresiasi oleh calon sahabat, bukan idola.
Karena Adinda terus percaya pada novel yang mengantarkan kemustahilan ke destinasi keajaiban. Dan mengidolakan Harris J hanya arah jalan menumbuhkan kecemburuan di mata Rabbnya.
Sebelum tidur, Adinda menyempatkan untuk lihat informasi dari instagram milik admin JJS Ina. Gelisah belum tahu keadaan anaknya yang entah di letakkan di mana. Lalu, jemarinya pun menekan kolom komentar, Pak, novelku sudah sampai di tangan Harris J belum? Dan DNA Production sudah baca?
“Oh yah, waktu Harris J sedang di Solo. Dan kalian lihat dia pakai baju pink di vidio. Itu saya sedang ngobrol dengan dia dan bilang, ‘Harris ada satu fans yang nulis. Nulis cerita tentang kamu.’ Dari ekspresinya dia itu orangnya sedikit aneh. Dia ketawa dan saya bilang, ‘Harris bagaimana kalau kita buatkan dia vidio ucapan terima kasih.’ Nah sudah saya pun kirimkan vidio itu pada salah satu fans yang sudah nulis bukunya.” Terus terangnya dengan raut wajah bahagia.
Ah, benar nih?! Harris J suka?! Gumam Adinda dengan jingkrak di atas kasur.
Hana masuk ke kamar sembari lihat ananda cengir sendiri depan HP, “kau sedang lihat apa, Din? Ketawa-ketiwi sendiri.” Kata Hana bengong.
Senyum trus mengembang di wajah Adinda, “nonton apa sih?” Hana penasaran sendiri dan raut wajah sedikit mendesak minta penjelasan, karena anak gadisnya tidak jawab justru berikan senyuman tidak jelas.
“Ini Ma, siaran langsung Pak Hafiz. Kan sa komen tanyakan buku novel itu sudah sampai belum di Harris J. Trus Pak Hafiz bilang kalau Harris J senang sekali dapat novel dari sa. Ua! Ma, Dinda senang sekali! Karena Harris baru pertama kali dapat hadiah novel dari fansnya.” Girangnya. Justru Hana hanya cengir lalu keluar lagi dari kamar. Dan Adinda lanjut nontonsiaran langsung itu.
Bandara? Pikir Adinda dengan kebingungan. Kenapa bisa langkahnya sampai ke sini. Terlebih
Varinta, sahabatnya juga ada di sana sambil pamit dengan keluarga Adinda, karena berhubungan orang tua Varinta sedang sibuk berdagang, jadi hanya keluarga Adinda yang mengantar mereka ke bandara.
Dan anehnya lagi, kenapa harus berangkat ke London? Kenapa Adinda harus menggebu untuk
ajak sahabatnya ikut ke kota penuh sejarah itu? Tumbennya lagi orang tua Varinta tidak melarang, justru mengiyakan permintaan ananda.
Di dalam pesawat, kebingungan itu terhapuskan dengan chapter kebahagiaan bukan main. Sungguh. Bisa berlibur ke London. Selfie berdua setelah itu Adinda lanjut baca novel. Sedangkan Varinta sibuk dengan HP.
Tibanya di London mereka sambil menunggu taxi. Keduanya langsung mengabarkan ke
masing-masing orang tua. Saat sudah dalam taxi, “Rin..bilangin dong coba anterin kita ke alamat Harris J. Siapa tahu si pak supir ini bisa antar kita ke rumahnya.” Adinda membisik pelan di telinga Varinta. Mengangguk ngerti lalu ngobrol dengan pak supir.
Mengingat Adinda tidak pandai berbahasa inggris jadi mengandalkan sahabatnya itu.
Saat sudah sampai di depan halaman rumah dipenuhi tanaman bunga indah, keduanya
bertatapan bingung takut salah alamat, Varinta memastikan lagi ke pak supir, lalu si supir pun
mengetuk pintu rumah sang pemilik. Dan tidak lama kemudian, Adinda melihat seseorang
yang hangat-hangatnya jadi perbincangan di kalangan JJS Ina berkutat dengan berkas-berkas
diatas meja kerjanya, tidak salah lagi, itu adalah Abinya Harris J, Rahim Jung! Seru Adinda
dalam batin berbicara sendiri.
Mereka dipersilahkan masuk ke dalam, dan sorot mata Adinda tertuju pada lelaki yang sudah
lama ingin dijadikan sahabatnya itu sedang duduk di sofa, “Harris here! You are a guest!” Teriak Rahim Jung.
“Yeah dad!” Sahut Harris J.
Mata Adinda tak lepas dari lelaki itu yang memiliki gaya rambut keriting sudah persis mie rebus. Sibuk dengan HP, sedangkan Varinta menyenggol lengan Adinda dan berikan tatapan teduh dan harapan. Tapi hati Adinda menolak.
Tidak lama kemudian Ibunya Harris keluar lalu menyambut mereka dengan hangat. Ibunya
menyuruh untuk temani di ruang tamu sembari beliau menyiapkan makan malam mereka. Tapi,
Harris J justru mengikuti langkah ibunya ke dapur.
