IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
10. Pasang Listrik


__ADS_3

" Kalau gitu biar saya ganti saja, masalah air gampang kok, lampu juga gampang. Besok  aja saya perbaiki,, ini juga sudah sore, saya mau keluar cari sesuatu sama Tyas. Bentar kak, saya ambil uangnya." Said tahu tabiat kakak iparnya, jadi dia tidak mau menerima barang kalau hanya gratis, kecuali makanan, karena tidak sopan jika harus membayar makanan yang diberikan.


Said kembali menemui istrinya dan meminta uang 50 ribu rupiah.


"Untuk apa mas?" Tanya Tyas sambil mengikuti langkah suaminya.


Tanpa menjawab said segera melangkahkan kaki ke belakang, dan dia tidak menemukan faedah hanya meninggalkan barang yang ditawarkan kepada Said.


"Orangnya sudah pulang." Ucap said, lalu mengambil barang yang diletakkan.


"Lo mas, mas beli wayar dari kak faedah." Herannya Tyas sambil memegang sebagian dari wayar tersebut.


"Ini tadi kak faedah nawarin, suruh pakai dulu, tapi mas gak mau. Mendingan bayar yank karena......"


"Karena takut jadi ungkitan dan dibicarakan dibelakang kan mas" ucap Tyas memotong ucapan suaminya.


"Tahu darimana kamu yank, sudah seperti peramal saja" ucap said mencubit ujung hidung istrinya.


"Tahulah mas, ada sebab yang buat aku ngerti sekarang mas, aku juga tadi dengar pembicaraan mas sama kak faedah. Tapi aku belum tahu apa yang ditawarkan dia. Ternyata ini"


Said menutup pintu kembali dan ingin segera pergi kerumah kakak Tyas yaitu Yani. Namun pintu belum tertutup sempurna terlihat Arif anak faedah sedang bermain. Tyas juga ikut melihatnya dan langsung mengambil tindakan sebelum suaminya.


"Arif. Dek sini?" Ucap Tyas pada ponakan said.


"Kenapa buk?" Jawab Anak berumur 9 tahun tersebut.


"Ini ada uang buat Arif, tapi jangan dijajanin semua, sebelum dijajanin, harus beri tahu bunda dulu ya? Kalau gak Ibuk bakal lapor kebunda Arif. Awas kalau bohong, Ibuk gak suka kalau anak-anak bohong" ucap Tyas pada ponakan said.


"Terimakasih buk? Iya udah sekarang aku kasih kebunda dulu" ucapnya semringah dan bahagia.


Kembali said dan Tyas masuk kedalam rumah dan menutup semua pintu.


"Yank tadi aku juga inisiatif gitu, tapi takut kamu marah, tadi juga aku niat kasihnya gak sebanyak itu. Ayank Mala kasih semuanya". Said berucap menyusul langkah istrinya.


"Mas ponakan kamu itu gak salah, lagian dia anak dari Abang kandung kamu, jelas mereka juga anak kamu mas? Aku juga anggap mereka anakku.  Kalau mereka salah juga mas wajib tegur juga. Tapi aku juga gak yakin kalau soal negur-negur, takutnya emaknya gak terima bisa berabe." Jelas Tyas pada suaminya.


Said menyadari bahwa istrrinya adalah orang yang perduli dengan keluarganya.


Mereka pun bergegas meninggalkan rumah menuju rumah Yani. Saat dipertengahan jalan mereka harus berhenti karena seseorang sedang memanggil dan menghampiri mereka.


"Mau kemana id?" Tanya lelaki yang umurnya sekitar 50 an.


"Mau kerumah bang Ian uwak. Ada apa Wak" tanya said.


"Gini id, sapi uwak yang ada sama kamu, lagi ditawar orang, 14 juta. Gimana menurutmu, jual gak sapinya" tanya lelaki yang dipanggil uwak oleh said.


