
βKenapa kakak bertahan dengan luka? Sisi lain butuh motivasi saat mimpi kakak tertinggal, justru berikan lukisan harap ke kita.β
πͺπͺπͺπͺ
Cuaca sedang mendung kala mengayunkan langkah isi KRS ditambah perwalian di dosen.
Berpikir bagaimana nanti kalau hujan lebat, tidak bisa pulang?
Mengingat cuaca seperti ini, kembali pada mimpi tertidur pada tumpukan debu.
Memang sempat menjadi kabut pekat dalam bola harap yang batas halusinasi saja.
Namun, setitik asa terlukis di ruang-ruang imajinasi Adinda, sudah tidak sabar buat kembali ke rumah.
Larutan pada luka tercelup pada ketakpastian milik manager indonesia, memang sangat pelik tak mendapati kepastian pasti.
Perjuangan batas permainan di bola mata mereka, tak ada istimewa sama sekali.
Menguar sebuah aroma hampa diberikan pada sosok gadis aksara, penuh perjuangan nyata.
Mengetahui sahabat rambut mie london hilang tak berikan sebuah alasan jelas, semakin meredupkan harapan di selipkan pada novel yang telah transit saja di kantor. Benar-benar tidak sampai pada genggaman bule itu.
Memang sih masih berada di indonesia, melakukan konser tour, salah nggak sih kalau kembali minta sebuah janji diberikan dengan dahaga lega melalui pintu manager indonesia?
Ugh. Sedih sekali, ternyata hanya batas pandang sebelah mata yak sebuah perjuangan berharga tak bermain pada detak waktu, untuk mengumpulkan hal-hal unfaedah.
Kalau saja datang dengan menawarkan kertas-kertas merah, mungkin saja posisi A Dreams sudah berada di tangan bule tersebut sambil lihat berjejer setiap konser berlangsung di beda tempat.
Sayang itu semua hanya sebuah halusinasi di dapatkan.
"Duh, gerimis oey.." Gerutu Adinda sambil melirik ke arah parkiran kampus.
Memang masih ada teman kampus dalam ruangan, sudah selesai juga catat mata kuliah yang di lingkari oleh dosen wali.
"Nanti balik sama-sama eh?" Kata seseorang, sambil bersimpuh harap lewat bola matanya.
Mendesah pelan lalu menerbitkan senyum tipis, pertanda mengindahkan usulan teman sekelasnya itu.
Usai reda tidak ingin mengulurkan banyak detak waktu, segera berkemas lalu tak sabat kembali ke rumah.
Ada satu asa ingin di semogakan, walau tahu masih mencelupkan luka seenggaknya di sana insyaallah menggantikan nestapa yang dirawat nafsi.
"Awas eh?! Kalau saya tahu kamu begadang lagi!" Tatap tajamnya, buat Adinda pura-pura mendelik takut lalu tak lama kemudian memuntahkan tawa.
Memukul pelan lengan gadis itu, "ih..kasihan nanti kesehatanmu menurun trus mengganggu kuliahmu juga." Penuh tulus.
"Haha, siap ibu bos, kalau begitu balik dulu eh? Takut hujan deras nih." Menimpali sambil terkekeh pelan.
Mengangguk pelan. Lalu melambai kecil melepas kepergian temannya itu yang sudah mengantar sampai rumah.
Sejak tahu dia mengejar bule london, sedikit terganggu oleh cita. Berharap sedikit tegas pun sangat mustahil, karena teman kampusnya itu tampak sangar dan keras hati jika di nasehati.
Bersimpuh asa, agar dia tidak terjadi pada sebuah ruas gagal supaya bisa mengenakan toga bersama.
Di tempat lain, saat masuk dalam kamar cepat-cepat menyalakan HP.
Bentar..bentar, ada sesuatu yang menguar aroma luka dalam jiwa ketika jari-jari tersebut mengetikan sesuatu.
"Ugh..yakin kah?" Masih jelas isyarat mata menyimpulkan keraguan.
Dengan hamdalah dan kepercayaan diri, mulai memberanikan diri terjun ke sana.
Ada sesuatu yang perlu terkemas baik dengan bakat di dalam diri Adinda.
Mungkin saja bakal memproduksi sebuah senyum rekah tak henti di wajah Harris J.
"Okay deh, semoga banyak yang minat." Ucap Adinda pada nafsi, sambil mengepalkan tangan penuh percaya diri.
Untuk sementara rehat tubuh agar tidak terkulai dan mengganggu kuliah.
Kesenangan diluar cita bisa diurus belakang, prioritaskan sebuah nilai-nilai lebih dulu maka kesehatan jauh lebih penting dari detak main di punya.
Sudah bertemu pulau kapuk, kala bola mata terasa berat tidak bisa lagi meneruskan aktifitas siang ini.
__ADS_1
Tadi sebelum balik ke Sentani, mampir ke penjual kisaran harga empat puluh enam ribu yang mendapati tiga kantong jajanan tersebut.
Batagor. Yang mungkin hampir setiap hari mampir beli untuk di berikan oleh-oleh sepulang kampus ke rumah.
