IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
44. Berpulang


__ADS_3

"ibu!!" Teriak semua yang ada diruangan.


Ibu Wati limbung kebawah, karena tidak sengaja mendapatkan pukulan dari Bandi yang sempat ingin menyerang said.


Faedah berlari, begitu juga Tyas. Mereka mencoba menyadarkan ibu mertuanya.


Langkah kaki Bandi mundur, sampai ke sisi dinding dan merosot duduk, sambil melihat keadaan ibunya pingsan terkulai tidak sadarkan diri.


Said merangkak menghampiri ibunya dan mencoba memangku sebagian tubuh bagian atas miililik ibunya.


"Dasar! Anak tidak tahu diri, kamu mas! Mulai detik iniaku terima talak tigamu itu!" Ucap faedah dengan mata yang berkaca-kaca memperlihatkan kekecewaan.


"Aku memang pernah berbuat salah, tapi aku tidak pernah berbuat hal sekeji dirimu, yang menyakiti hati seorang ibu!" Sambungnya kembali.


Tyas berlari keluar rumah, mencari bantuan dari para tetangganya.


Dia berlari kesalah satu rumah warga yang memiliki mobil pribadi.


Kebetulan bik inur belum lama membeli mobil, jadi tujuannya langsung kerumah tetangga lamanya itu.


Jarak rumah dari rumah baru milik Tyas, sekitar seratus meter lebih, jadi dia sengaja tidak menggunakan alas kaki, karena terlalu terburu-buru.


"Ya Allah Yas, pak lek kamu sedang pergi antar usna ke pondok hari ini."


Tyas meremas jari-jarinya, merasa bingung harus kemana. Karena tidak mungkin membawa dengan sepeda motor.


"Yas! Ada apa!" Tanya murni menghampiri Tyas dirumah bik inur.


"Ibu mertua aku pingsan kak murni! Mas said juga keadaannya tidak baik. Karena...."


Tyas menceritakan kejadian itu kepada bik inur dan juga murni dengan singkat.


"Ya Allah... Ayo ikut aku!" Tarik murni  dipergelangan tangan Tyas.


"Kemana kak!" Tanya Tyas penasaran.


Murni diam saja dan berlari mengambil motor maticnya. Membawa kesebuah rumah yang belum lama di bangun dan dipindahi oleh orang yang berasal dari kota Aceh.


"Assalamualaikum...." Murni mencoba mengetuk pintu rumah besar milik orang itu.


"Waalaikum sallam... Sebentar?"


Kreeetttt....

__ADS_1


"Eh ada murni, mari masuk?" Ucap wanita berwajah sendu itu dengan lembut dan ramah.


"Emm... Kami tidak lama buk Fatma? Mau... Emm_ mau minta tolong buk?"


Murni berucap ragu.


"Oh ya Allah? Katakan kak murni ada apa, kalau saya bisa bantu, akan saya bantu."


Mendengar itu Tyas lega, namun jarinya masih saling meremas, takut jika orang baru yang mereka mintai bantuan akan menolak.


Saat kak murni ingin menjelaskan, Tyas menahannya dan berinisiatif agar dirinya saja yang menjelaskannya.


Ibu Fatma terkejut, lalu memanggil suaminya, kedalam rumah.


Tidak berapa lama keluarlah lelaki yang diperkirakan umurnya belum mencapai 40 itu dengan seorang anak berusia 11 tahun. Dengan baju Koko yang keduanya kenakan.


Mereka sudah bersiap mengeluarkan mobil sementara Tyas dan murni lebih dulu kerumahnya.


Tidak lama mobil pak Zaky memasuki halaman, said dan faedah mencoba mengangkat tubuh ibu Wati dan memasukkannya kedalam mobil milik pak Zaky.


Tyas dan faedah ikut serta kedalam mobil milik pak Zaky. Sementara said lebih memilih mengendarai motornya.


Begitu juga murni dan Nanang yang ikut menyusul ke Rumah Sakit.


Beberapa perawat sudah menyiapkan Brankar untuk membawa ibu Wati ke UGD ( Unit Gawat Darurat ).


Terlebih riwayat penyakit ibu mertuanya, kini ditambah lagi pukulan yang tanpa sengaja.


Pintu ruangan terbuka, dan beberapa perawat kembali mendorong ibu Wati ke ruangan yang lain.


"Sus, ibu saya bagaimana? Mau dibawa kemana sus!" Tyas mencecar beberapa pertanyaan kepada salah satu perawat yang memegang botol infus. Dan beriringan terus dengan roda Brankar. Begitu juga Tyas dan faedah.


"Pasien kritis buk, jadi akan segera dibawa ke ruang ICU (Intensive care unit) untuk ditangani." Jawab perawat sekenanya.


