
Pov: Tyas part II
Semenjak mas said pergi melihat hewan ternak, aku selalu menunggu kepulangannya. Sampai lewat dari siang hari dia tak kunjung pulang. Aku berpikir dia merahasiakan suatu penyakit, namun penyakit apa yang tiba-tiba menghilang, lalu pulang dengan kondisi tubuh seperti orang tengah sakit.
"Dek khumay makan sore ya? Anak bunda, kesayangan bunda?" Khumay tampak tertawa saat aku sedikit melambungkan tubuh mungilnya ke udara.
Setelah kupersiapkan makanan khumay, saat kubawa untuk menghampirinya kembali. Tidak aku dappati putri kecilku berada Diruangan. Bergegas aku keluar, kulihat khumay sudah melangkah ke bibir jalan dengan bantuan dinding bak penampungan air untuk pencucian sepeda motor milik suamiku, yang sudah lama tidak terpakai.
"Astaghfirullah khumay?" Langkah cepatku menghampiri, dan meraih tangannya.
Khumay memang cerdas, walau belum bisa berjalan lancar. Tapi mampu menemukan ide untuk mencapai kemauannya. Aku yang sedang menggendongnya, sembari mengatur nafas. Justru menjadi pemandangan menarik baginya, sesekali ia mengikutiku yang sedang menarik nafas dan membuangnya.
Tawanya mampu membuat hatiku bahagia, tawanya selaalku menjadi penghibur, tawanya selalu menjadi pelipur laraku, tawanya selalu meredam emosiku. Perkembangannya juga membuatku berpikir untuk meyakinkan diriku.
Setelah puas menciumi wajah khumay, kulangkahkan kaki untuk masuk kembali kedalam rumah. Tapi lagi-lagi mataku menangkap tanpa sengaja kehalaman milik kak Faedah dan Bang Bandi. Yang mana sudah terparkir mobil, seperti mobil yang tadi malam datang bertamu di tengah malam.
Saat sedang memperhatikan, mas Said memanggilku dari arah belakang.
"Bun... Dek khumay... Ayah pulang? Mana ni ya anak ayah," aku bergegas masuk dan melihat mas said menghampiri kami. Dia ambil khumay dari gendongan, serta menciumi khumay, seperti membalaskan rindu yang lama tertahan.
"Darimana sih yah? Nggak biasanya pulang sore. Yuk makan dulu?" Ucapku, tadinya aku sudah tidak tahan ingin mencecar banyak pertanyaan untuknya.
Tapi wejangan dari almarhum bapak dulu kepada Empat anak perempuannya.
'Jangan biasakan bertanya pada suamimu, atau memberikan kabar, dengan keadaan perut yang belum terisi dari rumahmu. Itu tidak baik untuk rumah tanggamu'
Pesan itu selalu terniang di kepalaku, walaupun pada saat itu aku masih duduk dibangku SMP. Tapi aku cukup memahami apa yang dikatakan oleh beliau.
Mas said mengangguk, dan duduk di karpet seperti biasanya, bersama khumay. Dengan teliti dia menyuapi putrinya menggantikan aku yang tengah sibuk mengambilkan nasi untuknya.
Kuletakkan nasi serta sayur SOP di mangkuk, dan sambal di piring kecil sebagai pelengkapnya. Tak kulupakan juga setoples kerupuk yang selaalku menemani acara makan kami. Tanpa kerupuk, rasa makanan masih kurang sensasinya, kebiasaanku itu juga menjadi kebiasaan mas said.
"Loh! Bunda nggak makan sekalian?" Tanyanya kepadaku.
"Tidak ayah? Bunda ntar malam aja, " tolakku.
Mas said ini seperti tahu kalau aku tidak mungkin bisa makan kalau dia belum pulang untuk mengisi perutnya.
Kini Aku menggantikan untuk menyuapi khumay, jika biasanya aku juga ikut makan saat dia bertanya seperti itu, entah mengapa saat ini rasa sakitku yang masih bersarang menolak sebaliknya.
"Aaa...." Tiba-tiba mas said sudah menyuapkan nasi kemulutku.
Aku hanya bergeming belum dapat membuka mulutku.
"Ayah tahu, mana mungkin bunda sudah makan, kalau ayah belum makan. Sekarang kita makan bareng, biar ayah suapin."
__ADS_1
Aku terharu mendapatkan perlakuannya. Kini pemandangannya dia makan sambil menyuapi aku yang sedang menyuapi khumay.
Buliran bening kini kembali jatuh dipipiku, lagi-lagi tanpa permisi.
"Loh kok nangis? Bilang ke Ayah. Apa kesalahan ayah sampai buat bunda menangis,"
Ucapannya yang seperti itu membuatku semangkin terisak-isak. Aku sendiri bingung, apa kesalahannya setelah mendapatkan perlakuan yang seperti ini.
Kami selesaikan acara makan sore itu, lalu bergegas membersihkannya. Sampai aku sendiri melupakan untuk bertanya tentang rasa penasaranku.
***
Malam hari aku mengajak mas said membeli sate didesa sebelah tempat kami tinggal. Rasanya malam ini ingin keluar cari angin sambil jajan kesukaan. Sudah lama rasanya tidak keluar malam untuk jalan-jalan.
"Ayah, bunda makan dua porsi ya? Sekarang satu porsi buat perut nggak kenyang." Ucapku tanpa rasa malu. Bagiku untuk apa malu, dengan suami sendiri, toh yang kita pakai juga uang sendiri.
"Iya bener, ayah juga dua porsi deh Bun. Ayam kan lagi mahal Bun? Wajarlah kalau__" ucapan mas said berhenti kala seorang pelayan datang menghampiri.