Makanan yang enak buat gadis itu tidak bosan membeli, kalau sudah kena teguran tegas dari ibunda tidak ada keberatan Adinda menjedakan beli jajanan itu. Karena bosan kali? Makanya di tegur tegas.
Dulu, sebelum bule london berambut mie itu hilang, sepulang kampus pasti tidak istirahat yang ada melempar kabar dengan voice notes atau vidio call.
Sekarang hanya merasa aroma hampa bercampur nestapa.
Tidak ada keindahan yang dirasakan sejak Harris J mengemas semua mimpi diberi penuh simfoni manis.
Maka..Adinda hanya bisa melukis harapan lewat fans fanatik bule berambut mie tersebut.
πͺπͺπͺπͺ
Novelmu sudah di bawa Harris J ke London.
Andai diksi itu menjadi sebuah realita, mungkin takkan membuka ruang lukis harap ke mereka.
Hm, sudahlah.
Mungkin saja kebahagiaan gadis aksara ada tersemat pada JJS.
Wuyuh. Belum ada sehari, sudah banjir antusias dari mereka.
Memang sih berjuang lagi buat masuk ke grup untuk mengajak serta promosi ada minat apa kaga ikut partisipasi.
Sangat haru.
Kali pertama mendapati sebuah apresiasi walau bukan dari karya sendiri di banggakan oleh mereka, setitik harap kembali terlahir lewat jejeran penuh menggebu di sana.
Pelan-pelan membalas chat mereka, belum henti menghilangkan senyum arti di wajah itu.
Oh, benar ada satu harap juga ingin memberikan pelangi menghiasi diksi penuh warni setelah menjadi fisik.
Saat rutin melihat mereka update foto maupun vidio, akan beralih pada hal berfaedah.
Percuma datang melempar amarah hingga meledak ke manager indonesia yang terlanjur berikan rasa asa pada A Dreams, hanya lihat novel itu sekedar sampai.
Lebih baik menyibukkan diri dengan bakat dibanding terpaku pada nestapa nafsi.
Tanpa sadar, bakal menemukan titik simfoni bersiul riang kala minggat dari ruas nestapa di pelihara diri.
Adinda juga memahami kalau fans bule rambut mie hanya senang sesaat bukan mengejar detak berharga tiap waktu di pungut mengenai idola.
Ups, membicarakan diksi idola buat gadis itu tersenyum sesaat.
Setahun lalu tepat di bawah big ben london,
Bertukar cerita penuh riang dan hangat.
"Saya tegaskan! Dan camkan, kalau yang ku kejar itu prestasi bukan halusinasi!"
"Oh, satu lagi, saya jadikan kamu sahabat bukan idola! Yang pantas diidolakan bukan kamu tapi nabi kita yang bakal berikan kita syaafat di akhirat kelak." Penuh dengan ketegasan saat bule itu menggoda kalau mengejar sebagai idola bukan sahabat.
Huu..presepsi tersebut sangat salah sekali.
Adinda juga kagum dengan dakwah modern bule itu, lewat simfoni menyatukan luka pribadi menjadi kebaikan hati dan mengelupas bengis satu sama lain.
Dan, ingin sekali berdakwah lewat aksara. Waktu berdetak sangat cepat, hingga keinginan itu tergapai dalam bentuk A Dreams.
Sayang, sampai sekarang masih belum sampai dalam genggaman orang yang telah memotivasi serta berhasil jadikan bakat tersebut menjelma dakwah berbasis aksara itu.
Biar sekalipun halaman-halaman mimpi menjadi dua versi takkan mengubah persepsi manager indonesia.
Mendadak amnesia kah?
Mendelik sangat hebat, mana mungkin tersengajakan lupa?
Sebelum membuka ruang lukis harap, Adinda sempat rutin buka ruang JJS yang terdapat sebuah vidio dan foto di instagram.
Cukup menghabiskan waktu sia-sia tak berikan hal yang berharga bagi diri sendiri.
__ADS_1
Merangkul batas jarak bermodal grup online, lalu mengelupas sedih dipelihara mereka yang kurang bruntung nonton konser Harris J secara langsung.
Adinda : Assalamualaikum, yang ingin ikut berkarya dengan saya chat me yah.
Kemarin sudah mengirim chat itu ke mereka. Dan, sekarang kwalahan dalam membalas chat mereka per satu-satu.
Jika saja dalam hal menjabarkan cemburu tahu ada kado menarik bule london, mungkin jauh berbanding terbalik mengetahui fans tersebut mengulurkan tangan antusias penuh hangat.
Benar saja, kemarin tidak sabaran untuk berkemas dari kampus, ini sudah, mengajak JJS berkarya lewat aksara.
Memang sih JJS menangis dalam hal tidak dapat melangkah ke konser idola, itu sebagai bentuk apresiasi ke Harris J.
Adinda tidak seperti itu, justru mengumpulkan banyak ide dalam kepala lalu dituangkan bentuk buku, masih saja tidak di pedulikan, pandang sebelah mata.
