
Sepulangnya Tyas dan Said dari rumah Bandi dan Faedah, mereka tidak banyak bicara. Tyas lebih memilih masuk kamar menemani anaknya yang sedang tertidur pulas. Sementara said memilih untuk melihat ponselnya yang sudah dipenuhi dengan beberapa panggilan.
"Ayah....," Panggil Tyas dari dalam kamar.
Said datang menghampiri istrinya lalu duduk ditepi ranjang, sambil melihat punggung istrinya yang sedang memberikan asi untuk anaknya.
"Kenapa Bun?" Jawab said, lalu membaringkan tubuh didekat istrinya.
Tyas masih diam belum menimbulkan suara, sembari berhati-hati melepaskan pagutan anaknya, agar tidak terjaga.
"Kita pindah saja dari sini, bagaimana menurut Ayah?" Kini Tyas sudah tidak lagi dapat memendam kejanggalan hatinya.
Hemmmm....,
Said menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara kasar.
"Ayah bingung Bun, kamu kan tahu ini tanah milik ibu, seandainya kita punya uang banyak. Ibu juga lebih meminta kita untuk memperbaiki rumah ini daripada harus membeli tanah dan mencari lagi untuk modal buat rumah?" Said dilema dengan permintaan istrinya, dan dia juga tidak ingin mengecewakan ibunya.
"Baiklah mas! Aku akan cari uang sendiri untuk membeli tanah dan rumah. Agar ibumu tidak dapat mengatur, uang istri bukan hak suami kan?" Tyas yang terlihat kecewa atas keputusan suaminya pun tidak lagi banyak meminta dan kembali berbaring mendekap putrinya.
Said mengacak rambutnya sendiri, bingung apa yang harus dia perbuat. Karena dia tahu kalau istrinya tengah marah dan memendam sakit jika sudah tidak memanggil dengan sebutan Ayah untuk dirinya.
"Besok ayah telepon ibu, untuk meminta izin atas permintaan bunda?" Said mengelus rambut istrinya dari belakang lalu mengecupnya.
Tyas yang mendengar itu, tidak banyak berharap. Namun apa yang diucapkan suaminya adalah salah satu bentuk usaha untuk menjaga perasaannya. Lalu ia kembali berbalik memeluk suaminya, dan menenggelamkan wajahnya didada bidang milik suaminya.
***
Pagi Sekali said sudah bangun mengganggu istrinya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.
"Bunda? Ayah pengen makan nasi goreng cabe rawit boleh gak?" Rengek said seperti anak kecil.
Tyas menggeleng....,
"Ayah kan tahu sendiri, keseringan makan nasi goreng nggak baik buat kesehatan Ayah? Emang mau malarianya kambuh?" Tyas menolak permintaan suaminya.
"Tapi kan bunda sendiri yang bilang sebenarnya, makan nasi goreng bukan pengaruh dari penyakit malaria?" Said tidak mau kalah dengan ucapan istrinya.
"Itulah yah, bunda juga bingung. Terkadang mitos bisa jadi fakta kalau keseringan disebut-sebut, jadi semacam doa gitu. Ibu kamu kan selalu bilang ke Aku nggak boleh buatin kamu nasi goreng, biar malarianya nggak kambuh. Itu tu sebenarnya gak baik?"
"Kok nggak baik? Alasannya apa? Ibu kan khawatir sama suamimu ini." Kembali said bertanya kepada istrinya.
"Soalnya Almarhum bapak dulu pernah ajarin bunda? Beliau bilang, jangan suka membicarakan mitos yang kesannya akan menjadi fakta, itu tidak baik. Pernah dengar gak sih, soal pepatah. Kalau ucapanmu adalah doa."
Said hanya mengangguk mendengar pertanyaan istrinya.
"Nah itu yah? Kalau dari ilmu kedokteran Malaria itu terjadi karena parasit, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Yang nantinya parasit itu akan mengendap di organ hati terus disalurkan ke sel darah. Jadi bukan karena nasi goreng." Kembali Tyas menjelaskan.
Hahahaha....,
__ADS_1
"Kok ketawa!" Kesal Tyas melihat suaminya.
"Kamu lucu, kaya ibu guru yang jelasin sama bayi besarnya. Sudahlah kalau begitu buatkan sekarang. Toh bunda juga gak percaya kan? Kalau begitu sekarang ayah gak percaya. Yang masakin ayah setiap hari kan bunda, bukan ibu lagi." Mohon said pada istrinya.
