IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
9. Tersulut Emosi


__ADS_3

"Dari pagi kok kak matinya" Tyas membalas ucapan murni.


Faedah hanya terdiam saja dan asik menikmati rujaknya, Tyas meliriknya dan kembali diam. Dia tahu bahwa itu pasti kerjaan faedah namun karena masih ada murni dia tidak mau menanyakan perihal itu.


"Mungkin aku yang lupa bayar listrik". Saat Tyas berucap demikian, murni Mala dibuat bingung.


"Loh bukannya kalau sudah mau habis, tu PLN kasih tanda-tanda kayak bom ya Yas, ehh (diam sejenak) bukannya kamu listrik masih numpang sama kak faedah ya Yas. Jadi maksudnya belum bayar listrik sama kak faedah" terang murni dengan cari kejelasan.


"Hehehe iya kak. Kalau gak salah aku bayar listrik tanggal 23 kemaren ya kan kak dah. " Dengan sengaja Tyas memancing faedah, dan sengaja membuat murni memberikan banyak pertanyaan.


"Gak tahu, aku lupa Yas. Lagian aku gak tahu kenapa listrik dirumahmu mati. Sementara dirumahku masih terang-terang aja tuh." Dengan caranya bicara membuat Tyas semangkin paham dengan sikapnya.


"Nanti mas said aku suruh cek aja deh." Tyas hanya menjawab singkat.


Rasanya dia ingin menangis saat itu juga, namun dia berusaha tetap tegar. Rasa berselera untuk menikmati rujak buah pun hilang seketika. Sementara faedah tidak merasa bersalah dan terus memasukkan potongan buah kemulutnya. Murni yang melihat langsung menghentikan untuk memakannya. Apalagi saat didapati faedah berkali-kali menggigit potongan buah lalu memasukkan sisa gigitan kembali ke bumbu rujak. Murni merasa mual dengan hal itu.


( Kenapa kak faedah seperti sengaja melakukan ini, sudah tidak sabar rasanya bertanya padanya, tapi kenapa kak murni tidak kunjung pulang).


Karena sudah merasa tidak sabar, akhirnya Tyas memutuskan untuk pulang kerumahnya guna meredam amarahnya. Namun lagi-lagi dia selalu teringat akan sikap kakak iparnya itu.


(Apa karena kami orang yang belum mapan, sampai harus berkali-kali menghinaku. Walaupun tidak secara langsung menyebut namaku. Namun aku dapat merasakannya


Saat berada di rumah Tyas meraih bantal dan membenamkan wajahnya kebantal tersebut. Air matanya sulit untuk ditahan. Dia selalu terbayang akan hal-hal yang menyakitkan jiwanya.


Dia terbayang yang selalu disudutkan dirumah keluarganya sendiri, dimana dia selalu dikatai anak angkat oleh saudaranya. Walaupun itu bualan dan bercanda, namun itu mampu membuat Tyas menangis.


Dia terbayang dimana ingin melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas, ia harus ditinggalkan ayahnya. Namun Rezeki menghampirinya. Tyas termasuk orang yang pandai sehingga mendapatkan beasiswa.


Dia harus terbayang, dimana lulus sekolah SMA, dia tidak dapat ikut piknik dengan teman-temannya atas kelulusan sekolah. Itu semu karena keterbatasan biaya.


Dia teringat dimana mendapatkan beasiswa untuk kuliah di tiga universitas. Namun lagi-lagi dia harus mengubur dalam-dalam mimpinya. Karena tidak mungkin meninggalkan ibunya seorang diri.


Dia teringat saat merajuk, ayahnya selalu menghiburnya lalu menggendongnya.


Dia teringat saat lulus sekolah SMA tidak mendapatkan uang untuk bayar bulanan sekolah. Dan teryata beasiswa yang dimiliki oleh Tyas harus habis. Karena hanya berlaku untuk beberapa semester saja.


Lalu sekarang di teringat akan sikap faedah. Yang ternyata memiliki tabiat yang tidak patut dijadikan contoh.


Tyas terus menangisi keadaanya, sampai lupa akan bersyukur kepada sang pencipta. Dalam tangisannya ia terus terisak, dan membawanya ke alam mimpi.


