IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
33. Banyak Hutang Tapi Masih Sok


__ADS_3

Pov: Murni


"Arggggmhh...." Suara kak faedah terdengar seperti tengah kerasukan.


"Ya Allah, kenapa Sama kak faedah ya Yas?" Tanyaku penasaran.


Tyas hanya mengangkat bahu, sesekali memperhatikan aku yang jiwa keponya sudah mulai memuncak.


"Ya kalau penasaran, datang saja kakk murni? Jangan intip-intip begitu!" ketus Tyas yang mulai kesal dengan sikapku. Ya dia memasang tidak terlalu senang ikut campur urusan orang lain.


"Aku mau pulang saja Yas, Mau tidur siang. Ntar sorean aja ya traktirnya, biar Akku nggak masak." Tyas hanya mengangguk dan aku segera melangkah pamit.


Dari arah pintu belakang aku berjalan kedepan melewati gang antara rumah said dan Bandi. Namun saat hampir berada di halaman depan milik Bandi, aku mendengar orang marah-marah dengan kak faedah.


Aku langkahkan kakiku kembali kerumah Tyas, dengan derap langkah tergesah.


"Astaghfirullah haladzim ada apaan sih kak! Ngagetin kakak tahu." Terlihat ekspresi terkejut saat kedatanganku kembali.


" Eh_ itu Yas, ada yang lagi marah-marah di rumah kak fedah. Kasian tau Yas? Kak faedah mukanya sudah ketakutan." Ucapku mengiba pada sahabat baruku. Biar kak faedah menjengkelkan, tapi sebagai hidup bertetangga, juga tidak tega melihat kesusahannya.


"Aku biar. Panggil mas said dulu kak, aku nggak bisa kesana tanpa suamiku." Tyas juga tampak tergesa menghampiri suaminya yang ada dihalaman belakang.


Tidak butuh waktu lama, Tyas sudah membawa said bersamanya. Aku juga mengikuti langkah mereka yang sudah melewati ku.


"Eh ada apa ini bang? Harusnya sebagai tamu, abang-abang ini sopanlah." Ucap said kepada pria yang marah-marah terhadap faedah.


"Eh siapa pulak Abang nak ikut campur. Laki dio itu banyak hutang samaku. Lagian pun akak ni tahunya soal hutang ini. Kalau bagus dio bercakap sama kami, mana mungkin kami marah-marah." Jawab salah satu pria yang wajahnya tampak merah.


"Dimana bang Bandi kak!"


"Nggak ada di rumah. Lagi pergi lihat sapi." Jawab kak faedah masam.


Aku dan Tyas hanya mampu melihat, dan tidak berani berkomentar. Karena saat aku ingin mengucapkan sesuatu, Tyas sudah lebih dulu memberikan aku kode.


"Ndak pecayo kami sama akak ni, belum kupanggil orang dari rumah ini. Sudah kutengok bang Bandi ada didalam." Jawab kembali salah satu pria diantara mereka.


"Kenapa nggak Abang cari saja kalau sudah melihatnya." Said berucap dingin tanpa melihat ke arah jajaran pria tersebut. Dia berucap sambil matanya tidak beralih sedikitpun dari faedah.

__ADS_1


"Tak dikasih akak tuh bang, padahal kami kemari cuma meminta hak kaminya bang. Kami pun kan butuh biaya hidup untuk keluarga, banyak betul angan-angan anak istri kami dirumah." Iba suara pria tersebut menjawab pertanyaan dari said.


"Helle cuma sedikit, jumlahnya tidak seberapa tapi nagihnya kok luar biasa!" Memang kak faedah ini. Masih belum sadar dengan keterpurukannya.


"Eh kak Faedah. Sedikit tapi itu hak mereka, kalau uang suamimu lebih banyak dari hak mereka, kenapa tidak dibayar! Apa jangan-jangan uang kalian tidak mampu membayar hak-hak mereka. Kalau banyak duit tidak mungkin kalian berhutang!!" Said kembali tegang dibuat ulah kakak iparnya. Jangankan said, saya selaku tetanggaya saja malu mendengar perkataan said.


"Tapi kan__"


"Maaf bang saya mau bertanya?" Para pria itu mengangguk bersamaan. " Apa abang-abang ini ada pinjaman di BANK?" sambung said kemballi.


Pria-pria tersebut menggeleng bersama.


"Jangankan pinjaman bang. Meminjam kepada koperasi desa saja kami takut? Takut tidak bisa bayar." Ucap salah satunya.


Said tersenyum miring melihat faedah.


"Itu berarti Abang lebih kaya dari mereka! (Tunjuk said ke arah faedah) saya rasa abang-abang takut tidak dapat membayarnya kan? Padahal abang-abang lebih mampu. Kalau begitu, terserah Abang saja lah mau bagaimana? Saya tidak ikut campur lagi jika tahu alasannya begini." Said berjalan kearah rumahnya. Tampak raut wajah faedah kesal dengan sikap said.


Kini Tyas juga mengikuti suaminya, aku jadi bingung harus kemana? Jadi terpaksa kakiku juga mengikuti said dan Tyas yang pulang kerumah.


"Aku bingung mau pulang kerumah Yas, takut dibilang menertawakan kakak iparmu. Kamu kan tahu sendiri dia bagaimana?" Ucapku juga bingung.


"Hahaha... Kak murni ini ada-ada saja. Tapi yang jelas kan emang iya ingin mengejek. Aku tuh juga sudah paham kali sama sifat kakak." Kini Tyas yang meledekku. Ya emang benar, yang diucapkannya. Habisnya aku muak lihat tingkah tetanggaku itu.


