IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
43. Datangnya Bandi


__ADS_3

"wah rumahmu besar ya sekarang Yas!" Faedah memutari semua isi ruangan.


"Alhamdulillah kak? Dititipin rezeki."


"Sayang kita nggak bakal bisa dekat lagi Yas, kakak kesini ikut ibu, untuk selesaikan masalah aku dan mas Bandi. Tadinya? Aku mau minta harga Gono gini, tapi nyatanya sudah habis semua dan tersisa barang-barang yang dititipin dirumah lama kamu." Wajah faedah ditekuk, memperlihatkan wajah sedihnya.


Tangannya memainkan ujung baju bawahnya, seperti melampiaskan rasa sakit yang telah terukir dalam segumpal darah. Hati.


Tyas memeluk erat tubuh sang mantan kakak ipar, dengan ketulusan hatinya, faedah langsung memecahkan suara tangis yang telah ditahannya.


"Semua ini salahku Yas?"


"Ssssttt... Semua orang punya salah kak? Tapi tidak semua orang dapat mengakuinya. Jika kakak berat meninggalkannya, untuk apa kakak mengambil putusan untuk pisah."


"Terkadang memang ada yang harus dilepaskan, walau rasanya berat, Yas? Karena pada dasarnya sebuah luka hanya akan bisa sembuh namun tidak akan menghilangkan bekasnya."


Faedah menghapus air mata yang terus berderai melintas tanpa permisi.


"Bekas luka tidak akan bisa hilang kak, namun dengan kakak menganggap semua itu sebuah kenangan, maka itu memang hanya kenangan, yang tidak akan terjadi kembali." Balas Tyas, dan menggenggam tangan faedah yang terasa dingin.


"Apakah luka yang belum kering, dan bekasnya belum terlihat, kini sudah ditambahkan sayatan yang lebih dalam lagi itu mampu untuk dikenang Yas? Lukaku terlalu dalam, Yas? Kini dia membuatnya lebih dalam lagi. Aku memang salah, tapi selama ini aku mencoba untuk memperbaiki diri."


Mendengar ucapan faedah, Tyas mencoba mengurungkan niatnya untuk menceritakan sikap Bandi kepada faedah dan Sibu mertuanya.


Tapi jika tidak dibicarakan sekarang, maka saat terkuak dengan sendirinya, itu justru akan menjadi luka baru untuk orang yang telah mengobati luka lamanya. Dilema....


"Bun! Ibu ingin berbicara sesuatu sama kamu dan kak faedah. Membahas Yanng pernah terjadi dengan bunda. Ayah sudah membuka sedikit, agar bunda tidak terlalu kaku saat berbicara nantinya."


Tyas terharu dengan ucapan suaminya. Selama ini dia berpikir kalau suaminya tidak mendukung rencananya.


Faedah menatap iris hitam pekat milik Tyas, mencoba masuk, menelusuri kejadian-kejadian yang belum ia ketahui.


Tyas duduk bersebelahan dengan faedah menghadap ke arah ibu Wati.


"Ibu merasa menanam sebuah pohon Citrus, yang semua rasanya sama. Namun ibu masih berharap yang mengambilnya dapat memanfaatkannya dengan baik. Ibu tidak pernah berpikir kalau Citrus dapat menjadi pahit jika kulit dan bijinya di ikut sertakan, sehingga harus dibuang dan dilupakan. Menurut kalian apa yang harus ibu perbuat untuk tumbuhan Citrus ibu agar menjadi manis."


Faedah dan Tyas saling tatap dan bingung ingin menjawab apa, mereka takut menyakiti hati mertuanya.


"Tidak semua Citrus tidak disukai orang ibu? Sudahlah."


Tyas mencoba menenangkan ibu mertuanya, begitu juga faedah yang sudah ikut memeluk keduanya.


'aku tidak dapat menguatkanmu ibu, aku sendiri rapuh karena ulah anakmu. Ketidak pedulian menjadi beban pikiranku, kekerasan menjadi sakit penyakit jiwa ragaku, pengkhianatan ditorehkan menjadi luka paling dalam dihatiku, aku tidak dapat membela diriku sendiri. Karena akupun salah dalam hal ini' faedah berbicara dengan hatinya sendiri, dengan Isak tangis yang semangkin terasa kuat, dada semangkin sulit bernapas yang rasanya sampai kerelung hati.


"Ibu... Kak dah? Aku ingin memberitahukan tentang suatu hal, yang mungkin membuat kalian terkejut. Tapi jika tidak aku beritahukan sekarang, aku takut ini menjadi beban pikiranku dan akan timbul kesalahpahaman dikemudian hari."


Faedah terdiam dan menggeser duduknya lebih dekat dengan iparnya.

__ADS_1


Sementara ibu Wati menggenggam tangan Tyas dengan erat, memberikan semangat.


"Bang Bandi... Hampir melecehkan saya."


Akhirnya Tyas menceritakan kejadian yang pernah dia alami dan sulit untuk dilupakan.


Faedah kembali terisak, kini lukanya benar-benar sulit untuk di satukan. Bagaikan hati yang hancur berkeping- keping, tak lagi merasa sakit saat diberi cuka sebanyak apapun. Rasanya sudah tidak dapat menikmati sakit, bahagia, dan marah. Lebih tepatnya mati rasa.


"Maaf, kak? Aku tidak pernah berniat menenggelamkan bang Bandi dalam bayangannya terhadapku."


