
POV: Tyas
Hmmm....
Kududukkan bokongku pada karpet yang sudah dibentang oleh mas said. Rasanya lelah menghadapi rentetan kejadian yang baru saja terjadi.
Entah apa asal muasalnya, sampai harus terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.
"Yah... Bunda masih nggak nyangka Lo, kalau kak Faedah bisa melakukan hal nekat seperti itu." Aku menatap langit-langit ruangan, sembari memikirkan setiap kejadian.
"Sudahlah Bun... Seenggaknya kejadian itu bisa jadi pelajaran buat kita semua." Mas said menanggapi dengan bijak.
"Ayah tahu nggak, pemicu utamanya itu ya ayah." Tuduhku sembarangan.
"Loh... Loh... Kok ayah." Jawabnya tidak terima.
"Iyalah... Kalau seandainya ayah bilang alasannya, kan bunda nggak panik. Bunda takut kejadian-kejadian seperti di medsos dan berita itu Lo?"
Mendengar penuturanku membuat mas said tertawa. Itu semangkin membuatku kesal.
"Lagian tali, golok, sama pisau untuk apaan sih yah!"
"Jadi ceritanya kemaren malam itu, ayah dikabarin bang Bandi kalau sepeda motor dia tabrak lari. Yang dia tabrak itu wanita sudah cukup tua kalau ayah bilang. Nah jadi bang Bandi mencoba kabur, kamu kan tahu jalan ke arah desa sebelah jalannya rusak pas musim hujan gini. Bang Bandi nggak bisa menyeimbangkan, mereka kan besar semua, mana si Arif duduk didepan menghalangi penglihatan bang Bandi. Akhirnya salah jalur, terus masuk selokan. Selokannya itu juga tempat pembuangan air dari kamar mandi. Ya bayangin sendiri aja selokan yang belum berdinding batu sudah pasti isinya bagaimana."
"Ya Allah jadi mereka jatuh karena tabrak lari ya yah. Terus motornya bang Bandi bagaimana?" Tanyaku kembali penasaran.
"Tadiny di minta ayah buat Nebus, karena pihak keluarga minta jalur damai. Sebenarnya ayah kasihan, tapi akhirnya ayah tega untuk biarin motor mereka ditahan. Biar itu juga menjadi pelajaran untuk mereka. Bahkan sebelum pulang, mereka lebih dulu disidang tu di rumah RW setempat."
Aku bergeming mendengar cerita dari mas said. Tapi aku merasa kak faedah tidak pernah ada jerah atas kejadian-kejadian yang sudah banyak mempermalukan dirinya.
"Iya Uda balik lagi bunda tanya, tali, golok sama pisau buat apaan emangnya."
"Talinya untuk ikat keranjang, golok sama pisaunya buat di antar ke bang Dedi, mereka lagi cari ikan Sama pancing belut."
"Ah ayah buat kacau." Kesalku.
"Tapi gara-gara itu terbongkar semua kasus kan, bahkan semua orang jadi tahu siapa kak Faedah yang sebenarnya. Orang yang sakit hati seperti bunda gini, setidaknya terbalaskan atas perbuatannya sendiri kan?"
Ucapan mas said yang terakhir memang aku setujui. Orang yang selalu memfitnah, dan menceritakan aku, justru tanpa sengaja sudah membongkar aibnya sendiri.
Itu sebabnya Allah melarang kita untuk mendzalimi saudara seiman ataupun bukan. Karena Allah akan sangat mudah membalaskannya jika DIA sudah berkata Kun.
"Aku juga nggak nyangka Lo yah, uwak Udin suami Wak sari juga menjadi korbannya. Kenapa di awal dia nggak ngaku saja ya mas. Kan dia korban." Aku kembali melontarkan pertanyaan ke mas said kala ia sedang asyik makan kerupuk yang biasa aku sediakan untuk teman makan.
"Malu lah Bun, uwak Udin kan sudah berumur. Ya walaupun dia korban, yang jelas tindakan dia juga merendahkan harga dirinya."
"Harga diri?" Aku masih bingung.
