IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
41. Penuh Rahasia


__ADS_3

POV: Tyas II


"Hei! Ada apa ini rame-rame."


Ha! Bagaimana bisa bang Bandi pura-pura tidak tahu. Rasanya ingin ku tampar wajah dan mulutnya.


Tapi aku harus tahan emosi, karena sikap dia yang seperti itu. Bisa saja Bik Inur dan pak lek Diman tidak percaya denganku.


"Loh! Bang Bandi pura-pura lupa."


Kak murni menatap sinis, begitupun dengan bang Nanang.


"Emangnya aku ngapain? Aneh!"


Bik Inur dan pak lek Diman saling tatap dan melihat bang Bandi bersamaan.


"Bukannya tadi bang Bandi disini, ya? Intipin Tyas!"


Bik Inur mencoba lebih dulu bertanya.


Bang Bandi menatapku, lalu kembali menatap orang yang ada di samping jendela kamarku.


"Tunggu! Aku keluar dulu." Kubawa khumay dalam gendongan, dan berkumpul bersama orang yang menjadi saksi, serta tersangka.


"Bik Inur ini menuduh aku, ya? Kok aneh! Aku baru datang sudah main tuduh saja."


Sungguh bang Bandi bukanlah orang yang baik yang selama ini aku kenal.


"Saya nggak lihat? Saya tadinya mau mastikan. Tapi tidak ada apapun." Bik Inur terlihat takut karena dia anggap menuduh.


"Iya, kami cuma memastikan saja." Pak lek Diman juga ikut bersuara sama seperti istrinya.


"Itu namanya menuduh Bik, Pak lek! Saya bisa laporkan atas pencemaran nama baik itu!"


Wow hebat sekali dia memungkiri kebenaran. Aku mencoba santai melihatnya, dan tidak merasa takut dan terancam.


Namun, yang aku pikirkan sekarang, bagaimana jika suatu saat dia melakukan hal nekat saat mas said tidak berada dirumah.


"Saya sama suami saya lihat Lo bang Bandi? Terus tadi kamu ngapain pergi setelah tahu kalau kami lihatin Abang!" Kak murni mulai tampak kembali emosi melihat tingkah bang Bandi.


Bang bandi menumpuhkan tangannya ke jendela kamarku, sambil tubuhnya bersandar. Dan salah satu kakinya juga ikut bergoyang-goyang, memperlihatkan sisi buruknya.


"Kapan?" Kini jawabannya begitu tenang dan lembut. Seolah tidak terjadi apa-apa.


Dia pikir dengan dia berbuat seperti itu. Aku bisa pasrah begitu saja. Dia berulang Kali melirikku dengan tatapan sinis.


"Aku ada...."


Ucapku tergantung kala melihat mas said datang menghampiri kami.


"Loh! Ada apa Bun? Kok rame begini?" Akhirnya mas said pulang lebih cepat dari waktu perkiraan. Tapi, Mas said bingung dengan adanya kami yang berkumpul. Siapapun yang melihatnya pasti orang lain juga akan curiga, dan ingin tahu.


"Ini Lo id, istrimu! Bisa-bisanya menuduh kalau Abang intipin dia. Abang memang ditinggal Faedah tapi nggak gitu banget lah menjatuhkan harga diri."


Mendengar ucapan bang bandi membuat dadaku sakit, mataku terasa panas.


Sementara wajah mas said memperlihatkan rahang tegasnya saling mengetat sampai terdengar giginya yang bergemelutuk.


"Jangan asal nuduh bang!"


Mas said emosi, dan tangannya terkepal.


"Siapa yang menuduh! Coba tanyakan mengapa keluarga ini dan ini bisa ada disini." Tuding bang Bandi pada pak lek Diman dan bang Nanang.


Mas said menatapku dengan raut wajah yang sulit aku artikan.


"Baiklah jika Abang bilang ini pencemaran nama baik. Saya akan bawa ini ke Rana hukum." Tegasku sambil menatap mas said tajam.


"Silahkan?"


Dengan entengnya dia berucap.


"Iya, apapun alasannya saya tetap akan bawa, karena saya punya buktinya." Ucapku tidak tahan lagi.


"Ha! Bukti. Bu-bukti apa?" Bang Bandi tergagap mendengar ucapanku.


"Tidak perlu kubongkar disini, bukti yang telah aku miliki. Biar pihak yang berwajib saja yang mengurus ini!" Aku berucap dan berlalu meninggalkan mereka.


Mas said mengejarku, kak murni dan Bik Inur juga sudah pulang meninggalkan tempat itu.


