IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
47.


__ADS_3

Sore hari aku membersihkan diri, di kamar hotel.


Bersama Khumaira putriku, aku memutuskan untuk berjuang sendiri.


Kuletakkan Khumairah di lantai bawah beralaskan karpet lembut yang ada di kamar yang aku tempati.


Kuraih ponsel yang ada di atas kasur, lalu kulihat saldo tabungan melalui aplikasi m-banking.


'Lumayan, kalau buat usaha, coba telepon Lika dulu deh, siapa tahu ada kontrakan yang akan disewakan dengan harga murah.'


Aku bergumam sendiri, kemungkinan Khumairah yang belum mengerti juga mendengarnya.


Tuttt... Tutt... Tutt....


[Hallo assalamualaikum....]


[Waalaikum sallam Lika? Maaf ganggu ya tadi?]


[Nggak apa? Maaf juga, tadi aku lagi kerja. Oh ya tumben telepon kamu masuk berkali-kali, ada apa?] Lika bertanya tentang keanehan yang aku perlihatkan.


[Sedikit, aku butuh bantuan. Kamu bisa bantuin aku nggak?] Ucapku tak enak hati.


[Apaan sih kamu! Kamu kan tahu, kalau aku bisa, pasti aku bantu.] Ucapnya tegas.


[Tapi aku mau, kita bicarakan ini, secara langsung, bisa?]


Tidak ada jawaban dari Lika, setelah ku ucapkan demikian.


[Lika.]


[Ah iya, Tyas. Emang kamu dimana? Bukannya kamu di Riau, ya?] Mungkin dia sedang bingung tentang keberadaanku.


[Aku sudah dua Minggu berada di rumah almarhumah mertua aku. Kini aku sedang berada di hotel xxx tidak jauh dari rumahmu.]


[Innalilahi wa innailaihi Raji'un. Maaf  Yas, baiklah kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, aku jemput kamu ya? Tapi gimana dengan suamimu?]


[Aku sedang tidak bersama suamiku, cepatlah datang, nanti aku jelaskan.]


[Ya sudah tunggu aku.]


Telepon dimatikan, dan aku membaringkan tubuhku dekat Khumairah yang sedang bermain.


Memikirkan bagaimana Allah menyusun skenario tentang takdirku.


Tiga puluh menit aku menunggu, Lika sudah mengetuk pintu kamarku.


"Hai, kamu kenapa? Jangan bilang kamu kabur dari rumah suamimu!" Ucapnya setelah masuk kedalam kamarku.


Aku menganggukkan kepalaku dengan tangan melipat di depan dada.


"Tyas... Tyas. Kamu dari dulu tidak pernah berubah. Selalu pergi setiap kali ada masalah. Tolong, keras kepalamu itu kau seleksi lagi aja. Masalah tidak akan selesai, kalau kamu menghindarinya."

__ADS_1


Aku hanya diam saja, mendengarkan ocehannya. Sungguh dia sahabat yang selalu ada setiap kali aku sedang terbelit masalah.


"Ayo kita makan saja di luar. Sekalian ntar aku tanyain deh sama temen soal rumah kontrakan."


Setelah berbicara dia menghampiri khumairah, lalu menggendongnya dan bermain-main menggodanya.


Kami duduk di cafe tempat favorit kami sewaktu zaman SMA. Hanya sajaa tempatnya lebih banyak di perbaharui.


Sepanjang makan malam itu, kami mengesampingkan masalahku terlebih dahulu, dan menikmati moment yang belum tentu bisa dilakukan sesering mungkin. Karena sudah memiliki keluarga masing-masing, dan tempat tinggal yang berjauhan.


Dari jarak beberapa meja tempat kami makan, kulihat seorang pria yang mencuri pandang ke arah meja kami. Tapi Aku tidak terlalu memperdulikannya. Karena setiap kali aku melihatnya, dia kembali fokus berbicara kepada temannya, dan memalingkan wajahnya.


Senda gurau, serta tawa dan canda kami lakukan. Tingkah konyol Khumairah juga banyak memicu pelanggan cafe ingin mencubit, serta menggendong khumairah.


Sampai saatnya khumairah bertingkah seperti sedang menyapa seseorang dengan melambaikan tangannya.


"Hayo... Nda, oom itu oom." Dengan terus tangannya melambai ke arah meja pelanggan lain. Lebih tepatnya ke meja seorang pria yang seperti memperhatikan kami.


Spontan aku dan Lika langsung menatap ke arah pandangan khumairah. Lagi -lagi pria itu memalingkan wajahnya. Terus kupandangi lekat-lekat punggungnya yang membelakangi kami. Lama kuperhatikan, dia tidak kunjung memalingkan wajahnya. Sepertinya temannya juga memberitahunya.


Lekat-lekat kupandangi wajah temannya, seketika aku langsung memalingka wajahku menatap Lika.


"Lika! Bukannya orang yang ada dimeja yang kita lihat tadi, salah satunya si Roy temennya Alfi."


Lika yang mendengar ucapanku langsung menatap wajah pria itu. Lalu kembali menatapku.


