
"Ayah, bunda mau cari sayuran sebentar ya? Untuk besok. Oh ya titip khumay ya ya sebentar?" Pamit Tyas kepada suaminya dan sekalian meminta ijin menitipkan anaknya sebentar.
Tyas berlalu meninggalkan said, dengan menggunakan motor milik suaminya.
"Kalau aja mas said mau tukar motor ini sama motor bebek aja, kan bisa bawa khumay jalan-jalan sendiri, jadi gak ngandalin mas said terus!" Sambil bercerita Tyas memukul motor jenis trail milik suaminya.
Sesampainya Tyas di warung tempat menjual berbagai sayuran dan bahan sembako milik tari. Dia disambut dengan beberapa mata tajam yang terus memandangnya.
"Eh Yas cari apa?" Tari mencoba berbasa-basi, namun wajahnya masih memperlihatkan ketidak sukaan.
"Eh anu..."
"Eh tari ini punyaku Uda selesai. Berapa semuanya.." Yuni memotong perkataan Tyas yang ingin menjawab ucapan tari.
Di warung tersebut bukan hanya ada tari dan Yuni saja, ada Mak Eko, murni dan juga masih ada beberapa orang pembeli. Murni bersikap biasa saja kepada Tyas, bahkan sedari awal murni selalu bersikap hangat dan selalu menawarkan bantuan.
"Aduh pusing aku ini." Yuni kembali bersuara dengan keras, sehingga membuat sebagian orang di warung tersebut penasaran.
"Pusing kenapa sih kak Yuni? Duit banyak? Apalagi coba yang dipusingkan" tari menimpali perkataan Yuni. Tyas hanya melirik dan kembali mencari apa yang menjadi tujuannya.
"Adik aku sampai sekarang belum punya anak. Kasian aku lihatnya? Padahal dari gadis selalu menjaga diri, kehormatan dan berkarir, tapi Allah belum kasih. Kadang aku bingung lihat sebagian orang yang belum nikah Mala sudah dititipkan momongan." Yuni berucap sambil sesekali matanya melirik kearah tyas. Namun Tyas bersikap biasa saja.
"Itu namanya belum rezeki kak Yun..!!" Sanggah murni.
Sejenak mereka terdiam..
"Tapi anak zaman sekarang ngeri tahu aku lihatnya, banyak hamil diluar nikah, eh giliran anak sudah keluar gak mau nikah lagi. Kadang Mala beralasan anaknya kurang umur, jadi prematur, padahal alasan itu untuk membohongi banyak orang" kini mak Eko yang sudah membumbuhi perkataan Yuni yang sebelumnya.
Mendengar perkataan Mak Eko Tyas melirik sebentar, namun masih terus memilih-milih belanjaanya. Sementara murni melengos pergi menghindari ghibahan itu.
"Yas Uda siap belum? Ntar kakak numpang ya?. Tadi kakak diantar mas Nanang belanjanya?" Murni sengaja mendekati Tyas untuk menghindari ucapan-ucapan Yuni dan Mak Eko.
__ADS_1
"Iya kak? Tapi gak gratis ya..." Tyas membalas ucapan murni sambil nyengir memperlihatkan giginya yang tersusun rapi dan bersih.
Sementara ibu-ibu yang ada di warung melirik tak suka, terutama Yuni, Mak Eko dan tari.
"Eh iya Lo mak Eko, tetanggaku di kampung juga begitu, mana dia pintar ngaji, berhijab, guru lagi. Ya biarpun cuma guru les, tapi kelakuannya gak sebanding" Yuni sudah membalas ucapan Mak Eko yang sebelumnya sempat di abaikan.
"Itulah kak Yuni? Jangan langsung menganggap baik seseorang, harus dikenali lebih dulu. Karena gak semua orang sifatnya sama seperti wajahnya. Aku miris melihat orang yang hamil di luar nikah tapi gak mau menikah kembali. Tahu gak itu bisa buat kampung kita dapat imbasnya.!"
Mak Eko lebih lihai menceritakan sebuah cerita bohong yang dilontarkannya.
Tyas yang mendengar tersenyum miring sembari mengumpulkan belanjaanya dimeja kecil. Dia juga mulai sadar dengan ucapan Yuni dan Mak Eko, tapi dia mencoba menahan emosi karena tidak mau terpancing dengan hal yang tidak benar yang dituduhkannya. Tyas bisa merasa tersindir karena sebelumnya murni sudah lebih dulu menceritakan kejadian dimana faedah menyebarkan gosip murahan itu.
"Kak tari berapa punyaku?" Tyas beralih ke tari yang sudah memulai menghitung belanjaanya tanpa menjawab pertanyaan Tyas.
Sembari tari menghitung, Tyas menarik nafas lalu melirik ke arah Mak Eko dan Yuni.