"Bun, kamu ada buktinya?" Tanya mas said saat sudah masuk kedalam rumah.


"Kalau seandainya tidak ada, apa ayah percaya bunda!" Ucapku lantang membalas ucapannya.


"Iya ayah tidak tahu Bun?"


"Dengan jawaban ayah, bunda yakin! Kalau ayah tidak sepenuhnya percaya dengan bunda." Ucapku ketus dengan cairan bening yang sudah turun membasahi pipi.


"Bukan tidak percaya, bunda? Siapa yang bakal menyangka kejadian tidak terduga. Coba lihat yang terjadi dengan keluarga bang Bandi. Kita sendiri tidak pernah menyangkanya, kan?" Ucapan mas said benar-benar menunjukkan ketidak percayaan dia terhadap aku istrinya.


"Harusnya kamu bisa menilai atas apa yang terjadi dengan keluarga mereka selama ini mas!" Kali ini emosiku memenuhi relung hatiku. Dimana suamiku sendiri tidak percaya dengan aku istrinya.


"Ya coba kamu jelaskan ke ayah semuanya dari awal. Biar ayah nggak salah paham. Jangan sampai kesalahpahaman buat kita menyesal bunda?"


Aku mencoba menenangkan diri, dan mengatur emosiku. Setelah semua terkendali, barulah aku jelaskan semua dari awal aku pergi mengantar sayur kerumah bang Bandi. Sampai dimana mas said pulang.


Kuceritakan tanpa tersisa dan terlewat. Ulah bang Bandi aku rasa sudah tidak dapat di toleransi lagi.


"Coba sini, ayah mau dengar rekaman bang Bandi bicara."


Mendengar ceritaku saja, mas said terlihat menahan amarah. Tapi aku tidak ingin menghalangi dia untuk mendengar. Karena itu suatu bukti kuat untuk membuat suamiku percaya sepenuhnya.


Saat pemutaran rekaman, mas said benar-benar terlihat marah, tangannya mengepal erat.


Dan tidak berapa lama dia beranjak untuk pergi kerumah bang Bandi.

__ADS_1


Aku tidak bisa melarang, karena jika kularang, justru akan menambah kesalahpahaman.


"Eh apa ini! Kok tiba-tiba masuk!"


Mas said menarik kerah baju yang digunakan bang Bandi.


"Apa-apaan kamu id! Jangan sampai aku teriak ya!" Bentaknya kepada mas said.


Mas said melepaskan kera baju bang Bandi dengan kasar. Sampai membuat bang Bandi terhuyung menyandar dinding.


"Abang jangan macam-macam sama istriku ya! Sekali Abang pegang kulitnya. Kalau nggak Abang yang ku kuliti!"


Bang Bandi menatap ke arahku lalu menatap mas said dengan wajah ketakutan, tapi masih berusaha bersikap tenang.


"A-apa-apan kamu ini! Kamu percaya sama istrimu ini. Jangan menambah masalahku lah. Pening kepalaku!"


"Abang masih mau berkilah, iya! Istriku nggak sebodoh yang Abang pikir. Rekaman Abang ini (memperlihatkan ponsel yang tengah digenggam Tyas) akan kubawa ke kantor polisi."


Bang Bandi menatap ponsel tersebut tanpa mengalihkan pandangannya.


Bang Bandi diam saja sambil meneguk salivanya. Dia tampak terancam oleh ucapan mas said.


Aku hanya menonton mereka bertengkar. Entah mengapa aku tidak memiliki niat untuk memisahkan.


Karena hatiku sudah terlanjur sakit, dengan apa yang diucapkan bang Bandi.


"Bisa saja itu milik selingkuhannya, kamu jangan percaya begitu aja sama istrimu!" Ucapan bang Bandi membuat dadaku semangkin sesak.


Bisa-bisanya dia memprovokasi suamiku.


"Abang pikir aku percaya sama Abang! Ayo Bun kita pulang! Kita bawa saja ini ketempat seharusnya" Mas said menarik tanganku. Dia benar-benar marah dengan abangnya.


"Tunggu! Kamu nggak bisa gitu id, emang kamu tahu dia selingkuh atau nggak! Toh kamu sering kan keluar tengah malam meninggalkan istrimu!"


Aku terperangah mendengar bang Bandi berbicara, bagaimana bisa dia tahu suamiku sering pergi tengah malam.


"Darimana Abang tahu!" Ucapku kepada bang Bandi tapi mataku menatap tajam ke mas said.


"Ya tahu lah, karena dia pergi ke...."


