IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
40. Menggoda


__ADS_3

POV: Tyas


Semenjak kejadian-kejadian yang menghebohkan warga. Kini suasana dilingkungan tempat tinggalku terasa sunyi, ibu-ibu yang biasa kumpul bersama tidak ada lagi.


Kak Faedah memutuskan pulang kerumah kedua orangtuanya, sementara kak murni Alhamdulillah telah memperbaiki hubungan dengan suaminya.


Bang Bandi juga terlihat tidak rapi, dan tampil acak-acakan. Setiap hari aku menyempatkan mengantar sayur dan lauk untuk pelengkap makan bang Bandi.


"Bun, kak faedah masih sering telepon bunda nggak?" Mas said bertanya kala aku sedang menyiapkan untuk ku antar ke rumah iparku.


"Beberapa hari ini tidak yah, lagian dia kalau nelpon yang diomongin itu-itu Mulu. Tapi dia sendiri nggak mau ngomong langsung."


"Masih disuruh nyampaikan pesan, kalau kak faedah minta jemput?" Kulirik suamiku, lalu ku anggukan kepala. Suamiku sendiri sampai hapal dengan ucapannya.


"Bunda memang pengennya yang terbaik buat rumah tangga mereka yah? Tapi ya mikir juga lah, mana pesannya itu-itu Mulu. Ya kali, bunda kantor pos."


Mas said Mala tertawa dengan ucapan konyolku.


Kucubit lengannya lalu aku berlalu meninggalkannya dan melangkah kerumah bang said untuk mengantar sayur.


"Bang... Bang Bandi...." Kupanggil namanya terus berulang kali, namun tidak ada sambutan sama sekali.


Pintu yang terbuka namun tidak ada jawaban, jadi aku inisiatif masuk saja, kuletakkan saja mangkuk sayur di atas meja lalu  ku tutup dengan tudung saji.


Saat aku ingin kembali, tiba-tiba terdengar pintu kamar mandi dibuka dan memperlihatkan tubuh berisi bang Bandi dengan basah dan terlilit handuk di bagian pinggangnya.


Aku terkejut, sama halnya dengan dia.


"Ma-maaf bang, aku kira tidak ada orang. Itu aku antar sayur buat Abang."


Setelah mengucapkan kalimat, aku bergegas ingin meninggalkan rumahnya.


Namun tiba-tiba tangannya memegang pergelangan tanganku.


"Tunggu Yas!"


Dengan cepat kulepaskan telapak tangannya yang masih melingkar menggenggam.


"Maaf. Eh terimakasih ya, kamu antar makanan buat Abang lagi."


Ucapannya kali ini membuat aku merinding. Merinding karena takut, apalagi tatapannya kali ini tidak seperti biasanya.


Padahal aku niat memberi, karena dia adalah Abang dari suamiku.


"Eh iya bang sama-sama. Maaf aku ditunggu mas said dirumah."


Aku langsung berlari kecil, meninggalkan rumahnya.


Saat kakiku ingin masuk kedalam rumahku sendiri. Aku kembali terkejut, oleh sosok suamiku yang sudah berdiri didepan pintu.


Bruk...


"Aduh Bun, kok nggak lihat-lihat sih, untung aja."


Aku diam, dan tidak menjawab sama sekali.

__ADS_1


"Bunda sakit ya? Kok kelihatan pucat, tangannya juga di remas-remas begitu. Dingin?"


Suamiku kembali melontarkan pertanyaan, kalimat sederhana dan harusnya mudah untuk aku jawab. Tapi aku justru bungkam dan rasanya sulit untuk bicara, aku hanya menggeleng dan masuk ke kamar mandi.


'ya Allah kenapa tatapannya membuat aku takut, bahkan dia berani menyentuhku. Apa aku yang terlalu berlebihan menanggapinya' gumamku sendiri.


Sebelum keluar dari kamar mandi, aku mencoba mengatur napas agar lebih rileks lagi.


"Bunda, ayah hari ini mau antar sapi ya? Tapi ayah pulang sorean dikit."


"Kok sore sih yah? Emang nggak bisa dicepatin sedikit."


Jujur pamitnya suamiku hari ini, membuatku sedikit tidak tenang seperti biasanya.


"Kenapa sih Bun, ayah juga pernah pulang malam, tapi nggak sepanik ini."


Ya benar, suamiku ternyata bisa menebak firasatku. Mendengar ucapannya, kini kembali aku tidak dapat berucap. Hanya mampu menyetujui saja.


Mas said akhirnya pergi mengantarkan sapi ke luar kecamatan. Walau hanya beda kecamatan, namun bisa menghambat waktu sampai berjam-jam karena kondisi jalan yang tidak baik.


Sepeninggalannya, aku bergegas masuk, dan mencoba beberes untuk menghilangkan kecemasan. Banyak pekerjaan yang ternyata banyak menghabiskan waktu.


Sehingga aku tidak menyadari jika waktu beranjak siang. Kuputuskan untuk mandi, agar tubuh terasa lebih segar dan pikiran juga lebih tenang.


Sengaja aku membuka pintu kamar mandi, agar aktivitas khumay dapat terjangkau oleh penglihatan ku.


