
"Tidak menyangkal kan, kalau Harris J menyamakanku seperti JJS diluar sana? Sahabat apanya kalau beban saat saya hadir di sekitarnya."
πͺπͺπͺπͺ
Amarah menjalar diseluruh tubuh Adinda, sudah tak terbendung lagi rasa kecewa dan sesak masih terasa. Luka yang menguap beberapa detik, menunggu respon manager pongah itu, kini terbentang novel di pelupuk mata.
Kenapa beri sebuah harap tinggi dan lebar dalam memberi novel ke tangan bule london, justru batas senang bagi manager indonesia?
Sungguh, sangat terluka tak memiliki penawar terbaik lagi. Kala tahu Harris J melupa arti apresiasi sewaktu masih di london.
"Hm, sahabat apanya kalau anggap saya sama seperti fansmu di luar sana!" Kok, mendadak kesal sendiri?
Siapa yang tidak menjalarkan sebuah amarah dalam dada, ketika di beri detak asa lebar dari orang luar yang di mana mempermudah langkah mimpi mustahil, bisa sampai ke genggaman bule itu, menjadi terhambat atas dasar egoisme diri juga memproduksi lupa dengan sengaja.
Ugh. Kesal sampai ke ubun-ubun.
Hafiz. Sungguh menanam benci di hati seorang gadis aksara yang setiap hari menyimpan harap novel itu di bawa pulang Harris ternyata debu menggorogoti di sana, sunyi penuh dingin dan lusuh tak terurus.
Sesak. Mengumpat semua sumpah serapah dalam dada tertuju ke manager indonesia yang terlalu pongah dan gampang memberi harap.
Terlalu banyak mempermainkan sebuah harap yang sekarang bingung mau menetralkan emosi meletup-letup berasal dari Adinda ke mana?
Kena spam melulu kan?
Makan tuh promise sembari vidiokan Harris pegang novel tapi di hujam pada tempat yang paling menyakitkan dari gadis aksara. Akibat ulah sendiri, melupa.
Pak, novelku sudah dikasih ke Harris J kah?
Berusaha untuk sabar demi mengetahui keberadaan novel itu. Adinda sudah tahu kalau manager indonesia just read.
Ugh. Tambah keki sendiri dalam kamar.
Maaf novelnya lupa dibawa. Masih ada di kantor
Sedetik kemudian, bulir sebesar pulpy orange, meluncur bebas. Bibir terkatup rapat sekarang mendecih tangis tak terurai.
Semakin sakit. Sesak melebur dalam jiwa.
Kenapa terlalu menyamakan perjuangan itu dengan kado hal biasa di lakukan oleh fans bule berambut mie?
Sayang sekali. Kalau tahu di permainkan seperti ini, novel versi inggris tidak bakal mau di kirim.
Lebih baik jadi figuran dalam kamar saja.
Tangis itu tidak terlalu deras, hanya sesak dalam dada yang sulit di netralkan.
Lalu ..
Terus, Bapak kan sudah janji mau berikan vidio saat Harris buka novelku?! Kenapa harus lupa sih, Pak?! Terus, bagaimana?! Novelku bisa dikasih gak?!
Meluapkan semua emosi lewat chatroom whatsapp. Dongkol.
Tidak bisa, novelnya ketinggalan di Jakarta. Besok Harris sudah berangkat ke Australia.
Hua. Tangis itu semakin pecah. Dada terdesak oleh amarah, semakin sesak terasa.
Sangat gampang mengatakan lupa dan tak memedulikan nilai dari perjuangan seorang gadis sederhana lewat novel?
Sungguh kejam tak berperasaan sama sekali.
Pikir dia itu seperti fans di luar sana, dengar kado mereka sampai di kantor manager, senang dan bikin caption di sosmed, walau pun tak sampai ke tangan Harris J?
Oh, tidak. Pak Hafiz salah mengartikan tujuan gadis itu kirim novel ke sana.
Sekarang? Mempertanggung jawabkan desak-mendesak dalam dada siapa? Harris J?
Impossibel!
Harris J saja menyamakan dirinya dengan bunga harapannya di luar sana.
Frustasi. Semakin tergugu sendiri dalam kamar.
Tak berarti lagi dalam menjemput prestasi atau tanggapan dari bule london.
Masih belum cukup puas.
Sungguh sangat menyala sekali amarah dalam hati Adinda.
Bapak sudah janji kasih vidio itu saat Harris buka novelku?! Kenapa sekarang lupa dikasih?!
Walau sudah kirim chat itu, tidak buat situasi hati Adinda membaik. Gemar sekali nyepam ke manager tak berperasaan itu.