"Iyalah, membalas pesan wanita yang menyebarkan foto ****, serta ikutan mengirim uang untuk dapat imbalan yang tidak baik, apa itu namanya tidak menjatuhkan harga diri." Jelas mas said kembali.
Aku hanya manggut-manggut.
"Miris ya yah? Bahkan kak Faedah itu tidak merasa malu, melakukan itu demi uang, bahkan yang buat kebangetan, korbanya rata-rata suami temannya sendiri. Seperti Mak Eko, padahal mereka sahabat baik Lo yah, bisa-bisanya kak Faedah memanfaatkan situasi."
"Aku juga malu Bun? Atas kejadian ini... Bang Bandi itu kan Abang kandungku. Bagaimanapun mereka keluarga kita." Tampak wajah mas said sedih kala mengingat yang mendapatkan musibah itu adalah keluarga sendiri.
"Bunda juga sama yah... Tapi kita mau bela bagaimana lagi. Toh kita disana tidak banyak dimintai keterangan kan pas kasus kedua." Ku coba menetralkan suasana hati. Agar mas said juga mengerti Masalah akan datang kapan saja, dan kepada siapa serta dimana.
Lalu mas said membaringkan tubuhnya di atas karpet dan menatap langit-langit ruangan, sembari kedua tangannya menopang kepala untuk menjadi tumpuannya.
"Ayah ingat dulu bang Bandi tidak seperti itu Bun. Ayah ingat dulu ayah pernah merampas mainan milik teman ayah. Dan saat di marahi, Mala bang Bandi yang membela dan mengatakan kalau itu perbuatannya. Semangkin hari ayah justru senang melakukan kejahatan. Karena tidak pernah mendapatkan hukuman. Suatu bang Bandi marah, karena tingkah ayah, sampai akhirnya dia membiarkan ayah habis dipukul pakai rotan sama almarhum bapak. Dia tidak membela, dia tidak memperdulikan rasa sakit di punggung ayah, yang sudah membekas akibat pukulan rotan. Disitu ayah benar-benar merasakan sakit. Disitu ayah berpikir kalau selama ini itulah yang bang Bandi rasakan. Disitu ayah berpikir untuk tidak mau lagi melakukan kesalahan. Tapi mengapa sekarang bang Bandi melakukan kesalahan, yang sulit untuk di maafkan ya Bun?" Mata mas said berkaca-kaca saat menceritakan kisah hidup dia dan bang Bandi. Aku tidak mampu menjawab pertanyaannya dan terus mendengarkan ceritanya.
"Padahal kami dulu juga orang tidak punya Lo Bun, ibu sering jadi buruh tani, untuk kami bisa makan, dan ayah yang paling nakal dan selalu menyusahkan, tapi bang Bandi lah yang selalu menjadi kambing hitamnya. Tapi sekarang sulit rasanya menerima kenyataan atas apa yang diperbuat bang Bandi terhadap kita, terhadap Ibuk juga. Dia seperti ingin membalaskan dendam itu kepada ayah. Dia seperti sengaja menghabiskan harta pemberian orangtua agar ayah juga dapat membantu. Ayah di tuntut untuk bungkam karena melihat kondisi Ibuk. Hutangnya dimana-mana tapi ayah tidak mampu membantunya. Menurut bunda, bang Bandi ingin balas dendam, atau ingin menuntut balas atas sikapnya." Lagi-lagi mas said memberikan pertanyaan yang sulit untuk aku jawab.
"Jangan menyalahkan siapapun ayah, sudah jalannya begini, berdoa saja semoga kedepannya kita sekeluarga lebih baik lagi." Ucapku dengan ikut tidur disampingnya sambil memeluk tubuhnya dari arah samping.
Sore hari yang tadinya aku ingin kepasar untuk keperluan besok, kini aku urungkan untuk mengajak kak murni. Karena saat semenjak suasana kemarin, dan hari ini aku belum melihat wajah kak murni.
Lalu terlihat kak murni tampak rapi mendatangi rumah, dengan tas selempang yang sudah melengkapi setelannya.
"Assalamualaikum Yas...."
__ADS_1
" Iya waalaikum salam kak murni... Ada apa kok rapi banget." Tanyaku langsung.
