IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
48.


__ADS_3

"Jika kamu ingin tahu keberadaan suamimu, datanglah ke alamat ini. Dia sedang menungguku."


Tanpa menjawab apapun, aku langsung menutup pintu secara kasar.


Bagiku tidak penting lagi mencari tahu apa yang menjadi kegiatannya dimalam hari. Tapi yang aku masih tidak habis pikir. Buat apa mas said pergi ke kotaku, padahal jarak tempu antar kotanya dan kotaku terbilang jauh. Bisa menempuh dua jam perjalanan.


Kubaringkan tubuhku dikasur bersebelahan dengan Khumairah. Dan mataku menangkap sebuah kertas yang sepertinya dimasukkan dari bawah pintu kamar hotel.


Aku kembali turun dan meraih kertas yang dilipat menjadi dua bagian. Kubuka kertas itu, untuk mengetahui isi didalamnya.


Drrtt... Drrtt...


Sebelum membacanya, kuraih ponsel dan melihat ke layarnya.


"lika." Gumamku


Ku angkat panggilan darinya, lalu dia mengalihkan panggilan telepon menjadi video call.


Tanpa bersuara, dia seperti memperlihatkan seseorang.


Kupandangi lekat-lekat pria yang menggunakan switer biru Dongker.


"Mas said." Lirihku pelan. Bersamaan dengan itu ia melihat ke arahku. Lebih tepatnya mengarah ke ponsel milik Lika.


'Selarut ini buat apa Lika berada di luar' pikirku.


Kumatikan panggilan, lalu ku kirim pesan ke Lika.


{Tolong kamu perhatikan, apa yang dikerjakan suamiku. Setengah jam lagi aku sampai.}


[Jangan!! Terlalu berbahaya. Bahkan ini sudah sangat larut.]


Kubaca balasan darinya. Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa khawatir dan takutku.


{Tolong jangan kemana-mana} kubalas cepat pesan itu.


Ku gendong Khumairah dalam dekapanku, ku berhentikan sebuah becak motor yang dikendarai seorang kakek tua.


"Mau kemana mbak? Ini sudah terlalu larut. Saya tidak berani" ucap sang kakek melihatku yang kurang rapi, karena terlalu terburu-buru.


"Tolong kek? Dekat kok. Saya harus kesana sekarang. Suami saya sedang terkena masalah." Kilahku kepada kakek tua sang pengemudi becak.


"Ya sudah, kemana!" Ucapnya ketus.


"Arah sana kek." Tunjukku ke arah tujuan.


Laju becak motor juga tidak terlalu kencang, ku dekap Khumairah begitu erat. Berselimutkan tebal serta berada dalam gendongan, aku merasa dia akan aman.


Sesampainya disana, aku belum berniat masuk ke salah satu cafe yang didalamnya ada mas said, dan Lika.


[Kamu dimeja bagian mana! Aku di depan.]


[Masuk lewat pintu belakang cafe. Aku akan temui kamu.]


Aku memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribu kepada sang kakek. Lalu bergegas melangkah ke arah yang dikatakan Lika.


Derap langkah kaki semangkin dekat dengan pintu belakang.

__ADS_1


"Hei, cepat masuk!"


"Kamu ngapain selarut ini ada disini." Ucapku penasaran.


"Sudah nanti aku jelaskan! Sekarang kita lihat saja, apa yang suamimu kerjakan disini."


Aku memandangi dari jauh, tampak lawan bicaranya sudah mulai datang dan membawa Tote bag di tangannya. Lalu memberikan itu kepada mas said. Mas said menerima dengan senyum semringah.


"Astaga! Apa-apaan ini. Aku harus bertemu dengannya."


Hei jangan gegabah. Tempat ini sedang di awasi oleh polisi.


"Apa!!" Aku memalingkan wajah ke arah Lika.


"Jelaskan Lika apa maksudmu!" Ucapku berapi-api, masih dengan suara yang sedikit aku tahan.


Dia kembali diam, dan tangannya menunjuk ke arah mas said.


"Lihat itu."


Mas said seperti melihat kesekeliling. Memperhatikan sesuatu, kucondongkon tubuhku sedikit kebelakang, menutupi diri dari tanaman hias yang berukuran sedikit besar.


Aku mengatur napasku, ketika aku meliriknya, ternyata dia dan temannya menatap tajam ke arah meja yang kami tempati.


Lika juga berpura-pura merias dirinya di cermin kecil yang selalu ia bawa.


"Wanita yang bersama suamimu itu salah satu wanita panggilan di daerah sini."


Ucapan Lika membuat napasku berhenti seketika. Raut wajahku mungkin sudah bagaikan singa yang ingin menerkam mangsa.


Aku berdiri seketika, sehingga terdengar suara deritan kursi yang sangat keras. Itu memancing mas said dan wanita yang menjadi lawan bicaranya memandang ke arah meja kami.


"Duduk! Jangan sampai kamu terbawa perasaan dulu. Nanti setelah tim polisi mendapatkan tersangka, kau boleh menemui suamimu."


