
"Kamu!"
Kupandangi wajah seseorang yang selama ini aku sanjung. Kini mataku memburam melihatnya dalam dekapan pria berbadan tegap dan besar.
Entah kesalahan apa yang membuatnya harus diperlakukan seperti itu.
"Bun! Bunda! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan!" Ucapnya kala aku terus menatap wajahnya dengan wajah datar dengan sorot mata yang tajam.
"Bun. Maafkan, ayah?" Suaranya lemah dan wajahnya penuh dengan iba.
Aku memalingkan wajah, lalu naik ke atas jok belakang motor milik Lika.
"Ayo, pergi." Ucapku datar.
Lika cepat memahami, dan membawaku dan Khumairah pulang bersama.
Sepanjang jalan, aku terus memikirkan nasib mas said yang dibawa ke kantor polisi. Rasanya aku tidak sanggup untuk mengetahui kebenarannya.
Bulir bening terus memintah untuk singgah di pipiku. Khumairah yang tadinya nyenyak dalam gendongan, tiba-tiba menangis kencang.
"Lika, antar aku ke hotel aja, agar lebih dekat. Mungkin Khumairah tidak nyaman harus tidur seperti sekarang!"
"Yas! Kamu yakin? Uda kerumah aku aja, biar kamu ada teman dan ada yang bantu jaga Lika juga." Lika berbicara dengan suara yang sedikit keras.
"Jangan khawatir! Aku baik-baik saja." Jawabku.
Lika tidak lagi banyak bertanya, dia turun bersamaku, membantu aku sampai berada di kamar.
Kubaringkan tubuh Khumairah di atas kasur dengan sangat hati-hati.
"Yakin, tidak mau ditemani. Harusnya kamu sama aku dulu untuk saat ini." Dia menggenggam tanganku.
"Sudahlah! Aku bukan wanita lemah. Pulanglah, nanti anakmu mencari kamu?"
Dia mengangguk dan pamit pulang.
Kututup pintu dan menguncinya. Aku membekap mulutku, terisak dengan suara tangisku. Sampai rasanya Tenggorokanku kering tak dapat merasakan kelegaan.
Napas yang tersengal-sengal serta napas yang tidak teratur. Semakin menyesakkan dadaku.
"Kenapa kau hancurkan rasa percayaku , mas? Kenapa! Kenapa kau mengecewakan aku dengan sesuatu yang merusak. Selama ini aku berpikir, bahwa kau penasihat dalam rumah tangga kita. Nyatanya kau hanya menutupi siapa dirimu yang sebenarnya!" Aku berbicara sendiri dengan kaki yang kulipat di dada dengan mendekapnya penuh dengan rasa kecewa.
"Mengapa, kau tidak mencoba memperbaiki diri, saat aku sudah mulai mencurigai kamu!"
__ADS_1
"Ya Tuhan? Mengapa kau begitu cepat, Menegur suamiku, sebelum dia menyadarinya. Setidaknya berikan ia kesempatan untuk merubah dirinya terlebih dahulu?"
Aku berjalan ke arah kasur, menciumi wajah anakku dengan sangat bringas dan meluruhkan air mataku disetiap inci bagian wajahnya.
Khumairah tampak tidak nyaman dengan tidurnya. Melihat itu, aku kembali mendudukkan diri dilantai dan bersandar di bagian badan kasur.
Aku membuka penutup kepalaku, lalu meremasnya sekuat mungkin. Memukul-mukulkan telapak tangan dengan sangat kuat. Berharap bayangan mas said dapat hilang dari ingatanku.
Jika saja Khumairah tidak tertidur dan tidak bersamaku. Mungkin aku sudah meraung tidak menerima ini semua. Tapi nyatanya Allah menakdirkan Khumairah sebagai obat pelipur laraku. Karena dia aku bisa mengendalikan diriku.
Mengingat hal itu. Aku menghapus air mataku secara kasar. Lalu bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
Aku berwudhu lalu membentangkan kain bersih di atas lantai. Mengeluarkan mukena untuk mengadukan semua nasib yang menimpaku saat ini.
Sedikit malu jika harus mengadu tentang keburukan yang sudah terjadi, namun pada siapa lagi aku mengadu jika tidak kepada-NYA.
Ku lafadzkan niat sholatku, dengan sedikit bergetar. Lalu ku angkat kedua tanganku setinggi bahu untuk melakukan Takbiratul ihram.
Dengan mencoba khusyuk dalam sholatku, berharap Allah akan mengabulkan permohonan ku.
Walaupun air mataku terus jatuh setiap kali aku mengucapkan ayat-ayatnya.
Selesainya, aku menengadahkan tangan dengan wajah yang menunduk saat ini. Karena rasanya aku malu pada-NYA karena terlalu banyak meminta sesuatu. Sedangkan aku sendiri masih merasa sakit saat dia memberikan ujian-NYA.
