IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
51. Pertolongan murni


__ADS_3

[temui aku di hotel xxx dan jangan katakan apapun sama orang tuaku.] Ku kirim pesan pada kak Nana yang katanya sedang berada di rumahku.


Kubaringkan tubuhku bersama khumairah yang tampak sangat lelah.


Saat sedang masuk ke alam mimpi, getaran ponsel berkali-kali menggangguku.


Kutatap sekilas layar ponsel yang sedang berkedip-kedip.


"Kak Mira?" Gumamku sendiri.


Entah apa yang harus aku katakan pada mereka jika mereka tahu kebenarannya. Bahkan baru saudara yang mengetahui saja aku bingung menjawab apa. 


Dengan berat aku menggeser layar ponsel menjadi ke arah hijau.


Diam adalah sifatku saat sedang berada di suasana tegang.


"Halo! Tyas!" Suara tekanannya membuat aku mencoba untuk berpikir harus menjawab apa jika di tanya.


"I-iya kak," aku menutup wajahku dengan sebelah tanganku dan sebelah yang lain meletakkan ponsel di telinga.


"Kamu dimana." Datar suaranya membuat napasku sulit untuk keluar.


Aku masih diam dan belum menjawab apapun.


"Tyas!" Sedikit keras kak Mira mencoba memanggilku dari seberang telepon.


"A-aku di hotel xxx kak," jawabku lemah.


"Apa begitu cara kamu pergi dari rumah saat bertengkar dengan suamimu!" Keras bentakan itu membuat nyaliku menciut. 


Masih kak Mira yang berbicara saja rasanya aku sudah seperti katak dalam tempurung. Bagaimana jika dua Abang yang akan menegurku.


"A-aku pergi karena punya alasan kak?" Jawabku dengan suara merendah.


"Iya, alasan. Kau memang selalu begitu sedari dulu kan? Dan alasannya karena kamu tidak mau menghadapinya. Selalu menghindar!"


Benar. Ucapan itu sangat benar, bahkan aku hampir tidak pernah menyelesaikan masalahku sendiri. Selalu ada orang lain yang membantu semuanya, walaupun aku tidak berada di pihak yang salah.


"Aku akan pulang,"


"Pulang kemana! Ha! Ke sel tahanan ikut dengan suamimu? Bahkan kamu orang yang paling jahat yang sudah buat laporan atas kasus suamimu. Harusnya kamu bicarakan baik-baik terlebih dahulu, said bukan orang yang jahat. Bahkan dia ingat dengan keluarga? Apa kamu tidak meyakini kalau dia bisa berubah."


Mendengar itu aku mengelus dadaku yang terasa sesak. Bagaimana bisa mereka berpikir bahwa mas said masuk kedalam sel tahanan karena ulahku. Bahkan aku sendiri baru tahu perbuatan dia yang selama ini mencurigakan.


Kak Nana, aku sangat yakin bahwa itu adalah ulahnya. Kutarik napas dan ku keluarkan secara kasar.


"Aku tidak melaporkan." Jawabku datar.


"Bagaimana bisa dia tertangkap di tempat yang sama saat kamu juga ada disana?"


Dadaku semakin sakit, bahkan saudara kandungku sendiri tidak percaya denganku. 

__ADS_1


Mereka belum mendengar apa yang selama ini aku alami selama menikah, mereka belum mendengar bagaimana mas said menutupi celahnya tanpa aku curiga.


Bahkan dia masih sanggup berbohong saat aku sudah mulai curiga. Berbohong di atas kepercayaan yang sudah aku berikan padanya.


"Sudah aku katakan, aku tidak melaporkannya!" Bentakku tak tahan.


"Lagian dia tertangkap karena ulahnya! Selama ini, akulah orang yang selalu ia bohongi, aku pergi juga belum curiga tentang apa yang ia lakukan. Disini aku keluarga kakak, masih bisakah kakak percaya pada kak Nana yang hanya kakak iparku!"


"Kak Nana itu orang yang sangat baik terhadap kalian, dan kamu adalah orang yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah selama ini. Jadi apa salahnya kalau kakak lebih percaya dia ketimbang kamu!" Dengan enteng kak Mira berucap yang dapat menyakiti hatiku.


Dan ternyata penilaian dia selama ini sama dengan yang lain. Bahwa aku seorang gadis yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah dengan tegas. 


Keberadaan dia dipihakku hanya rasa kasihan terhadap saudara. Dan dia tidak memiliki rasa percaya terhadap aku sama sekali.


"Jangan telepon aku lagi! Jika sikap kalian hanya bisa menyalahkan aku! Aku bisa hidup dengan diriku sendiri bersama putriku." Kututup panggilan lalu kulakukan pemblokiran kontak pada semua kontak kakak dan Abangku.


Sudah cukup mereka menganggap aku seorang anak kecil, jangan karena aku anak bungsu mereka selalu menganggap aku lemah dan tidak bisa menyelesaikan masalah dengan baik.


Kuhapus air mataku, ku kemasi barangku lalu meninggalkan jejak di kamar hotel itu. Entah kemana tempat tujuanku, aku belum tahu sama sekali.