"Eh Mak Eko tadi sempat bilangĀ jangan cepat percaya dan cepat menganggap orang baik ya kan. Bener kalau aku bilang itu Mak Eko? Karena orang yang biasa kita anggap baik ternyata tidak, justru yang terlihat jelek mala dialah orang baik sebenarnya. Aku aja dulu lihat Mak Eko, aku pikir orangnya polos ternyata suka ghibah juga ya hahah" Tyas sengaja tertawa mencomooh. Tyas melihat wajah Mak Eko tegang dan merah, dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
"Ih aku gak nuduh kamu kok Yas, kok kamu merasa tertuduh!" Ucap Yuni menimpali ucapan Tyas.
"Ihhh ya gak lah kak Yuni?, siapa yang merasa tertuduh? Aku cuma mengucap syukur untung aku dijauhkan dari hal seperti itu. Emang kak Yuni merasa menuduhku! Kok ngomongnya gitu?" Kini Tyas sudah menguasai percakapan mereka.
"Emm .enggaklah ada-ada aja kamu!! Ya sudah tar berapa belanjaanku tadi.!" Ucap Yuni gelagapan.
"Hehehe kak Yuni ini, (Tyas tertawa mengejek) lagian kak Yuni, perempuan berhijab itu sudah diwajibkan, jadi salah kalau kak Yuni menyalahkan hijabnya atas kesalahan yang tetangga kak Yuni perbuat." Tyas terus tertawa geli, sengaja diperlihatkan agar mereka tahu pentingnya ilmu. Bukan hanya sekedar berbicara saja.
Mereka terdiam sambil melihat Tyas yang sedang tertawa dengan sedikit ditahan. Yuni dan Mak Eko sangat kesal dan malu sama ibu-ibu yang sudah memperhatikan perdebatan mereka. Yuni buru-buru pulang setelah membayar belanjaannya, bahkan dia sampai melupakan uang kembaliannya.
"Nih Yas 64 ribu..." Ucap tari sambil tersenyum ramah. Sangat terlihat berbeda dari senyuman tari, tadinya dia merasa tidak suka dengan Tyas.
Tyas memberikan uang 65 ribu, sambil menunggu kembaliannya. Namun tari tak juga memberikan uang kembaliannya.
__ADS_1
"Kak tari, kembaliannya belum!" Ucap Tyas.
"Astaga cuma seribu juga Tyas? Aku gak ada uang seribu. Biasanya orang yang belanja di warung juga paham kalau aku jarang ada uang kembalian seribu, besok saja kalau kamu belanja lagi ingatin aku" gerutu tari sambil mengkorek-korek kaleng berisi uang jualannya.
" Seribu juga tetap uang kak tari.. kalau tadi gak kakak jelaskan, terus besok kakak lupa itu bisa jadi hutang tahu kak? Apalagi kalau sempat gak ikhlas si pemiliknya. Bisa sampai kiamat tuh ditagih, ngeri tahu! Ya sudah aku ambil penyedap aja yang seribunya. Aku gak mau sengaja buat kakak berhutang, karena dosa buatku juga hehehe" Tyas nyengir di akhir kalimatnya, membuat tari malu dengan jawaban Tyas.
Murni yang melihat kejadian itu terus menahan tawa, hingga akhirnya dia benar-benar melepaskan suara tawanya saat di atas motor milik tyas.
"Yas aku salut sama kamu yang menanggapi mulut-mulut lebih itu. Tenang banget kamu jawabnya, sampai mereka malu sendiri. Hebat kamu!!" Murni memuji sahabat barunya itu.
"Bukan hebat kak murni? Tapi terpaksa aku lakuin itu, apalagi waktu dengar cerita kakak itu" Tyas melaju dengan kecepatan sedang.
"Kena Mental Yas" ucap murni tiba-tiba.
"Siapa kak?" Tyas bingung dengan ucapan murni.
"Ya si mulut-mulut lebih tadi lah" ucap murni kembali.
Tyas diam sejenak lalu berpikir, tak berapa lama dia tertawa mengimbangi suara tawa milik murni.
Sesampainya dirumah Tyas terus tertawa, sampai membuat said bingung dengan kelakuan istrinya.
"Kenapa si Bun ketawa terus" ucap said kepada istrinya.
"Kena Mental Yah." Jawab Tyas menimpali perkataan suaminya.
Said yang mendengar hanya menaikkan satu alisnya, bingung. Tyas masih senyum-senyum ketika berada di dapur. Said penasaran sehingga dia ingin bertanya lebih jauh lagi, apa yang membuat istrinya terlalu senang seperti itu.
Namun langkahnya urung karena terdengar seseorang bertamu kerumah mereka.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1