
Pov :Tyas
Sudah 2 Minggu ibu mertuaku nginap disini secara bergantian, dan Alhamdulillah kak faedah tidak pernah melakukan sesuatu yang menyakiti hatiku, akupun sudah melupakan sakit hati itu. Ya sebenarnya aku tergolong orang yang susah melupakan masalah dan juga gampang memikirkan masalah. Tapi sekarang aku mencoba berdamai dengan keadaan.
"Yas?" Panggil ibu mertuaku dibalik pintu kayu kamarku. Aku beranjak keluar menghampirinya.
"Iya buk? Maaf tadi aku ketiduran waktu menyusui si adek." Ucapku kepada Ibu mertuaku.
"Gak apa kalau siang, kalau anak istirahat, ya kamu juga istirahat biar gak capek. Soalnya kalau malam anak kecil lebih rewel. Tapi kalau pagi jangan dibiasakan ikut tidur ya?" Ibu mertua memaklumi namun juga tidak lupa mengingatkan.
Dari kebanyakan cerita para wanita, banyak yang selalu tidak ada kecocokan antara menantu dengan mertua terutama menantu perempuan dengan mertua perempuan. Tapi Alhamdulillah aku mendapatkan mertua yang sangat baik dan pengertian. Bahkan saat aku baru lahiran, dia hampir tidak memperbolehkan aku mengambil makan sendiri ke belakang.
"Yas Ibuk besok mau pamit pulang ya? Kalian disini akur-akur ya?. Sebenarnya ibuk sedih kalau harus jauh-jauh dari anak Ibuk. Tapi abangmu Bandi dan suamimu gak pengen dekat Ibuk disana. Mereka lebih milih disini..." Aku melihat air mata ibu mertua sudah berjatuhan membasahi pipinya yang sudah keriput.
Sebahagian orang mungkin melihatnya terlalu berlebihan, namun dia ibu mertuaku adalah orang yang sangat sensitif dengan keadaan, begitulah cara dia menunjukkan perasaannya. Bahkan jika bahagia, wajahnya juga sangat terlihat, maka semua anak dan menantunya sudah paham dan tidak dapat dibohongi jika dia mencoba menyembunyikan sesuatu.
"Padahal aku masih ingin Ibuk disini..." Tangisku juga ikut pecah sembari memeluk tubuhnya dari samping. Aku tidak tega jika ibu mertuaku hanya k yapulang dengan nada berdua saja. Tapi mas said juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
" Sudah.. Ibuk berharap kalian semua lebaran tahun depan bisa mudik. Yang penting pesan Ibuk yang akur disini.. kalau faedah berlaku tidak baik biarkan saja. Kamu yang mengalah? Mengalah juga bukan berarti kalah Yas? Sebenarnya ibuk juga sering diposisi kamu saat dulu menikah dengan Almarhum bapaknya said. Tapi ujian Ibuk bukan dari mertua ataupun ipar." Ibu mertua seperti ingin membuka rahasia. Aku penasaran namun aku urung untuk bertanya. Karena saat dia tidak meneruskan perkataannya aku yakin dia baru sadar dengan apa yang baru ia ucapkan.
__ADS_1
"Jangan terukan buk? Itu rahasia Ibuk. Kalau tidak nyaman jangan buk?" Aku menahannya, bagaimanapun dia mertuaku dan aku tidak berhak tahu rahasia dia.
"Ibu hanya ingin berbagi kesedihan Ibuk, Ibuk pengen lega. Bahkan suami, abangmu Bandi dan kakakmu Nana tidak tahu soal ini. Apa ibu boleh berbagi kesedihan Ibuk?" Tanyanya dengan sorot mata berkaca-kaca.
Aku hanya mengangguk, namun aku masih tidak percaya jika dia membuka rahasianya denganku yang hanya sebatas menantu.
"Kesedihan ibuk selalu datang dari suaminya ibu sendiri, walaupun hatinya baik, bahkan sangat baik, bukan hanya buat keluarga namun buat saudara dan orang lain dia sangat baik dan disegani. Tapi kecanduan dia dengan minuman keras, judi, dan main perempuan. Itu yang selalu membuat Ibuk gak tahan, tapi ibu tetap mempertahankan."
Degh...
