IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
35. Curiga


__ADS_3

Pov: Tyas


"Kenapa sih Bun teriak-teriak...."


Langkah mas said cepat menghampiriku. Aku tidak lagi mampu berucap sepatah kata dihadapan suamiku. Aku hanya menatap nenar kebawah, lalu mas said pun mengikuti arah tatapanku.


"Ya Allah Bun, ini pasti kerjaan kak faedah." Terlihat wajah mas said sudah sangat memendam emosi. Jika dia saja sangat marah melihat pemandangan ini, apalagi aku yang berniat memberi.


Aku memandangi Dua bungkus plastik mie ayam yang sudah berserak dibawah. Tanpa sengaja buliran bening yang mengambang dikedua mataku melintas kepipiku tanpa permisi.


Aku merasa niat baikku tidak membuahkan hasil sama sekali. Aku merasa diriku buruk, yang tidak mampu memperbaiki hubungan saudara.


"Sudah, ayo masuk. Sebentar lagi waktu Maghrib, Allah menguji kesabaran kita." Bujuk mas said. Sepertinya sekarang ini hanya suamiku yang mengerti keadaan ini.


Aku hanya mengikuti langkah mas said kedalam dan membiarkan bungkusan itu berserak didepan pintu bagian belakang rumahku. Kulihat khumay yang sudah digendong mas said dan dibawa kekamar mandi.


Dengan telaten mas said memandikan putri kecilku, sembari bermain-main didalam bak berisi air dan bola-bola kecil berwarna-warni.


Selesainya mas said memandikan khumay, lalu dia menyuruhku untuk segera membersihkan tubuh. Aku mengangguk dan melangkah masuk kamar mandi.


Hatiku masih terasa nyeri mengingat apa yang sudah dilakukan kak Faedah. Aku masih belum mengerti mengapa sampai sejauh ini dia sangat membenciku. Padahal sebelum menikah dia termasuk orang yang berjasa dalam hubunganku dan mas said.


"Sudahlah bunda... Jangan lagi diingat, yang penting selama ini kita baik ke mereka. Kalau kejadian hari ini sudah sangat menyakiti hati bunda, sebaiknya jangan lagi kita buang-buang waktu untuk mengurusi hidup mereka." Suara mas said terdengar acuh.


Apa mungkin selama ini aku saja yang terlalu berlebihan memperdulikan mereka. Padahal aku merasa yang aku lakukan adalah hal wajar.


***


Saat menjelang malam aku terlelap, samar-samar terdengar suara mobil datang bertamu kerumah bang Bandi dan kak Faedah. Karena aku yang sudah terjaga, akhirnya aku kebelakang mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokan.


Namun saat kaki ingin beranjak naik kekasur, aku terkejut tidak mendapati suamiku di kamar. Apa karena aku yang baru terjaga tadi tidak memperhatikan sekitarku.


'kemana mas said sekarang' gumamku sendiri.

__ADS_1


Kuraih ponsel lalu ketekan panggilan untuknya, namun yang aku rasakan tidak berfikir negatif tentang hal perselingkuhan. Hanya saja aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan mas said dariku selama menikah. Karena sering mendapati suamiku yang tiba-tiba hilang dari kamar saat aku terjaga. Dan saat kepagi , ingin bertanya, dia selalu cepat pergi melihat ternaknya dan menyibukkan diri. Dan pulang disaat matahari sudah sampai ke puncaknya. Padahal saat pergi dia hanya meminum sedikit dari gelas yang aku suguhkan.


Kali ini kutunggu mas said pulang, namun dari jam Dua dini hari aku terjaga, sampai ke jam Empat dini hari belum ada tanda-tanda kehadiran dia di depan pintu rumah.


Saat Lima menit kemudian aku menunggu, terdengar dari kejauhan suara mesin motor KLXnya. Aku bergegas masuk kamar dan pura-pura untuk memejamkan mata.


Sekitar dari lima rumah sebelum rumah kami, suara motor seperti sengaja dimatikan. Lalu tiba-tiba terdengar decitan remnya berhenti di teras rumah. Terlalu aneh yang dilakukan mas said, jikapun ia main perempuan, aku tidak yakin. Karena nomor WhatsApp nya sudah aku sadap. Hanya pesan dari temannya yang kadang aku tidak mengerti apa artinya.


Dia selalu beralasan, itu hanya sesuatu yang membahas tentang sepeda motor. Jujur aku percaya, karena aku memang tidak mengerti hal tentang otomotif.


Dengan pelan mas said masuk kedalam rumah, tanpa menimbulkan suara. Sudah seperti pencuri yang ingin mengambil sesuatu dari korbannya.


Lalu kembali kudengar ia seperti mendorong motornya masuk kedalam rumah. Lalu kini derap langkah kakinya terdengar menuju ke kamar yang kami tempati.