Kalau begitu dengan gantinya saya akan berikan vidio ucapan thanks dari Harris, bagaimana?
Sempat dongkol dan gensi dengan penawaran beliau. Tapi, ingin lihat sejauh mana manager itu menepati janji? Karena selalu di jeruji oleh diksi sibuk.
Yang cukup buat Adinda dongkol sendiri.
Hanya mau tahu kabar novel sampai apa belum di tangan Harris, susah sekali.
Tidak merespon sama sekali.
Lalu membuang HP diatas kasur, dia pun tertidur melanjutkan tangis tadi dengan posisi tengkurap. Memukul-mukul dada yang mulai terasa sesak.
Sesegukan terdengar, begitu menyayat hati tahu perjuangan gadis aksara batas lupa dan permainan semata saja bagi seorang manager indonesia.
Dua jam berlalu begitu cepat, tidak terasa mengantongi banyak nestapa pun air mata seorang diri dalam kamar.
Ada notifikasi masuk, mengusik rutinitas menangis gadis itu saja.
"Apa lagi sih?! Dasar..pembohong!" Adinda emosi sendiri.
Tapi, dalam mode menangis jemari itu mengambil benda pipih di sampingnya. Sembari menghapus jejak bulir yang masih mengalir di pelupuk mata.
"Eh?" Mengernyit dong.
__ADS_1
Tidak berhenti memutar vidio big thanks dari Harris J. Ada setitik senyum muncul.
Luka yang terbalut oleh amarah, perlahan tergantikan senang.
Adinda salah fokus dengan bisa menginspirasi org lainππ
Mendadak salting kan. Begitu berdesir-desir bahagia.
Novel yang lupa bawa beberapa jam meluap amarah, mendadak melunak kala tak henti nonton vidio itu.
Tertawa senang, walau terdengar gugu karena tangis berjangka panjang tadi.
Vidio dari Harris J. Cukup membalut luka yang beberapa jam di pelihara seorang diri.
Dan tidak lama kemudian, mengupload ke story whatsapp beralih ke facebook dan instagram.
Tersambut begitu manis dari mereka terutama guru semasa sekolah dulu.
Tak menyangkal saat ini Adinda senang sekali.
Tunggu, kok lihat di beranda pencarian instagram ada akun @qonita.jung ikut-ikutan mengupload vidio itu sih?
Dasar. Copas kepunyaan orang tanpa ijin.
Kan, bertujuan upload ke media sosial untuk beri motivasi ke bunga harapan Harris J bahwa berjuang itu bukan lewat mengumpulkan foto atau vidionya.
Lah, justru di upload dong tanpa ijin. Dasar kelakuan bocah.
Esok hari ..
Tidak sabar memperlihatkan vidio itu ke keluarga terutama mama.
Ketika seorang gadis sederhana melulu di remehkan tidak memiliki kemampuan spesial yang menonjol. Kali ini, dia hanya ingin perlihatkan sebuah vidio dari Harri J ke keluarga.
Walau tahu di sisi lain, masih menyimpan getir dalam hati, mengetahui novel lupa diberikan. Sangat percaya diri menunjukkan vidio itu ke mereka.
Turun ke bawah.
Harris bawa apa yang dia senang, kalau tidak di kasih tinggal di sini.
Mendadak teringatkan kembali mengenai chat dari manager indonesia. Yang berarti novel Adinda tidak sebegitu pentingnya bagi rambut mie london yak?
Tersenyum getir.
Padahal Adinda masih ingat persis di london, protes ingin mendapati novel itu juga kala lihat kepunyaan Kak Renata.
Sekarang, ada satu fakta bahwa Harris J batas menanggapi dirinya sebagai fans bukan sahabat.
"Mama...ini lihat Harris J kasih saya ucapan terima kasih. Karena sudah buatkan dia buku novel.β Adinda menginfokan dengan rasa girang sambil duduk di kursi meja makan depan TV.
"Ah. Itu dia tipu-tipu kamu saja, pasti ada yang buat supaya kamu senang.β Tidak memedulikan. Cuek menanggapi.
Protes dong, "astaga mama, ini betul loh? Di kirim langsung sama admin JJSnya." Lagi menyampaikan dengan perasaan menggebu.
"Iya tawwa, di kasih vidio ucapan terima kasih sama Harris J, disebut namanya tawwa.β Ucap Mama santai.
Huee masa hanya begitu sih tanggapannya?
Adiknya juga sedang duduk di situ.
"Coba-coba, mana coba saya lihat kah?β Buru Laila, ikut penasaran.
πͺπͺπͺπͺ
Lefan baru pulang dari ruang produksi di Jepang. Memutuskan resign karena kurang nyaman dengan kota baru.