Itulah ibu rumah tangga, setiap mengerjakan sesuatu, selalu memikirkan untuk tetap memantau buah hati.


Kupercepat gerakan mandiku, karena melihat khumay berjalan dekat meja kompor, yang di atasnya masih ada kuali berisikan sayur lodeh labu Siam.


"Jangan nak...." Ucapku lembut lalu menggendong tubuhnya untuk aku bawa ke kamar.


Belum sampai kaki ini meninggalkan ruangan dapur, suara pintu mengejutkan aku.


Krieett....


"Astaghfirullah halazim bang Bandi, mau apa."


Aku lari masuk kedalam kamar lalu, aku kunci dari dalam.


Kudengar kembali suara pintu belakangku. Entah itu ditutup dari arah luar ataupun dalam. Aku belum mengerti.


Jantungku rasanya berdebar, tubuhku gemetar. Kuletakkan khumay, sambil dia terus bermain sendiri, aku segera memakai baju salinan.


"Uwa hha Dede. Pa-de." Kudengar khumay seperti tengah memanggil pak de nya Bandi. Kuikuti kemana mata khumay memandang. Lantas pandangannya mengarah ke jendela kamar yang tengah terbuka.


Aku semangkin dibuat panik kala melihat ujung rambut tersembul dari arah jendela.


"Bang Bandi! Ngapain! Kamu ngintip aku ya?"


Ucapku to the point.


Dia berdiri menatapku dengan tersenyum, dan tertawa miring. Matanya juga melirik nakal.


Kututup jendela sekuatnya, karena dia sudah mulai kelewat batas.

__ADS_1


"Yas, kita selingkuh yuk. Satu kali? Aja. Abang memang Uda lama suka kamu Lo."


Suara beratnya terdengar dari balik jendela yang aku tutup.


Ku ambil ponsel, lalu aku tekan tombol perekam. Karena bisa jadi, aku butuh bukti kalau dia Sampai berbuat macam-macam.


'ya Allah nekat sekali bajingan itu' kubekap mulutku agar tidak menimbulkan suara sama sekali.


Kali ini aku benar-benar takut berada di rumah.


'kak murni? Ah iya aku butuh bantuan kak murni buat dia lihat keadaan bang Bandi' aku bergumam, lalu mengetik pesan untuk kak murni.


[Kak, aku butuh bantuan? Bang Bandi mencoba ngintipin aku ganti baju saat selesai mandi. Aku takut kak, aku dirumah sendirian]


Pesanku hanya bercentang dua berwarna abu-abu.


"Yas, aku janji nggak bakal bilang ke suamimu."


Wah eror kali dia berucap seperti itu. Disini dia yang mencoba cari masalah, kenapa mesti aku takut.


"Dengar ya bang Bandi! Sedikitpun aku nggak pernah berniat untuk berpaling dari suamiku. Harusnya Abang waspada, jangan sampai malu untuk yang kesekian kalinya."


"Ha-ha-ha... Tyas, Tyas. Nggak usah munafik lah kamu, ntar kalau adikku terpuruk, pasti kamu juga bakal cari uang dengan hal menjijikan!"


' astagfiruallah haladzim. Otaknya dangkal sekali! Emang aku kayak biniknya apa!' aku hanya bisa mengurut dada dan banyak mengucap istighfar.


"Segitu frustasinya kamu ya bang Bandi, sampai nyamain semua wanita. Aku rasa kak faedah nggak bakal salah kalau ninggalin kamu. Laki-laki yang mudah berkhianat, tapi tidak mau di khianati." Jawabku berusaha tenang.


Kutatap layar ponsel, akhirnya pesanku centang biru, kulihat kak murni sedang mengetik. Namun rasanya lama sekali dia membalasnya.


[Tenang Yas, aku Uda ajak suamiku sama bik Inur dan suaminya. Buat tangkap dia, aku juga Uda lihat dia dia berdiri di dekat jendela kamarmu]


'alhamdulillah ya Allah' aku bersyukur kak murni dan suaminya sudah melihat.


"Kamu nggak takut tubuh gendutmu itu di lihat orang bang Bandi."


"Apa? Ah dasar! Kamu bilang ke murni dan Nanang ya kalau aku disini!"


"Iya emang kenapa? bukannya Abang nggak takut ya? aku nggak sedangkal otak abang, setidaknya aku masih ada saksi." Ucapku memancing amarahnya. Agar suaranya juga terdengar cukup jelas di ponsel yang tengah merekam percakapan.


"Awas kamu ya Yas!!"


Akhirnya beberapa menit kemudian aku tidak mendengar suaranya lagi. Apa jangan-jangan dia pergi. Harusnya dia tidak boleh pergi dulu.


"Loh mana mur... Nggak ada orang disini."


Terdengar suara lain dari balik jendela kamarku.


Kubuka jendela, lalu aku melihat Bik Inur dan suaminya pak lek Diman, serta bang Nanang dan kak murni.


"Keburu pergi Bik... Bibik kelamaan sih."


"Iya Uda pergi Bik?" Ucapku menimpali.


Saat sedang membicarakan bang Bandi tiba-tiba.

__ADS_1


"Hei! Ada apa ini rame-rame."


__ADS_2