"Cepat jelaskan sekarang, kalau tidak aku akan mengacaukan rencana intelijen itu, sekarang."


Lika menarik napas besar dan mengeluarkannya kasar.


"Baiklah! Dengarkan baik-baik. Aku tidak bisa mengulanginya.


Cafe ini milik sepupu dari suamiku, tadinya aku ingin pulang. Tapi sepupuku meminta aku menjemputnya karena ada kasus darurat. Dia bilang ada tim dari kepolisian yang sedang ingin mengamankan tersangka salah satu pengedar Narkotika."


Kini ucapan Lika membuat jantungku berdetak lebih kencang. Ada perasaan khawatir terhadap suamiku, yang selalu hilang tiap menjelang malam.


"Tidak mungkin suamiku kan?" Tanyaku kepada Lika.


"Hei! Jangan seudzon, aku yakin suamimu orang yang baik."


"Jika baik, untuk apa dia bertemu perempuan panggilan, disini. Bahkan selama menikah dia sering pergi setiap tengah malam."


Lika Tampak berpikir setelah mendengar ucapanku.


"Kenapa kamu tidak cerita, kalau begitu temui saja suamimu sekarang!"


Entah mengapa tiba-tiba Lika menyuruhku untuk menemui mas said. Padahal sebelumnya dia melarangku.


"Tapi, reaksiku akan membuat tersangka dapat menghindari kericuhan. Bisa jadi keributan yang akan ku buat dengan suamiku, Mala menyulitkan pekerjaan dari tim kepolisian.

__ADS_1


"Dengar! Bersikaplah kamu sebagai pengunjung cafe ini. Seperti tidak tahu apa-apa."


"Tapi mereka tahu kan kalau kamu sepupu pemilik cafe ini. Sudah pasti mereka mengecek semua nama orang yang berkaitan dengan cafe ini." Ucapku berpikir panjang.


"Ah sial! Sekarang bangkit. Atau kau akan menyesal." Dia berucap datar dengan suara yang berusaha ia tahan agar tidak terlalu terdengar oleh orang lain.


Kulirik ke meja mas said, ia tampak menimang-nimang kotak persegi, yang aku pastikan isinya adalah sebuah ponsel baru.


Lalu tidak lama dia memasukkan kotak itu kedalam Tote bag dan menyerahkan kembali kepada sang wanita.


Aku berdiri, berniat menghampiri dia, dan akan meminta penjelasanya.


"Mas said!" Teriakku menghampiri dia.


Dia memasang wajah tegang, namun wanita itu masih bersikap santai.


"Kamu bermain api denganku, mas! Ha! Gila kamu ya. Kamu lihat ini." Bentakku sambil menunjuk Khumairah yang ada di gendongan.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat. Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya mengantarkan upahku."


Kunaikkan alisku menatap tajam ke arahnya.


"Upah! Kamu bilang upah. Kamu kira aku tidak tahu siapa wanita ini." Tunjukku pada wanita itu.


"Jadi kegiatanmu tengah malam yang selalu pergi, melampiaskan hasrat ke setiap lubang tante-tante."


Plak!


Mas said menamparku tepat dihadapan wanita itu.


"Kau pikir aku pria yang kesepian!" Teriaknya lagi.


Aku memegangi pipiku yang terasa panas dengan menahan suara Isak.


"Ini sudah membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya!" Ucapku lantang, lalu pergi meninggalkan dia bersama wanita itu.


Baru saja kaki ini melangkah keluar. Tampak beberapa pria berbadan tegap masuk ke cafe tersebut. Aku terus melanjutkan langkahku, dan memecahkan suara isakan yang mati-matian aku tahan.


Aku duduk di trotoar dekat arah masuk ke cafe tersebut. Menciumi Khumairah yang sedikit tersentak karena suara tangisku.


"Tyas?" Lika meremas pundakku lalu menarik tubuhku agar tidak bersimpuh di area itu.


"Ini sudah terlalu larut? Tidurlah dirumahku. Kebetulan suamiku sedang berada dirumah ibu mertua, karena ada keperluan. Kau tidak perlu sungkan."


Aku menggeleng dengan raut wajah yang penuh dengan air mata.


"Ti-tidak perlu Lika. Aku bisa balik ke hotel sekarang." Ucapku dengan napas tersengal-sengal.


"Setidaknya kasihan sedikit dengan putrimu." Ucapnya kembali.


Aku melihat wajah putriku yang tenang seperti tidak tahu akan sebuah kesedihan.


'jadilah anak yang kuat nak? Jangan seperti bunda.' gumamku di telinganya.


Aku berdiri digandeng oleh Lika untuk naik ke jok belakang motornya.


"Ayo jalan!" Terdengar suara besar dari salah satu pria berbadan tegap.

__ADS_1


Aku dan Lika memalingkan wajah ke arah belakang, dimana sumber suara berasal.


"Kamu!"


__ADS_2