
"Flashback kejadian Wika dirumah Tyas dan said.
Pov: Tyas
"Astaghfirullah haladzim Wika....,"
Aku terkejut melihat Wika sudah berada didalam rumahku, tanpa mengucap salam anak itu sudah nekat memasuki rumah kami.
"Kenapa kamu datang nggak ngucap salam, ini Mala duduk disitu, kenapa gak panggil ibu atau oom dulu sih. Kamu tahu nggak, kalau sampai kamu melakukan itu dirumah orang, tolong Wika jangan lakukan itu lagi." Ucapku kepadanya agar dia lebih mengerti sopan santun, dan adab masuk rumah seseorang.
"Kalau Wika bersuara, ntar papa sama Mama tahu dong kalau Wika disini buk?. Lagian kalau tadi Wika panggil ibu sama oom, jelas pekerjaan ibu sama oom yang tadi lagi begini gakk selesai dong." Wika berbicara sambil tangannya menunjukkan kode dengan jari-jarinya yang sengaja ditautkan, membentuk sesuatu yang seharusnya belum dia ketahui.
Ya Allah apa itu berarti dia tahu kalau aku sedang melakukan malam wajib bersama mas said. Malu sekali rasanya aku didepan anak SMP ini.
"Ya Sudah kamu disini dulu, ibu mau mandi. Kalau tidak kamu temenin dek khumay dikamar, dia masih tidur, tapi jangan diganggu." Aku bergegas pergi meninggalkannya menuju kamar mandi yang sudah ada mas said didalamnya.
Oh ya Allah, mengapa bisa sih kami teledor dengan membiarkan pintu utama terbuka. Terus saat mas said pergi kekamar mandi apa dia tidak memperhatikan ada orang yang sedang duduk dikursi ruang tamu.
"Loh Bun? Kok gak jagain dek khumay dulu. Ayah belum selesai" ucap suamiku setelah aku dikamar mandi.
Tanpa banyak bicara langsung aku ceritakan semua tentang Wika yang datang kerumah. Tentu mas said malu mendengar apa yang aku bicarakan.
"Kalau begitu, ayah disini aja ya Bun, ntar ambilin baju ganti saja. Malu ayah dilihat keponakan sendiri. Bunda ma masih mending, kelihatan juga tapi yang lihat kan Wika, anak perempuan." Ucap suamiku terlihat wajahnya sudah merona, karena malu akan kejadian yang baru aku ceritakan.
"Ayah, ini bukan masalah yang lihat. Mirisnya dia keponakan kamu dan masih dibawah umur. Dari cara dia berbicara dan ekspresi wajah, dia seperti sudah terbiasa melihat hal seperti ini." Ucapku kepada mas said.
Lalu dengan cepat kuselesaikan mandi besarku. Akibat perbuatan mas said, Malam ini dengan jam yang masih menunjukkan angka di pukul delapan aku sudah harus mandi dua kali.
Suamiku masih menunggu aku yang sedang menyelesaikan mandiku. Dia tidak ingin berganti baju didalam kamar, jadi dia memutuskan ganti dikamar mandi, baru setelah itu dia, menyusulku untuk berbicara dengan Wika.
Kulilitkan handuk ditubuhku, lalu kakiku keluar dari pintu kamar mandi.
"Astaghfirullah haladzim Wika!!" Ucapku kembali terkejut melihat Wika yang juga sama terkejutnya denganku.
"Kenapa kamu sudah ada disini!" Bentakku yang sudah tidak tahan dengan sikapnya. Tapi biarpun begitu dia tidak takut dan masih dengan wajah polosnya.
"Wika kembali ke ruangan depan, oom masih mau mandi." Teriak mas said dari dalam kamar mandi.
"Kok belum selesai oom, jangan-jangan trip kedua ya oom, hihihi. Tadi niatnya Wika mau ngintip, tapi gak kelihatan". Ya Allah anak ini menganggap itu adalah hal wajar.
Dengan cepat aku berjalan masuk kamar, aku tidak mau menjawab apapun yang dia ucapkan. Aku akan bicarakan suatu saat ini dengan kak faedah.
Selesai aku berpakaian, lalu ku antar baju salinan untuk mas said yang sedang menunggu dikamar mandi. Dia juga bergegas memakainya, agar tidak lagi ketahuan keponakannya.
Aku masih menunggu dia selesai, untuk berjaga-jaga, siapa tahu Wika akan datang kembali.
__ADS_1
Selesainya mas said, langsung kami menuju ke ruang utama yang sudah ada Wika duduk dikursi pendek. Sebenarnya itu kursi khusus buat khumay saat akan diberi makan. Untungnya kursi itu terbuat dari kayu, dan mas said sendiri yang membuatnya. Kalau kursi beli di toko yang terbuat dari bahan plastik, bisa-bisa sudah patah saat diduduki Wika yang badannya sedikit lebih besar seperti anak SMA itu.
