IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
24. Tamu Lama


__ADS_3

"Assalamualaikum...."  Suara yang terdengar familiar dibalik pintu utama.


"Waalaikum sallam..." Said menjawab salam sembari kakinya melangkah ke arah sumber suara.


Said membuka pintu tanpa mengeluarkan suara kembali, dia hanya memandang ke arah tamu yang ada di depan pintu rumahnya. Tyas yang berada di belakang merasa janggal, lalu bergegas menghampiri suaminya yang sedang menyambut tamu.


"Siapa si yah..? Kok gak disuruh masuk.." Tyas melangkah lebih dekat dengan suaminya.


Saat Tyas sudah berada disamping suaminya, kini dia yang merasa sangat terkejut atas kedatangan tamu tersebut. Dia bingung apakah harus menyuruhnya masuk atau membiarkannya di luar.


Said menarik nafas berat lalu sepasang netranya melirik kepada istrinya.


"Masuk dulu mas. (Sambut said pada tamu tersebut) bunda buatin kopi yah.." perintah said pada istrinya.


Tamu tersebut masuk mengikuti langkah kaki said dan duduk di karpet lantai yang biasa keluarga itu gunakan untuk menyambut tamu. Karena mereka belum lama menikah, jadi isi rumah belum sepenuhnya terisi sesuai dengan keinginan.


"Terimakasih mas sudah mau mampir di gubuk kami yang sederhana ini? Tapi apakah saya boleh tahu maksud apa kunjungan mas datang kerumah saya?" Said membuka obrolan karena sebelumnya mereka hanya terdiam dan saling pandang.


"Maaf jika kunjungan saya mengganggu ketenangan rumah ini. Setelah sampai di sini saya bingung harus menceritakannya dari mana dulu." Ucap pria itu dengan sopan dan menunduk.


Dari belakang tampak Tyas sudah membawa kopi dan cemilan untuk di suguhkan. Dia berjalan tanpa menatap kedua pria yang ada di hadapannya, lalu dia meletakkan suguhannya di atas meja kecil dan pendek, yang lebih mirip dengan meja lesehan.


"Sebenarnya tujuan saya datang kemari untuk bertemu tyas. Ada suatu hal penting yang ingin saya katakan,  tetapi sesampainya disini, saya urung untuk menyampaikannya." Pria itu berucap dengan nada rendah namun terdengar tegas.


Said membaca mimik wajah istrinya, dengan satu tarikan nafas said mulai memandang kepada tamunya. Sementara Tyas sudah ingin kembali kebelakang.


"Sebenarnya saya punya hak untuk marah karena kamu lancang, dengan terang-terangan ingin bertemu istri saya. Tapi mengingat perjalanan kamu yang cukup jauh, saya merasa ada hal penting yang harus disampaikan. Saya ijinkan, asal saya juga ikut mendengarkan." Said mencoba menyikapi lebih bijak.


Pria itu tampak berpikir lama, lalu setelahnya mengangguk pelan. Sementara Tyas sendiri sudah berada dibelakang, namun dia masih dapat mendengar ucapan mereka yang ada diruang tamu.


"Bun..?" Said memanggil istrinya dan tidak butuh waktu lama Tyas sudah datang menghampiri. "Duduk dulu Bun, tamu kita ingin membicarakan sesuatu" ucap said kembali, setelah melihat istrinya sudah berada tepat disampingnya.


Tyas mengangguk dan duduk disamping suaminya dan menggenggam tangan suaminya dengan erat. Membuat pria yang berkunjung, melirik sebentar lalu membuang pandangannya ke bawah.


"Maaf Saya tidak tahu jika.." ucapannya terputus kala ada seseorang yang datang memanggil dari arah belakang.


"Yas, id.!! Tyas! Said! Ya Allah lama sekali buka pintunya" ucap faedah yang melihat Tyas membuka pintu belakang.

__ADS_1


"Ada apa kak! Kok teriak-teriak." Tyas bingung dengan sikap faedah.


Faedah terlihat cemas dan tangannya saling bertaut, juga gemetar.


"Itu Yas?? Said mana. Ini penting!! Aku bingung ngomongnya gimana..." Terus saja faedah meremas jari-jarinya sendiri.


Said yang mendengar keributan dari belakang langsung lari menghampiri.


"Kenapa kak dah? Apa ada sesuatu yang terjadi." Said juga terlihat panik setelah melihat iparnya yang sudah sangat cemas  itu.


"Hiks.. hiks.. hiks.., bagaimana aku jelasin semuanya..." Faedah sudah larut dalam tangisannya.


Tyas langsung beranjak ke meja kecil yang di atasnya ada teko yang berisi air putih. Menuangkannya kedalam gelas lalu menghampiri faedah dan memberikannya.


"Kak dah minum dulu, tenang dulu.?" Tyas memberikan air ke faedah.


Di ruangan lain tamu Tyas dan said masih menunggu sang empunya rumah. Memandangi bingkai foto yang tergantung rapi di dinding kayu bercat putih.


(Anakmu terlihat lucu sekali Yas? Tujuanku seperti sia-sia, namun kakiku masih nekat saja mencari tahu kebenarannya).


Selang beberapa menit akhirnya sang pemilik mendatangi tamunya. Mereka sudah menyelesaikan urusan mereka dengan faedah.


Tyas merasa jantungnya berdebar, namun debaran kali ini tentang kekhawatiran rumah tangganya. Sesekali dia melirik ke sorot mata suaminya yang tajam.  Dan terus mengeratkan genggaman pada jemari suaminya said.