__ADS_1
“Harris, siapa kedua perempuan itu? Sepertinya mereka bukan dari kota ini.” Kata Ibunya.
“Nggak tahu, Mam.” Jawab Harris dengan santai.
Penasaran. Harris pun mengintip dari pintu dapur. Mata lelaki itu tertuju pada perempuan asik
lihatkan novel sedang dipegangnya ke sahabatnya. Tidak..tidak, Harris J menggeleng sangat cepat, apa perempuan itu namanya Adinda? Yang sudah buatkan saya novel? Gumam Harris J sedikit ragu.
“Mam, itu perempuan yang pegang buku namanya Adinda, yang nulis buku tentang saya. Atau..jangan-jangan kedatangannya ke London untuk pastikan saya baca novelnya.” Kata Harris dengan pelan.
Lalu jari telunjuk Harris mengarah pada perempuan yang dimaksud, saat ibunya tidak
perhatikan dengan jelas. “Yaudah it’s oke. Tidak perlu permasalahkan, yang penting niatnya baik.” Sahut beliau penuh kehangatan. “Kalau begitu kamu ke sana, kasihan tamu gak diajak
ngobrol.” Imbuhnya.
Wajah Harris seperti tak suka keberadaan perempuan itu sangat jelas Adinda merasakan hal tak bersahabat dari wajah calon sahabatnya itu. Sedangkan Varinta tersenyum menyambut Harris
yang sedang duduk di sofa berhadapan dengan mereka. Harris justru sibuk dengan HP. Dingin,
datar, tak bersahabat, itulah yang Adinda rasakan dari Harris J.
Yah, memang kedatangan gadis itu untuk pastikan dia baca novelnya itu saja. Dan saat sudah
makan malam, mereka bingung harus kemana? Saat mau tarik koper keluar dari rumah keluarga Jung.
Sedang makan malam bersama,
“Kamu novelis itu kan?” Kata Aj Jung.
Yang dibalas anggukan kecil dan tertunduk malu dari Adinda. Penulis absurt lebih tepatnya, cengir Adinda dalam batin.
Adinda penasaran, kok Ibunya Harris J bisa menggunakan bahasa Indonesia. Bukannya
mereka tak pernah datang ke Indonesia. Hanya anaknya saja.
Segala obrolan, mereka menggunakan bahasa Indonesia.
Adinda membisik sahabatnya “kafalo kifita pefergi kefelufuar bofoleh. Meferefeka tifidak
mefengeferti bafahafasanyafa kifita tofo?”
“Kalian berdua bisik apa sih? Pakai bahasa planet lagi.” Sela Ibunya Harris J.
Adinda hanya diam dan tersenyum kecut. Sedangkan Harris J hanya bungkam dengan wajah dinginnya.
“Mau tidur dimana, Nak? Tidur di sini aja yah?” Kata Ibunya.
“Eh?” Bengong Adinda. “Kalau gak ada baju tidur, biar Ummi beliin di toko!” Seru beliau.
“Hehe..bawa kok tante,” Adinda terkekeh pelan, “Eits..jangan panggil tante, tapi ummi.”
Dalam kamar, Varinta yang kegirangan tidak dengan Adinda. Ada yang berbeda dari Harris,
dari kedatangan mereka hingga nginap pun tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Dia rasa telah salah langkah terbang ke London kalau dapat tatapan bengis dari calon sahabat
yang sudah dirakit indah lewat aksara jika realita saja sudah berubah dingin dan tak peduli.
Suara adzan shubuh, membangunkannya, Adinda melihat sela jendela kamarnya, masih gelap.
Apa ini mimpi? Sambil mencari-cari keberadaan Harris J dan memastikan kalau dia benar tidur
di kamar adiknya Harris J di London. Ternyata dia sedang bermimpi.
Sesak. Usai sholat, turun ke bawah bantu Hana buat kue jualan seribuan. Wajahnya tampak
kusut akibat mimpi itu. Dadanya benar-benar sesak, sesuatu tertahan di tenggorokan, tak ingin
berbagi tapi menyiksa Adinda. Mama! Teriaknya dalam batin.
Sambil tersenyum lirih, “Mama, tadi malam sa mimpi ketemu Harris di London, pas masuk di
rumahnya pula.” Hana menghiraukan, “Tapi kok bisa yah sa mimpi sih Harris, Ma?” Adinda
mencoba memancing lagi.
“Hm, bagaimana mau ke bawah mimpi coba? Kalau setiap hari bahas Harris terus.” Sahut
Hana dengan santai.
Ah, benar juga Adinda tidak bisa menerima kenyataan bahwa Hana tidak menginginkan
__ADS_1
anaknya nangis karena sebuah mimpi sebatas bunga tidur saja. Tidak bisa jadi kenyataan indah.
