IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
12. Pamer Emas


__ADS_3

"Ya Allah cobaannya berat banget? Kemaren-kemaren makan apa aja bisa, nyium apa aja enak. Sekarang kok jadi gini sih, masakin sayur buat kamu aja mesti pakai masker mas". Keluh Tyas pada suaminya.


"Eh eh eh... Gak boleh ngomong gitu, kata orang nikmatin aja yank"  said terus mengingatkan istrinya.


"Aneh ya mas, bau bawang putih, mabok!! Bau parfum, mabok! Lihat telur juga mabok! Emang semua emak-emak ngalamin yang begini ya mas" Tyas yang sedang memasak sayur terus saja bertanya pada suaminya.


Dia yang hamil Mala tanya ke suaminya yang jelas-jelas gak mengalami itu semua.


"Tapi yank? Istri bang Adi, katanya waktu hamil lebih parah dari kamu Lo yank? Tahu gak suka makan garam dapur, Uda gitu pakek dibawa kemana-mana tu garam" jelas said kembali.


"Astaghfirullah masak aneh begitu ya mas? Iah aku emoh mas?" Ucap Tyas dengan logat Jawa yang terdengar lucu ditelinga said.


Mereka tertawa bersama dipagi hari, cukup membuat hati tidak tegang seperti hari-hari sebelumnya.


Saat mereka sedang asik bercengkrama, terdengar ketukan memanggil nama Tyas. Said yang sudah mengenal suara itu Mala melangkah ke pintu depan, entah apa yang dikerjakannya


"Yas, Tyas? " Suara faeda membuyarkan obrolan mereka


"Eh kak? Kenapa?" Tyas masih menanggapi dengan baik ucapan kakak iparnya itu.


"Ini Lo. Ada sedikit, tadi beli dipasar" faedah memberikan sesuatu yang ada didalam kantong, sembari memamerkan emas yang baru terlihat Dimata Tyas.


Tapi Tyas tidak menghiraukannya walaupun dengan sengaja dia memperlihatkan emas tersebut.


"Terimakasih ya kak? Kalau aku tahu kakak ke pasar aku titip sayur untuk besok kak" sambung Tyas.


"Kamu sih gak bilang, tadi kakak kepasarnya sama Arif aja, kalau titip pasti kakak belikan, karena belanjaan kakak juga gak banyak? Orang niatnya sama beli ini" faedah kini sengaja memperlihatkan langsung kepada Tyas.


Tyas hanya mengerenyitkan dahinya, sembari tersenyum.


"Oh gitu? Pasti naik sekarang harganya ya kak? Oh ya bawang berapa Sekarang perkilonya kak" tanya Tyas kembali dengan mengalihkan kearah lain.


" Iya naik? Tapi gak papa, dari pada uangnya habis" bahkan. Faedah tidak menjawab pertanyaan terakhir Tyas.


Tyas hanya tersenyum, karena menurut dia yang ada dalam pikiran faedah juga ada benarnya. Ya walaupun sifatnya banyak yang tidak disukai oleh Tyas tapi jika ada sesuatu yang dikagumi dari diri seseorang maka dia tidak akan menampiknya. Salah satu sifat yang dikagumi Tyas dari diri faedah adalah, dia orang yang pintar menabung, dalam jenis emas. Namun sayangnya ia menjadikan emas sebagai barang yang turut dipamerkan dan selalu dipakai kemanapun berada.


Karena merasa omongannya hanya diberikan senyum saja oleh adik iparnya, maka faedah pamit pulang kerumahnya.


"Kenapa lagi kak faedah yank?" Suara said mengejutkan Tyas.


"Jangan seudzon dulu? Ni dikasih makanan, katanya baru pulang dari pasar" sembari menunjukkan kantong plastik yang tengah dipegang.


"Oohh" said hanya manggut-manggut.


Said berjalan kekamar mandi lalu membersihkan diri,setelahnya ia duduk sembari meminum secangkir teh dan pisang goreng kesukaan istrinya. Ya beberapa bulan ini Tyas lebih sering menghidangkan makanan yang berjenis pisang, namun said tetap menikmatinya. Dia hanya berpikir kemungkinan itu bawaan dari calon anak mereka.

__ADS_1


"Mas, sarapan dulu ya? Biar aku ambilin" tanya Tyas yang melangkah mendekati suaminya.