Akhirnya suara tangisnya pecah sambil memeluk aku, ia belum mampu berbicara apapun. Bibirnya gemetar, air mata juga menghancurkan riasan diwajahnya.
"Aku mau pulang Yas, aku mau tenangin diri dulu. Aku emang salah, tapi aku juga kecewa. Aku kemari mau pamit sama kamu."
Ucapan kak murni membuatku terkejut, aku semangkin merasa bersalah dengannya, karena awalnya dia tidak tahu apa-apa sama sekali.
Kenapa harus pulang kak murni? Tidak baik meninggalkan rumah, kalau kondisi kakak seperti ini." Aku mencoba menenangkannya walaupun aku tidak yakin kalau aku bisa.
"Kasihan anak-anak kak murni, kalau Sampek kakak pulang." Ucapanku membuat kak murni berpaling dan semangkin menumpahkan kesedihannya.
"Tidak akan meninggalkan anak-anakku Yas, aku akan bawa."
"Jangan kak? Lihat si kembar. Sekarang dia lagi lasak-lasaknya. Vicky juga belum tentu bisa menjaga adik-adiknya saat di bus nanti." Terus dan terus aku mencoba menahannya.
Derrrr... Prang... Jederrt...
Terdengar suara benda yang sengaja dilempar-lemparkan. Dan sumbernya dari arah rumah milik kak Faedah. Aku mencoba mengambil langkah kecil kebelakang.
"Sudah pa! Aku malu! Aku sudah besar!" Suara Wika terdengar berteriak-teriak dan suaranya terdengar histeris.
Kak murni akhirnya menghampiri aku.
"Yas, bantuin yuk, kasihan..."
"Aku nggak mau kakak disalah-salahin lagi. Sudah disini saja, tunggu sebentar biar aku banguni suamiku dulu."
Aku kembali keruangan dimana suamiku masih berbaring dengan putri kecilku.
"Ayah... Bangun yah... Sepertinya AbangĀ sama kak faedah lagi bertengkar itu." Ucapku panik sendiri.
"Sudahlah Bun, jangan terlalu ikut campur. Itu urusan rumah tangga mereka." Mas said memunggungi aku dan tidak perduli.
Aku kembali lagi ke dapur menghampiri kak murni.
"Kalau begini, aku sudah nggak sanggup hidup sama kamu mas! Bagusan aku pulang ke rumah orang tuaku!" Suara kak faedah terdengar menggema, sampai kami yang beda rumah masih mampu mendengar ucapannya.
"Silahkan! Ayo silahkan! Dasar setan!" Mereka saling bersahut-sahutan untuk saling menyalahkan.
Kembali suara Wika berteriak, dan teriakan itu membuat hatiku tidak enak, akhirnya aku berlari kerumah kak faedah yang pintu belakangnya tidak dikunci.
Kulihat nasi berserak di lantai, perkakas rumah tangga juga terlihat berantakan.
Kugelengkan kepala saat kak faedah ingin menimpali ucapan bang Bandi.
Lalu kulihat bang Bandi ingin melemparkan teko plastik ke arah kak faedah. Langsung ku sambar tangan kak faedah untuk menghalangi tindakan bang Bandi.
"Sudah! Biarkan dia Yas. Memang setan itu! Dia setan itu! Biarkan saja dia! Biarkan di pergi. Sana pergi kamu, pergi!"
Ucapan bang Bandi membuat kak Faedah murka dan kembali menyerang bang Bandi. Tudung saji di atas meja ia lemparkan ke arah bang said, serta melemparkan mangkuk berisi sayur ke arah bang Bandi.
"Sudah mama... Sudah, aku malu. Jangan buat aku malu...." Suara Wika terdengar mengibah dan memeluk tubuh kak faedah.
Orang kembali ramai datang berbondong-bondong mendatangi rumah kak faedah.
Suasana itu tidak membuat keduanya malu. Mala terlihat seperti saling menantang. Bang Bandi mengejar kak faedah yang terus dihindari oleh Wika, tangan bang Bandi tampak ingin memukul istrinya, langsung aku tarik sekuat tenaga tangan bang Bandi.
Kejadian itu membuat tenagaku luar biasa kuatnya.
