
Pov: Tyas
Dua Minggu kami tinggal bersama kak Nana, dia sulit untuk di ajak berbicara setelah kepergian ibu mertua.
Mas said juga setiap menjelang tengah malam, selalu pergi tiba-tiba. Setiap kali ditanya hanya menjawab bertemu dengan teman.
Entahlah....
Hanya kacau yang aku lihat dari mereka semua. Seperti kehilangan nahkoda dalam sebuah kapal. Tidak menyadari, bahwa mereka juga punya kewajiban sendiri. Seperti tidak bisa menerima takdir.
Namun mengapa? Mengapa mereka terlihat biasa saja, seperti tidak mengalami duka. Tapi tindakannya memang tengah berduka. Sulit untuk menilai dari mereka semua.
"Ayah... Tadi malam, Kamu pergi, lagi." Ucapku datar kepada mas said.
"Hu'um."
"Sebenarnya ayah kemana? Selama menikah ayah hampir sering pergi di tengah malam. Dan sekarang, tidak lagi hampir! Melainkan setiap malam ayah pergi!" Cecarku padanya. Karena sungguh dia tidak terbuka dengan pernikahan kami.
"Sudahlah! Jangan membuat ayah emosi dengan pertanyaan yang berulang!" Aku terkejut mendengar ucapannya. Suaranya terdengar sedikit keras. Tidak seperti biasanya.
Aku memilih masuk kedalam kamar, dan mengurung diri. Tak ku indahkan panggilannya yang berulang kali.
Drrttt... Drrttt... Drrttt....
Terdengar getaran suara ponsel milik mas said di atas meja kamar.
"Bun, tolong buka pintunya! Ponsel ayah ada yang telepon." Teriak mas said dari arah luar kamar.
Kuraih ponsel itu, lalu kubuka sesuai polanya. Mataku melihat nama Dani dalam panggilan tak terjawab.
Tidak lama, nomor atas nama Dani kembali menelepon. Ku angkat panggilan, lalu ku buat nada senyap. Agar dia tidak mendengar suara dari sekelilingku.
'Bray, entar malam jadi ya, ada barang bagus ni' ucap seseorang yang bernama Dani.
Hatiku sakit mendengar kalimat yang dilontarkan Dani dari seberang telepon.
'Apa maksud dari barang bagus, itu? Ya Allah' lirihku yang sudah terduduk lemas di bawah, dengan tubuh yang menyandar di tepi ranjang.
"Bun!" Aku terkejut mendengar suara mas said begitu dekat.
Kudongakkan kepala melihat ke arah belakang. Tepat ia menatapku dengan tatapan tajam, berdiri di dekat jendela. Dapat kupastikan kalau dia masuk melalui jendela itu.
"Sini ponselnya." Datar suara mas said, dengan tatapan yang menyakiti hatiku.
Prakk....
Kulemparkan ponsel yang tadinya kugenggam, tepat di hadapannya. Dengan amarah yang terus berkecamuk didalam hatiku.
"Apa-apaan kamu, ha!" Bentak mas said tidak terima melihat ponsel yang layarnya sudah retak. Bahkan tidak hanya retak saja, melainkan sudah tidak dapat digunakan kembali.
__ADS_1
"Apa-apaan, kamu bilang mas! Justru kamu yang apa-apaan! Selama menikah, kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Tidak di Riau, tidak di kampung halaman, mengapa kamu selalu pergi tepat di tengah malam! Oh... Kamu mau mengkhianati, aku! Iya! Katakan! Katakan, apa maksud dari ucapan Dani." Ucapku dengan kalimat lantang dan dada yang terasa sesak. Bahkan sesaknya tidak lagi mampu menahan beban tubuhku.
"Apa yang harus aku, jelaskan! Aku tidak mendengar apapun." Mas said berkilah dan tangannya terus mengotak Atik ponselnya.
Rahangnya mengeras, wajahnya merah, dan raut wajah yang tampak berang.
"Barang bagus? Apa maksud dari kata barang bagus!!" Teriakku tepat di depan wajahnya.
Dia mendongak, tangannya menarik tubuhku, dan melemparkannya di atas kasur. Dia menindih tubuhku, untuk mengunci perlawananku.
"Jangan buat aku menyakitimu!" Ucapannya mampu membuatku diam dan ia pergi meninggalkanku di kamar sendiri.
Sakit hatiku tidak bisa di obati, bahkan dirinya saja tidak mampu menjelaskan apapun kepadaku.
Ku kemas bajuku di dalam tas jinjing. Aku hanya membawa sebahagian saja. Kurapikan pakaian untuk khumay putriku. Kulangkahkan kaki untuk keluar dari rumah itu.
"Loh Yas, mau kemana?" Tanya kak Nana yang melihatku tergesa-gesa.
Dia yang baru pulang entah darimana, tak kujawab pertanyaannya. Selama ini dia juga melakukan hal yang sama, semenjak ibu mertua berpulang, dia lebih banyak diam dan sulit menjawab saat ditanya. Memang dia tengah kondisi berduka, tapi akupun sama.