"Mau pesan apa saja pak?" Ucapnya ramah.
"Eh Sate kacang dua porsi, sate padang dua porsi, dan satu lagi lontong satenya dicampur pakai bumbu padang sama bumbu kacang tapi jangan diberi sambal ya mbak?" Kini aku yang menjawab pertanyaan pelayan tersebut.
Aku suka makan ditempat itu, karena setiap bumbu tidak pedas sama sekali, sambalnya selaalku terpisah. Itu sebabnya khumay juga bisa melahapnya.
"Baik, minumannya nggak sekalian ibuk?" Tanya pelayan kembali.
Lima belas menit kemudian, makanan yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sudah tersusun rapi, dan siap untuk dinikmati.
Saat sedang menikmati makanan, suara seseorang mengejutkan kami.
"Loh makan disini juga kalian, banyak banget pesannya. Belum pernah ya?" Suara kak faedah menatap sinis ke arah kami.
Tak kuhiraukan ucapannya sama sekali, begitu juga mas said. Kami sibuk dengan menikmati makanan saja, tanganku juga sibuk menyuapi khumay.
"Mbak pesan dong?" Teriak kak Faedah dari arah dua meja didepan kami.
Setelah pesanan mereka datang, kulihat wajah kak Faedah dan bang Bandi tampak kesal.
"Mbak! Mbak" teriaknya kembali.
Datanglah seorang pelayan yang tadinya menghampiri mereka.
"Seriusan porsinya cuma segini." Ucapnya kesal.
"Iya buk? Daging ayam kan lagi naik drastis mbak? Jadi untuk sementara porsinya dikurangin." Ucap sang pelayan.
__ADS_1
"Kalau gini sih nggak sebanding dong? Ini sih namanya cari taktik untuk cari keuntungan. Ah ya sudahlah!!" Ucapnya tanpa basa-basi. Ucapannya sangat pedas sekali.
Pelayan tersebutpun pergi menjauhi meja mereka. Kami yang duduk hampir dekat dengan meja kasir mendengar kasak kusuk dari beberapa pelayan.
"Siapa sih? Pelanggan setia kita aja nggak pernah masalahin. Dia baru kelihatan disini lagaknya yang sok, ditambah tidak terima soall harga dan porsi. Ya kalau nggak punya uang tinggal bilang aja kan!" Salah satu karyawan yang memegang meja kasir tampak sinis memandang ke arah kak faedah.
Tak ingin berlama-lama kami memutuskan untuk segera pulang. Namun sebelum pulang aku memesan ayam Krispy untuk lauk besok pagi sarapan. Karena stok sayur dan lauk-pauk yang sudah habis di lemari es.
Setelah membayar semuanya aku sedikit berbisik ke pelayan yang ada di kasir.
"Mbak kalau boleh saran, lain kali jangan porsinya yang dikurangin mbak? Akan lebih baik harganya saja yang di naikkan sedikit. Masalahnya orang Indonesia terbiasa makan dengan perut kenyang."
Lalu sang pelayan mengucapkan terimakasih atas masukanku, dan dia akan menyampaikannya kepada sang pemilik. Ya kebetulan pemilik warung sate ini juga pelanggan setiaku, yang selalu memesan air sehat alkali yang kini aku jalankan.
Saat melewati meja kak Faedah dan bang Bandi aku menyapanya, dan pamit lebih dulu. Dia hanya tersenyum sinis menanggapi ucapanku.
Saat diparkiran bang Bandi menghentikan laju kendaraan kami, dan berjalan menghampiri.
"Id,ehm_ bisa pinjam uang kamu dulu nggak seratus ribu saja."
Sebelum mas said menjawab iya, dia lebih dulu menatapku dan segera ku anggukkan kepala untuk memberikan jawabannya.
Mas said mengambil uang dari tanganku yang memberikannya. Lalu memberikannya kembali kepada, mas said.
"Untuk apa sih bang?" Tanya mas said.
"Ehm itu... Ehm porsi makannya nggak kenyang, tadi Arif sama Wika minta tambah porsi. Tapi kakakmu tidak bawa uang lebih. Abang juga tidak bawa uang sama sekali." Jelasnya dengan wajah yang tampak malu dihadapanku.
"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya bang?" Ucapku tanpa banyak bertanya lagi.
Diperjalanan pulang, aku mencoba membuyarkan suasana yang sangat dingin.
"Kak Faedah itu nggak beretika sama sekali ya mas, sudah marah-marah. Ketus sama kita tanpaa sebab. Eh tahunya butuh juga kan?" Ucapku kesal.
"Itulah sebabnya ibu tidak pernah suka dengan dia. Ibu sayangnya cuma sama kamu." Ucapan mas said mampu membuatku tersenyum
"Janga bilang gitu dong mas? Aku tuh seolah-olah seperti cerita sinetron ikan terbang, yang mendzalimi kakak ipar yang tersakiti ha-ha-ha." Ucapku gmdengan gelak tawa.
"La dia yang mendzalimi kita. Untung saja ibuk berada di pihak yang benar." Timpalnya kembaali.
Saat sudah hampir sampai kerumah suara dering telepon milik mas said menghambat perjalanan. Kami pun memutuskan untuk berhenti dan melihat siapa yang sedang menggangu perjalanan.
Begitu melihat layar ponsel, kami saling tatap bingung.
"Hallo bang Bandi...." Ucap mas said.
__ADS_1
Entah apa jawaban yang diberikan aku tidak mampu mendengarnya, hanya bisa menunggu jawaban dari mas said.
"Ha apa!!!"