Diwaktu lain, said pulang kerumahnya sambil membawa jajanan kesukaan istrinya, sesampainya dirumah dia terus mengucapkan salam dan memanggil istrinya. Namun tak kunjung mendapatkan jawaban sama sekali, said langsung membuka pintu rumah lewat jendela, dan masuk kedalam rumah. Ia bergegas menuju dapur dan meletakkan makanan dimeja, lalu kakinya melangkah ke kamar. Namun dia terkejut melihat istrinya yang tengah hamil muda tertidur meringkuk dengan tangan kanan memeluk lutut sementara tangan kiri memegang perut yang mulai membesar. Said panik dan segera memposisikan tidur istrinya dengan baik, saat posisinya sudah membaik ia melihat mata istrinya sembab seperti orang yang habis menangis. Ia menepuk pipi istrinya untuk membangunkan, dengan tidak sengaja tangannya menyentuh bantal yang ditiduri istrinya basah.


"Yank. Bangun dulu yuk udah hampir ashar ini, mas Bawak bakso bakar Lo?" Said terus menepuk pipi istrinya agar bangun.


Didalam hatinya said tidak ingin istrinya terus menangis, apalagi dalam kondisi sedang hamil, ia tidak mau istrinya defresi. Said semangkin gelisah karena istrinya tak kunjung bangun, dia kembali membangunkan untuk yang kesekian kali.


"Alhamdulillah? Yuk bangun yuk? Uda sore, mas Bawak bakso bakar dimeja" ucapan syukur terlontar dari bibirnya karena melihat istrinya membuka mata.

__ADS_1


Said melihat cukup jelas bahwa istrinya pasti menangis sampai membuatnya tertidur, karena lebih terlihat saat Tyas mulai membuka matanya. Namun said urung untuk mempertanyakannya. Dia ingin istrinya lebih rileks terlebih dahulu.


"Mas Bawak bakso bakar beli dimana?" Tyas bertanya dengan suara yang agak serak.


(Ya Allah sepertinya dia menangis berjam-jam, sampai suaranya serak) said membathin sambil menatap istrinya yang berbicara dan turun dari ranjang.


Tyas berjalan kearah belakang, said hanya mematung dan berasumsi dengan pikirannya sendiri.


"Mas? Dimana baksonya. Katanya beli bakso buat aku!" Terdengar suara Tyas yang mengejutkan said. Lalu said berjalan menghampiri istrinya.


"Lo tadi disini kok mas letakin" ucap said bingung.


Tanpa sengaja mata Tyas melihat bungkusan yang berserak dibawah dan mengisahkan sebagian isinya.


"Itu gak mas." Tanya Tyas pada suaminya sambil menunjuk kearah yang dilihatnya.


"Lo kok bisa dibawah gini, astaghfirullah yank? Kayaknya ini dimakan kucing. Cuma sisa 3 cucuk aja. Untung ini plastiknya ketutup." Jelas said yang memperlihatkan isi didalam kantong plastik. Yang didalamnya ada dua plastik gula yang berisikan masing-masing bakso bakar.


Namun hanya satu pelastik yang terlihat utuh. Sementara yang lainnya ada yang sebagian habis dari tusukannya, dan ada yang bilang beberapa bagian baksonya.


"Biar mas beli lagi aja, ini jangan dimakan, bekas kucing." Ucap said yang ingin membuang ke tong sampah.


"Mas yang dipastik itu kan masih utuh, kayaknya gak kesentuh kucing. Biar aku makan aja, mubazir kan" Tyas seperti sayang jika harus membuang makanan.


"Jangan ah, lagi hamil kok makan sembarangan, sini biar gak mubazir." Said menarik plastik yang ada digenggaman istrinya, lalu memberikannya kepada ayam yang ada diluar rumah.


"Kasih makan ayam itu gak mubazir yang, terus kalau kucing makan makanan kita. Itu tandanya dia ngingatin kita ingat untuk berbagi rezeki. Mas pernah dengar itu di ceramah ustadz di YouTube" ucapan said membuat Tyas tersenyum.


(Banyak orang yang menganggap suamiku seperti orang bodoh, karena dia selalu ceria dengan semua msalahnya, apalagi dia yang hanya tamat SMP, membuat banyak orang yang remehin. Tapi nyatanya orang lain gak pernah lihat itu. Mas said juga tidak pernah memperlihatkan kepintarannya didepan orang lain) Tyas mengagumi suaminya dengan kata-kata yang dia simpan didalam hatinya.


Said berjalan kebelakang dan melangkah kekamar mandi. Dia memencet saklar air, karena ia melihat air didalam bak kamar mandinya habis. Tyas tidak melarang suaminya, dia hanya diam saja melihat gerak suaminya.


"Lo yank masih mati lampu ya?" Tanya said pada istrinya.


