
Pov: Faedah
Prang....
Aku dan mas Bandi Saling tatap mendengar keributan dari arah kamar wika, kamipun bergegas masuk untuk melihat keadaan.
"Astaghfirullah haladzim Wika...."
Kulihat putriku sedang berjongkok memunguti uang kertas dengan berbagai nominal, yang berserakan bercammpur dengan celengan panda yang terbuat dari bahan keramik.
Aku sendiri tidak pernah tahu kalau dia memiliki tabungan itu. Karena selama ini dia selalu terlihat boros dalam segala hal.
"Kamu punya tabungan Wika, kenapa kok dibongkar?" Mas Bandi bertanya sambil memperhatikan tangan Wika yang terus gesit mengumpulkan uang-uang tersebut. Namun saat ditanya dia tidak menjawab sepatah kata, hanya menunduk dan diam.
Aku merasa dia sedang kecewa karena tidakk diberikan apa yang menjadi kemauannya. Bagiku wajar saja dia marah, hanya uang membeli kuota saja ayahnya tidak bisa memberikan. Aku sendiri menyesal memiliki suami yang sudah tidak memiliki banyak penghasilan.
Papa... Mama...
Kini aku dan Mas Bandi mendengar teriakan Arif yang disertai tangisan dari kamar yang bersebelahan dengan Wika. Kembali kami harus terburu-buru melihat apa yang terjadi dengan arif.
Kini aku dan mas Bandi kembali terkejut melihat isi lemari Arif berhamburan didalam kamar.
"Arif kenapa berantakan seperti ini!! Kamu itu ya selalu buat ulah. Kamu kira bersihin rumah nggak capek. Ha!!" Bentakku yang sudah tidak tahan melihat ulahnya.
"Ujung-ujungnya yang bersihin juga Wika. Emang semenjak putrimu duduk dibangku SMP kamu pernah melakukan pekerjaan rumah." Terlihat mas Bandi tidak menyukai aku yang memarahi Arif. Tidak kuperdulikan perkataannya, karena memang yang dikatakannya adalah benar.
"Tabungan aku yang ada di celengan panda hilang ma..."
Degh....
__ADS_1
Jantungku seperti ingin berhenti dari detaknya, kepalaku juga rasanya sakit mendengar apa yang barusan terlontar dari bibir Arif. Bukan karena hilangnya tabungan itu yang membuatku seperti itu. Tapi mengingat kejadian yang belum lama dilakukan Wika.
"Wika...!!!!" Teriak Mas Bandi menggema diruangan tiga kali tiga ini.
Mas Bandi terlihat marah, tangannya mengepal dengan erat. Aku yang sering menentang ucapannya pun jadi takut melihat wajahnya.
"Wika...!!!, Kesini kamu." Kembali mas Bandi berteriak, namun putriku tidak kunjung datang.
Mas Bandi melangkah kekamar Wika, lalu aku mengikuti langkahnya dari belakang, begitupun Arif anak bungsuku.
Nihil, semuanya nihil. Kami tidak mendapati Wika ada di kamarnya. Bahkan sebahagian bajunya juga tidak ada. Tas ransel yang menggantung didinding juga tidak terlihat.
Mas Bandi terlihat sangat marah, dia meras bersalah atas prilaku putrinya. Tapi aku masih merasa wajar dengan apa yang dilakukan Wika. Karena apa yang dia inginkan tidak terpenuhi, itulah yang membuatnya kabur dari rumah.
Aku dan mas Bandi terus mencari dimana anak itu pergi, kami berpikir pasti dia belum jauh dari rumah. Kutelusuri jalanan bersama mas Bandi dan Arif untuk mencari Wika. Namun belum juga bertemu, bahkan kami sudah bertanya kerumah semua temannya.
"Mas kita minta bantuan saja sama said, untuk jaga Arif. Ini sudah hampir larut malam, kita bisa lapor ke pak RT. Aku takut terjadi apa-apa dengan dia." Bujukku pada mas Bandi.
"Apa kamu tahu mas, rezeki suami itu ada pada anak istrinya. Jadi kebahagiaan kami itu bisa menjadi sumber rezeki buat kamu!! Ini Mala nyalahin aku. Seharusnya kamu yang harus introspeksi diri bukan aku.!!" Ujarku melawan perkataannya.
Sepanjang jalan mas Bandi selalu menyalahkan aku, akupun tidak mau kalah. Enak saja dia mau menyudutkan aku atas kejadian ini.
Sesampainya kami dirumah, kami semangkin dibuat terkejut melihat orang yang kami cari sudah berada di teras ditemani said dan Tyas.
