IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
22. Fitnah


__ADS_3

Pov: Faedah


Aku merasa punya beban kalau sih monster itu terus-menerus disini. Uda lebay, nyusahin pulakk! Mas Bandi juga sudah tahu ibunya datang, tapi Mala keluyuran tiap hari. Jadi aku yang selalu ngelaadeni dia ngomong, mana si Tyas sok akrab lagi sama mertua lebay itu. Aku harus punya cara agar monster itu cepat pulang, aku kerumah Tyas dulu lah kalau gitu.


"Eh eh eh ada apa ini, kok pada nangis-nangisan" ucappku melihat si monster menangis.


"Ibu rasanya sedih masuk ninggalin kalian" ucap si monster di hadapanku dan Tyas. Aih aku merasa ada yang disembunyikan dari aku. Sok paling sedih, sok paling lemah, duh si Tyas aja yang gak tahu kalau pas lagi marah.


Aku datang bukan diajak bicara, ini mala sok sibuk semua! Tapi biarlah, cepat pulang mala lebih bagus. Sudah gak tahan sama sikapnya yang sukanya mengatur, kayaknya aku harus kasih tahu Tyas biar dia tahu gimana ibuk mertua.


Tapi itu nanti-nanti dulu, aku mau lihat wajah Tyas kalau kena fitnah. Enak aja aku yang bersih Koko mempertahankan hubungan mereka, Mala gak dapat apa-apa. Ini justru melupakan dan lebih sering ke Yani.


Akhirnya ibu mertuaku pulang juga ya allah...


" Hati-hati buk" ucap Tyas melihat ke arahh ibu mertua yang ada dibalik kaca mobil travel itu. Aku juga ikut mengucapkan salam perpisahan dengan wajahku yang sengaja sedih.


"Dek! Ibuk yang mau pergi kok aku yang kasihan sama kamu." Ha kenapa mas Bandi ngomong begitu, apa yang harus dikasihani dari aku.


" Kenapa!!" Aku sengaja menjawab dengan ketus.


"La iya, raine melas eram. Koyo Ra tau di Wei mangan (ya iya, wajahnya memprihatinkan, seperti tidak pernah dikasih makan)" mendengar ucapannya aku mendengus kesal lalu meninggalkannya. Saat aku ingin masuk ke dalam rumah ternyata Tyas dan said terlihat sedang menertawakan aku tapi sok ditahan-tahan.


Aku kecewa dengan mas Bandi, tega sekali dia mempermalukan aku didepan adik dan istrinya. Apa aktingku gak bagus ya, sampai-sampai dia bisa bicara seperti itu.

__ADS_1


Kubiarkan mereka tertawa dulu karena nanti akan kubuat permainan baru. Aku masuk lalu keluar kembali sambil menenteng keripik ke arah rumah murni. Kulihat Tyas dan said sudah tidak ada di luar rumah, terus saja aku melangkahkan kaki sambil mengunyah dan menenteng keripik. Niatku main kerumah murni gak sia-sia, ternyata dia sedang tidak sibuk dan mengajakku duduk dibawah pohon mangganya.


"Kak dah, kalau lagi ngunyah begitu jangan jalan-jalan uda kayak monyet yang sering datang ngabisin buah-buahan aja" celetuk murni mengejekku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan sifat murni yang blak-blakan kalau bicara. Tapi aku suka ngajak cerita dia, karena gampang banget nyebar gosip. Jadi harus dibaik-baikin. Tapi sayangnya kalau cerita selalu pas, gak pernah ditambahin dan gak pernah dikurangin. Padahal Akku berharapnya dia bisa nambahin atau ngurangin jadi bisa lebih seru. Tapi ya sudahlah dengan cara dia nyebar berita sajaa aku uda. Cukup puas.


"Aih kamu ini ngejek aja. Aku lagi suntuk ni!! Uda lama gak bisa keluar rumah." Ucapku mengganti topik.


"Hahahaha palingan juga karena takut sama mertua." Ternyata otak si murni pinter juga main tebak-tebakan.


"Ah kau ini. Tau aja, aku mana bisa ngurung di rumah terus menerus.! Emangnya aku si tyas" aku mulai sengaja memancing pembicaraan.