"Bang Bandi sudah! Abang itu laki-laki! Sudah bang. Kasihan Wika bang. Bang Bandi!" Tanpa sadar aku berucap sambil menangis melihat kejadian itu.
Masih belum percaya atas apa yang dilakukan oleh bang Bandi.
Beberapa orang sudah masuk, berinisiatif untuk membantu. Laki-laki membantu menarik bang Bandi yang terus mengejar kak faedah. Sementara wanita sudah berinisiatif memegangi tangan kak faedah yang terus ingin melempar bang Bandi.
"Memang setan! Biar saja dia, perempuan nggak ada otak! Perempuan murahan! Keturunan Dajjal! Cih...."
Bang Bandi berteriak dan terus marah sambil membuang ludahnya, seraya membenci kak faedah.
Setelah sedikit aman, bang Bandi terlepas di genggaman warga. Dia kembali berlari mengejar kak faedah ingin menampar wajahnya.
__ADS_1
"Apa! tampar saja nah!! Cepat. Kau bilang aku Dajjal, apa bedanya sama kau mas!! Ha!!" Kak faedah juga tampak marah.
Ya siapapun orangnya pasti marah mendengar caci maki, apalagi dilontarkan dari bibir orang yang dicintai.
Karena kak faedah yang terus menantang membuat bang Bandi semangkin emosi, dan ingin melemparkan kuali yang bertengger di dinding.
Namun dengan cepat mas said menarik tangannya serta mencekik lehernya dan membawanya keluar. Dan langsung aku tutup pintu itu secepat mungkin, dan sulit sekali mengancingnya. Karena bang bandi terus mendorong-dorong pintu itu.
"Biar aja dia mati! Jangan halangi aku!!"
"Sudah!! Sudah!! Aku malu lihat tingkah Abang." Teriak mas said di depan wajah abangnya. Namun nyatanya tidak membuat emosi bang Bandi redah.
Mas said mengangkat tinggi tangannya yang ingin dilayangkan kewajah Abang kandungnya. Lantas....
Bugh... bugh....
Dan ternyata ayunannya Mala ia pukulkan ke pintu kayu yang tengah aku tahan dari amukan bang Bandi.
Semua warga tampak mengamankan, ku giring kak faedah di teras samping rumahnya. Bersama Bik Inur juga yang ikut membantu. Karena warga yang lain juga takut untuk ikut campur. Yang terpenting bagi mereka suasana sudah tenang.
"Kok Sampai terjadi seperti itu?" Ucap bik Inur hati-hati.
Mendengar pertanyaan dari Bik Inur, barulah pecah suara tangis kak faedah didepan kami. Bahkan aku juga ikut menangis, karena menyayangkan apa yang tengah dilakukan bang Bandi. Itu adalah perbuatan yang tidak baik di dalam rumah tangga.
Harusnya dia sebagai lelaki jangan main tangan, jika ia sudah tidak mampu menjalani rumah tangganya.
"Ga-gara kejadian kemaren dan tadi pagi. Yang menjadi pemicunya bik... Setelah pulang, dia menyuruhku membuatkan segelas kopi. Tapi dengan memanggilku dengan sebutan lo-lo*te. Siapa yang tidak sakit hati Bik? Aku sudah minta maaf sama dia Bik, ya kalau dia tidak ingin memafkan setidaknya jangan menambah rasa sakit hatiku."
Aku dan Bik Inur serta Wika terus menangis mendengar cerita kak faedah. Kak murni juga memandang iba di belakang punggung kak faedah, matanya terus berkaca-kaca sambil membekap mulutnya.
"Di-dia tidak punya pekerjaan setelah semua harta habis terjual Bik... Tapi saat sayur dan lauk pauk yang aku masak tidak menaikkan nafsu makan. Maka tudung saji hanya di angkat dan ditutup kembali secara kasar. Mengapa selama aku mendapatkan uang dari caraku, dia tidak pernah bertanya darimana aku mendapatkannya... Padahal selama ini dia tidak pe-pernah memberikan uang."
Kupeluk tubuhnya dan keelus punggung belakangnya, mencoba mendekatkan diri sedekat mungkin.