Jantungku berdetak cepat tidak karuan, bagaimana bisa kelakuan buruk seperti itu ibuk masih bilang suaminya sangat baik. Aku jadi teringat akan moment di kolam pemancingan dekat rumah mas said. Kala itu kak faedah juga menceritakan hal yang sama seperti ibu mertuaku sekarang. Namun bedanya jika kak faedah mengumbar aibnya ke beberapa orang. Kalau Ibuk mertua Mala menutupnya rapat tanpa diketahui oleh anaknya sendiri, dan baru sekarang lah dia membukanya kepadaku. Aku sendiri belum paham mengapa dia begitu percaya denganku.
Hemmmmm .... Ibu menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan, mengatur posisinya agar nyaman.
" Ya bapakmu orang yang sangat baik, bahkan dia mencoba memberikan yang terbaik, namun saat dia tidak sadar dia selalu mengatakan kalau Ibuk ini seperti wanita murahan, yang asal mau saja di jodohkan. Bahkan terkadang dia meludai wajah Ibuk, terkadang menampar, terkadang menggertak. Tapi saat sadar, dia biasa saja? Bahkan dia berusaha manis. Dia juga berjudi dan main wanita tapi dia selalu bertanggung jawab dengan nafkah materinya" Ibuk masih tersenyum, saat menceritakannya. Walaupun aku melihat hanya senyum hambar.
"Tapi ibuk luka bathin, main wanita! Apa Ibuk gak marah" tanyaku tidak terima, walaupun dia ibu mertuaku, tetapi sesama wanita aku mendengarnya sakit.
"Gimana bisa marah, sebelumnya dia sudah meminta ijin dan mengatakan kalau dia gak cinta sama Ibuk. Kami dijodohkan, tapi almarhum bapakmu sudah punya pacar, bahkan pacarnya itu baru menikah setelah almarhum bapakmu meninggal. Dia main wanita juga dengan pacarnya itu, dan selalu bilang maaf, menurut Ibuk ketika almarhum bapakmu mencaci dalam keadaan tidak sadar kemungkinan itu adalah rasa yang kependam yang gak bisa dia ucapin langsung" kini ibuk mulai terlihat rapuh.
__ADS_1
"Ibuk gak bilang soal kelakuannya ketika marah" aku masih ingin tahu cerita dari Ibuk mertuaku.
"Pernah? Pertama kali, tapi dia minta maaf. Dan itu gak akan terjadi, toh nyatanya setiap kali mendem ya begitu lagi" ucapnya lagi dengan mata yang sudah basah.
Aku langsung memeluknya dan menangis dipelukkannya, aku tidak menyangka ibu mertuaku sanggup menyembunyikan ini semua.
"Jangan pikirkan lagi masa lalu Ibuk? Kami anak menantu dan cucu sayang sama Ibuk. Bahkan Ibuk sudah menganggap Ibuk seperti mamakku sendiri. Tolong jangan nangis lagi soal masa lalu Ibuk? Itu gak akan bisa merubah apapun. Cukup jadi pelajaran saja." Ucapku memberikannya semangat.
"Ibu pengen anak cucu ibu tidak mengalami hal yang sama" Ibuk terlihat khawatir.
"Gak akan pernah terjadi buk? Percaya sama Allah" sanggah ku cepat.
Hari itu aku merasa memiliki dua ibu kandung, mertua yang tidak ada darah saja bisa menganggapku seperti putrinya sendiri. Pelukannya terasa sangat tulus, dan penuh rindu.
Masih menghayati pelukan tiba-tiba seseorang memanggil tanpa mengucapkan salam.
"Eh eh eh ada apa ini, kok nangis-nangisan" ucap kak faedah yang sudah ada di dekat ibu mertuaku.
"Ibu rasanya sedih ninggalin kalian" ibu mertua berbohong kepada kak faedah. Aku hanya diam saja, kemungkinan ibu memang kurang nyaman jika harus bercerita dengan kak faedah. Kami bergegas menyusun apa-apa saja yang akan dibawa pulang ke kampung halaman.
__ADS_1
Tidak sedikit yang akan dibawa pulang oleh Ibuk, karena hampir keseluruhan yang ada di desa tempat mertuaku tinggal adalah keluarga. Jadi tidak mungkin jika yang mendapatkan oleh-oleh hanya 1 atau 2 orang.