Kami duduk didepannya, namun dia masih sibuk dengan ponselnya.
"Wika, duduk dibawah. Oom sama ibu mau bicara sama kamu." Mas said mencoba berbicara sedikit pelan kepada Wika, agar dia mau lebih terbuka.
Akhirnya dia turun dari kursi, dan duduk dkarpet bersama kami.
"Wika, apakah selama ini kamu sudah sering melihat, seperti....,"
Mas said menggantung ucapannya, kulihat wajahnya terlihat malu ingin bicara.
"Seperti hal yang barusan kamu lihat antara ibu dan oom tadi" sambungku dengan kalimat tegas.
Dia mengangguk__
"Aku sudah sering lihat, Bu? Lihat mama, papa. Waktu aku tanya mama sama papa, mereka bilang gak apa karena aku sudah remaja, tapi lain kali aku tidak diperbolehkan untuk melihat mereka lagi." Miris sekali aku melihat teknik didik kak faedah dan bang Bandi.
Boleh mengajarkan anak tentang ilmu beologis, tapi bukan berarti membiarkan anak sampai melihat kejadian di usia remaja.
"Lalu kamu mengulanginya dan melihat kejadian seperti tadi, Wika....," Sengaja kembali aku memberikan kalimat untuk memancing dia berbicara. Aku yakin anak ini pasti sudah jauh dari perkiraan ibunya.
"Dari kejadian mama, papa. Wika jadi penasaran Bu, ya udah jadi sering intipin mama, papa. Terus Wika cerita ketemuan, mereka juga sudah terbiasa. Jadi kami sering lihat film-film yang begituan."
Degh....
"Apa kamu tahu itu salah Wika!! Atau jangan-jangan kamu sudah menyerahkan kehormatan kamu kepada laki-laki. Iya!!!" Bentak mas said kepada Wika, Wika terlihat ketakutan melihat ekspresi mas said, dia beringsut duduk didekat ku dan memeluk lenganku dari arah samping.
"Jawab!!" Bentak mas said sekali lagi.
"Ti-tidak oom, Wika tidak pernah lakuin itu. Wika cuma main *****-grepean aja sama teman cowok yang juga sekelas Wika." Kembali aku dan mas said saling pandang, tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Wika.
"Maksud kamu main *****-grepean itu apa! Bicara yang jelas" kai ini aku yang menekannya.
Akhirnya dia menjelaskan semua tentang apa yang baru saja ia katakan.
Maaf jika tidak terlalu ditail penjelasannya, karena takut membuat pembaca tidak nyaman dengan konten dewasa+.
"Astaghfirullah haladzim Wika..., Tolong jangan lakukan lagi hal seperti itu. Kamu bisa terjebak Wika? Kamu anak perempuan harus menjaga semua yang ada di tubuhmu untuk masa depanmu." Tanpa sadar aku sudah menjatuhkan air mata dipipiku. Menyesal tidak mengenalkan ilmu biologis yang lebih mudah dimengerti olehnya.
Walaupun aku hanya istri dari oomnya tetap saja, aku tidak sanggup melihat anak dibawah umur sudah melakukan sentuhan terhadap lawan jenisnya. Walaupun tidak terjadi hal yang merusak bagian inti, tapi tetap apa yang dilakukannya sudah merusak semua yang ada ditubuh, otak, mental serta imannya.
"Sudah lah buk? Maafin Wika? Tujuan Wika datang bukan untuk membahas ini?" Dia memelukku erat, sangat erat. Terlihat dari matanya yang merasa bersalah.
"Apa tujuanmu, apa ingin mengerjakan PR sekolah" ucap mas said yang sudah melirik tas yang ia letakkan disudut ruangan.
__ADS_1
Dia menggeleng dan menangis atas pertanyaan yang diberikan mas said.
Lalu dia kembali menceritakan kejadian yang menimpanya di rumah, secara ditail tanpa ada yang terlewat. Dari mulai mama, papanya yang bertengkar sebelum mereka berangkat mengaji kerumahku. Sampai sepulangnya mereka dari mengaji.
"Wika? Kamu salah kalau harus mengambil hak adikmu? Itu bukan milik kamu. Coba kamu pikir, jika tabunganmu yang susah payah kamu kumpulkan, hilang atau di ambil oleh Arif adikmu. Apa kamu tidak marah.?" Dia menunduk mendengarkan ucapanku.