"Kenapa, Dek?" Tetiba saja, Adinda menelpon.
"Kak! Huee..Harris J jahat! Arg, jahat..jahat!" Rengek Adinda dengan manja.
Melongo heran. Jahat karena apa sih? Lefan sendiri tidak memiliki kabar dari bule itu sejak tour berlangsung di Solo.
Bentar, ada sesuatu yang dilupakan cowok itu.
"Harris J kenapa, Dek?"
"Kak Lefan.." Rengeknya. "Harris J kemarin sudah pulang dari indonesia." Lanjut gadis itu, intonasi terdengar begitu lirih, seperti menahan tangis.
"Oh, berarti novelmu sudah di bawa kan ke london, sama Harris J?" Lefan menanggapi sangat santai.
Tapi, ada sesuatu yang terus mengusik isi kepala cowok itu.
Apa yah? Lefan sendiri lupa.
"Kak! Ah, stop bikin orang sakit hati lagi sudah." Greget Adinda.
"Loh, kenapa lagi sih, Dek? Tidak ketemu, di telpon pun kakak kena marah trus." Lefan bingung sendiri.
Lefan pengen lihat wajah adik menyebalkannya yang ditemui kala pulang kerja di bandara airport.
"Kak Lefan! Harris J jahat. Betul eh, saya hanya dianggap fans sama dia."
"Dek, kamu nih kenapa sih? Marah-marah trus tidak kasih penjelasan ke kakak."
Bentar, Adinda bingung apakah harus memberitahui hal ini mengenai novel lupa di kasih oleh manager indonesia ke bule london itu?
"Dek?" Lefan memanggil.
Mereka sudah ada di posisi vidio call via whatsapp. Melihat wajah tertekuk juga pelupuk mata yang bengkak, Lefan curiga ada sesuatu yang terjadi selama tidak lempar kabar dengannya.
Dan, mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Harris J?
"Hm?"
__ADS_1
"Ngomong. Kenapa dengan Harris J?"
"Harris J tidak bawa novelku, kak. Trus kenapa bisa nggak di bawa? Yah, itu sih manager indonesianya yang sombong sok sibuk. Makanya novelku masih ada di jakarta." Cerocos Adinda.
Fix. Lega sekali dalam meluapkan kekesalan karena kemarin di beri vidio dari Harris J saja lewat Pak Hafiz.
"Bentar, kakak mau nanya, kenapa mukanya ade bengkak begitu? Habis nangis kah?" Tanya Lefan, begitu penasaran.
Adinda cengir manja lalu mengangguk lirih.
"Soalnya toh kak, sih manager indonesia labil sih, kenapa nggak bilang dari awal kalau ndak ada niat kasih ke Harris J tuh novelku. Supaya saya nggak kirim ke sana. Ih, kesal lagi kan."
Mata yang panas, juga napas terdengar kempas-kempis, hampir saja meluncur bebaskan bulir-bulir itu depan Lefan walau batas vidio call.
Cukup membangkitkan rasa emosi cowok itu dan akan mencari bule tersebut sembari memuntahkan ceramahnya kenapa bisa bikin Adinda menangis sampai mata sebengkak itu.
"Hm, nanti yah kakak tanya langsung ke Harris J."
"Percuma kak. Dia lagi konser di Australia. Tidak pulang ke london, entah kapan balik ke rumahnya. Ah, percuma kakak tanya ke orangnya, kalau saya dianggap fans saja." Lagi, getir-getir itu terasa dalam hati, sakit.
"Sstt, jangan langsung ngambil keputusan sebelum tanya langsung ke orangnya. Tidak baik berburuk sangka cepat ke orang lain." Jeda tiga detik, " ade pernah dengar ini kan, 'Jauhilah olehmu sebagian besar dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan (dosa)ΒΉ' trus sudah ditegaskan juga oleh Rasulullah dalam hadist yang berbunyi 'Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah seburuk-buruknya perkataan.' Kurangi prasangka buruk di kepala ade. Insyaallah kakak nanti hubungi dia kalau sudah tidak sibuk konser." Lanjut Lefan.
Seperti tertampar diri sendiri, mendengar penuturan kakak yang ditemui lewat kota big ben itu satu tahun lalu.
Tapi, kan? Kalau memang menanggapi sebagai sahabat, kenapa hanya batas kasih vidio ucapan terima kasih?
Seolah-olah Adinda tidak berharga lagi di mata rambut mie london.
"Nah, tuh kan, mau nangis lagi. Dek, kakak sudah pernah bilang, jangan libatkan masalah dengan perasaan. Sakit sendiri, lebih baik cerita aja sama kakak daripada di pendam, sesak, Dek."
Duh, tahu saja apa yang ada dalam kepala gadis aksara itu.
