IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
45.


__ADS_3

"Yas? Mamak turut berduka atas kepulangan ibu mertua kamu ya?" Ucap Bu Surti pada putrinya.


"Iya mak, terimakasih ya, mamak sudah mau datang?"


Peluk Tyas pada ibunya sendiri.


"Mamak sudah makan? Mamak terlihat kurus." Tyas melepaskan pelukannya dan memperhatikan tubuh dan wajah ibunya.


Ibu Surti hanya mengangguk, lalu memeluk kembali putrinya.


Nana terus menangisi kepergian ibunya, said juga begitu terpukul. Air mata terus mengalir, walau tanpa diminta.


Said merasa separuh nyawanya hilang entah kemana. Bahkan khumay yang tidak tahu apa-apa, bermanja dipangkuannya juga tidak ia indahkan.


Matanya terus menatap tubuh dingin dan kaku yang sudah terbungkus kain putih beberapa lapis.


Tangan mungil khumay tiba-tiba menghapus air mata sang ayah. Membuat semua orang yang menyaksikannya tertegun.


Said baru bisa tergugu, saat tangan putrinya menyentuh kulit wajahnya.


Tyas juga tidak bisa berbuat banyak untuk menyemangati sang suami. Karena ibu Wati juga sudah seperti ibunya sendiri.


Ruangan di rumah almarhumah ibu Wati sudah dipenuhi oleh orang yang akan mengantar ibu Wati ketempat peristirahatan terakhir.


Dari begitu banyak orang dirumah itu, tidak satupun terlihat wajah Bandi.


Yang orang tahu, ibu Wati dan faedah datang untuk mengunjungi putra sulung dan bungsunya.


"Mbak Yas? Si Bandi nggak datang ya? Kan rumahnya dekat sama kalian?" Tanya salah satu tetangga mertuanya.


"Belum datang buk?" Jawab Tyas sekenanya.


"Dia nggak akan datang buk?"


Tiba-tiba faedah berucap ketus, mengingat suaminya yang sudah terlewat batasan.


"Loh kenapa mbak? Mbak kan istrinya. Kok nggak barengan aja!" Tanya seorang yang lain lagi.


"Saya sudah tidak menjadi istrinya. Siapa Sudi mau menjalani hidup dengan lelaki durhaka seperti itu."


Tyas menyenggol tubuh faedah dari arah samping.


Ibu-ibu yang mendengar langsung saling pandang mencerna ucapan faedah.


Tyas menarik tubuh faedah dan membawanya ke kamar tamu.

__ADS_1


"Kak dah kok ngomong begitu? Itu nanti bakal bisa jadi konsumsi publik buat mereka yang ingin bicarakan keluarga suami kita!" Cecar Tyas pada kakak iparnya.


"Dia bukan lagi suamiku Yas, sakit! Sakit rasanya Yas. Bahkan sama ibunya sendiri ia tidak merasa bersalah. Bagaimana denganku?" Ucapp faedah yang sudah mengeluarkan air matanya.


Tyas langsung memeluk kakak iparnya itu dengan sangat erat.


"Setidaknya jangan bicarakan lagi kak, itu bisa menjadi beban buat ibu mertua kita. Karena yang kita bicarakan adalah darah dagingnya. Tolong ikhlaskan kak? Demi ibu mertua yang sudah seperti ibu kandung kita." Bisik Tyas di telinga faedah dengan tubuh yang masih saling memeluk.


Faedah semangkin terguguh mendengar tuturan dari Tyas.


"Bahkan, selama ini aku banyak salah dengan almarhumah Yas? Aku banyak membicarakannya dibelakang." Sesal faedah.


Tyas terus menenangkan faedah yang merasa bersalah.


'mengapa harus kehilangan yang selalu menyadarkan banyak orang, ya Allah? Mengapa harus kehilangan ujian terberat dan tersakit buat semua orang, ya Allah?' bathin Tyas sendiri.


Allah benar-benar mudah saat berkata Kun.


Saat orang yang baru berkunjung dalam keadaan sehat, bisa langsung pulang untuk selamanya dan tidak pernah kembali.


Andai seorang hamba boleh memilih. Pasti akan memilih disakiti saja daripada harus kehilangannya.


Jika disakiti kita lebih banyak dituntut untuk sabar. Nyatanya kehilangan lebih banyak dituntut untuk ikhlas. Mengikhlaskan sesuatu yang dipinjamkan, dan saat kita masih terlalu menyayanginya harus di ambil paksa oleh pemiliknya.


***


"Maaf? Saya harus pulang dulu, disini saya sudah tidak memiliki tempat." Ucap faedah berpamit pulang.


Nana yang tadinya menunduk, langsung mengangkat kepala dan melihat iparnya itu sinis.


"Sepertinya kamu senang sekali, ibuku meninggal. Ini kan yang kamu inginkan!" Ucap Nana tiba-tiba memberondong dengan kalimat tajam.


"apa maksudmu!" Tanya faedah.


"Kau bilang apa maksudku! Kau sengaja membawa ibuku ke sarang masalah rumah tanggamu! Padahal kau sendiri sudah tahu kalau ibu punya riwayat penyakit yang tidak baik!"


Mendengar itu faedah langsung mengeluarkan air mata yang tidak dapat lagi dibendung.


"Aku sendiri merasa kehilangan na!"