"Loh kok tanya saya Wak, kan uwak yang punya sapi, yang penting saya yang ngerawat terima hasil aja, kita yang kerja gak bisa ngatur yang memiliki lah wak heheh" balas said ramah sambil diiringi tawa.


"Kan kamu yang jaga, menurutmu pantas gak kalau harga segitu. Soalnya untuk lebaran idul Adha itu sapi" kembali lelaki itu bertanya pada Said.

__ADS_1


"Menurutku sih itu sudah cukup mahal Wak, Mala perkiraanku harganya cuma 13 jutaan. Memang sih gemuk, tapi kan postur tubuhnya pendek wak." Kembali said memberikan saran pada sang pemilik.


"Ya uda uwak ikut saran dari kamu, uangnya kan bagi 2 ni. Tunggu uangnya cair baru uwak kasih kekamu ya. Tapi kalau sapi sudah dibawa dan uangnya belum cair, ntar biar uwak yang kasih dulu ke kamu. Siapa tahu kamu butuh." Ungkap lelaki itu.


"Gak usah uwak? Biar cair dulu aja" sanggah said.


Setelah percakapan itu, mereka melanjutkan kembali kekediaman yani. Saat dipertengahan jalan said bertanya pada istrinya yang sedari tadi diam.


"Yank tadi kok diam aja sih, cuma senyum-senyum. Biasanya kamu punya pendapat kalau urusan ekonomi." Tanya said sambil menarik tangan istrinya agar semangkin mengeratkan pegangan pada perutnya.


"Ya gak mungkin aku ikut-ikutan mas? Itu kan urusan kamu, lagian gak sopan juga aku memotong pembicaraan orang lain. Aku gak ada sangkut pautnya soal ini kan." Jelas Tyas pada suaminya.


Setelah sampai Tyas menceritakan sikap faedah kepada kakaknya Yani. Karena siapa lagi yang akan dia ajak cerita jika bukan kakaknya. Karena mungkin Yani yang sudah mengenal faedah lebih lama bisa mengerti mengapa faedah seperti itu.


" Kalau menurut kakak, kalau ada rezeki bagusan air, listrik, kamar mandi itu punya sendiri-sendiri. Biarpun dia nawarin, kalau bisa sih jangan gabung. Soalnya itu juga salah satu kebutuhan kita karena sudah berumah tangga Yas." Nasihat Yani pada adiknya.


Disisi lain ternyata said juga menceritakan perihal yang sama, namun lebih meminta maaf pada abangnya Ian. Karena walaupun statusnya ipar dengan Tyas, tapi Ian juga menyayangi Tyas seperti adiknya sendiri. Bahkan diperlakukan baik segala kebutuhan Tyas dulunya.


"Aku minta maaf bang belum bisa bahagiain Tyas. Bahkan air buat mandi saja tidak bisa aku berikan biar dia lebih puas." Said terlihat sedih saat mengingat apa yang telah terjadi.


"Id, Abang dulu juga sama seperti kamu, ya kejadiannya persis seperti kamu, gak papa nanti seiring waktu ada rezeki, belilah yang penting, atau gunakan buat kepentingan, bahkan ambil yang penting dari yang paling penting dulu, kalian ini sudah seperti adik-adik Abang sendiri, yang terpenting jangan biarin Tyas nangis berlarut-larut. Abang dulu pernah buat nangis dia sampai berjam-jam, gak tahu kenapa dia seperti orang yang kehilangan kendali, manggi-manggil almarhum bapak. Karena memang dulu bapak itu orang yang paling mengerti dia. Bahkan sampai kelas 3 SMP dia masih sering buntuti kemana bapak pergi. Bahkan jarang makan kalau bapak belum pulang. Tapi Tyas jarang memperlihatkan kesedihannya, dia orang yang keras kepala. Kalau dia sampai nangis, itu berarti dia benar-benar terlalu sakit buat dia." Ian kembali teringat dimana moment dia memarahi Tyas.


Flashback Ian memarahi Tyas akan hadir setelah cerita di bab ini selesai.


