IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
26. Kok Jadi Begini


__ADS_3

Pov: Faedah


Aku melihat murni berjalan menuju rumahku, aku tidak habis pikir. Dia selalu saja datang diwaktu yang tidak tepat setiap kali aku ada masalah.


"Loh kok ada orang BANK sih, wah ada yang lagi cairan ni, ya kan Yas?" Kenapa dia harus bertanya kepada Tyas. Aku takut Tyas membongkar masalahku ini, bisa-bisa aku malu, murni juga kan suka gosip dia.


"Ih kak murni kepo, ini itu bukan cairan, tapi...." ya Allah apa yang dilakukan Tyas, apa dia ingin memperburuk namaku. Aku segera menatap dengan tatapan memohon agar dia mau menutupi semuanya.


"Tapi apa!" Dasar makhluk kepo ni si murni,  matilah aku kalau sampai dia tahu semuanya.


Kulihat Tyas melirikku sembari tersenyum, aku tahu pasti dia ingin mengejekku dengan lirikan dan senyum busuknya itu. Aku segera pura-pura memasang wajah melaasku, biarlah untuk saat ini aku memohon padanya. Aku tidak ingin derajatku turun gara-gara masalah ini.


"Tapi cuma melakukan survei dulu, jadi belum ada traktiran dari kak faedah saat ini." Tyas berucap sambil melirikku terus-menerus.


Biarlahh, setidaknya aku lega karena Tyas tidak membongkar semuanya.


"Kak faedah!! Buruan Ayuk, apa dengan berdiam diri disitu, bisa buat emas kakak ini berubah dengan lembaran uang kertas" aku terkejut dengan yang diucapkan said. Saat aku mencegah istrinya agar tidak berbicara lebih, sekarang mala said membuatku malu dihadapan tetangga super kepoku.


Kulihat murni menatapku, dengan tatapan tanda tanya. Tapi beruntung, sebelum dia banyak mengajukan berbagai pertanyaan, si Tyas sudah lebih dulu menarik tangannya masuk kedalam rumah milik Tyas.


Akupun pergi bersama said adik iparku, di atas motor dia tidak bicara sama sekali, terlihat raut wajah kekecewaan di sana. Ya mau bagaimana lagi,  waktu itu bisnis mas Bandi lagi benar-benar terpuruk. Mas Bandi selalu menginginkan emas-emas ku untuk menutupi hutang piutangnya dengan berjanji akan mengembalikannya lagi. Tapi aku tidak bisa terima, dan tidak mengijinkannya menghabiskan emas-emasku. Karena, aku tidak yakin dapat mengembalikannya, uang sapi said, yang sebagai adik kandungnya saja, dia belum membayar Sama sekalli. Bahkan mas Bandi sanggup berkilah bahwa dia sudah tidak punya. Lagi sangkutan dengan adiknya.


Tapi said tidak pernah sedikitpun marah, dan membalas perbuatan kami, hanya raut wajah kecewa yang ia berikan. Sebab itu, niatku ingin memanfaatkannya agar dia mau membantu masalah ini, tapi dia justru menekanku dan mengambil apa saja yang bisa melunasi hutang mas Bandi. Dan kini emas-emas yang selalu aku banggakan tidak ada lagi, entah bagaimana lagi caraku bergaya didepan orang-orang, mas  Bandi juga lepas tangan dari masalah yang dia buat.


Kalau tahu begini, lebih baik aku serahkan saja kemarin emasku kepada mas Bandi, maka surat rumah aman, dan kalaupun kebun said tersita, kami bisa jual surat rumah, dan jauh meninggalkan kampung ini. Bodoh sekali aku tidak pikirkan ini sebelumnya.


Dengan perjalanan 30 menit kami sudah sampai di tokoh emas tempat langganan ku. Said turun dan langsung masuk ke dalam toko tersebut. Sementara debt collector menunggu kami di kantor.


"Siang pak? Ada yang bisa dibantu" terdengar suara penjaga toko yang biasa mengenalku.


Aku masuk dan berdiri disamping said.


"Loh kak, mau cari yang baru ya? Ini ada barang baru Lo?" Goda penjaga toko, agar aku mau membeli barang yang ia tawarkan. Aku hanya tersenyum menimpali ucapan wanita muda itu.

__ADS_1


"Mbak berapa harga emas sekarang." Said sudah mulai bertanya kepada wanita muda itu, masih dengan wajah yang tidak ramah. Mungkin dia masih marah denganku dan mas Bandi, sampai tidak terlihat wajah ramah yang biasa ku lihat.


"Kalau sekarang Rp.850.000 per gramnya pak, tapi kalau jual harganya beda lagi pak?" Wanita itu menjelaskan sangat ditail.


"Dengan harga segitu, harga naik atau turun saat ini mbak." Wow aku pikir said tepikal orang yang tidak mau tahu, dan tidak pandai dalam bidang jual beli. Karena sebelumnya, saat dia disuruh mas Bandi menggantikan akses jual beli sapi, selalu tidak dapat menambah harga dari harga yang ditentukan, dengan alasan kasihan.


"Baiklah coba lihat emas-emas yang kubawa ini, berapa semua jumlahnya." Ucap said mengeluarkan semua emas-emasku. Wanita itu kaget dan langsung menatap wajahku, sepertinya dia masih mengenalinya.


Wanita itu masih belum menyentuh, dan hanya memandang saja. Akhirnya wanita itu pait kebelakang untuk memanggil Bos pemilik perhiasan tersebut.