"Ini juga Uda sarapan yank? Kamu tahu sendiri kalau Uda minum teh sama makanan begini pasti Uda kenyang yank. Ntar aja untuk makan siang ya? Mas mau lihat sapi dulu" jelas said kepada istrinya.


Nmun penjelasan said justru membuat Tyas mengeluarkan air mata, said sendiri Bingung karena dia tidak melakukan apa-apa, mengapa istrinya menangis.


"Lo yank kok nangis? Kenapa? Cerita sama mas" kini said sudah bingung dengan sikap Tyas.


"Aku bangun dari pagi, pake masker nahan bau, nahan mual. Aku sadar sama tugasku, buat masakin kamu mas, sekarang kamu Mala gak mau makan. Kalau aku tau kamu gak makan, aku gak bangun sekalian mas" Tyas berucap dengan Isak yang diiringi dengan suara air dihidung yang sudah keluar masuk.


"Astaghfirullah halazim yank? Gak gitu maksud mas yank, lagian kan kamu yang nyiapin sarapan buat mas, coba kalau mas tadi sarapan dulu, pasti pisangnya gak bakal temakan, yang ada dingin mangkin gak enak dimakan kan" said mencoba menjelaskan agar istrinya tidak salah paham.


"Tuh kan gak enak dimakan!! Maksudmu masakanku gak enak gitu mas!! Aku tahu aku gak pintar masak seperti mantanmu Riska. Aku juga gak cantik dan gak bahenol seperti mantanmu Riska" kembali Tyas berucap dengan emosinya.


(Allahuakbar. Mangkin ditanggapi ngomongnya kok Mala kemana-mana si ini. Dasar perempuan, selalu nyalahin, kalau sudah sakit hati semua kesalahan laki-laki di ingat terus dibahas. Yang tidak nyambung jadi nyambung) bathin said sejenak.


"Yank? Masakanmu enak, mangkanya mas makan. Sebenarnya mas sudah nahan selera sama masakanmu? Tapi perut keburu kenyang, emang kamu mau kalau perut mas kekenyangan terus membuncit kayak kamu" said bertingkah berlebihan untuk meyakinkan istrinya, sembari mengelus perut istrinya.


"Sekarang kamu Mala mengejek karena perut buncitku kan!! Dasar laki-laki gak tahu diri. Aku bisa begini juga karena ulahmu!!" Terus saja Tyas menyalahkan suaminya.


( Apa yang harus ku ucapkan, kalau semuanya serba salah. Pakai bilang ulahku, la dia gak sadar itu juga ulah dia. Bahkan dia yang selalu minta nambah.) Said terus membathin sambil menarik napas panjang.


"Sini (said menarik istrinya dalam pelukan) mas sayang sama kamu, mas mau lihat sapi dulu, balik dari lihat sapi terus mas makan masakan kamu yang menggugah selera itu ya? Keburu siang yank, kasian sapinya ya?" Said kali ini mengalah dan mencium kening istrinya.


Sampai siang hari said baru kembali kerumahnya, karena dia juga ingin menjeda waktu makannya. Namun sepanjang jalan dia mencari solusi, tiba-tiba matanya melihat singkong yang tumbuh liar. Lalu dia mendekati dan memetik sebagian daunnya untuk dibawa pulang.


(Ini pasti gak bakal buat dia marah, bisa dijadikan alasan).


Said yang belum sampai dirumahnya tidak tahu apa yang tengah terjadi pada istrinya. Siang itu Yani kakak Tyas datang berkunjung kerumahnya. Mereka berbincang layaknya seorang saudara. Sebelum pulang Yani mempertanyakan sesuatu ke adiknya, karena dia tidak dapat menyembunyikannya.


"Yas? Kakak mau tanya tapi kamu jawab jujur ya?"


Tyas heran dengan pertanyaan kakaknya, namun dia dengan cepat menjawab pertanyaan kakaknya.


"Iya kak. Lah emang mau tanya apa kak?"


"Gini tadi kakak kewarung ketemu sama kak esi, terus dia ceritain kamu"


"Ceritain apa sih" potong Tyas.


"Kebiasaan!! Dengerin dulu. Nah terus dia bilang katanya kamu iri sama kakak iparmu karena dia beli emas, terus katanya kamu pasang wajah gak seneng, terus nutup pintu pake acara banting. Terus katanya kamu nangis-nangis didepan said minta belik'in emas. Benar gitu." Panjang lebar Yani mengungkapkan perasaan yang mengganjal.