Dan akhirnya umpanku sudah mulai terlihatakan ditelan sama si murni, aku masih diam, dia juga masih diam, cuma bedanya dia sedikit terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Ya iyalah kak. Dia mah istri Sholehah, gak berani keluar kalau gak ijin suami" oh astaga si murni mala memuji Tyas, aku pikir dia bakal tanya apa gitu. Aku memutar bola mataku dan sedikit memonyongkan bibirku.


"Ya karena aku gak suka sama orang MUNAFIK!!!" Sengaja aku berkata agak keras agar murni kembali memakan umpan yang tadi dimuntahkan.


"Maksud kakak Tyas munafik gitu? Yang buat kakak bisa ngomong begitu apaan sih kak?"  Dengan sedikit pelan dia bertanya. Yes!! Ternyata dia makan muntahannya tadi, soal kompor faedah juaranya. BS


Saat aku ingin bicara, terlihat Lina emak Rio dan Yuni datang, karena memang di kampung ini sudah biasa orang ikutan kumpul kalau ada yang laagi ngumpul. Hanya beda saja sama Tyas yang sulit sekali di ajak ngegosip. Aku sengaja menunda bicaraku,  menunggu mereka sampai dulu. Setelah beberapa menit mereka ikut gabung, barulah aku mulai bicara.


"Wah pada ngumpul ini.." ucap emak Rio.


"Iya,oh ya sampai mana tadi mur.." ucapku sengaja pura-pura lupa.

__ADS_1


"Ya kalau lupa gak usah dilanjutin kak dah..." Ih si murni ini kelihatan banget kalau dia gak mau kalau Tyas diceritain.


"Uda ingat kok, mau tahu kenapa aku bilang munafik, karena dia itu HAMIL di LUAR NIKAH tapi kelakuannya itu Lo sok suci." Ucapku dengan nada sedikit keras.


"Astaghfirullah haladzim...!!!!" Ucap mereka semua.


"Ah kakak ini ngarang cerita aja.!" Sanggah murni cepat, ya emang sih murni sekarang dekat dengan Tyas. Jadi dia mencoba nutupin. Tapi tidak halnya emak Rio dan yuni.


"Siapa yang kamu bilang itu dah? Aku ngeri dengarnya?" Tanya emak rio lalu di anggukkan oleh Yuni yang juga penasaran sama halnya dengan emak Rio.


"Ya itu si Tyas lah, nikah bulan 7 kok uda lahiran." Racunku pada mereka.


"Bukannya memang belum waktunya ya dah! Karena bocor ketuban mangkanya ditindaklanjuti kan sama dokter, masih Alhamdulillah loh Allah masih kasih kesehatan keduanya. Kak edah ini kok mala ngomong begitu." Dasar si murni pinter juga dia jawab kata-kataku.


Mendengar ucapan murni mereka seperti tidak percaya ucapanku. Aih mana mungkin aku harus naanggung malu, karena kalah ucap. Aku harus buat mereka lebih yakkin lagi.


"Eh murni, kamu tahu apa sih? Aku Lo yang berusaha nutupin semuanya, tapi mangkin kesini aku gak suka sama sikap dia. Dulu waktu pacaran ada yang ngaduin ke aku, sebenarnya aku malu waktu ada yang ngaduh begitu, mangkanya cepat-cepat dilamar aja. Uda gitu jarak lamaran sama nikahnya juga gak lama kan, ya karena itu si Tyas hamil. Padahal mertuaku uangnya gak cukup jadi kami yang ngeluarin banyak duit buat mereka yang gak tahu terimakasih itu." Aku sudah mulai menguasai situasi sekarang. Murni tampak diam saja mencerna ucapanku, sementara Yuni dan emak Rio tidak menyangka sama sekali dengan Tyas.


Tidak lama tampak Tyas sedang membuang sampah di depan rumah, sontak dia melihat kearah kami yang sedang berkumpul dengan senyum sok manisnya itu. Siapa sangka emak Rio dan Yuni memandang sinis ke arahnya. Hanya murni saja yang masih terlihat tersenyum ke arahnya. Tapi tidak apalah setidaknya aku berhasil mengelabui Emak-emak yang suka gosip ini.


"Sudahlah saya mau siapin makan siang buat paksu ku. Aku takut larut ceritain orang juga, apalagi kalau saudara sendiri, aku takut khilaf." Murni ini, kok jadi dia yang baper sih. Mana si emak Rio sama Yuni sudah terlihat ingin berdiri dan meninggalkan tempatnya duduk.


Belum selesai aku cerita, mala sudah pada pergi saja....

__ADS_1


__ADS_2