Kami menunggu bosnya dan wanita itu keluar, sekitar 10 menitan kami menunggu, akhirnya mereka datang.  Lelaki berdarah Tionghoa itu duduk dikursi balik meja perhiasan.


"Apa ini perhiasan ibuk?" Tanya sang pemilik toko. Aku hanya menganggukkan kepala dengan tmraut wajah sedih.


"Baik lah saya akan hitung, ngomong-ngomong bapak ini siapanya ibuk ini ya? Terlihat lebih muda." Tanya pria tersebut sambil menimbang satu persatu emas-emasku.


"Saya adik iparnya." Jawab said datar.


Cukup lama kami menunggu hasil yang akan diberikan oleh pemilik perhiasan tersebut, seperti di ulur, dan di berikan pertanyaan konyol.


"Dia orangnya pak!" Jawab pemilik perhiasan sambil tangannya menunjuk ke arah said.


Said hanya diam saja, saat polisi itu menangkapnya. Lalu dia menatap tajam ke arah pemilik toko dan wanita yang selalu melayani pembeli tersebut.


"Ayo pak ikut kami ke kantor polisi.!" Ucap salah satu pria berseragam tersebut.


"Baaiklash pak, sekalian saya juga ingin tahu sanksi apa yang akan diberikan atas kasus tindak penipuan. Berhubung saya juga bawa semua surat yang kuat, tapi sebelumnya bolehka say berbicara kepada. Pemilik toko pak."  Aku bingung, disatu sisi aku senang kalau adik iparku dituduh merampok, tapi disatu sisi, dengan surat yang dibawa pasti dia mau ngelaporin mas Bandi, dan itu pasti bawa-bawa aku juga.


"Silahkan pak 5 menit." Ucap salah satu polisi dengan tegas.


Said berjalan kembali mendekati meja yang terhalang dengan kaca tersebut.


"Maaf pak sebelumnya, tadi saya sudah katakan kalau saya adik iparnya. Niat kami menjual perhiasan itu karena Abang saya, lebih tepatnya suami dia (said melirik ke arahku) memiliki hutang besar di BANK yang tidak jauh dari sini, dan yang digadaikan mereka adalah tanah saya. Jadi saya bisa tuntut balik anda atas kasus pencemaran nama baik saya. Saya bisa saja meminta konvensasi atas kasus ini." Pria berdarah Tionghoa itu langsung menatapku dengan tatapan menyelidik. Aku berusaha cuek saja, toh dengan ucapan said barusan, uang dari hasil konvensasi itu pasti akan dibayarkan hutangnya mas Bandi.

__ADS_1


Said berbalik mengikuti langkah sang aparat negara. Bahkan sangat santai sekali dia berjalan tanpa beban sedikitpun.


"Tunggu pak!" Pria pemilik toko memberhentikan langkah said dan aparat negara.


"Jangan main-main pak? Kami disini menjalankan tugas, jangan merasa takut dan terancam, kami akan mengurus ini" jawab salah satu polisi tersebut.


"Sebenarnya saya yang salah paham pak, ibu ini lebih tahu pak, tapi dia tidak menjelaskan apapun." Loh enak saja dia mau meminta penjelasan dari saya.


"Maaf pak! Dia tadi sudah tanya tentang adik ipar saya, dan adik ipar saya menjawab dengan jujur, saya juga tidak tahu atas laporan bapak ini, kami hanya ingin menjual emas." Aku menjawab dengan santai, mudah-mudahan dengan membela said, aku kebagian biaya konvensasi yang di ajukan said. Jadi dengan begitu emasku tidak terjual.


"Kalau begitu, mari kita jelaskan semuanya dikantor. Bapak tidak bisa memutuskan semau bapak disini." Ucap polisi tersebut merasa kesal.


Akhirnya kami dibawa ke kantor polisi, begitu juga dengan wanita karyawan yang ada di toko mas tersebut.


Sesampainya kami langsung di persilahkan duduk. Lalu datanglah salah satu polisi yang akan mengintrogasi said terlebih dahulu.


Said menjelaskan semua kejadian dirumah saat debt collector datang, dan kejadian sampai ke toko mas. Setelah itu giliran aku dan sang pemilik toko.


"Apa alasan bapak curiga dan melaporkan bapak ini" tanya polisi tersebut.


"Saya diberitahukan oleh karyawan saya, bahwa pelanggan saya datang dengan seorang pria untuk menjual semua mas yang dibeli ditoko saya, dan karyawan saya bilang bahwa laki-laki itu bukan suami dari pelanggan saya. Karyawan dan saya melihat raut wajah gelisah di wajah ibuk ini( dia menunjukku) jadi kami putuskan untuk melapor.


"Kalau ibuk. Mengapa ibuk tidak memberitahukan lebih jelas kepada bapak ini ( tunjuk ke pemilik toko) apa tujuan dan hubunga anda dengan adik ipar" tanya polisi kepadaku.


"Maaf pak,, bapak ini tidak bertanya dengan saya, dia hanys bertanya dengan adik ipar saya saja. Dan adik saya sudah jelaskan, tapi bapak ini Mala melapor."


"Tapi saat adik anda akan kami bawa, tapi anda diam saja, dan tidak perduli."polisi tersebut menjawab ucapanku.


"Itu pasti karena biaya konvensasi pak" jawab said tiba-tiba.


"Saya tidak bertanya dengan anda!" Sanggah sang polisi.


Said terdiam, dan akhirnya aku yang diminta untuk menjelaskan semuanya. Said dan pemilik toko berdamai, dan akhirnya gagal dapatin konvensasi

__ADS_1


'Kok jadi gini sih' gumamku


__ADS_2