Said dan Tyas kembali pulang kerumahnya, dan memikirkan apa yang tengah jadi nasihat pasangan yang baru saja mereka kunjungi.


Siapa sangka kalau said justru ingin berucap sama.


" Mas juga tadinya niat gitu yank? Tapi mas takut kamu nolak, bisa jadi kan kamu pengen beli emas buat simpanan" ucap said pada istrinya.


"Memang emas bisa buat simpanan mas? Tapi masak kita harus bertahan dalam keadaan seperti ini, mana mungkin ada rezeki aku langsung beli emas tapi kebutuhan sehari-hari dan pasti digunakan kita gak bisa." Gerutu Tyas pada suaminya.


"Ya sudah besok aku mau lapor ke pak RT dulu, soal cair atau gaknya uang sapi, jangan dipikirin, yang penting daftar dulu aja, soalnya bisa sampai 1 mingguan prosesnya." Ucap said kembali.


"Tapi mas aku dapat info, kalau langsung ke kades luar lebih murah Lo mas, apa gak seharunya tanya dulu disana" saran Tyas pada suaminya.


"Yank kita ada RT, ke RT dulu saja, toh kalau dia ambil komisi juga kan itung-itung itu komisi buat pekerjaan dia." Sanggah said.


"Terus gak minta ijin dulu sama bang Bandi ataupun kak faedah. Gimanapun kita kan pernah numpang listrik sama mereka."  Tyas mencoba agar suaminya tidak terus dalam emosi.


"Caranya memutus sambungan kabel, sudah membuktikan kalau dia ingin kita gak pakai listriknya. Coba kamu lihat biarpun kabel yang kita beli dari dia gak dipasang. Dia gak mencoba tanya kan. Justru dia malah senang keadaan kita seperti ini" ungkap said dengan rahang mengeras.


"Ya sudah kalau begitu, aku nurut aja" jawab Tyas, dia tidak ingin lagi memancing suaminya.


Mereka pun beranjak tidur menantikan esok hari. Malam itu mereka tidur dengan nyenyak, Tyas juga sudah mulai nyaman tidur dengan cahaya remang-remang yang didapat dari cahaya senter ataupun lilin.


Keesokan harinya said menyelesaikan rencananya, siapa sangka lelaki yang tempo hari menanyakan perihal sapi juga datang kerumah.


"Id sapi mau di ambil, hari ini cairan. Yuk kamu bisa kan antar ketempat sapi yang uwak bilang kemaren." Ucap lelaki itu pada said.

__ADS_1


"Alhamdulillah Wak, sapinya aku ikat, dan yang pasti sudah makan? Yuk". Wajah said pun terlihat senang dan membawa sang pemilik serta membawa pembeli ketempat sapi berada.


Saat said pergi meninggalkan istrinya, kabar baik pun datang menghampiri.


"Assalamualaikum?" Suara pria di balik pintu.


"Waalaikum sallam? " Ucap Tyas seraya membuka pintu utama. "Eh pak RT ada apa ya pak, mas said lagi gak dirumah pak, baru saja pergi." Jelas Tyas pada pak RT yang datang kerumahnya.


"Gini mbak? Bilangin ke mas saidnya. Alhamdulillah listriknya dipasang 3 hari lagi. Ini rezeki buk, bisa secepat ini, biasanya lama Loh mbak" ucap RT setempat itu.


"Oh ya Allah Alhamdulillah? Terus uangnya gimana pak, sekarang atau besok setelah mereka datang." Tanya Tyas kembali.


"Besok aja kalau sudah datang mbak. Saya cuma nyampaikan saja, biar mas said bisa persiapan dulu" kembali RT setempat itu tersenyum sangat ramah.


Lalu RT setempat itu pamit dan meninggalkan rumah Tyas, Tyas terus saja mengucap syukur, dia percaya bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya.


Said pulang dengan membawa senyum dibibirnya. Lalu memberikan  uang yang didapat diberikan kepada istrinya.