Ku stop bis antar kota lalu segera naik. Duduk di samping jendela membuat khumairah tertawa riang melihat bayangan yang telah di lewati.


[Kamu dimana! Aku sudah sampai] pesan dari kak Nana membuat emosiku ingin meluap.


[Urus saja adikmu! Aku sudah cukup sabar dan sudah ku katakan aku tidak tahu sama sekali tentang kelakuan buruk adikmu itu! Dan kamu sendiri yang sudah mengetahui tidak berniat memberitahukan aku. Dan sekarang kau menghancurkan hidupmu bersama keluargaku sendiri! Kau yang hanya orang lain, jangan sesuka hati membuat drama ini. Bahkan aku pun bisa membuatmu terpisah dengan keluargamu sendiri. Tanah mertuaku mungkin belum kering, tapi sifat semua anaknya sudah membuatnya sangat menderita di alam kuburnya.]


Dengan sangat emosi aku mengirim balasan kepada kak Nana yang selama ini aku anggap sangat baik.


Ku cari kontak kak murni lalu memanggilnya lewat telepon.


"Halo, assalamualaikum?" Terdengar suara kak murni yang menyapaku.


"Waalaikum sallam, kak murni, aku ingin meminta tolong dengan kak murni bisa?" Tanyaku dengan menggigit bibir bawah menahan Isak tangis.


"Tyas, apa kamu baik-baik saja Yas!" Kak murni justru bertanya kembali kepadaku.


"Ya aku baik kak," jawabku kembali dengan sangat lirih.


"Apa yang bisa kakak bantu buat sahabat istimewa ini." Candanya membuat sedikit hatiku lebih adem.


"Ehm__ apa bang Bandi dan istri barunya dirumah?"


"Tidak? Baru saja pergi! Katanya mau shopping gitu tadi pamernya." Jawab kak murni dengan nada kesal.


Aku kembali diam, dan cara menyusun kata yang tepat agar ia tak curiga.


"Bisakah kakak masuk kedalam rumahku, karena kunci aku titipkan ke kakak, jadi aku minta tolong ke kakak."


"Oh ya sebentar," terdengar suara deritan pintu yang dibuka.


"Sebenarnya mau ngapain si Yas? Penting banget ya?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Penting kak, intinya kakak masuk dulu saja." Jawabku tak ingin menunggu lama.


Dia tak lagi menjawab, hanya terdengar seperti langkah kaki dan angin yang bersahutan dari balik telepon genggam ku.


"Sudah ni, kakak sudah masuk dirumah." Ucapnya kala sampai.


"Tolong kakak buka lemari pakaian yang kaca, yang ada di dalam kamar. Lalu kakak buka pintu sebelah kiri, dan angkat pakaian dari kotak nomor tiga urutan dari atas."


"Ok?" Jawabnya dengan kalimat yang sedikit berlebihan.


"Surat tanah!" Suaranya terdengar terkejut.


"Iya kak, surat tanah." Jawabku cepat.


"Untuk apa?" Tanyanya penasaran.


"Tolong kakak bawah dulu kerumah kakak, nanti aku jelasin. Sebelum ada yang lihat." Jawabku kembali.


Dan tidak ada lagi suaranya terdengar, dan kembali hanya suara langkah kaki yang terus mengiringi. 


Tak banyak makan waktu untuk kembali karena posisi tmrumah yang berhadapan, hanya dibatasi jalan untuk berlalu lalang.


"Yas, sudah sampai. Sebenarnya untuk apa sih surat-surat itu? Kamu mau jual?" Ucapnya memecah keheningan.


"Mas said di penjara kak?"


"Apa!" Teriaknya dengan sangat keras.


"Mur! Kenapa teriak-teriak!" Terdengar samar-samar suara lek Diman dari seberang telepon.


"Enggak apa lek, dapat kabar dari kampung sapi tetanggaku lahiran anaknya kembar 4." 


Dalam keadaan sedih begini justru ingin tertawa mendengar alasan kak murni yang selalu spontan.


"Wah mana, pengen lihat?" 


"Enggak bisa lek, masih terlalu ramai, sudah dimatikan sambungan teleponnya." Teriak kak murni kembali.


Aku hanya diam menunggu ucapan dari kak murni.


"Yas! Aku sudah di dalam. Bagaimana ceritanya sih!" Tanya kak murni. 


Aku menjelaskan semua yang selama ini terjadi, dan kecurigaanku yang selama ini. Kak murni tampak tak percaya dengan kasus yang di alami oleh mas said. Namun dia sama sekali tidak menyalahkan aku seperti halnya keluargaku sendiri.


"Ya Allah Yas, parah juga ternyata kakak si said ya, dan kenapa juga keluargamu percaya sama dia. Eh__ tapi, bisa jadi keluargamu percaya karena belum mendengar penjelasan dari kamu. Lagian mana mungkin mereka mendukung yang salah." Jawab kak murni yang sepemikiran denganku.


"Tapi kak, gimana aku mau jelasin kalau pemikiran mereka sudah salah denganku." 


"Iya juga sih? Lah terus kamu mau apakan surat-surat yang sudah aku ambil ini?" Tanya kak murni.


"Aku__"

__ADS_1


__ADS_2