IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
50. Menekan atau ditekan


__ADS_3

"mas?"


"Bunda? Maafin ayah?" Dia menggenggam jemariku tapi tetap rasa kecewa dan sakit sulit untuk berdamai saat ini.


Dia meletakkan kepala di lengan yang berada di meja, bahunya bergetar serta suara isakan yang terdengar.


"Ayah? Apa yang harus bunda lakukan. Agar ayah bisa keluar dari sini. Anak kita masih butuh kamu." Ucapku lirih.


"Maafkan ayah?"


"Ayah tidak pernah jujur, ayah tidak pernah memberikan kesempatan bunda untuk mengetahui rahasia ayah?" Aku pun menangis sesenggukan, menjatuhkan kepalaku di dada bidangnya.


Tangannya yang terborgol mencoba menghapus air mataku yang terus mengalir.


"Pergilah jika bunda tidak sanggup melihat keterpurukan ayah, ayah ikhlas melepaskan bunda?" Ucapan itu bukan hanya membuat sesak. Tapi rasanya detaknya pun sudah tidak lagi berpungsi.


"Apa yang ayah katakan. Bunda tahu ayah salah. Katakan pada mereka siapa orang dibalik ini semua. Jangan mau untuk terhukum sendiri ayah? Bunda akan tetap berusaha, sekalipun itu akan menghabiskan semua harta kita."


"Tidak Bun, jangan! Ayah tidak mempunyai banyak harta. Biarkan itu untuk keperluan kamu dan anak kita. Biarlah ayah seperti ini dan keluar tetap melihat kalian bahagia."


Dia memalingkan wajah ke arah lain, itu pasti menyakiti hatinya saat sedang berbicara demikian.


"Ayah, bunda akan jual semua perkebunan dan rumah. Setidaknya untuk meringankan hukuman ayah." Aku berlalu meninggalkan dia.


Walaupun jam besuk masih tersisa beberapa menit. Tapi rasanya dadaku semakin sesak melihat ia yang tersiksa.


Pihak keluarga yang tahu kabar ini, meminta aku untuk menceraikan mas said. Karena bagi mereka, sulit menerima seorang pecandu narkoba. Apalagi mas said juga orang yang menjalankan sebagai pengedar.


Tapi sulit untuk aku berpisah dengannya, entah apa yang membuatku bodoh tidak bisa melihat keburukan mas said yang sudah jelas terlihat Dimata orang lain.


"Seharusnya kau perlihatkan keburukan itu di depan mata ini mas? Agar aku lebih muda untuk berpisah denganmu. Kau egois mas? Kau egois!" Ucapku sembari memegang dada yang semakin sesak menyeruak.


Aku berjalan tergesa untuk segera melihat khumairah yang aku titipkan di rumah Lika bersama pembantunya.


"Mbak? Tapi ibuk telepon, katanya mbak Tyas suruh datang ke cafe yang kemarin malam pukul 13:00 siang ini. Ada yang ingin dia bicarakan."


Aku hanya mengangguk dan mengambil khumairah.


"Terimakasih ya mbak, sudah jagain khumairah. Maaf merepotkan, ini ada sedikit__" tanganku yang terulur untuk memberikan uang jajan kepada mbak titi di tolak secara halus olehnya.


"Maaf mbak? Saya tidak bisa terima. Khumairah juga tidak rewel. Saya juga cuma sebentar ngajakin dia main. Maaf mbak saya kebelakang dulu?" Mbak titi meninggalkan aku. Akupun bergegas untuk segera pergi ke tempat yang sudah di janjikan oleh Lika.


Sesampainya disana ternyata Lika sudah menunggu bersama seorang pria berbadan tegap.


"Yas, kenalin. Ini bapak Dion yang juga menangani kasus suamimu."


Degh....

__ADS_1


'apa maksud Lika membawa seorang anggota kepolisian menemui aku.'


Aku mencoba menenangkan diriku pelan. Aku mengangguk dan tersenyum.


"Maaf ya tadi aku sampaikan dari mbak titi. Oh ya ada yang ingin disampaikan pak Dion tentang kasus ini."


Aku lagi-lagi hanya mengangguk dan tak tahu harus berbicara apa.


"Begini buk? Kami dari pihak kepolisian sudah paham kalau sebenarnya suami ibu juga termasuk umpan dari seseorang yang kami curigai."


"Alfi?" Ucapku lirih.


"Ibu Tyas mengenal seseorang yang bernama Alfi?" Tanya pria berbadan tegap itu.


Aku hanya mengangguk.


"Baiklah, bisa ibu berikan keterangan darimana ibu mengenal Alfi." Selidiknya.


"Hanya teman masa lalu." Ucapku singkat.


"Mengapa ibu bisa menyebutkan Alfi, saat saya membicarakan seseorang yang sedang kami curigai?" Tanyanya kembali.


"Dia sempat menemuiku di tempat aku menginap, sebelumnya tidak sengaja kami bertemu. Saya pun tidak tahu pak, dari mana dia tahu tempat saya dan putri saya menginap. Lalu dia memasukkan ini dari bawah pintu, dan saya baru menemukannya saat ingin membesuk suamiku." Sangat jelas ku ungkapkan semua tanpa ada yang aku tutup-tutupi.


"Apa ibu tahu suami anda menggunakan barang itu?"


"Saya dengar kalian pulang ke kampung halaman karena suatu musibah. Selama di perantauan apa ibu tidak pernah mencurigainya."


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan membuat dadaku semakin sesak.


