
Pov: Bandi
Sudah 1 harian aku tidur didekat kandang sapi, biar gak ketahuan sama debt collector yang terus nagih hutang. Untung istriku punya ide agar aku sembunyi disini dan minta said untuk ngeabantu, tapi semenjak siang sampai ke sore begini, istriku belum juga muncul memberikan kabar. Nomornya juga tidak bisa dihubungi, kepalaku rasanya mau pecah cium kotoran-kotoran ini. Harusnya said maasih mau bekerja denganku, jadi aku gak perlu repot membersihkan kandang dan mengamankan sapi-sapi ini. Setidaknya lumayan, adikku said bisa ditipu-tipu, kerja 3 hari tapi aku gajih 2 hari. Tapi kini semenjak menikah dengan wanita yang dibanggakan istriku dulu, adikku jadi berubah lebih pintar.
Saat aku termenung memikirkan masalah yang belakangan sering terjadi, tiba-tiba perutku terasa mulas. Aku berpikir ini pasti karena kebanyakan makan pakai rendang jengkol. Aku memang sering tidak dapat menahan mulas,kalau sudah makan dengan sayur jengkol, mau sedikit mau banyak tetap saja ritual bolak balik kamar mandi tidak bisa dihindari. Mana terasa pedas sekali di area bokongku kalau sudah ritual ini terjadi.
Ku keluarkan kepalaku, lalu kulihat kanan dan kiri, tidak ada siapa-siapa, aku lari terbirit-birit kearah kamar kecil yang ada dibelakang rumah yang dindingnya masih menyatu dengan dinding rumah.
Rasanya sangat amat lega, bisa mengeluarkan racun-racun yang tidak bisa diajak kerjasama ini. Kupakai kembali celana jeans pendekku, lalu bersiap ingin keluar, namun sayangnya tiba-tiba Arif ingin masuk ke kamar kecil ini juga.
Ingin kubuka, tapi anak-anak tahunya aku tidak pulang selama 1 harian, aku dan istriku memang sudah merencanakan ini, agar nanti kalau si Tyas dan said bertanya dengan anak-anak bisa lebih real ceritanya. Setelah kupikir panjang akhirnya kuputuskan untuk membuka pintu.
"Siapa didalam cepat keluar, eekku Uda di ujung!!!" Teriak Arif kepadaku yang ada didalam ruangan kecil ini.
Saat ingin kubuka pintu, kudengar suara Tyas menghampiri anakku Arif.
"Adek? Kenapa kok teriak-teriak." Tyas bertanya kepada Arif, lalu ku intip mereka dari lubang kecil bekas gagang pintu, karena pintuny juga memang sedang rusak sehingga menimbulkan cela.
"Coba biar ibu periksa, kalau sudah gak tahan ke kamar kecil ibuk aja biar keburu" bujuk Tyas dengan anakku.
Kulihat dari lubang itu Arif mengangguk, sementara tyas tiba-tiba saja matanya melihat ke arah lubang kunci yang bolong ini. Aku terkejut sampai menjatuhkan handphone kelantai kamar kecil ini.
Aku mencoba diam tidak menimbulkan suara sama sekali, lalu dari arah luar Tyas mencoba mendorong-dorong pintu yang sudah aku kunci dari dalam.
"Aneh gimana bisa pintu kamar mandi, terkunci sendiri." Aku mendengar dia bergumam dibalik pintu ini. "Coba aku lihat dari sini," sambungnya lagi.
__ADS_1
Aku tercekat mendengar perkataan itu, mataku langsung beralih ke lubang yang tadi aku gunakan, dengan cepat aku menggeser posisi badanku ke samping pintu tersebut. Sehingga kalau dilihat dari luar tidakk bisa menemukan aku. Kuatur nafasku agar tidak kedengaran dari luar, sampai-sampai aku menahan perut buncitku agar tidak leluasa menyembulkan gundukan saat sedang bernafas.
"Tidak ada orang" mata liar Tyas menyapu semua yang bisa di lihatnya di ruangan ini. Lalu dia kembali mendobrak-dobrak pintu. Tapi tetap saja tenaganya tidak akan mampu.
"Ibuk? Belum bisa juga ya pintunya." Kudengar suara Arif menyadarkan Tyas. Lalu kudengar lagi siara langkah kaki Tyas mulai menjauhi ruangan ini. Aku bernafas lega dan seketika aku keluarkan nafas besarku sambil mengembangkan kembali perutku, namun.
Duuuttttttt.....
Astaga perutku benar-benar tidak bisa diajak kerjasama, bisa-bisanya aku buang angin disaat posisi begini.