"Lagian nak? Wika itu sudah remaja? Sudah ingin memasuki usia dewasa, anak-anak bukan sifat yang harus kamu miliki. Kondisi mama papamu sedang sangat terpuruk? Kamu juga kan sudah lihat sendiri, bagaimana mama papa yang terus dicari sang penagih. Tolong jangan tambahkan beban mereka Wika? Kamu sebagai anak tertua harus bisa menjadi contoh buat adikmu, harus bisa saing menguatkan, agar dapat menjadi semangat kedua orangtuanya." Aku sengaja memberikan kelembutan untuknya. Karena selama ia berada didekat ku, Wika termasuk anak yang sulit diajak bicara keras.
Kini dia sudah menangis mendengarkan ocehan ku, besannya gemetar. Tangannya terus memelukku.
Mas said yang melihat juga memberikan tatapan yang berkaca-kaca.
"Sekarang kamu pulang ya? Oom dan ibu yang akan mengantarmu? Jangan lupa pulangkan hak adikmu." Dia mengangguk.
"Tapi Wika takut buk....," Suaranya terdengar bergetar. Dan memperlihatkan wajah cemas.
"Oom dan ibu akan bicara dengan orangtuamu...."
Akhirnya dia menyetujui, namun setelah kami sampai dirumah bang Bandi dan kak faedah, mereka sudah tidak terlihat berada dirumah.
Cukup lama kami menunggu, bahkan aku harus sesekali balik kerumah untuk melihat keadaan khumay. Sampai hampir tengah malam, barulah suara motor milik bang Bandi tiba dihalaman rumahnya.
"Apa yang kau lakukan, ha!!! Apa mencuri kau dapatkan dari sekolahmu! Apa selama ini kamu kekurangan sehingga mencuri menjadi prioritas utamamu." Bang Bandi terlihat sangat marah ketika melihat anaknya. Pantas saja anak tidak bisa bersikap baik. Ternyata orang tuanya temperamen.
"Oohh..., Atau selama ini kamu mengaji, mendapatkan ilmu mencuri. Iya Wika!!." Ya Allah mulut kak faedah dan bang Bandi benar-benar tidak beretika. Bagaimana bisa mencuri ada di ilmu pendidikan dan ilmu agama.
"Apa maksud kak faedah." Kini suamiku semangkin terlihat marah dengan caranya berkata.
"Mengapa kamu yang tersinggung" kembali kak faedah merasa tidak salah dengan ucapannya.
Aku hanya diam tanpa menjawab apapun. Kubiarkan dia ingin bicara apa, biar dia puas dulu dengan ucapannya.
"Bisa jadi, karena selama ini Wika kan lebih sering berada di rumahmu bersama tyas." Tidak tahu malu sekali dia bicara seperti itu. Akhirnya tanpa sadar dia mengakui, kalau selama ini dia tidak pernah baik mendidik anaknya.
"He, dia datang menanyakan semua tentang pelajaran, bukan tentang ilmu mencuri. Lagian apa kakak tidak malu? Mengungkapkan ini semua di depan bang bandi.Terlihat sekali kalau kakak lepas tangan tentang kewajiban seorang ibu." Aku tidak menyangka mas said bisa membelaku dihadapan Abang dan kakak iparnya.
Tadinya aku pikir dia seperti sinetron ikan terbang, yang selalu diam membiarkan istrinya yang selalu disalahkan. Aku melirik kak faedah yang wajahnya sudah berubah, akibat ucapan mas said.
"Sudahlah yah? Aku pernah mendengar pepatah, buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Memakan hak seseorang, itu juga disebut dengan mencuri kan? Aku juga pernah melihat seorang ibu yang mengambil buah dari halaman milik adiknya. Apa ayah tahu, ternyata anak ibu itu juga mengambil milik adiknya" sengaja aku menyindir mereka secara halus.
Aku yakin bang Bandi merasa tersindir, karena hak mas said yang tak kunjung diberikan, apalagi kak faedah, pernah tidak sengaja aku melihatnya sedang mengambil uang Sukma adiknya, yang berada didompet.
"Baiklah Wika, ibu dan oom pulang dulu, ingat pesan yang tadi ya? Tolong jangan buat yang seperti itu lagi. Kamu lihat sekarang kan, mamamu menyalahkan ibu atas kesalahanmu. Kalau kamu melakukannya lagi? Ibu tidak akan mau membantumu lagi dalam segala hal." Kulontarkan ucappanku kepada Wika agar dia juga bisa menyadari kesalahannya.
Aku dan mas said berjalan pulang kerumah, namun tiba-tiba mas said menghentikan langkahnya dan berbalik melihat mereka.
__ADS_1
"Bang, tolong scepatnya urus perihal masalah tadi siang. Kalau tidak aku akan menuntut semua hakku." Mas said kini sudah berani berucap tegas dihadapan abangnya. Menurutku wajar saja, karena selama ini dia sudah cukup diperlakukan semena-mena.