"Kau tidak menenggelamkannya Yas, tapi memang dia yang sengaja mencari, dan menjatuhkan diri dalam bayangannya sendiri! Sakitku sudah tidak dapat di obati, mungkin lusa aku pulang sendiri, disini aku hanya akan merepotkan dan tidak menemukan apa yang aku cari."


Mereka larut dalam kesedihan, saling memberikan dukungan satu sama lain.


Faedah mulai berubah lewat kejadian-kejadian yang menimpa dirinya.


***


Malam hari mereka makan bersama di kediaman said dan Tyas yang terbilang sudah cukup mewah dikawasan perkampungan.


"Samlikum!!" Suara seseorang mengucap salam dengan asal-asalan dan mengetuk rumah dengan suara rentetan.


"Jangan di jawab! Buka saja pintunya. Untuk apa kita membalas kalimat yang kita tidak tahu artinya." Tegas suara said membiarkan sumber suara terus bergeming, mengucapkan kata-kata tidak jelas.


Kreeetttt....


"Astaghfirullah haladzim!!" Tyas berlari kebelakang, karena melihat seorang lelaki tersenyum sumringah dengan wajah yang penuh ditumbuhi bulu disekitar rahang sampai kebawah. Menggandeng seorang wanita berumur dengan pakaian super mininya.


"Kenapa Bun!"


Cepat said berdiri, menghampiri istrinya.


Faedah dan Bu Wati juga menghentikan acara makannya.


"I-i-tu yah... Itu!" Suara Tyas tercekat, sulit untuk berbicara.


Said berlari menuju pintu utama, baru sampai di ruang tengah, said terkejut melihat abangnya sudah duduk di ruang tamu bersama wanita yang umurnya bisa dikatakan sudah tua.


"Bang Bandi...." Lirihnya.


Suara said terdengar ditelinga ibu dan istri abangnya.


Wati bergegas menggeser tubuh said yang menghalangi pandangannya.


"Ya Allah Bandi...." Bu Wati menatap penuh dengan amarah.


"Eh ibu disini, baguslah aku datang sekalian mau memperkenalkan calon istriku!"

__ADS_1


Faedah menyusuli ibu mertuanya dan berdiri tepat disampingnya.


"Aku masih berstatus istrimu, dan kau sudah bawa wanita lain dihadapan ibumu mas!" Ucap faedah kecewa.


"Loh! Bukannya kamu kesini emang tujuannya ingin minta cerai dari aku. Ya sudah kalau begitu, mulai sekarang... Aku talak tiga kamu!"


"Ya Allah... Ngucap kamu Bandi, jangan ambil langkah tanpa kau pikirkan!" Bujuk Bu Wati pada putra sulungnya.


"Sudah terlambat Bu... Bahkan wanita disampingku jauh lebih baik dari dia!" Tunjuk Bandi diwajah faedah.


"Oh ya calon istriku sudah tebus rumahku yang sempat dijual oleh said. Ck_ bisa-bisanya ibu menyelamatkan satu orang anak demi menelantarkan anak yang lainnya."


Sambungnya kembali sambil menyilang kan kaki dan tangannya memeluk pundak wanita berumur itu dengan erat.


Wanita itu tidak banyak bicara, hanya tangannya memainkan dada Bandi dan bergelayut mesra. Membuat mata yang memandang risih dan muak.


"Bagaimana bisa ibu membiarkan anak yang mati-matian mempertahankan demi anak yang sengaja menghabiskan!" Lantang suara Bu Wati, sampai menggema diruangan besar itu.


"Ah bodoh amat lah Bu! Calon istriku ini juga bisa saja membeli rumah kamu ini kalau dia mau! Tapi sayangnya dia lebih memilih untuk membangun yang lebih besar dari ini!" Dengan sombongnya Bandi berucap tanpa berpikir siapa yang memberikan rezeki pada umatnya.


"Sayangnya lagi, kami juga tidak berniat untuk menjualnya bang Bandi! Uang kami masih cukup untuk membiayai hidup, dan tidak perlu menjual apapun." Sindiran halus Tyas membuat wajah band memerah, rahangnya mengeras dengan gigi-gigi yang mengetat, sampai memperdengarkan suara peraduannya.


Bandi berdiri tepat didepan Tyas dan said.


"Ck_calon istriku juga bisa membelimu jika aku menginginkannya?" Suara Bandi dekat ditelinga Tyas.


Bugh....


Satu pukulan said tepat di wajah Abangnya, sudut bibir Bandi mengeluarkan darah.


Bandi menyeka darah itu lalu menjilatinya. Melirik tajam ke arah said yang ada didepannya. Tangannya mengepal erat merasa ingin membalasnya.


Bugh... Bugh... Bugh....


Pukulan bertubi-tubi ia layangkan ke arah perut, dan wajah adiknya.


Said limbung lalu tubuhnya di tangkap Tyas, dengan kesusahan Tyas menahan berat tubuh suaminya. Ia mendudukkan said dan menyandarkan di dinding rumahnya.


Bandi berjalan cepat menghampiri said untuk kembali menyerangnya.


"Bugh...."


"Ibu!!" Teriak semua yang ada diruangan.


***


Wanita memang sering lelah. Lelah untuk mengalah. Mengalah untuk orang lain, siapa__. Suami, wanita selalu mengalah banyak untuk suaminya. Namun sakit yang begitu dalam dapat melupakan pengorbanan yang telah ia berikan. Dan berpikir untuk meninggalkan.

__ADS_1


__ADS_2