"Ayo Bun!" Mas said dengan cepat menarik tanganku untuk meninggalkan tempat kediamannya.


'ya Allah, ya Rabbi? Hal apa yang telah disembunyikan suamiku selama ini'


Aku terus berucap dalam hati, hingga aku harus dituntut untuk tidak mencari tahu lebih.


Rahasia mas said untuk sekarang ingin aku kesampingkan terlebih dahulu, ada saatnya aku akan mencari tahu, tanpa harus dia tahu.


Dan untuk bang Bandi selama ini aku dan mas said mencoba memahami dengan kondisinya yang ditinggalkan istri, namun perlakuannya membuat aku dan mas said untuk membatasi diri.


Bahkan aku masih bingung dengan hubungan rumah tangga mereka. Kak faedah yang awalnya berbicara tidak lagi ingin mempertahankan, karena sifat bang Bandi. Kini, justru dia yang berharap bang Bandi menjemputnya kembali.


Dan bang Bandi yang dulu terlihat frustasi, atas kepergian istri dan anak-anaknya. Kini, justru terlihat lebih bahagia, dan semangkin genit terhadap banyak wanita.


"Maafin, ayah ya Bun?"


Mas said berucap tanpa menatapku


"Ayah nggak salah?"


Entah mengapa, aku tidak berselera menjawab pertanyaannya.


"Mulai besok, jangan lagi antar makanan ke bang Bandi. Biar dia cari kerja sendiri untuk menghidupi biaya makannya."


Mas said berucap datar, namun sorot matanya masih dengan rasa kasihan.


Aku tidak banyak bertanya, hanya mengangguk untuk menimpali ucapannya.


***


Karena perintah dari mas said. Bang Bandi tidak lagi aku antar makanan.


Hidup bertetangga dengan ipar membuatku serba salah.


Ibu mertua juga hampir setiap hari bertanya tentang kabar bang Bandi, yang sulit untuk aku jelaskan.


"Bun, masih ada nasi nggak?"


Mas said tiba-tiba bertanya soal nasi, tidak seperti biasanya saja.


"Ada yah, Kenapa? Tumben banget tanyain nasi. Biasa juga belum bilang laper Uda bunda ambilin."


Ya... Aku tahu kebiasaan suamiku. Jadi wajar kalau aku bertanya dengan hal yang tidak biasa.


"Untuk bang Bandi." Ucapnya datar.


Aku yang mendengar langsung menghentikan kegiatanku menggosok pakaian.


Heran saja, kemarin bilang jangan. Sekarang mala niat memberikan.


Ya bukan tidak ikhlas, makananku dimakan olehnya. Tapi jika aku yang disuruh mengantarnya, lebih baik tidak usah sama sekali.


"Ada nasi. Kalau ayah mau berikan, silahkan bunda nggak larang. Tapi bunda nggak mau antar!"


"Biar ayah yang antar."


Ku ambilkan nasi beserta lauk pauknya. Lalu kuberikan kepada mas said.


Ya bagaimanapun bang Bandi tetaplah Abang kandung mas said, yang sedang terpuruk. Tapi sifat dan tingkahnya belum bisa aku maafkan.


Mas said pergi melangkah kerumah bang Bandi. Sementara aku juga pergi membawa khumay bermain kerumah kak murni.


Beberapa bulan yang lalu, sebelum kejadian kak faedah. Kak murni sering bertandang kerumah. Tapi sekarang, dia lebih membatasi pergaulan kalau aku perhatikan.


"Eh dek khumay... Sini main sini, sama Abang kembar."

__ADS_1


Kak murni menyapa saat kami memasuki teras rumahnya.


"Yas, sini!" Kak murni sedikit berbisik.


"Apaan kak?" Sedikit Kudekatkan telingaku ke wajahnya.


Kak murni membisikkan sesuatu yang sangat membuatku terkejut.


"Ha! Kakak nggak salah kasih info. Pastikan dulu kebenarannya? Kalau sampai dengar orang yang bersangkutan bisa marah orangnya kak!"


Aku masih belum yakin dengan kabar yang diberikan kak murni.


Secara orang yang dibicarakan juga orang yang tidak disangka-sangka.


"Ihh kamu ini! Aku sama mas Nanang langsung lihat kejadiannya! Tapi kami nggak berani bilang. Aku nggak mau ada kasus kayak yang udah-udah."


Yang di ucapkan kak murni benar, walaupun kebenaran itu kita ketahui. Tapi kalau tidak menyinggung kita, sebaiknya dihindari.