Dan, bagaimana kabar mereka yang bela-belain kertas tak sedikit diberikan ke panitia sekedar mendapati tiket konser? Hanya dapat lelah dan waktu terbuang berdiri sambil sorak-sorak tenggerokan serak.
Bahkan karya di perjuangankan tak memedulikan nyeri di kepala, masih tercampakkan begitu nyata terbentang depan bola mata.
Memang sih saat bulir sebesar kacang hijau pun luka terlarut kecewa ditambah palsu batas asa oleh manager indonesia dalam mengejar mimpi jadi sahabat, diberikan cuma-cuma ke fans sekedar bermain pada detak unfaedah.
This right! Ini sangat menyebalkan, saat belajar ikhlas memeluk nestapa pun luka, takkan mau ngundang lagi kabut pekat lewat mimpi nyata telah terlanjur diberikan tawaran pada JJS. Trauma menari-nari dalam ruas asa batas lupa.
Tersenyum masam. Masih pantas berada dalam celupan harap bersitatap atau sekedar tahu kabar bule betambut mie itu sudah ngambil karya di perjuangkan berada di kantor DNA Production?
Mungkin saja ada atau menguap begitu saja di kantor DNA Production.
Waktu di pertahankan dalam konsisten mengajak mereka berkarya, jika ada sebagian tidak bisa berimajinasi atau bisa di katakan menyampaikan sebuah pesan lewat tulisan, bakal dengan sabar dan pelan mendorong mereka agar bisa berkarya.
Absurt atau tidak nyambung sekalipun, tetap dia menerima tanpa ada penolakan.
Karena dulu sebelum jadi A Dreams gadis itu juga berada dalam posisi rumit, dalam kaitan belajar sendiri sembari baca banyak novel dan latih tulisannya. Walau di baca ulang, sedikit geli, absurt dan sedikit aneh.
"Haha, bisa-bisanya waktu dulu tulis sejelek itu." Ups, tiba-tiba saja Adinda berkicau sendiri, diingatkan lagi pada jaman masih nulis iseng hilangkan penat kala jam pelajaran matematika cukup membosankan bagi dia.
Nanda : Karya apa? Bikin vidio kah? Atau...
Ping,
Intan : Wah...mau ikutan dong kak, em...be the way, karya seperti apa yah kak?
Beberapa yang tersemat dalam ingatan Adinda. Chat yang cukup menarik perhatiannya.
Tersenyum tipis lalu mengetik sesuatu..
Adinda : Karya dalam bentuk puisi, cerpen atau cerbung. Kalian bisa pilih ketiganya juga boleh ambil semuanya.
Boleh jujur kah? Saat paragraf cerbung agak bagaimana isi hati Adinda, sangat bercampur risau di mana kuliah perlu pertahanan konsisten ditambah cerbung yang diedit tidak boleh ngejar waktu.
Ada sebagian protes dan ngeluh, karena tidak bisa atau pandai dalam berimajinasi lancar. Pun ada tidak sabar ngirim karya mereka, bakat terpendam tak pernah di perluaskan.
Adinda masih terus-menerus mengalirkan motivasi agar yang tidak bisa nulis menjadi karya.
Kenapa kakak bertahan dengan luka? Sisi lain butuh motivasi saat mimpi kakak tertinggal, justru berikan lukisan harap ke kita.
Mendapati sebuah chat dari salah satu JJS, sangat ngena persis dalam hati, nyeri bercampur luka permanen lewat diksi.
Siapa lagi kalau bukan orang yang kali pertama memotret perjuangan nyata gadis itu, saat lainnya berdesak nonton konser tour bule di indonesia, Adinda justru menunggu kepastian dari hasil produktif bakat lewat bola aksara. Yang sekedar batas sampai dan pengelupas asa dibalik lupa.
Benar saja, JJS satu itu sangat penasaran kenapa bisa memberikan satu ruang asa sedangkan nafsi membutuhkan motivasi agar tak tertidur dalam larutan luka semakin bengkak menjelma hingar-bingar dalam sajak.
Adinda hanya tersenyum masam. Sambil sesekali merutuki kebaikannya merangkul mereka semua.
Nanda Mulyaning, orang yang selalu memangku nestapa lewat online, sudah tahu persis bakal mendapati kejutan pahit. Sementara chat tersebut belum di balas, gadis aksara itu hanya terus mendesah berat.
"Maaf..maaf, dek." Gumam Adinda, sedikit frustasi, bingung mau jawab apa.
Nanda bakal terus mengirimkan pertanyaan itu jika belum di balas sesuai keinginannya.
Hm. Daripada mengabaikan chat perempuan itu, memutuskan dalam merespon sangat jelas dan padat.
Adinda : Mungkin saja mereka penawar terbaik saat novel kakak belum sampai di tangan Harris J.
Menit-menit waktu berjalan, terasa lama mendapati respon balik dari Nanda.
__ADS_1
Adinda hanya cukup tersenyum lalu kembali lagi ke grup yang sudah di buatnya beberapa minggu ini. []