Karena bagaimanapun rasa simpatik sebagai perempuan ikut terenyuh mendengar keluhannya.
"Selama ini aku iri kepada iparku, karena suaminya yang satu darah dengan suamiku justru lebih baik menurut penilaian ku. Dulu aku cukup sabar di duakan dengan wanita lain, aku sabar, dia berjudi menghamburkan banyak uang, serta mamakai obat-obatan sejenis narkoba pun aku masih sabar. Berharap dia masih mau berubah untuk keluarganya. Tapi kalimat yang ia tuturkan untukku, tidak mampu menahan semua kesabaranku...." Terus saja suara tangisan itu membuat yang mendengarnya juga ikut menangis.
"Aku terlihat kuat didepan orang, aku terlihat tidak mau kalah didepan orang lain. Padahal yang sebenarnya aku cukup kalah dan mencoba menutupi itu semua. Selama ini aku cukup mengalah. Kalau begini jalan rumah tanggaku, lebih baik aku pulang kerumah orang tuaku... Huuu huuu." Tangisan kak faedah semangkin kencang dan tersengal-sengal.
"Jangan bicara begitu kak... Nggak baik... Jika masih bisa diperbaiki, maka perbaiki. Coba kakak lihat Wika sekarang, dia merasa terpukul atas kejadian ini. Tenangkan sedikit." Ucapku sambil terus menggenggam tangannya.
Terlihat Wika menangis sesenggukan, tapi tidak satupun air mata keluar dari matanya. Kalau dilihat dari wajahnya dia tampak menahan sakit hati, dan sulit untuk mengeluarkannya. Masih untung Arif tidak melihat kejadian ini.
"Biarlah Yas kakak pulang saja, daripada kakak harus mati gantung diri disini." Kini suara kak faedah terdengar datar.
"Jangan bicara seperti itu kak..." Ku usap air mata yang terus berlinang di pipi tambunnya.
"Kita pulang ya nak? Ayo kita susun baju-bajunya sekarang." Wika yang diajak bicara pun mengangguk menuruti permintaan mamanya.
Langkah kak murni mendekat dan memeluk kak faedah dari belakang, kak faedah menoleh dan membalas pelukan murni. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama. Aku dan Bik Inur terharu melihat moment ini, karena sebelumnya mereka sempat bertengkar, bagaikan singa yang ingin menerkam seekor rusa.
"Jangan pulang kak dah... Kasihan Wika, kakak tahu hari ini aku juga ingin pulang. Rasanya tempat ini bukan untukku. Kalau kakak pulang siapa yang akan mengisi hal-hal konyol yang membuat orang emosi." Kak murni mencoba bersikap biasa, namun kesedihan tidak mampu menutupi semua dari pancaran wajah mereka.
"Kenapa tidak kamu saja yang tinggal disini mur... Kasihan anak-anakmu. Kalau kamu pergi, siapa lagi yang bakal gantiin kamu, yang suka barang gratisan." Kekeh kak faedah sambil menangis.
"Aku minta maaf ya kak faedah, sudah membongkar aibmu, itulah sebabnya kakak menjadi tambah masalah," peluk kak murni kembali.
"Aku juga minta maaf ya murni... Terutama buat kamu Yas, aku sangat minta maaf karena sudah mendzalimi kamu."
"Sudahlah kak... Aku sudah lupakan. Aku berharap kakak masih mau tinggal disini, untuk memperbaiki kekeluargaan kita." Ucapku kembali, agar dia mau memikirkan itu.
"Jika suami sudah main tangan sulit sekali rasanya untuk dilupakan. Bahkan ini sudah yang kedua kalinya bang Bandi berbuat seperti ini."
Aku tidak menyangka jika bang Bandi juga pernah melakukannya sebelum ini.
Tapi aku masih belum bisa yakin kalau kesalahan ini sepenuhnya ada pada bang Bandi.
Karena bang Bandi dan kak faedah sama-sama memiliki sifat keras kepala.
"Ibuk dipanggil bapak, disuruh pulang." Ucap Vicky menghampiri kak murni
__ADS_1
***
Yukk besti kasih masukannya dong... Dikandasin atau di terusin pernikahannya Bandi dan faedah.