Kutarik napas panjang lalu ku kuluarkan secara perlahan.


"Pak, jika sudah tahu suami saya salah, bukan semakin mengorek kesalahannya yang saat ini saya ingin dengar. Melainkan bagaimana cara menyelamatkan suami saya." Ketus kujawab ucapan pria tegap itu.


"Lalu jika hukuman sudah dijatuhkan bagaimana? Tanpa tahu seluk beluknya, sulit sekali untuk menyelamatkannya." Tanyanya.


Sungguh konyol ucapan pria itu, mencoba untuk membodohi aku.


Jika sudah jelas suamiku dinyatakan sebagai pengedar, buat apa mereka mencari tahu lebih dalam lagi.


"Bukankah keputusan di ambil saat semua bukti sudah jelas mengarah kepada suami saya?" Ucapku kembali.


"Bapak mencari bukti yang akurat, atau memang belum mendapatkan bukti kuat tentang suami saya." Sambungku kembali.


"Jaga ucapan anda! Saya bisa saja laporkan anda atas tuduhan ini." Wajahnya tampak memendam kesal.


"Tuduhan atas apa? Bukankah sebelumnya memang bapak yang ingin bertemu dengan saya? Kita sedang bertemu tatap, jadi bukan asal tuduh. Melainkan bertanya pada anda."

__ADS_1


Jangan karena saat ini saya terpuruk, dia bisa menjatuhkan saya.


Sejenak tidak ada lagi percakapan di antara kami bertiga.


Drrtt... Drrtt...


[Tyas, bagus kamu ya? Pergi dari rumah keluarga suamimu. Dan sekarang kabarnya said masuk sel tahanan. Jika kamu sudah tahu kelakuan suamimu. Setidaknya bimbing dia agar menjadi lebih baik lagi. Bukan melaporkan dia.]


Kubaca pesan dari aplikasi hijau dari kak Nana.


Apa maksud dia, aku masih belum paham. Kucoba untuk memikirkan ini nanti.


"Jika ibu bisa bayar sebagian denda. Maka hukuman suami ibu akan kami kurangi." Suara pria berbadan tegap itu membuyarkan lamunanku.


Tak ku hiraukan ucapannya, aku hanya sedikit kesal dengan apa yang ia katakan. Karena pada kenyataannya hukum tidak berjalan dengan sesuai keadilan. Uang bisa meringankannya, disini posisi yang harus aku ambil menekan atau ditekan.


Tapi saat ini aku memang menginginkan suamiku bebas untuk sementara. Karena aku tahu dari sorot matanya terukir sebuah penyesalan.


Saat kejadian ini aku baru menyadari. Bahwa tidak semua manusia itu bisa bertindak benar. Misalnya keadaanku yang sekarang, mungkin jika ada orang lain yang mengalami hal seperti mas said, pasti aku juga akan mengumpatnya sebagai perusak keturunan bangsa.


Dan saat keluarga mencoba untuk meringankan hukuman dengan menjual berbagai harta benda, orang lain hanya ikut mengumpat bahwa itu suatu tindakan yang tidak layak untuk di toleransi. 'biarkan saja ia menjalani hukuman sesuai dengan kesalahan.' umpatan seperti itu selalu terdengar dikalangan masyarakat.


Tapi itulah yang sekarang tengah aku rasakan. Mengharap seorang suami bisa kembali berada di jalan yang benar. Mengorbankan segala kekayaan asalkan bisa meringankan hukuman dan berkumpul bersama.


Bahkan pihak yang seharusnya menghukum seseorang yang bertindak salah, justru memanfaatkan keadaan untuk mencari suatu puing-puing rezeki. Tak penting itu halal ataupun haram. Yang mereka ketahui itu adalah sebuah hasil dari kerja keras mereka.


'ya Allah, aku harus berbuat apa? Aku harus bagaimana?' lirih ku dekap khumairah dengan erat dan menciuminya bertubi-tubi.


Rasa sesak semakin menyeruak keseluruh bagian sendi. Ingin menjatuhkan diri, tapi masih ada sosok mungil yang harus aku pikirkan. Semangatku hanya ada pada dirinya, bukan lagi suami.


Tapi suamiku sosok yang baik selama aku mengenalnya, walaupun tindakan buruknya itu, ia tidak pernah berbuat sesuatu yang menyakiti hati ini.


'tidakkah kejam jika aku menikmati hidup tanpa menolongnya sama sekali.' lirih kembali ku ucapkan.


Drrtt... Drrtt...


[Kamu dimana! Ibumu bilang kamu tidak ada disana.]


Membaca pesan dari kak Nana, semakin membuat jantungku sesak.


Bagaimana jika dia mengatakan semuanya, aku tidak yakin akan kesehatannya jika tahu tentang ini. Sudah cukup kabar buruk yang tengah di alami kak Mira dan mantan suaminya.


Argh....


Mengingat kak Mira aku jadi mengingat apa yang terjadi denganku hari ini. Jujur aku dan kak Mira saling menyayangi satu sama lain. Dan aku selalu memberikannya semangat, tapi mengapa Tuhan menghukum dengan kejadian yang sama, seperti apa yang pernah dia alami.


Apa karena umpatanku terhadap mantan suaminya membuat anak kandungnya merasa sakit hati. Tapi anaknya sendiri pun merasa kecewa akan sikap ayahnya.

__ADS_1


Apakah ini yang dinamakan 'mengumpat yang jelas salah tetap tidak baik. Karena kita sendiri tidak pernah tahu tentang kebenarannya.'


__ADS_2