"Tadi kata kak murni 1 harian belum ada mati lampu. Kak faedah bilang juga dia gak tahu kenapa dirumah kita lampunya mati, sementara ditempatnya terang benderang" Tyas berucap dengan mata berkaca-kaca.


Said melihat  mata aistrinya sudah bisa menebak mengapa istrinya tertidur dengan keadaan yang tidak baik. Pasti ada sangkut pautnya dengan lampu dirumahnya.


Said tidak banyak bertanya, kakinya langsung melangkah keluar rumah dan mencari wayar yang menghubungkan listrik dari rumah faedah kerumahnya.


Dia langsung terbelalak melihat kabel itu putus dipertengahan, bukan disambungannya.  Lalu tiba-tiba muncul faedah dari pintu belakang rumahnya.


"Lo kamu id, duh putus kayaknya kabelnya yah? Pantesan tadi Tyas bilang mati lampu." Faedah berucap pad said dengan kata-kata yang enak didengar telinga.


" Kalau aku tadi mikirnya bukan mati lampu kak. Aku pikir belum bayar listrik. Heheheh" said berucap sambil tertawa diujung kalimatnya. Tyas mendengar dan juga mengerti bahwa said berucap dengan menyindir kakak iparnya itu.


"Baru isi token kok mas, masa belum bayar listrik" kini Tyas yang tiba-tiba berucap yang datang menghampiri suami dan kakak iparnya.

__ADS_1


"Ya sudah besok aja dibenerin, beli kabel disini kan jauh" ucap said pada istrinya.


" Lo mandinya gimana mas?" Tanya Tyas lagi.


"Uda gampang. Nanti aku ambil dari parit besar yang berhubung kesungai sana. Airnya Mala lebih jernih kok yank" said menenangkan istrinya. Sementara wajah faedah langsung berubah dan masuk kedalam rumahnya.


Jelas faedah tersinggung. Karena dulu saat said tinggal dirumahnya, dan rumah itu belum memiliki sumur sendiri. Said lah yang mengambil air dari parit untuk dibawah kerumah. Dan air di empat bak harus terisi penuh. Jika tidak penuh pasti faedah selalu bilang belum masak sayur untuk dimakan. Bukan cuma itu, said juga membantu tukang untuk membangun rumah faedah dan Bandi agar lebih besar lagi, tanpa gaji, dia hanya diberikan makan saja.


-----


Flashback saat said tinggal dirumah Bandi dan faedah.


"Id ambil air ya' airnya sudah habis" ucap faedah ketus kepada adik dari suaminya.


"Iya kak,"  said mematuhi suruan istri dari abangnya Bandi. Karena dia juga orang yang tidak enakan karena sudah menumpang tempat tinggal disana.


Hari pun beranjak siang, terik matahari membuatnya kelelahan, selain haus dia juga merasakan perutnya minta untuk diisi dengan makanan. Dia berniat istirahat sejenak lalu makan dan kembali bekerja. Namun saat tangannya ingin mengambil nasi faedah memergokinya.


"Id aku belum masak sayur. Itu sayur untuk Abang sama adik-adikmu, mereka belum makan, nanti aja kamu makannya" faedah terus berucap ketus jika pekerjaan adik iparnya belum selesai dengan sempurna.


"Iya kak?" Ucap said mengembalikan centong nasi yang sudah dipegangnya.


Flashback off


---------


Said dan Tyas berbicara didalam rumahnya.


"Mas? Mau sampai kapan kamu ambil air di parit besar."


Sontak pertanyaan Tyas membuat said menatap istrinya.


"Gak papa, nanti malam kita pakai senter atau lilin dulu aja, soal mandi jangan difikirin." Said mencoba menenangkan istrinya.


"Kita mandi ditempat kak Yani aja" ucap Tyas lalu berlalu meninggalkan suaminya.


Said menganggukan  kepalanya tanpa mampu menjawab. Karena ia merasa belum bisa membanggakan istrinya.


Namun siapa yang menyangka, saat kaki mereka ingin keluar rumah terdengar suara faedah mengetuk pintu belakang rumah yang mereka tempati.


"Id, Yas" suara faedah terdengar sangat ramah.


Said membuka pintu lalu melihat faedah membawa sesuatu.


"Id pakai ini, kakak masih simpan. Kamu bisa pakai dulu aja" faedah mengulurkan sesuatu yang diberikan kepada said.


Said melihat dengan mengerenyitkan alisnya.

__ADS_1


"Gak usah kak" jawab said tanpa basa-basi. Karena ia juga sudah tersulut emosi dengan perlakuan kakak iparnya.


__ADS_2