Tyas hanya manyun mendengarkan ucapan suaminya, niat menolak justru terjebak. Akhirnya Tyas memasak nasi goreng untuknya dan suami. Sayur bayam dan sambal ikan laut tidak lagi tersentuh pagi itu.
Khumay pun lahap makan, dengan racikan Tyas. Bahkan berat badannya mampu mengalahkan anak yang terlahir normal, kecerdasannya juga di atas rata-rata. Di usianya yang belum satu tahun khumay sudah mampu berbicara dan mengerti ucapan orang tuanya.
"Bun, tahu gak. Bagi Ayah kalian ini anugerah."
"Terimakasih ayah?" Jawab Tyas menanggapi ucapan suaminya.
"Tanya dong? Kenapa ayah bisa bilang gitu. Bunda nggak romantis." Rajuk said disela-sela makannya.
"Kok ayah bilang gitu?" Ralat istrinya kembali.
"Uda nggak seru ah," said mencoba menggoda istrinya. Niat hati berharap Tyas kembali penasaran, ternyata hanya ditanggapi dengan senyuman saja.
"Ya sudah. Bunda mau cuci baju aja" gerutu Tyas.
Tyas mencoba bangkit dari duduknya dan membereskan bekas makan suaminya dan dirinya. Lalu kembali mengambil kain lap yang dipakai untuk membersihkan wajah khumay anaknya.
Tiba-tiba....,
"Aw,apaan sih yah?" Said menarik tangan istrinya, dengan sekali hentakan Tyas sudah jatuh di pangkuan suaminya. Tapi sayangnya mereka Mala terjengkang kebelakang. Niat ingin seperti di film-film Drakor tapi Mala tersungkur.
Dengan posisi yang hanya duduk dilantai, tidak terlalu sakit jika terjengkang kebelakang. Hanya saja said harus menahan berat badan istrinya.
Setiap said pura-pura menangis khumay juga ikut menangis, namun saat Tyas yang mencoba pura-pura menangis, khumay justru tertawa dan memukul-mukul bundanya, seperti berharap agar bundanya menangis lebih kencang.
"Bun, sepertinya dek khumay lebih sayang ayah ketimbang bunda." Ledek said pada istrinya.
"Oke! Mulai sekarang dek khumay makannya harus Sama ayah, mandi sama ayah, jajan minta sama ayah. Nggak boleh panggil-panggil bunda. Bunda mau cari anak orang aja, oke." Tyas berkata dengan akting pura-pura didepan khumay.
Dan ternyata khumay menangis seperti tidak terima jika posisinya digantikan dengan anak yang lain. Mereka merasa semaangkin geram dengan sikap khumay, anak sekecil itu cepat sekali mengerti apa yang telah diucapkan.
Selesai bermain-main said berbicara pada istrinya untuk menelepon ibunya.
"Ayah itu kalau mau telepon ibu, ya tinggal telepon saja Yah? Aneh ni si ayah." Celetuk Tyas.
"Iya tapi ini kan mau bicara soal yang tadi Malam?" wajah Tyas langsung berubah cemas.
Ia takut ibu mertuanya tidak mengizinkan keinginan mereka. Tapi Tyas berharap semuanya akan lancar, mengingat ibu mertuanya yang selalu perduli dengan dirinya.
Tutttt..., Tutttt....,
Said sudah menyambungkan telepon ke nomor ibunya.
[Hallo, assalamualaikum id?] Terdengar suara wanita setengah baya di seberang telepon.
__ADS_1
[Waalaikum sallam ibu.] Jawab said dan Tyas bersamaan.
[Tumben sekali said telepon, biasa juga cuma Tyas yang telepon dan berikan kabar. Sampai-sampai ibu mikir, ni sebenarnya anak kandung ibu, kamu apa Tyas sih,] sindir ibu Wati kepada said putranya.
[Kan anak ibu lagi cari sebongkah berlian buk? Harus ngerti dong? Hehe] Said beralasan agar tidak menjadi sasaran buat ibunya.
[Eleh kamu itu! pasti juga berani ngomong kalau ada maunya,] goda bu Wati kembali.