"Iya! Kamu benar."


"Atau jangan-jangan...." Ucap kami bersamaan.


Kami baru menyadari kalau khumairah tidak ada di sisi, kupalingkan wajahku ke arah meja Roy. Dan ternyata Khumairah sudah berada di pangkuan seorang pria yang membelakangi kami.


Kuhampiri meja itu, berniat mengambil putriku.


"Khumairah... Sini say__" ucapanku terhenti, kala melihat pria yang sedang memangku putriku.


"Hai...." Ucap pria itu menatapku. Ku alihkan tatapanku ke putri kecilku yang berada di pangkuannya.


"Sini sayang." Ku gendong khumarah.


"Apa kabar." Ucap pria itu kembali,. Masih dengan tatapannya.


"Ya... Alhamdulillah baik, seperti kamu lihat." Ucapku dengan kalimat datar.


"Dia menggemaskan? Cantik sekali." Pria itu memuji putriku. Tapi entah mengapa rasanya aku yang malu dihadapannya. Karena dia berucap dengan sorot matanya tajam menatapku.


Aku hanya tersenyum, menanggapi ucapannya.


"Maaf ya? Aku balik dulu."


"Yas. Boleh tidak gabung sama kalian." Roy mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Emm... Tapi aku akan kembali cepat." Ucapku menghindari Roy.


"Baiklah? Titip salam dengan suamimu ya."


Aku terpaku mendengar ucapan Alfi.


'titip salam, buat apa aku menyampaikan salam dari mantan yang selama ini di cemburui mas said. Tapi tunggu! Apa jangan-jangan mereka sudah saling kenal. Tapi sejak kapan?' aku berucap dalam hati.


Aku melangkah pergi menghindari Alfi.


"Yas, jangan lupa sampaikan pesanku sama suamimu. Aku tunggu nanti malam di tempat biasa."


Deg....


Jantungku rasanya mendenyut, bagaimana bisa mereka saling kenal.


Kuputar langkahku, kembali ke arah Alfi.


"Apa maksudnya! Kau mengenalnya!"


Alfi tertawa miring lalu menyilangkan satu kaki di atas kaki yang lain untuk menjadi tumpuannya.


"Siapa yang tidak kenal Said! Bahkan daerah tempat tinggal orang tuamu. Dia yang menguasai. Aku rasa di perantauan, dia juga orang yang banyak dikenal orang."


Ucapan Alfi sungguh membuatku seperti diberi sebuah kejutan. Hanya saja kejutan itu seperti sebuah beban berat yang menimpahi tubuhku.


"Tidak usah bertele-tele. Katakan! Apa maksud ucapanmu." Ucapku datar menatap matanya, begitu juga dia yang menatapku sangat dalam.


"Aku bisa menjawabnya. Asal kau jelaskan, mengapa dulu kau tinggalkan aku begitu saja tanpa ada kata perpisahan! Bahkan karena dirimu, aku merusak diriku sendiri! Kau pergi, lalu pulang dengan status menjadi tunangan orang. Lalu pergi lagi, dan gagal dengan pernikahanmu. Namun kau pulang ternyata sudah dipinang kembali dengan lelaki yang sekarang menjadi suamimu. Bahkan kau tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman. Lima tahun hubungan kita. Adilkah kau menghindar dari sebuah kesalahpahaman." Sungguh tenang ucapan Alfi. Namun aku harus pergi sekarang, pengunjung cafe yang lain sudah berbisik melihat tingkah kami berdua.


Aku keluar dari cafe tersebut, tanpa menjawab apapun ucapan Alfi.


Sepanjang perjalanan aku hanya diam, tidak berbicara sama sekali. Begitu juga dengan Lika. Harusnya aku bertemu Lika ingin menceritakan kisah rumah tanggaku, karena dia salah satu penasihat terbaikku. Tapi mala harus bertemu dengan Alfi yang sudah lama hilang dari pikiranku.


Tapi karena dia, aku jadi kembali memikirkan, bagaimana bisa mas said kenal dengan Alfi.


"Kamu nggak mau aku temeni?" Ucap Lika setelah sampai di sebuah hotel.


"Tidak. Terimakasih ya kamu mau meluangkan waktumu. Oh ya jangan lupa besok kabari ya tentang kontrakan yang kamu bilang itu."


Dia hanya mengangguk, memeluk, lalu mengelus lembut punggungku.


Setelah ia pamit, aku masuk ke kamar yang aku tempati. Saat mataku mulai terpejam, seseorang mengetuk pintu kamarku sangat keras.


Ku buka pintu dan kulihat seseorang berdiri di depan pintu kamar dengan membelakangi aku.


Dia berbalik.


"Jika kamu ingin tahu keberadaan suamimu, datanglah ke alamat ini. Dia sedang menungguku."


****

__ADS_1


Jangan lupa mampir di cerita ~Perjalanan Takdir~ dan tinggalkan komentar. Termasuk cerita ini juga ya?


Jangan lupa Add Fb Authornya ya. Dedek Tyka.


__ADS_2