Degh...


Hati Tyas langsung terasa panas mendengar ungkapan itu, matanya berkaca-kaca menahan amarah dengan diam belum dapat berbicara.

__ADS_1


"Kakak cuma gak mau, kalau kamu iri, kalau kepengen mendingan ngumpul. Dan jangan memaksa said, kasian Yas" kembali Yani menasehati adik bungsunya.


Tyas bahkan belum berucap apapun, namun Yani sudah mengambil kesimpulan dan menganggap adiknya salah.


"Kak aku tidak pernah iri, memang dia tadi pagi datang mengantarkan makanan yang katanya baru dibeli dipasar. Memang secara tidak langsung dia memamerkan emasnya. Dan......" Lalu Tyas menceritakan kejadian tadi pagi pada kakaknya, begitu juga dengan kejadian dia dan said.


Yani manggut-manggut mendengarkan adiknya bercerita yang sudah diiringi tangis sesenggukan.


"Tega sekali dia mengarang cerita kak? Mas said juga tadi pagi membuat aku nangis, sekarang kakak datang kasih kabar yang buat aku mangkin gak tahan dengan drama ini semua." Terus dan terus Tyas ngomel-ngomel gak tentu arah.


Yani baru menyadari Tyas yang sedang hamil ternyata begitu sangat sensitive. Dia baru memahami, karena sebelumnya dia hamil tiga kali merasa tidak sensitive seperti adiknya.


"Husss.. gak boleh ngomong gitu? Kakak percaya sama kamu, tadinya Kakak percaya sama kak esi karena matamu yang sembab. Kakak gak tahu ternyata sembabnya karena hal lain." Ucap Yani menenangkan adiknya.


"Assalamualaikum" ucap seseorang masuk kedalam rumah.


Tyas yang menyadari langsung mencerca suaminya.


"Mas lihat tu istri abangmu, seenaknya ngarang cerita tentang aku. Dia ingin dipuji dengan cara menjatuhkan orang lain." Tyas tidak tahan dengan hatinya yang terasa sesak.


"Eh eh, kenapa marah-marah. Ada apa sih kak?" Tanya said kepada Yani kakak iparnya.


Langsung Yani menceritakan kejadian yang membuat adiknya menangis.


"Oh jadi itu.?" Jawab said.


"Oh jadi itu, jadi itu, benci aku mas, pengen tak remes tu mulutnya" kembali Tyas mengeluarkan amarahnya.


"Husss sedang hamil, jangan yang nggak-nggak ah" sanggah Yani menahan emosi adiknya.


"Sudah yank? Ni mas bawakan sayur untuk dimasak besok. Soal dia tenang aja Allah lebih tahu. Pasti orang lain juga bakal lebih tahu tanpa kita beri tahu" said mencoba mengontrol emosi istrinya yang sedang menangis.


Dia menyadari istrinya sering sekali menangis selama dia tinggal disamping rumah abangnya. Akibat ulah istri Bandi, yaitu kakak iparnya.


"Justru sebenarnya dia itu iri sama kamu yank? Berarti orang lain lebih banyak suka sama kamu ketimbang dia, jadi dia cari cara untuk jatuhin kamu, dia nggak sadar sebenarnya dia yang menjatuhkan dirinya sendiri." Kembali said  menasihati istrinya agar tidak terpengaruh omongan orang lain.


Di sudut lain Yani sedang berkecamuk dengan hatinya sendiri.


(Harusnya aku gak bilang ini ke Tyas, tapi aku juga gak mau kalau sampai dia punya sifat dengki tadinya. Tapi sekarang aku bisa lebih paham, dan mudah-mudahan aku bisa menjaga dan sesekali mengontrol emosinya, bahaya juga kalau sedang hamil begini. Takutnya kejadian yang pernah di alami kambuh, dia kan gak bisa sampai tertekan)


( Gara-gara pamer emas, menghindar cari masalah. Eh Mala dapat masalah, dasar faedah, tapi mulutnya gak berfaedah sama sekali) bathin said yang terus mengelus punggung istrinya.


"Dasar Faedah!! Namanya aja faedah tapi kelakuan dan mulut tidak berfaedah sama sekali" ucap Tyas lantang.


Said melongo atas perkataan istrinya, karena yang diucapkan begitu sama dengan kata hatinya.

__ADS_1


__ADS_2