"Maaf saya tidak tahu jika Tyas sudah menikah dan memiliki buah hati. Tadinya niat saya datang di kediaman kak Yani ingin melamar Tyas, siapa sangka sesampainya disana saya dijelaskan soal kabar Tyas yang sekarang."  Pria itu kini menatap mata Tyas. Namun Tyas menatap tajam dengan sorot kekecewaan.


"Kamu terlambat mas?" Lirih Tyas di hadapan suami dan mantan tunangannya.


"Apa karena kau sudah menikah, sehingga jawaban yang kau berikan terlambat" kini said yang menjawab pertanyaan istrinya.


Dia merasa istrinya masih mencintai mantan kekasihnya yang sempat bertunangan dengannya.


"Bukan hanya itu, tapi aku sudah menemukan orang yang lebih tepat untukku." Tyas menjawab pertanyaan suaminya agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Kau sudah memutuskan jarak diantara kita mas Aryo? Bukankah kau yang memilih mundur dari hubungan kita. Tadinya aku masih terus brharap kau menghubungi aku, untuk menjelaskan mengapa kau meninggalkanku. Namun kau sama sekali hilang tanpa kabar sama sekali. Saat aku terpuruk di kegagalan berumahtangga. Aku bertemu dengan mas said. Selama ini dia yang mengurus semuanya." Panjang lebar tyas juga menjelaskan semuanya.


Pria yang bernama Aryo tersebut diam seribu kata terbungkam dengan ucapan Tyas.

__ADS_1


"Kam sudah satu tahun lebih menikah, sejauh ini kau masih belum mengetahuinya." Ungkap said bertanya.


Pria itu menggeleng pelan, lalu matanya berkaca-kaca tersirat sebuah penyesalan.


"Aku pergi merantau ke Kalimantan, aku memutuskan pergi untuk mencari uang agar dapat menikahi mu. Aku mengira kau bakal menungguku, tapi wajar aku yang salah" sesal pria itu.


Tyas tidak habis pikir, bagaimana bisa Aryo berpikir demikian, setelah apa yang telah dia lakukan, dia berpikir yang sama sekali tidak masuk akal.


"Kau yang sudah memutuskan semuanya mas, kau lebih memilih pergi dan mundur dari hubungan kita, mengapa kau masih mengharapkan sesuatu yang sudah jelas kau usir dia dari kehidupanmu. Sudahlah mas!! Itu sudah masa lalu kita. Aku sudah maafkan kesalahanmu dan semoga kau juga memafkan kesalahanku. Lagi pula untuk menikah denganku, aku tidak pernah menuntut hal besar dari seorang pria." Panjang lebar tyas menjelaskan rasa sakit yang tertahan dihatinya.


Saidpun merasa lega dengan sikap Tyas yang lebih bijak menanggapi sesuatu. Sebagai suami bisa saja dia mengusir pria yang pernah menjadi bagian masa lalu istrinya. Namun dia ingin istrinya membuang sedikit beban masa lalunya..


"Saya rasa jawaban istri saya sudah cukup jelas. Mungkin jika anda bicara pada Tyas untuk menunggu, saat ini bisa jadi kami belum menikah." Said berucap dengan datar, dan mengingatkan kesalahan Aryo pada waktu itu


"hmm (Aryo berdecih) mungkin jika saya tidak melakukan kesalahan itu, anda juga tidak mungkin bisa mengenalnya." Ungkap Aryo dengan berusaha tertawa ramah. "Maafkan kelancangan saya, saya hanya ingin memastikan kebenarannya saja." Jawab Aryo kembali dengan wajah penyesalan.


Mereka semua saling memaafkan dan Aryo pamit untuk meninggalkan kediaman mereka. Setelah kejadian hari itu, Tyas langsung memeluk suaminya, sambil terus mengatakan kata maaf.


"Maafin bunda? Tapi demi Allah bunda tidak lagi menaruh hati pada mas Aryo. Yah?" Mohon Tyas yang ada di dekapan suaminya.


"Sudah? Ayah mengerti? Ayah hanya ingin bunda menyelesaikannya secara langsung" said bicara bijak dengan istrinya.


Tyas hanya diam dan wajahnya terus ia sembunyikan didada bidang milik suaminya. Suaminya juga memberikan pelukan erat, sembari terus mengkecup pucuk kepala istrinya yang terbalut hijab.


"Mas gak mau dia mati penasaran yank.." tiba-tiba said berucap kata-kata yang membuat Tyas langsung mendongak melihat wajah suaminya.


"Maksud ayah, mas Aryo mau meninggal!" Tyas memastikan ucapan suaminya.


"Ya umur kan gak ada yang tahu? Kalau dia meninggal, terus dia merasa masalahnya dengan kamu belum selesai. Wah bisa-bisa Sungguh mati aku jadi penasaran..." Said menggoda istrinya dengan lantunan lagu di akhir kalimatnya.


Tyas terkekeh melihat tingkah suaminya, dan mencubit lengan suaminya.


Itulah rumah tangga mereka, setiap kali ada masalah selalu teratasi, dan dapat kembali bersenda gurau, said mampu mengobati sayatan-sayatan yang menggores dihati Tyas.


"Yas... Id...  Cepat buka pintunya huuu huuu.." tiba-tiba teriakan faedah kembali mengganggu moment mereka berdua.


Said dan Tyas kembali beradu pandang dan teringat akan masalah yang dihadapi iparnya. Tyas berlari kecil, membuka pintu lalu menyuruh iparnya masuk dan duduk.

__ADS_1


"Huuu... Huuuu..  bagaimana ini said.." tangis faedah


__ADS_2