"Mas tadi pak RT datang, memberikan kabar bahagi, katanya PlLN bisa dipasang 3 hari lagi." Tyas berkata pada suaminya sambil meletakkan secangkir teh dan diberikan kepada suaminya.


"Alhamdulillah yank, rezeki anak kita? Jadi semuanya lancar tanpa halangan"  kalimat yang diucapkan said memang terdengar sangat benar ditelinga Tyas.


3 hari kemudian sang petugas PLN datang kerumah mereka yang didampingi oleh pak RT. Mereka bekerja sangat rapih dan cepat, saat petugas selesai mengerjakan tugasnya mereka pun pamit.


Tidak jauh dari kediaman mereka, ada suara yang sangat sakit ditelinga di dengar oleh Tyas saat itu. Ya seorang lelaki yang sering disapa kakek oleh orang-orang datang bertamu kerumah Bandi dan faedah. Kakek itu juga adalah seorang pemilik barang yang dititipkan dirumah Tyas dan said juga. Yaitu alat bengkel untuk alat berat, beliau juga salah satu pemilik sapi yang sapinya dijaga oleh said. Awalnya Tyas biasa saja namun menjadi tidak biasa saat mendengar percakapan Bandi dan kakek itu .


"Wah sih said sudah pasang listri sendiri dia ban, padahal belum lama berumah tangga." pertanyaan kakek itu secara tidak langsung juga memuji.


"Itulah kek, pasang listrik gak pake ngomong sama saya Abang kandungnya, gak sopan. Eh pasang sama si RT dia kek, jelas mahal itu. Bodoh sekali dia itu, coba dia tanya dulu, pasti aku arahin sama Kadus luar. Ini main pasang-pasang aja, kan sayang daripada uangnya dikasih orang kan mendingan buat aku" panjang lebar Bandi mengungkapkan kejelakan adiknya sendiri.


"Itulah kek kalau terlalu menuruti kata-kata perempuannya, otaknya gak dipakai" ucapnya kembali. Padahal orang yang dia ajak bicara tidak menanggapi apapun.


Seketika Tyas menangis dan menghampiri suaminya yang sedang menyatukan kabel sambil sesenggukan dan ngomel-ngomel pada suaminya.


"Kamu kenapa nangis?"  Ucap said yang melihat istrinya. Dia juga tidak enak melihat istrinya ditambah lagi lelaki yang dipanggil kakek sudah ada didepan pintu mereka.


"Wah? Kenapa kau buat nangis istri kau id" ucap lelaki itu dengan logat Palembang ya.


" Ini semua gara-gara mas gak mau ngomong dulu sama bang Bandi ataupun kak faedah, gara-gara mas gak tanya dulu ke kades luar. Jadi sekarang aku yang disalah-salahin. Kamu dianggap bodoh karena aku mas, aku dianggap mengatur hidupmu. Kenapa saranku gak pernah kamu ikuti mas. Lihat sekarang setelah ini apa yang bakal kamu lakuin. Ha!!" Bentak Tyas pada suaminya.


Mungkin sebagian orang lain menganggap biasa saja dan tidak memperdulikan omongan sampah seperti itu. Namun dengan keadaannya yang sedang hamil, itu sangat sensitive buatnya.


Lelaki yang disapa kakek itu langsung meredam emosi Tyas.


"Shttttt sudah jangan nangis lagi, kamu pasti dengar ucapan abangnya tadi kan, jangan hiraukan, kakek sudah tahu tabiatnya. Dia cuma bicara sama kakek aja, sudah jangan nangis" ucap lelaki itu sambil memberikan syarat dengan tangannya agar Tyas tidak lagi menangis.


"Kakek bisa ngomong begitu, ini hari dia baru ngomong sama kakek, besok-besok. Dan seterusnya apa orang lain tahu yang sebenarnya. Apalagi orang lain lebih mengenal dia ketimbang aku yang hanya orang baru disini." Sanggah Tyas kembali.


Lelaki itu hanya diam saja dan said mencoba menenangkan istrinya,dan membawanya kekamar.

__ADS_1


__ADS_2