Apalagi kalau kasusnya seperti yang di ungkapkan kak murni.


"Kakak kenapa bilang sama aku, sih? Aku takut keceplosan!" Gerutuku padanya.


"Aku percaya kamu Yas?" Jawabnya sambil mengunyah cemilan anaknya sendiri.


Sedang asik bercengkrama menikmati obrolan. Sosok mas said kembali keluar dari rumah bang Bandi. Ternyata kak murni juga menyadari itu.


"Yas, said ngapain kerumah si bandot!"


Matanya menatap mas said tanpa berkedip.


"Mas said antar makanan ke abangnya kak. Belum makan katanya!" Kesalku sendiri mengingat kejadian yang pernah dia lakukan.


"Eh iya, waktu itu kamu bilang, kamu punya bukti pelecehan si bandot. Emang bukti apa sih?" Jiwa kepo kak murni mulai mengintimidasi aku.


"Waktu itu aku sempat rekam suaranya kak, inisiatif aja. Siapa tahu butuh kan?"


"Wah cocok itu Yas? Itu kartu AS kamu! Sekarang kartu AS kamu ada dua. Itu cukup buat pegangan kamu, kalau si bandot macam-macam. Dan kalau sampai kamu kenapa-kenapa aku siap jadi saksinya."


Aku menatapnya, dan ucapan kak faedah membuatku terharu. Karena dia yang orang lain saja sangat percaya denganku.


"Biasa aja kalau natap aku kamu? Bisa-bisa posisi si said bergeser dihati kamu! Gara-gara liatin aku."


Ledeknya.


"Ih amit-amit ya kak! Yang ada kakak noh sama kak faedah jeruk makan jeruk!" Ledekku kembali tidak mau mengalah.


"Lah! Apaan, jeruk makan jeruk!" Sewotnya sambil melempar kulit kacang ke arahku.


"Lah kan bener, orang pas baku hantam, kakak lucuti pakaian dia, pemaksaan amat ha-ha-ha."


Kembali kulontarkan kalimat ejekan.


Dia terus melempar kulit kacang ke arahku


"Enak aja! Noh yang nggak normal itu Mak Eko. Pakai acara begini ( sepuluh jarinya memperagakan gerakan meremas) sama begini (memberikan kode tangan yang dimasukan kedalam celana)."


"Ha-ha-ha ada-ada saja memang ya. Sudahlah, kalau gitu aku mau pulang dulu kak, nggak enak kalau mas said nunggu lama."


Ucapku pamit dari rumahnya.


"Aku juga mau tidur siang. Oh iya yas! Jangan lupa sama Rahasia tadi ya?"


Kak murni mencoba mengingatkan ku agar tidak lupa untuk menyimpan rahasia.


"Sipp...." Ku acungkan satu jempol tangan ke arahnya.


Aku pulang dengan membawa berita, yang rasanya sulit untuk di simpan. Aku takut suatu saat aku keceplosan dengan suamiku.


"Lama banget si Bun?" Tanya kembali mas said.


"Tadi ngobrol sebentar yah, habisnya lagi seru-serunya."


"Wah ghibah ini pasti!" Ucap said.


"Astaghfirullah halazim... Iya lupa. Kalau itu dosa kan ya?"


"Nah keburu di catat lah Bun?" Ucap mas said.


"Iss ayah... Lagian ni ya yah, aku bawa berita penting Lo yah?" Ucapku kembali.


"Apa lagi...." Mas Said mengacak rambutnya. Terlihat tidak ingin punya banyak masalah.


Kubisikkan ke telinganya yang tadi telah disampaikan oleh kak murni.


Setelah berbisik, aku baru ingat kalau ini harus di rahasiakan.


'duh kan, sulit sekali rasanya menyimpan rahasia dengan suami' ucapku membathin.


"Serius kamu Bun? Ini sih sudah keterlaluan lah Bun. Dia harus di sidang itu." Geram mas said.


"Jangan dulu yah! Biarkan ini menjadi rahasia dulu untuk kita."


Mas said menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan.


'Rahasia! Apa aku bisa amanah' gumam mas said yang masih dapat di dengar dari orang sekitanya.


"Ingat RAHASIA!" Ucapku tegas.


***


Ketika bibir berdusta, yakinlah hatimu akan gelisah.


Saat dustamu tidak lagi mampu menuruti inginmu, maka dari saat itu kamu tidak akan lagi mendapatkan kebaikan.


Rahasia apa si bestie yang lagi di jadikan rahasia itu... Yuk kepoin di bab selanjutnya ya.

__ADS_1


__ADS_2