
Pov: Bandi
"Assalamualaikum....,"
Suara istriku datang dari pintu utama, aku bergegas menghampiri. Tapi aku terkejut melihat istriku pulang dengan said. Sebenarnya darimana mereka, mengapa bisa pulang berduaan.
"Darimana kamu..., Sudah seore baru pulan!" sengaja kubentak istriku didepan adikku, agar dia tahu kalau sosok yang tegas dan ditakuti istriku.
Istriiku diam menatapku dengan tatapan tajam, aku beringsut mundur dan mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Karena aku tahu pasti setelah said pulang dia akan kembali mengucapkan sumpah sarapahnya.
"Ternyata Abang sudah pulang....,"
Setelah cukup berdiam diri, terdengar said mengucapkan kalimat dengan nada ketus.
"Ya. Abang lagi cari uang untuk membayar tagihan." Kini tidak perlu ada yang aku tutupi dari adikku, sudah dipastikan dia tahu semuanya, karena ini juga sebagian ide dari kami berdua untuk menjebak said agar mau membantu keuanganku.
"Baguslah. Tagihan Abang sudah dibayar, bulan depan usahakan bayar cicilannya tepat waktu." Ucapannya membuat hatiku sangat senang. Bagaimana tidak rencana kami ternyata berhasil.
Said melangkah pulang tanpa pamit kepada kami sang empunya rumah, tapi bagiku tidak masalah, karena yang terpenting sudah aman soal tagihan.
Namun setelah pulang bersama said, istriku diam dan memperlihatkan wajah masamnya. Dia berlalu meninggalkan aku diruang tamu, kau beranjak masuk kamar mandi membersihkan diri. Anak-anak juga sudah pergi mengaji di rumah Tyas.
Aku jalan kebelakang menghampiri istriku, didepan pintu kamar mandi aku mengetuk berulang kali.
"Ma..., Papa laper ni, nggak masak ya? Papa laper ni...." Kutempelkan wajahku di pintu kamar mandi.
Lalu terdengar suara tangan yang menarik handle pintu kamar mandi.
Istriku tidak menjawab sama sekali, lalu dia berjalan mengambil telur dengan masih menggunakan handuk yang melilit tubuh tambunnya.
__ADS_1
Plok....
Aku kaget seketika tangannya sudah melemparkan telur yang belum dimasak itu kewajahku. Tadinya aku pikir dia akan memasakkan sesuatu untuk mengganjal perutku.
"Makan tuh telur mentah!! Gara-gara kamu emasku habis. Kamu cari tu uang, gimanapun caranya buat kembalikan emas aku!!" Ucapnya dengan nada tinggi, berjalan pergi.
"Satu lagi. Kalau kamu gak bisa dapatin semuanya! Rumahmu ini juga akan disita." Dia berbalik mengatakan sesuatu yang membuat aku semangkin terkejut. Bagaimana bisa rumahku dibawa-bawa oleh debt collector.
Aku menyusul istriku ke kamar, masih dengan wajahku yang penuh dengan bau telur yang amis.
"Maksud kamu apa ma? Kok bawa-bawa rumah kita." Tanyaku dengan nada rendah. Jika aku menjawab dengan luapan emosi, pasti dia akan berubah jadi Mak lampir yang kehausan darah.
"Ini semua karena ulahmu!" Tunjuknya kepadaku " kalau saja otakmu ini digunakan, semua tidak akan terjadi." Kini istriku sudah menoyor kepalaku.
Sebenarnya aku sudah lama tidak menyukai sikap dan sifatnya yang semena-mena denganku. Dia seolah tidak menghargai aku sebagai suaminya, apalagi jika ada masalah sedikit. Dia selalu menjelekkan aku didepan keluarganya dan keluargaku. Tidak pernah ada kesempatan dia berikan untuk aku menjelaskan.
Aku masih diam menunggu dia berkata lagi, karena jika kuladeni sikap buruknya, maka dia akan menjadi-jadi.
"Bukannya said yang sudah membayarkan tagihan itu." Tanyaku dengan keterkejutan.
"Semenjak dia menikah dengan Tyas. Dia sudah berani menentang kita, dia sudah berani mengancam kita. Menyesal sekali aku mendukung hubungan mereka dulu. Aku pikir Tyas yang pandai mencari uang, bisa membalas kebaikanku nantinya, ternyata dia...."
Istriku marah dan menyesal telah mendekatkan said dengan Tyas. Sebenarnya memang Tyas orang yang sangat baik, anak-anak yang belajar mengaji dirumahnya juga tidak pernah ia mintai imbalannya.