"Ya kak faedah kan harusnya emang pantas dapatin celaan Yas?" Sambungku.


"Itu sih namanya kak murni mulai iri dengki sama kak faedah. Iri dengki itu termasuk orang yang tidak mampu Lo kak murni. Tidak mampu melihat orang lain bahagia" ucapan Tyas seperti menampar hatiku dengan keras. Aku sudah hampir melupakan rasa empati dihatiku.


Sejenak aku terdiam setelah mendapatkan ucapaan dari Tyas. Lalu pamit untuk pulang. Kali ini aku pulang dari arah pintu depan milik Tyas, jadi bisa sedikit menghindar dari percakapan kak faedah dan tamunya.


"Kalau seminggu lagi kami datang, tak ada sambutan baik dari Abang tu, maka kami akan bawa ini ke jalur hukum"


Degh... Kak faedah yang di ancam, kenapa jadi aku yang jantungan mendengarnya. Apa jadinya keluarga itu kalau sampai pakai jalur hukum. Tadinya aku sempat ingin tertawa, tapi untung saja Tyas lebih dulu mengingatkan aku.


"Jangan bawa-bawa hukum lah bang, masalah kecil begini saja kok dibesar-besarkan. Kami itu lagi banyak tanggungan bang, mengertilah sedikit, Bukan hanya hutang abang-abang saja yang kami pikirkan!"


Aku mendengar teriakan kak faedah yang belum merasa bersalah, dia justru semangkin terlihat melawan. Dasar tidak tahu malu! Mendengar ucapannya kini rasa empati ku jadi hilang seketika. Aku terus berjalan tanpa melihat kearah mereka. Yang sedang beradu mulut.

__ADS_1


"Wihhh tak tahu lagi becakap sama akak ni, semoga mati akak tidak terlilit hutang ya? Kasian aku tengok akak ini yang tidak beretika, bahkan sudah salah tapi tak mengalah. Kini semangkin terlihat bangga memperlihatkan hutang-hutangnya. Melayang lah arwah tuh tak diterima bumi, karena kebanyakan hutang." Sindiran halus buat kak faedah dari mulut salah satu lelaki tersebut harusnya mampu menyentil hatinya. Tapi wajahnya masih terlihat angkuh.


"Sudahlah sana pergi! Nggak ada urusan lagi Sama kalian." Teriaknya lantang sambil menutup pintu rumahnya dengan keras.


'astagfirullah haladzim, jauhkan la keluargaku dari lilitan hutang ya Allah' lirihku dalam hati.


Sampainya aku dirumah, mas Nanang justru bertanya tentang keributan dirumah faedah.


"Kamu darimana sih buk? Jangan sampai kamu dibawa-bawa faedah nantinya. Kamu kan tahu sendiri liciknya dia." Mas Nanang khawatir denganku.


"Tenang mas? Aku dari rumah Tyas, tadi cuma nggak sengaja saja aku dengar, jadi aku panggil said dan Tyas untuk menenangkan. Eh_ mala yang mau diitolongin lebih menyulut api, ya sudah jadi said sama Tyas lebih pilih pulang kerumahnya." Jelasku panjang lebar kepada mas Nanang.


"Baguslah buk?"


"Lagian aku heran deh mas? Mereka kok bisa sampai terlilit banyak hutang sih, hutang BANK, hutang sama pemilik sapi, hutang rentenir, belum lagi lahan kelapa sawit yang terjual. Bisnis apa sih yang dijalani sampai menghabiskan banyak harta." Tanyaku pada mas Nanang.


"Huss... Kamu itu, lagian tahu darimana sih soal hutang-hutang mereka. Jangan sampai Lo, kamu bicara sama orang, bisa dituntut kamu!" Mas Nanang tampak kesal denganku.


Wajar saja jika dia takut aku kehilangan arah. Tapi soal aib mana pernah aku sebarin kemana-mana, aku juga mau berbagi informasi kalau itu menyangkut motivasi. Huu mas Nanang belum dalam menilai aku ternyata.


"Murni! Murni!" suara kak faedah terdengar lantang di depan pintu sampingku.


Aku berlari kecil untuk menghampirinya.


"Eh kak faedah, ada apa?" Tanyaku basa-basi.


"Jangan sok nggak tahu kamu! Awas ya kalau sampai banyak yang gosipin aku. Itu berarti dari kamu sama Tyas. Awas aja!!" Ha dia mengancam ku sekarang. Apa dia nggak sadar berapa banyak rumah yang berdekatan dengan rumahnya. Tapi yang diisalahkan justru aku dan Tyas.


"Eh apa-apaan kakak ngancam aku! Sebelah rumah kakak itu gakk cuma Tyas, noh lihat, itu rumah bik inur, yang agak kebelakang rumah Wak sari. Dengan suara lantang kakak itu sudah jelas mereka dengarlah. Jangan asal tuduh dong!" Emosiku memuncak dibuat kak faedah.


"Tapi yang mulutnya tajam itu cuma kamu!"


"Aku tajam, tapi tidak pernah nyebar fitnah kak faedah! Jangankan fitnah, nyebar aib orang juga aku nggak pernah. Aku itu ngeviralin yang patut untuk diviralin, bukan kayak aib kak faedah yang nggak bermanfaat!" Kali ini kusindir dia dengan terang-terangan.


"Kamu ya__" tangannya terangkat ingin menamparku. Namun dengan cepat mas Nanang datang, melerai pertengkaran kami.


Akhirnya dia pulang dengan wajah kesal, huu sudah pasti bakal tidak bertegur sapa ini.

__ADS_1


__ADS_2