Aku menelangkupkan kedua telapak tangan untuk menutupi wajahku. Kembali menangis dan sulit untuk mengatakan.
Sampai aku sendiri tidak menyadari jika diriku sudah berbaring di atas kain yang aku jadikan sebagai sajadahku. Aku tertidur pulas, dan sangat amat pulas. Sampai rasanya aku terbangun dan dibawa oleh seseorang secara paksa untuk menemui suamiku yang berada di jeruji besi.
"Maafkan aku, yang tidak bisa menjaga nama baik keluarga. Maafkan aku yang membuat malu kamu dan anak kita. Berkali-kali kau mencoba mengingatkan tentang apa yang kulakukan dimalam hari, namun diriku mengabaikan semuanya. Tolong maafkan aku?" Suara tangis mas said terdengar jelas sambil mengucapkan semua kata-katanya.
"Aku rela jika kau tidak ingin lagi bersama dengan orang sepengecut aku. Aku rela jika kau pergi karena tidak ingin hidup bersama orang seberengsek aku. Asalkan mendapatkan maaf darimu. Tapi aku tidak yakin bisa melihatmu dengan orang lain bersamamu"
Mendengar itu air mataku kembali terjatuh. Aku menahan sesak didada melihat dia yang bersungguh-sungguh menyadari kesalahannya.
Tampak dia memegang erat terali besi.
"Aku rela mati dan pergi dari dunia ini jika semua itu terjadi. Asalkan sebelum itu kau memberikan maafmu untukku."
Deg....
Ucapan itu membuatku bersimpuh dihadapannya mencoba memegang erat tangannya yang sedang mencengkeram terali besi itu.
"Tidak mas! Anak kita sedang membutuhkan kamu! Apa yang harus aku perbuat untuk membebaskan kamu dan juga merubahmu lebih baik lagi. Apa mas! Katakan! Akupun akan melakukannya untukmu." Isakku.
__ADS_1
Dia menundukkan kepalanya bersandar dengan besi yang ia pegang, tepat dahinya menyentuh dahiku.
"Jika saja Alfi, tidak terus menjebakku. Aku harap dia akan bertemu dengan ajalnya yang menyakitkan jika pihak polisi tidak mampu menemukannya."
"Alfi...." Ku ulangi kata itu.
Tapi mas said tidak menjawab ucapanku.
"Katakan mas, apa maksudmu Alfi." Aku mengguncangkan tubuhnya, berharap dia mau mengatakannya sekali lagi.
"Maaass!!" Teriakku dengan suara yang lantang.
Bersamaan aku sudah terduduk, berada tepat di atas kain. Peluh di sekujur tubuh membasahi baju yang aku kenakan.
"Mimpi... Kenapa sangat nyata sekali?" Gumamku.
Aku membuka mukenah dan membersihkan diri. Tidak lama kumandang adzan terdengar syahdu di telingaku.
Sebelum aku mengerjakan sholat subuh, terlebih dahulu aku bangunkan Khumairah. Matanya sedikit terbuka dan tersenyum ke arahku. Kubilas bagian-bagian tubuh yang biasa dipakai untuk berwudhu, serta memberikannya doa baik. Setelah selesai, aku mendudukkan dia disamping aku yang tengah berdiri. Tak lupa ku kenakan hijab di kepalanya. Alhamdulillah dia tidak menolak, namun tetap saja dia masih sering melemparkan hijabnya jika tidak waktu sholat.
Dia mengikuti gerakan ku, dan sesekali dia terus memanggilku, menarik mukena dari arah belakang. Masuk ke dalam mukena saat sedang ingin melakukan ruku'. Bahkan dia lebih sering naik ke atas punggungku saat sedang melakukan sujud.
Tapi aku merasa itu bukan suatu kesalahan, dimasa umurnya yang sekarang. Aku lebih merasa dia ingin tahu apa yang tengah aku kerjakan.
***
Siang hari aku berniat untuk membesuk mas said.
Kurapikan semua barang, karena aku juga berniat untuk meninggalkan kota kelahiran hari ini juga. Saat aku ingin menutup pintu dari arah luar. Mataku menangkap secarik kertas yang masih tertinggal.
Dan aku ingat betul siapa yang datang kemarin malam ke kamarku. Dan sudah pengirim surat yang diletakkannya dari bawah pintu. Pasti itu juga miliknya.
Kembali aku masuk, mengambil kertas itu. Kubuka perlahan, dan benar saja. Tanganku menjadi gemetar, saat membaca tulisan itu.
"Datanglah ke jalan xxxx di cafe xxx. Maka kau akan menemui suamimu dan apa yang sedang dikerjakannya.
Orang yang masih menaruh rasa. Alfi....
***
Nah kan? Pembaca suka banget si php'in author. Komen dong?
Ingat Lo komen kalian bisa buat author semangat 45
__ADS_1