Wanita yang menjadi istri adikku itu juga sosok yang sangat bersosialisasi dilingkungan. Beda sekali dengan istriku yang tidak pernah mau mengikuti kegiatan di masyarakat.
Tapi memang dengan kepandaiannya itu, ternyata ia mampu membuat adikku said berubah. Sebenarnya aku juga senang melihat said yang berubah jauh lebih baik. Tapi pikiran iri dengkiku juga muncul ketika dia mulai berubah lebih baik justru aku dan keluarga berubah menjadi semangkin terpuruk.
Istriku selalu bilang harus selalu lebih unggul dari mereka, dan tidakk mau dikalahkan oleh adikku.
__ADS_1
Akibat kejadian ini istriku meminta uang ganti untuk membeli emas-emasnya kembali. Dia tidak pernah bisa menerima masa sulitku, disaat aku terpuruk dan butuh biaya melunasi hutang, dia Mala menagih yang belum tentu aku bisa dapatkan.
Sebab itu aku pernah memilih menyelingkuhi dia dengan wanita yang sederhana dan menerima aku apa adanya. Pernah terlintas untuk aku meninggalkan dia, namun aku masih memikirkan mental anak-anak. Aku tidak ingin mereka kacau akibat ulah orang tuanya.
Setelah mendengar semua cerita istriku, aku terduduk di meja makan dengan sangat lemas. Selera makanku juga hilang seketika, aku bingung harus mendapatkan uang darimana. Kebunku sudahh terjual, kini kebun adikku telah aku gadaikan.
Sementara uang yang aku dapatkan sehari-hari hanya dari hasil keuntungan jual sapi-sapi. Tapi itu juga tidak cukup bagi istriku, dia selalu menuntut lebih, yang tidak dapat aku berikan.
Aku selalu berkomitmen untuk selalu membahagiakan istriku, namun ternyata dengan harta membuat istriku lupa diri, dia hanya meminta uang untuk membeli keinginannya beda dengan adik iparku yang selalu membeli apa yang dibutuhkannya.
"Pa!! Gak usah melamun, besok harus ada uang untuk beli emasku. Anak-anak juga besok ngajakin makan di cafe favorit mereka. Sudah lama mereka nggak makan enak." Ucap istriku yang membuyarkan lamunanku.
Aku diam tanpa menjawab apapun.
[Apa aku jual saja ya rumah ini. Tapi bisa buat ibuk marah, lebih-lebih kalau dia sampai tahu kebun milikku aku jual. Kalaupun dia marah, masih ada sebab, karena itu juga pemberian dari dia] aku berperang sendiri dengan diriku.
"Assalamualaikum...." Kini suara anak-anak membuyarkan kembali lamunanku.
"Waalaikum sallam...." Jawabku menyambut mereka yang baru pulang mengaji dari rumah Tyas.
"Pa. Bagi duit dong? Kuota internet aku habis." Belum selesai dengan permintaan istriku, kini permintaan Wika putriku. Ini lah akibat terlalu dimanjakan oleh istriku, di usianya yang sudah remaja, dia masih belum mengerti keterpurukan orangtuanya.
"Coba kamu tanya mamamu deh Wika, papa gak ada duit. Duitnya sudah sama mamamu."
"Apa!!" Bentak istriku yang sudah berkacak pinggang didepan pintu kamar. "Uang yang kamu berikan saja tidak cukup buat makan, apalagi bayar hutang. Kini kamu sebagai suami sudah memakai uangku untuk keperluanmu dan juga anak-anak. Ini Mala minta lagi!! Magkanya kamu itu kerja!! Nyusahin aja" suara lantang istriku membuat Wika beringsut masuk kamar dan arif juga terlihat ketakutan.
Tega sekali dia berbicara soal ekonomi denganku, bahkan emas yang dia beli itu juga uang dariku. Selama ini dia mengirimkan uang kepada keluarganya juga aku tidak pernah marah, karena aku berpikir keluarganya adalah keluargaku juga begitu juga sebaliknya, namun dia sama sekali tidak pernah baik dengan keluargaku entah apa sebabnya, terutama dengan adikku Nana.
Prang....
__ADS_1
Seperti suara kaca pecah terdengar dari arah kamar milik Wika. aku dan istriku saling bertatapan dan langsung bergegas masuk ke kamar Wika.
"Astaghfirullah haladzim Wika...."