Tyas yang mendengar penuturan ibu mertuanya tertawa mengejek suaminya.
[Hehehe....,] Said hanya tertawa mendengar ucapan ibunya, sambil tangannya menoyor lembut kepala istrinya.
[Oh ya gimana sapi kamu, berkembang baik kan?] Tanya Bu Wati disela-sela tawa said.
[Eh iya Alhamdulillah buk? Insyaallah tahun depan, satu ekor aku kurbanin. Buat Ibu sama buat ibu Tyas juga.] Said memberikan kabar baik pada ibunya.
[Alhamdulillah? Oh ya abangmu Bandi bagaimana kabarnya id? Suami istri sama aja tidak pernah memberikan kabar buat orang tua. Toh ibunya faedah bilang mereka sering komunikasi. Apa karena ibu ini mertua dia jad gak mau telepon ibu.] Bu Wati mengungkapkan kegundahan hatinya.
[Ihhh ibuk? Ya gak lah buk? Mungkin lagi sibuk, biarpun ibu itu ibu mertua, bagi aku berasa ibu kandung Lo buk? Ibu itu gak boleh ngomong gitu.] Sanggah Tyas yang kini sudah berbicara dengan mertuanya.
[Iya itu kan kamu Yas? Yang menganggap ibu seperti ibu kandungmu, istri abangmu Bandi sedari dulu tidak pernah menganggap begitu.] Bu Wati tidak bisa dirayu dan diberikan alasan apapun. Walaupun niat Tyas hanya ingin menutupi saja.
[Sibuk kali buk? Oh ya ibu Uda makan belum? Kak Nana masak apa? Aku itu kalau sudah disini bawakannya pengen makan sambal terasi punya kak Nana,] cerocos Tyas mengalihkan pertanyaan ibu mertuanya.
[Nah mulai..., Mengalihkan pembicaraan. Faedah sibuk apa sih. Ngerumpi??] Dengan panjang kalimat yang ibu Wati lontarkan kepada Tyas.
Tyas jadi bingung menjawab apa? Karena tabiat Tyas bukanlah orang yang suka mencari kesalahan dan keburukan orang lain.
[Sudahlah buk? Jangan bahas orang lain. Ehm sebenarnya aku juga ada yang pengen disampaikan ke ibuk. Tapi berharapnya sih ibuk setuju?] Kembali said melancarkan aksinya.
[Sudah ibu duga kalau kamu telepon ibu cuma pas ada maunya? Ya sudah kamu mau bicara apa.] Bu Wati bertanya pada putranya.
Lalu said menjelaskan semua keinginannya dan istri, tapi dia tidak membicarakan tentang hutang-hutang Bandi, sesuai dengan keinginan istrinya. Dia hanya menceritakan tentang faedah yang selalu mencari kesalahan dari Tyas.
[Hemmm] terdengar diseberang telepon Bu Wati menarik napas.
[Sebenarnya ibu beli tanah itu bersebelahan, agar kalian hidup akur dan saling tahu. Ibu ingin anak-anak ibu kumpul dan tidak pecah, walupun ibu tahu sifat faedah sedari dulu. Tapi ibu ingin yang bisa berpikir dewasa mencoba mengalah.]
Tyas yang mendengar terlihat wajahnya yang kecewa, namun ia tidak ingin berkata apa-apa.
[ Mengalah! Mengalah! Gak setiap hari juga buk harus mengalah, aku yang adik perempuannya bang Bandi saja tidak sanggup menghadapi kelakuannya, apalagi Tyas yang hanya sebatas ipar dengan ipar dengannya, kalau aku setuju kalau said dan Tyas pindah dari situ] terdengar Nana sudah memberikan saran kepada ibunya.
[Ya kalau berjauhan kan terlihat tidak akur dilihatnya Na?] Suara Bu Wati berdebat dengan putrinya.
Tapi entah apa yang dibicarakan kemudian, said dan Tyas tidak mendengar ucapan mereka.
[Ibu..., Ya sudah tidak usah dipikirkan, kami coba dulu untuk bertahan,] ucap Tyas memanggil ibu mertuanya.
[Ehmm tidak perlu. Ya sudahlah kalau itu menjadi keinginan kalian? Ibu ikut saja] ucapnya kembali.
__ADS_1
Said dan Tyas saling pandang mendengar keputusan ibu Wati.