Mas Bandi turun dari motor bergegas menarik tangan wika, terlihat dari wajah Wika sangat pucat, tangannya juga gemetar.
"Apa yang kau lakukan, ha!! Apakah mencuri itu yang kau dapatkan dari sekolahmu! Apa selama ini kamu kekurangan sehingga mencuri jadi prioritas utamamu." Bertubi-tubi mas Bandi melontarkan pertanyaan kesalahan kepada Wika. Namun Wika hanya bisa menangis memeluk Tyas dihadapan kami.
Itu membuatku semangkin murka, bisa jadi yang menghasut Wika selama ini adalah Tyas, karena setiap hari Wika belajar mengaji dan mengerjakan PRnya bersama Tyas.
__ADS_1
"Oohh... Atau selama ini kamu mengaji, mendapatkan ilmu mencuri. Iya Wika!!" Kini aku yang melontarkan pertanyaan kepada Wika dengan menyudutkan Tyas yang terus dipeluk oleh Wika.
Mas Bandi, said dan Tyas spontan menatapku dengan tatapan tajam.
"Apa maksud kak faedah." Ucap said dengan wajah datar.
"Kenapa kamu yang tersinggung." Ucapku balik bertanya.
Mas Bandi seperti menahan amarah dengan terus menatapku, aku tahu dia masih menyalahkan aku, tapi aku harus buka. Mata dia, karena selama ini Wika lebih sering berada didekat Tyas ketimbang aku.
"Apa kakak pikir istriku mengajarkan dia ilmu agama untuk mencuri." Masih dengan wajah datar dan kalimat ketus yang ia lontarkan.
Sementara Tyas tidak membalas apapun tentang ucapanku, bahkan dia terlihat lebih tenang.
"Bisa jadi karena selama ini Wika kan lebih sering berada di rumahmu bersama Tyas." Ucapku memberikan tekanan.
"He. Dia datang menanyakan semua tentang pelajaran, bukan tentang ilmu mencuri. Lagian apa kakak tidak malu? Mengungkapkan ini semua didepan bang Bandi. Terlihat sekali kalau kakak lepas tangan tentang kewajiban seorang ibu." Rasanya hatiku sakit mendengar ucapan said. Aku tidak pernah merasakan sakit hati dengan apa yang diucapkan Tyas, tapi said ternyata dia lebih pintar menyentil hatiku.
"Sudahlah yah? Aku pernah mendengar pepatah buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Memakan hak seseorang, itu juga disebut dengan mencuri kan? Aku juga pernah melihat seorang ibu yang mengambil buah dari halaman milik adiknya. Apa ayah tahu ternyata anak ibu itu mengambil milik adiknya." Oh tuhan ternyata Tyas juga sekarang pintar menyentil perasaanku. Apa dia sedang menyindir mas Bandi yang belum memberikan uang sapi milik said. Bahkan mas Bandi sengaja mengambil keuntungannya dan sampai saat ini, mas Bandi juga tidak mengakuinya.
Atau jangan-jangan Tyas pernah melihatku mengambil uang adikku Sukma. Karena waktu itu dia juga kan berada ditempat yang sama. Tapi aku yakin dia tidak tahu, tapi mengapa kalimatnya juga seperti menyindirku.
Mas Bandi yang terlihat marah menatapku juga sekarang terlihat tegang dan cemas. Tapi yang paling aku takutkan kalau sampai mas Bandi mempertanyakan soal PR milik Wika. Karena selama ini yang dia ketahui akkulah yang mengajarkan Wika, sehingga nilainya melonjak naik.
Sial, atas kecerobohan ku. Kini aku sulit mencari alasan lagi.
"Baiklah Wika, ibu dan oom pulang dulu, ingat pesan yang tadi ya? Tolong jangan buat yang seperti itu lagi. Kamu lihat sekarang kan, mamamu mengalahkan ibu atas kesalahanmu. Kalau kamu melakukannya lagi, ibu tidak akan mau lagi membantumu dalam semua hal." Perkataan Tyas kali ini mengancam putriku, sebenarnya apa yang dikatakan mereka kepada Wika.
Kulihat punggun said dan Tyas melangkah pergi dari rumah kami.
__ADS_1
"Bang. Tolong secepatnya urus perihal masalah tadi siang, kalau tidak aku akan menuntut semua hakku." Said membalikkan badan, lalu kembali mengucapkan nada penekanan kepada suamiku.
Aku dan mas Bandi hanya dia terpaku melihat ke arah mereka.