"Yeh, kata siapa coba yang mau nangis?! Huh, dasar.. Kak Lefan nyebelin, week!" Adinda ngeledek.
Dan, Lefan hanya menggeleng sambil terkekeh geli lihat tingkah manja gadis itu.
"Bentar, Dek, ada nomor baru masuk chat kakak."
Lefan pun menekan chat tersebut lalu masuk ke dalam chatroom whatsapp.
Siapa? Batin Lefan pun bersuara, sangat penasaran.
Assalamualaikum, Kak, ini nomor baru saya, Harris J. Maaf belakangan ini saya tidak kabari kakak, karena sibuk dengan konser tour ditambah waktu itu saya sakit trus soal novel yang saya lupa bawa. Tolong jangan kasih tahu ke Adinda, saya belum siap terima sumpah serapahnya.
Wallahi. Tidak sengaja lupa, benar-benar sibuk dengan jadwal konser tourku selama di indonesia. Jujur, saya rasa sangat bersalah sama dia, karena waktu di london sudah janji mau bawa pulang novelnya.
Tapi, kak, jangan marah saya dulu. Mau kasih penjelasan kalau sebagai gantinya saya kasih vidio ucapan terima kasih, disuruh sama Pak Hafiz dan beliau tidak tahu kalau saya sudah tahu siapa yang bikin novel itu.
Lefan pun memijit pelipis itu, bingung kenapa sih dua orang ini tidak mau menyelesaikan masalah secara dewasa?
"Kakak kenapa? Sakit?" Adinda menegurnya, dengan raut cemas.
"Eh, nggak kok, Dek. Kalau gitu, nanti kita lanjut telponan sebentar malam yah? Kakak juga tadi baru pulang kerja, belum istirahat."
"Oh, ok deh, maaf ganggu waktunya kak, be the way, thanks sudah temani curhat hehe."
Lefan menghembuskan napas lega. Lalu beralih menelpon bule london itu dan menanyakan kenapa bisa bikin Adinda menangis dan menyampaikan juga persoalan mata yang bengkak itu.
Harris J terus mengulangi diksi maaf yang tidak bakal mengurangi pikiran jelek dari kepala gadis aksara.
Esok hari ..
Ada acara makan bakso di rumah, dengan sumringah kembali buka dinding facebook.
Oh, ternyata sudah banyak merespon. Begitu manis dan hangat.
Congratulation kak,
Wow wow mangatse sayangku dalam berkarir
Seriously? Wow thatβs Harris J
Congratss beb
Henny Wahyuti berkomentar : Alhamdulillah, ikut senang Adinda Ariani...semangat dan terus berkarya #lalu ibu kapan?
Setelah melihat itu dari gurunya, ada komentar dari JJS..
Congrats kak. Dikirim siapa itu kak.
Ketika ingin balas pujian-pujian begitu hangat dari mereka di sosial media, Rania datang ke rumah.
"Sudah lihat vidionya toh?" Kata Adinda sangat girang. Bangkit dari layar benda pipih di pegangnya dan beralih ke wanita tersebut.
"Apa itu, assalamualaikum Adinda, sambil kasih begini tangannya. Coba kek di vidionya Harris pegang juga novelmu." Rania memperagakan apa yang ada dalam vidio di lihat lewat story whatsapp ponakannya tersebut.
Bergetir. Sangat lirih.
Itu sudah selama ini di kejar-kejar Adinda. Realita mengatakan lupa prantara manager indonesia.
Apa memang, perjuangan mendapati sesuatu yang indah butuh jangka panjang?
Tapi, kan, itu sedikit lagi sampai ke tangan Harris J. Hanya saja kenapa sih manager dari indonesia terlalu pongah tidak mau bawa novel itu ke Solo?
Kota terakhir bule london berambut mie konser. Justru tidak menyempatkan waktu ngambil novel itu trus simpan ke dalam ransel.
Macam sebesar apa sih buku tersebut, sampai produksi lupa dalam kepalanya?
Merespon dengan wajah lesu dan memanyunkan bibir. Tetiba ada banyak vidio dari JJS yang mengupload ke akun mereka.
Padahal .. Tujuan mengupload vidio itu beri motivasi ke mereka gemar lempar iri, dengki atas dasar hal sepeleh doang, nama tidak tercantum dalam vidio mengubah haluan dalam berkarya lewat hobi mereka.
Miris. Perjuangan nyata dianggap permainan. Lalu jari-jari tak bertanggung jawab dengan seenak jidat mengambil yang bukan kepunyaan mereka tanpa ijin. []
Notes :
__ADS_1
Quran Surah. Al Hujuraat : 12. ΒΉ