Begitu ibu Wati dibawa masuk ke ruangan yang lain, lagi-lagi Tyas dan faedah harus menunggu di luar ruangan.


Tyas mondar-mandir mencemaskan ibu mertuanya. Begitu juga faedah yang duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus meremas dan wajah yang sulit untuk di artikan.


"Bunda...." Said datang dengan sebuah tas dan menggendong seorang putri kecil, yang baru berumur satu tahun setengah dengan banyak balutan kain dan jaket tebal ditubuhnya.


"Ya Allah nak... Maaf bunda melupakan kamu," Tyas menarik putrinya dari gendongan said, lalu, menciumi wajahnya.


Beruntung khumay adalah anak yang tidak rewel. Sehingga memudahkan said untuk membawanya.

__ADS_1


"Yas, maaf ya? Kakak nggak bisa bantuin said bawa dek khumay? Karena kakak bawa si kembar juga." Ucap murni yang juga sudah datang.


Tyas hanya mengangguk dan sulit untuk berkata banyak.


Said bersandar di dinding ruangan, dimana ibunya dirawat. Seperti memikirkan sesuatu, yang membuat matanya terus berkaca-kaca, yang ingin meloloskan diri dari pertahanannya.


"Tenang id, ibumu akan baik-baik saja, sebaiknya berdoa!" Ucap Nanang, sembari menepuk pundak said.


Said yang mendapatkan perlakuan demikian, justru semangkin membuatnya tidak dapat menahan cairan bening di iris hitamnya.


Berangsur dia menjatuhkan tubuhnya, berjongkok sembari kedua telapak tangannya memegang kepala.


"Apa ibuku baik-baik saja bang! Dia punya riwayat komplikasi. Dia datang, harusnya mendapatkan kebahagiaan, sekarang, justru kekecewaan dan rasa sakit bang!"


Tyas melihat suaminya begitu frustasi, orang yang baru dia lihat tegar, bertanggung jawab kepada keluarga, lelaki yang baru saja menggendong putri kecilnya dalam keadaan genting, lelaki yang baru saja  marah demi membela ibunya. Kini ia justru melihat seorang anak lelaki kecil yang takut kehilangan ibunya.


Tyas dan faedah tidak dapat menahan air matanya, melihat said yang begitu sakit, menunggu kabar dari orang yang tengah menangani ibunya.


Kreeetttt....


Dokter keluar dengan wajah yang sedikit ditekuk, lalu menarik napas panjang.


"Dokter bagaimana ibu saya dok! Baik-baik saja kan dok!"


Said bertanya dengan raut wajah gelisah.


"Emm, maaf pak__" belum selesai perkataan sang dokter, said sudah menangis tergugu, begitu juga Tyas dan faedah. Murni yang orang lain pun tidak sanggup menahan air matanya.


"Apa yang terjadi dok?" Ucap Nanang kepada dokter.


" Almarhumah ibu Wati meninggal dengan catatan penyakit jantungnya pak?" Sang dokter berjalan menghampiri said yang sudah terduduk di lantai dengan suara serak dan meraung.


"Maaf, pak! Kami sudah berusaha. Bapak harus percaya akan takdir setiap manusia, ini sudah menjadi garisnya? Kita semua akan menyusulnya pak? Bersabarlah suatu saat bapak akan bertemu, jika bapak terus mendoakannya." Bijak sang dokter memberikan wejangan kepada said yang terus masih terguguh.


"Tolong dok, sekali lagi periksa ibu saya dok! Mungkin dia masih berjalan-jalan melihat suasana baru, bisa saja dia akan kembali dok? To-tolong dok?" Ucap said dengan penuh rasa bersalah.


Nanang memeluk tubuh said, dengan erat.


"Ngucap ayah? Astaghfirullah haladzim... Astaghfirullah haladzim... Jangan kotori hati ayah dengan ketidak percayaan akan ketentuan yang Allah berikan yah?" Lembut suara Tyas mampu meredam sedikit emosi hati yang telah said keluarkan.


Mereka membawa almarhumah ibu Wati di kediaman said, lalu akan membawanya ke kampung halaman sesuai permintaannya dulu. Jika ia ingin di semayamkan di dekat almarhum suaminya.


Said tidak bisa membayangkan, dihari yang sama saat ibunya baru datang kerumahnya. Dan dihari yang sama pula ibunya meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


***


Itulah takdir... Kita tidak pernah bisa mengatur kapan kita akan datang dan kembali. Hari yang harusnya menjadi sebuah kenangan antara ibu dan anak justru menjadi sebuah duka yang menyayat.


__ADS_2