"Siapa didalam!!" Teriak Tyas kembali berjalan kearah ruangan ini. "Siapa hei!!, Jangan sampai aku masukin ular kedalam kamar kecil ini ya!!" Aku tidak menyangka ternyata adik iparku ini cukup berani dalam segala hal. Aku merinding seketika saat dia bilang ular, bagaimana tidak, mengingat dia pernah menarik kobra yang sempat ingin menggigit adikku said, lalu membaca kalimat berbahasa Arab dan ular tersebut pergi begitu saja"
Sejenak aku berpikir, lalu aku mendapatkan ide cemerlang.
(Ah kamu memang pinter Bandi) ucapku dalam hati.
Seketika aku mendengar suara Tyas tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kucing dek, aneh ya kucingnya marah ketika dibentak-bentak. Sekarang mala diam, kalau begitu, kamu masuk aja gih, ibuk juga mau suapin dek khumay makan, masalah kucing besar ini biar om said aja yang tangani. Biar saja dia didalam dulu". Tyas membujuk anakku.
"Kucing besar itu bagaimana buk?" Tanya Arif kepada istri adikku.
"Hahhaa kucing besar itu seperti yang ada didalam kamar kecil kamu. Kalau gak besar dia gak mungkin bisa marah seperti itu dek? Hanya kucing besar yang bisa melakukan itu."
Deg..
__ADS_1
Aku merasa tersindir secara halus dengan ucapan Tyas, atau jangan-jangan dia sudah menerka kalau ini aku.
"Coba kamu perhatiin deh, kucing kecil kalau bertengkar Suaranya tidakk sesangar yang ada didalam situ, itu pasti kucing yang sudah besar" Tyas kembali menjelaskan kepadaku. Alhamdulillah ternyata pemikiran dia logika, dan dia percaya dengan tipu muslihatku.
5 menit aku menunggu mereka benar-benar pergi dari tempatnya. Barulah aku muncul keluar dan ingin kembali ke kandang sapi. Aku tergesa-gesa dan sedikit berlari, membuat perutku yang buncit dan menggelambir itu melambai-lambai. Karena tubuhku yang sedikit gempal membuat aku tidak tahan dan ngos-ngosan. Kini leherku terasa sangat kering sekali.
Aku sudah tidak tahan jadi kuputuskan untuk masuk rumah lewat pintu belakang. Kulihat rumah Tyas juga terlihat sangat sepi. Aku berjalan dan mengendap-endap. Sesampainya di pintu belakang, saat aku sudah memegang gagang pintu tiba-tiba..
"Loh bang Bandi kapan pulang." Suara Tyas di belakangku mengagetkan, kutoleh kebelakang dan kini aku melihat dia berdiri dengan memegang sebilah parang yang bagian tajamnya dihadappkan aku.
Aku merinding menatap wajah dia yang terlihat datar, ditambah lagi cara dia memegang parang tersebut, seperti ingin melayangngkan nyawa seseorang.
"Eh ehm i-iya Yas, ehmm kamu kok bawakin parang buat apa! Sembarangan banget pegangnya. Ini itu sudah sore, sudah hampir mau Maghrib, kalau ada setan lewat bagaimana" cercaku dengan suara yang lemah. Mengingat dia anak yang nekat, aku jadi takut dengannya.
"Hahaahhahahaha.. bang Bandi ada-ada saja. Kalaupun ada setan lewat pasti bang Bandi ni yang jadi target utama." Aku bergidik ngeri melihat tingkahnya yang aneh, tadi saja dia pasang wajah datar, lalu secepat kilat wajahnya berubah, seram dan menakutkan.
Aku meninggalkannya dan beranjak cepat mengambil air minum dan menenggaknya secara cepat.
"Bang Bandi. Kak faedah sama mas said belum pulang ya!" Aku terkejut melihat dia yang tiba-tiba nongol dibalik pintu sambil menenteng buah nangka sayur, namun yang membuat aku sangat cemas, cara dia memegang buah nangka sayur, dimana dibagian buahnya dia pegang,. Lalu bagian tangkainya ada dibawa dan mengalir sebuah getah-getah yang sudah turun kebawah. Sekilas aku membayangkan Tyas sedang membawa sebuah kepala yang dipenggal.
"Emang kemana? aku gakk tau!" Ucapku cepat membalas ucapannya.
Dengan secepat kilat parang yang ia pegang dilayangkan keatas, namun berhenti di atas pundaknya dengan posisi bagian tajam menghadap ke atas. Kini posisinya seperti memanggul parang di bahu bagian kanan dan menenteng buah nangka sayur di tangan kiri. Lalu dia berjalan pulang kerumahnya.
Aku masuk kedalam ruang tamu, lalu memposisikan tubuhku tidur disofa, sembari berharap said dan faedah mampu menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum..."