Lalu dia membaringkan tubuhnya dengan sangat pelan disampingku. Karena posisiku yang menghadap ke khumay anakku, jadi aku tidak bisa melihat wajah mas said yang sedang berada dibelakang ku.


Kurasakan tangannya sudah melingkar keperutku, lalu nafasnya terasa di bagian leherku. Tubuhnya sangat panas bagaikan orang yang sedang demam tinggi.


Selama aku mendapati dia sering hilang tiba-tiba. Pasti dia akan melakukan hall yang sama setelah pulang, yaitu melakukan hubungan suami-istri. Namun baru kali ini aku menunggunya sampai kepagi.


"Ayah."


"Hm...." Jawabnya singkat.


"Ayah hilang tiba-tiba lagi?" Tanyaku tanpa basa-basi.


"Ya seperti biasa lah Bun... Nongkrong sebentar. Lagian tadi nggak lama kok, pulang sekitar jam Dua belas lewat dikit," jawabnya tanpa menatap wajahku. Dia hanya sibuk main game dari ponselnya.


Hatikupun semangkin sakit mendengar kebohongan suamiku sendiri, orang yang sangat aku percayai. Orang yang selama ini sangat mengerti. Namun dibalik itu semua dia menyimpan kebohongan besar.


"Oh ya? Tadi bunda terjaganya pas jam Dua gitu yah? Apa jam dirumah lagi rusak, atau kecepatan gitu ya?"


Mendengar ucapanku, mas said memalingkan wajahnya mengarah ke diriku yang sedang duduk di tepi ranjang, sembari memoles sedikit wajahku.

__ADS_1


"Biar ayah lihat? Bisa jadi sih Bun? Soalnya ayah selalu pulang jam segitu kok," ucapnya kembali, menambahi kebohongannya.


Dia pun bangkit dan menuju ruang tengah, dan berpura-pura melihat jam dinding yang sedang tergantung.


"Ooh... Ini kayaknya kecepatan Bun? Biar ayah benerin dulu ya?" Ketiga kalinya dia berbohong untuk hari ini.


Hatiku semangkin terasa sakit mendengar penuturannya.


"Ehmm padahal tadi bunda cek sama jam yang ada di ponsel, sama Lo? Biasa yang ada di ponsel selalu tepat. Kok aneh ya." Kini aku sengaja berkata yang membuat nada penekanan.


Terlihat wajahnya yang sudah mulai gelisah. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, dan membandingkan antara jam dinding, ponsel dan jam tangan.


"Astaghfirullah... Ternyata jam ayah yang kelambatan Bun? Berarti selama ini bunda pulangnya kelamaan, Karena kan selalu melihat jam yang ada ditangan.


"Jauh banget perbedaannya sih yah? Emang ayah nggak ngeh gitu kalau tiba-tiba azan diwaktu yang tidak tepat?" Selalu kujawab ucapannya dengan kalimat yang memojokkannya.


"Maaf ya? Ayah kurang teliti?" Mohonya dengan wajah mengiba. Namun aku masih belum percaya begitu saja.


"Ya sudahlah Yah, kan khilaf? Bunda juga tadi khilaf tiba-tiba bangun, kok mala nungguin ayah yang pulang jam Empat lewat Tiga puluh menit. Kalau begitu bunda mau kedaour dulu aja, siapin sarapan." Lalu kulangkahkan kaki menuju dapur. Namun belum sempat kakiku sampai, aku kembali menghampiri suamiku.


"Kayaknya hari ini bisa dong sarapan pagi? Biar dapat kata maaf! Bagaimana?"


Setelah mendengar kalimat itu, wajah mas said berubah seketika. Rautnya yang gelisah, menambah kecurigaanku.


Selesai bergelut di dapur, lalu ku persiapkan semuanya. Kupanggil mas said, ku ambilkan dia lebih dulu, ya seperti halnya setiap hari.


"Dimakan yah? Mumpung masih hangat." Kuletakkan piring berisi nasi, serta sayur SOP kesukaannya.


Tampak ragu saat dia menyuapkan nasi kedalam mulutnya, namun dia tetap melakukannya dihadapan ku, untuk menghapus rasa curiga ku.


Saat makanan sudah masuk, dia mencoba melunakkan isi yang ada di antara giginya. Namun saat ingin menelan, terlihat wajahnya merah seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.


Tanpa dapat lagi ditahan, mas said sudah memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pucat pasi, dia langsung menenggak botol berisi air minum, yang selalu berada didalam lemari es.

__ADS_1


Dia bergegas pergi kearah belakang, menghampiri hewan ternak seperti biasanya. Ku tatap punggungnya sudah menghilang dibalik pohon kelapa sawit yang mengelilingi hewan ternak miliknya.


'Apa ini yah? Apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku istrimu'


__ADS_2