Merayakan luka adalah suatu hal kecil menjadi perkara besar dalam menyambut kegagalan
berulang-ulang. Terkadang bermimpi tinggi butuh air mata dan luka panjang, agar tahu sukses
butuh perjuangan lebih. Terlebih jadikan Harris J sebagai sahabat sahnya dalam realita butuh
perjuangan lebih, dan Adinda tidak takut untuk gagal lagi. Karena baginya merayakan luka saat
ini adalah awal dari sebuah mimpi lewat aksara yang bakal diapdatasi melalui, ‘Adinda, ada
undangan workshop dari London, lebih tepatnya lagi yang gelarkan itu Harris J!’ Pasti.
Mimpi yang dijaga hanya dapat luka akan menjelma sebuah prestasi indah, suatu hari nanti.
Asal percaya pada mimpi itu.
“Kita akan bertemu lewat diskusi indah, Ris. Sudah saya siapkan meja kita. Meja ini takkan saya gantikan atau suruh orang lain duduk selain kamu. Karena yang terindah dalam puisi hanya kamu saja.” Kata Adinda berbicara sendiri.
End flash back.
🪐🪐🪐
Sudah berapa tahun berlalu, pun sempat mengingat mimpi bersua langsung dengan sahabat menyebalkannya dalam mimpi.
Masih terekam jelas mengenai kesibukan Harris J selama tour di indonesia pun mendapati kabar yang abu-abu.
Pun selama hilang kabar ditambah menunggu kepastian dari manager indonesia, bingung campur tangis.
Project birthdays itu sedang di kerjakan seorang diri saat ini lagi semester empat, suasana kampus sedang memburuk akibat ulah Nafa yang dramatis, cukup buat satu kelas melempar tatapan bengis ke arah gadis itu.
Daripada pusing memikirkan bagaimana cara mendekatkan diri lagi ke mereka, jauh lebih baik menyibukkan dengan selesaikan naskah JJS.
A Dreams masih terdengar belum membaik masih sama, berdebu di sana tak terawat sama sekali.
Tak mengelak saat samar-samar sebelum siuman dari tidur panjang, ayat indah terdengar daun telinga.
Ar-Rahman. Salah satu trending juga di kalangan JJS kali pertama ngejar sebagai sahabat, bertumpukkan sekali gombal lewat status facebook.
Seperti salah satu status Dilan Dilan Apa Yanv bikin Baper??? DILANtunkan Surah Ar-Rahman Sebagai Mahar 😂
Oh astaga, menepuk jidat, kenapa saat itu berikan tatapan ketus sih? Andai mengontrol sikap itu kemungkinan bakal ada cerita ngakak karena Adinda melihatkan status tersebut ke sahabat rambut mie london.
Haha. Kenapa ada tawa-tawa menghiasi kepala gadis aksara? Sudahlah. Sahabatnya saja tidak tahu ke mana.
Dua hari kemudian ..
15 April 2018,
Duh, kenapa sih .. Saat menyusun kejutan berbeda di balik diksi lewat chatroom grup whatsapp, ada saja hambatan salah satunya jaringan di Jayapura, Papua sedang gangguan.
Cukup buat dia resah sendiri, bagaimana mau tahu perkembangan mereka? Apakah masih stuck karena belum mendapatkan ide atau sudah ada yang kirim?
Ih, menyebalkan sekali.
Lewat telpon pun rada susah, tapi tunggu .. Ketika menelpon kedua kali bisa tersambung.
Hah. Lega terasa rongga-rongga harap sedang dilangitkan lewat aksara.
Lusiana Rossa yang menjadi prantara menghubungi JJS dalam grup, bertujuan memginfokan kalau kondisi jaringan internet di jayapura sedang gangguan.
Oh yah sempat ingat satu chat dalam grup,
Kak, kalau ceritanya cerita percakapan boleh gak kak?
Lalu di jelaskan secara rinci oleh gadis aksara seperti ..
*Berarti masuk kategori cerpen ato cerbung..nanti tambahkan kata-kata sebelum masuk ke percakapan seperti : hari ini ulang tahun Harris, dan aku tak sabar menemuinya di dekat sungat thames lalu merayakan bersama ia. Aku bersahabat lama dengannya, namun jarang berjumpa karena kesibukannya di panggil ke mana-mana termasuk konser di indonesia. Alhamdulillah, allah mengizinkan aku untuk rayakan ulang tahun Harris nyebelin itu di london.
Tetiba "Door! Ayo lagi apa?" Canda Harris.
Aku pun terhentak kaget, "ih! Harris! Bisa gak datang itu jangan bikin orang jantungan!" Kesalku sambil memayunkan bibir.
Jangan sampai Harris tahu kalau aku sedang buatkan dia kejutan. Bakal gagal total nih rencanaku. Pikirku sedikit ragu saat melihat wajah ceria Harris di depanku.
"Eh Arin, kita beli ice cream yuk! Saya yang traktir!" Ajak Harris.
Nah seperti itu yah* ☝
Senyum-senyum manis itu pun terbit.
Sudah tidak sabar menyelesaikan naskah mereka, usai jaringan membaik fokus kejar deadline! Harus! []
__ADS_1
Notes :
Bahasa buton \= kalau kita pergi keluar boleh. Mereka tidak mengerti bahasanya kita toh?