"Kehilangan! Ck_ kamu senang kan, bisa lepas dengan abangku yang sekarang ini terpuruk "


"Apa kau gila! Ha! Wanita mana yang mau bertahan dengan lelaki yang sudah durhaka pada ibunya, menelantarkan anak istriny. Bahkan dia sanggup berpaling!"


"Sudah! Sudah hentikan! Suara kalian buat aku muak!

__ADS_1


Said berjalan masuk ke kamar, lalu terdengar suara said membanting pintu kamar dengan sangat keras.


Tyas mengamhampiri suaminya kedalam kamar.


"Ayah...."


" Bunda, ayah pengen sendiri dulu!" Jawab said datar.


Tyas kembali keluar, hatinya ijut merasa sakit, saat orang yang disayangi tengah terpukul atas kehilangan ibunya.


Said benar-benar terlihat seperti anak kecil yang hilang arah. Dituntut sabar dan ikhlas yang disebabkan drama kejadian. Yang skenarionya sudah disusun rapi oleh-NYA.


'Bahkan aku juga pernah kehilangan seorang yang aku sayang, ayah. Sakitnya memang benar-benar terasa sakit, begitu juga dirimu yang juga pernah merasakan kehilangan ayah. Tapi nyatanya kejadian yang Sama yang Allah berikan, tidak pernah membuat kita menyadari jika kita pernah diposisi ini juga. Mengapa ikhlas dan sabar saat dituntut secara bersamaan, membuat kita merasakan sakit begitu dalam. Percayalah suamiku, seiring waktu Allah juga akan membantu kita untuk mengikis kesedihan ini. Percayalah sejatinya kita akan tetap kembali kepada-NYA.' Tyas terus berucap sendiri didalam hatinya. Bertanya dengan dirinya, yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa, kecuali menunggu. Menunggu Allah membukakan pintu hati kita agar tegar menghadapi ini semua. Dengan cara kita harus terus mengetuknya. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah mendapatkannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu."


Seorang ustadz mengucapkan salam untuk memulai acara Tahlilan ibu Wati.


"Waalaikum sallam warahmatullahi wabarakatu." Jawab semua orang serempak.


"Innalilahi, innalilahi, innalilahi wa innailaihi Raji'un. Sesungguhnya kita milik Allah SWT. Semuanya akan kembali kepada Allah SWT. Hadirin Muslimin rahimakumullah, hari ini salah satu keluarga sahabat kita tengah mengalami duka, duka yang kita juga akan merasakannya.


Untuk para keluarga dan sahabat, saya selaku orang yang juga akan menghadap kepada-NYA hanya dapat mengatakan, sabar, ikhlas, twakal dan yakin lah.


Mengapa saya bilang sabar, karena setiap makhluk hidup akan berpulang kepadanya, sabarlah engkau yang akan mendapat giliran. Kita boleh menangis, tapi jangan sampai mengeluhkannya.


Yang kedua Ikhlas, ikhlas ini lebih sabar daripada harus sabar, karena kamu dituntut untuk merelakan. Ibarat barang yang sudah diberikan, dan kamu rawat tiba-tiba harus diminta kembali saat kamu sudah sangat menyayangi. Mungkin kamu lebih dulu mencapai kata sabar, tapi ikhlas bisa sewaktu-waktu akan datang dalam ingatanmu. Bagaimana cara mengatasinya! Maka bertawakal lah kamu kepada-NYA. Apa itu tawakkal? Tawakkal adalah bentuk kita berserah diri kepadanya. Kamu serahkan semua urusan kepadanya, terutama untuk seorang anak yang kehilangan orang tuanya. Mengapa? Karena doa dari seorang anak yang Sholeh dan Sholehah! Mampu mengaliri amalan yang tidak akan putus.


Apa saja di antaranya: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang Sholeh.


Maka bertawakal lah kamu wahai anak? Karena jika kita sang makhluk tidak memiliki sedekah, dan ilmu yang bermanfaat. Hanya kamulah satu-satunya penyelamat siksa kubur. Dan insyaallah kita semua mendapatkan ketiganya.


Dan untuk kita yang masih hidup. Jangan hanya mementingkan tiga perkara itu. Perbaiki juga dirimu dengan yang lain.


Karena masih banyak amalan yang mampu menyelamatkan siksa kuburmu, persiapkan dirimu. Karena kita akan menyusul orang yang sudah mendahului kita.


Dan yang terakhir percaya atau keyakinan. Percayakan semuanya kepada DIA. Sang pemilik segalanya, kita telah banyak diberikan wejangan-wejangan dari Rasulullah Saw. Tentang menjalani hidup, tentang takdir, tentang penyelamat diri, tentang kematian, dan masih banyak lagi. Masihkah kita sebagai umat yang memeluk agama-NYA tidak meyakini apa yang menjad ketentuan-NYA. Maka dari itu buat kelurga yang ditinggalkan, amalkan lah. Insyaallah almarhumah adalah orang yang baik, orang yang tergolong dari kaum muslimin sejati, orang yang mendapatkan amalannya dan orang yang berada di sisinya. Aamiin, aamiin allahumma aamiin."


"Aamiin...." Ucap semua orang yang turut hadir.


Masih banyak lagi wejangan yang diberikan sang ustadz.


***


Sejatinya kita akan kembali kepada-NYA. Usia tidak akan pernah memberikan kabar kepada sang Raga, kapan mereka akan meninggalkannya. Hanya kebaikan dan amalan yang mampu membawa jiwa kita ketempat tujuannya.

__ADS_1


__ADS_2