Entah setan mana yang masuk kedalam relung hatiku, terus dan terus kulangkahkan kakiku menuju tempat keramaian orang.
"Bang, bisa minta tolong, tidak?"
"Loh, kamu kan istrinya, said! Mau kemana mbak?" Ucap salah satu pria itu.
"Ada urusan bang, bisa tolong antar aku ke pangkalan becak motor. Mas said sedang keluar, aku terburu-buru." Ucapku mencari alasan.
"Lagian, kenapa nggak bawa motor sendiri aja, kalau ada urusan ya?" Lirih kudengar suara para pria yang tadi ku hampiri.
Sekitar seratus meter aku berjalan, tampak mobil merk Fortuner membunyikan klakson dari arah belakang.
"Loh, mbak Tyas? Mau kemana?" Tanya salah satu seorang yang rumahnya dekat dengan almarhumah ibu mertua.
"Eh ini mbak, mau ke ATM. Mau cari ojek dulu aja, soalnya penting." Ucapku kembali berbohong.
"Ya Allah... Ya sudah bareng sama saya saja, Ayuk." Ajaknya kepadaku.
'Alhamdulillah, ya Allah ternyata kau meridhoi jalanku. Biarlah mas said sendiri, jika aku tak lagi berjodoh dengannya, aku ikhlas. Sungguh.' doaku terus berulang dalam hati.
"Kok nggak sama bang said, mbak?" Ucap wanita bernama Dini itu.
"Mas said tadi sudah terlanjur pergi, mbak? Nomornya juga tidak aktif, saya terburu-buru ingin mentransfer cicilan yang ada di rantau."
Dia hanya menaikan satu alisnya. Lalu fokus ke jalanan.
Lagi dan lagi aku berbohong, entah keberanian darimana sehingga bibir mampu berbicara kebohongan dengan begitu lancarnya.
"Eh sudah sampai, mbak? Oh ya, kalau pulangnya mau barengan bisa juga kok mbak? Kebetulan saya juga cuma sebentar," tawar dini kepadaku.
__ADS_1
"Oh tidak mbakk, nanti saya pesan becak motor aja. Karena masih ada yang lain yang harus saya cari."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya tinggal ya mbak?"
Dini pergi meninggalkanku di sebuah ATM. Aku masuk, dan mengambil hasil tabungan pribadiku.
Kupesan becak motor untuk ketempat tujuan.
"Tujuannya kemana mbak?"
"Ke kota, bang? Ke terminal ya?" Jawabku cepat.
Setelah sampai di terminal, aku naik kesalah satu bus yang mengarah kerumah orang tuaku.
"Tujuannya kak?" Ucap kernet mobil sewa tersebut.
'kalau kerumah mamak, jelas semangkin menambah masalah. Aku tidak mau jadi beban disana, kak Mira yang seorang janda dan tiga orang anak, sudah menjadi tanggungan mamak. Walaupun kak Mira bekerja, tapi itu juga tidak akan cukup. Terus aku harus kemana?'
"Oiii kak! Melamun pulak Kakak ini!" Kemana tujuan kakak, aii amang."
Suara kernet itu membuyarkan lamunanku.
"Antar ke kota *** saja bang."
Ku putuskan untuk pergi ke kota tempatku tinggal, tapi tidak berniat untuk pulang kerumah orangtuaku.
Ku ambil ponselku, tidak ada Sama sekali notif dari mas said, ya walaupun ponselnya sedang rusak. Tapi apa dia tidak berusaha mencariku, akupun tak tahu.
Ku gulir kontak yang ada di ponsel. Lalu berhenti tepat di nama Lika.
Tuttt... Tutt... Tutt....
Panggilan tidak di angkat, kunulangi lagi sampai ke tiga kali.
Tak kunjung mendapat jawaban.
Kusandarkan kepalaku di kursi bus, sambil terus memperhatikan Khumairah kecilku.
"A...yah, yah, yah, Yayah. Ana."
"Ayahnya kerja ya nak? Kita jalan-jalan, dulu? Besok kita jumpa lagi yah?" Ucapku sambil menciumi pipi gembilnya.
Bulir bening membasahi pipiku, lolos tanpa permisi.
'maafkan bunda, nak? Bunda tidak bisa membayangkan jika bunda dan ayah tidak lagi bersama? Apa kamu bakal memaafkan bunda, nak? Bunda tidak bisa berbuat apa-apa, bunda lemah dan tidak dapat mempertahankan kesabaran bunda?' aku hanya mampu mengucap maaf dari dalam hati, tak mampu berucap, bibir tertutup rapat.
***
Besti jangan lupa dong mampir dikomentar, authornya sedih ni nggak dapat dukungan. Oh ya jangan lupa mampir juga dong di cerita baru author "Perjalanan Takdir" dan tetap jangan lupa tinggalin komentar, serta ulasan bintang lima.
__ADS_1
Terimakasih buat pembaca setia, salam hangat... Semoga hangatnya sampai ke kutub Utara :)