
"Awalnya saya ingin menjemput bang Bandi pak. Lalu...." Tampak ragu said ingin bercerita.
"Lalu apa id...." Tanya salah satu tokoh masyarakat.
Said melirik Bandi yang memperlihatkan wajah iba kepada adiknya.
"Lalu... saya pulang membawa mereka, dengan menggunakan keranjang yang tadi bapak lihat. Saat sampai dirumah, istri saya menghampiri tapi sudah ada kak murni. Tidak ada yang menyinggung permasalahan pak? Tapi emang kak faedah yang merasa, kalau istri saya membongkar aib keluarganya. Padahal saya sendiri tidak menceritakan apapun pada istri saya." Said mencoba menjelaskan dari sisinya lebih dulu.
"Lalu bagaimana bisa Faedah dan Murni bertengkar sampai seperti tadi." Tanya pak RT kepada said.
"Dia hanya memuji istri saya pak, kak Murni merasa senang berteman dengan istri saya. Dan saya tidak tahu mengapa tiba-tiba kak Faedah menyerang kak Murni. Dan akhirnya mereka mala saling membongkar aib." Jelas said kembali tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Coba sekarang jelaskan dari sisi kamu Tyas." Kini pak RW meminta penjelasan dari tyas.
"Ya sama seperti suami saya bilang pak. Karena suami tidak memberitahu alasannya, jadi saya panik dan ternyata kepanikan saya memancing kak murni untuk menghibur saya. Sampai pulang pun saya tidak merasa kak murni menyinggung kak faedah." Jawab Tyas dengan penuh kejujuran.
"Apanya yang nggak nyinggung! Dia bilang aku pelit! Siapa yang nggak sakit hati pak, dia membandingkan aku dengan iparku!!" Bentak faedah dengan suara lantang.
"Hei mulut besar!! Aku nggak menyinggung kau ******. Tak ado lah memang otak kau buntang. Adonya Kito rasa penyakit kawan ni kan! Ada gilo-gilonya." Akhirnya suara murni mengeluarkan kata kasar dengan logat bahasa dari tempat dia tinggal.
"Woii...!!! Biasa aja kau ngomong. Yang nggak ada otak itu kau anj**g." Geram Faedah yang sudah menarik rambut murni yang duduk di kursi berjarak antara Bandi dan Nanang.
Hingga membuat murni terjengkang ke belakang.
"Sudah hei!! Kalian ini, kalau mau aduh tenaga. Biar saya bawa ke kandang anjing gila sekalian. Jangan sampai saya bawa kalian ke Polsek sekalian!" Bentak RW setempat.
Warga yang melihat dibalik jendela kaca juga menjadi riuh. Seperti menyaksikan sinetron kesukaannya yang akan menayangkan episode berikutnya.
"Apa yang kamu ucapkan mur, sampai bisa membuat Faedah tersinggung." Kini pertanyaan dilontarkan ke murni.
"Saya cuma berucap, kalau saya senang berteman dengan si Tyas, karena dia suka teraktirin aku, nggak pelit. Eh tanpa ada bara dia mala menyerangku seperti bensin terkena api." Murni juga menjelaskan dengan apa adanya.
RW,RT serta tokoh yang mendamaikan manggut-manggut dan mulai mengerti asal muasal kejadiannya.
"Tadinya kamu merasa aibmu dibongkar Tyas, lalu kamu tersinggung dengan ucapan murni. Coba sekarang ceritakan apa yang membuat penyakit hatimu timbul secara bringas." RW setempat bertanya dengan kalimat penekanan, agar Faedah menyadari bahwa dia mengalami penyakit hati.
"Saya merasa kalau murni sama Tyas sering membicarakan saya dibelakang pak. Apalagi wajah mereka tampak senang saat saya berada didalam keranjang itu. Sudah gitu kalimat yang dilontarkan murni juga sepertinya memang menyindir saya." tampak semangat faedah menceritakan rasa sakit hatinya.
Semua yang ada diruangan geleng-geleng kepala menanggapi cerita Faedah. Bahkan yang ada di luar dan didepan pintu yang ikut mendengar juga merasa tidak suka dengan sikap yang di telah diperbuat faedah.
"Itu namanya penyakit hati Faedah? Seudzon itu yang lebih tepat kamu rasakan. Lagian ucapan murni tidak menyinggung namamu, tapi mengapa kamu merasa sendiri. Emang kamu benar pelit seperti yang di ucapkan murni." Pak RW memijat pangkal hidungnya. Ia merasa pusing dengan hal konyol yang baru terjadi.
"Kamu juga murni. Lain kali hati-hati saat berbicara. Apalagi yang ikut andil dalam pembicaraan bukan hanya kamu dan orang yang kamu ajak bicara. Lihat sekitarmu masih ada orang lain atau tidak." Kali ini pak RW menegur murni, ia mencoba bersikap adil menanggapi masalah warganya.
Wak sari dan Bik Inur juga memberikan keterangan yang sejujurnya. Semua saling bersalaman, begitu juga keluarga Bandi dan Nanang.
"Pak RW! Terus bagaimana dengan kasus suami-suami kita yang pernah ia mintai uang pak RW." Teriak salah satu warga yang ada di depan pintu.
"Iya bener, sekalian di kupas habis dong pak masalahnya. Mumpung semuanya terbongkar. Kalau emang bener kak Faedah bersalah, beri sanksinya dong? Biar jerah. Nggak setimpal kalau hanya dibiarin saja." Suara kembali riuh, dan semua orang menyetujui itu. Akhirnya persidangan diputuskan esok hari karena malam semangkin larut.
***
__ADS_1
Dan kini hari yang ditunggu tiba. Dimana yang disidang hanya Faedah, Murni, dan beberapa pria yang sudah dibohongi.
Tampak lima orang pria yang mengaku mendapatkan nomor baru, lalu digoda dan dijanjikan akan mengirim foto sang pemilik nomor telepon. Bahkan ada yang mengaku bahwa sempat video call dan memperlihatkan bagian sensitifnya.
Sontak cerita itu membuat tangan bang Bandi mengepal kuat, menahan emosi.
"Murni berapa orang yang kamu ketahui, telah menjadi korban Faedah!"
"Emm... Tujuh orang pak, waktu itu kak faedah bilang tujuh orang pak." murni melirik faedah dan faedah juga melirik dengan ketus.
"Apa kamu tahu siapa saja." Tanya pak RW kembali.
Murni menggeleng cepat.
"Faedah siapa dua lagi yang menjadi korbanmu!"
"Tidak ada pak RW, aku membohongi murni." Kilahnya, tampak sekali wajah penuh kebohongan.
"Pak RW saya orang yang pernah ia mintai uang." Tiba-tiba Nanang mengaku terlebih dahulu.
Terlihat mata murni tampak mendung mengeluarkan cairan bening yang mengembun.
Berhasil Enam laki-laki yang sudah mengakui. Satu lagi tidak diketahui siapa. Entah memang tidak ada atau hanya pura-pura Faedah yang melupakannya.
"Faedah atas dasar apa kamu mengirim pesan, lalu menjanjikan sesuatu untuk kamu jual." Kini tokoh agama yang mulai bertanya.
"Tapi saya tidak menjual apapun mang?" Faedah kini memperlihatkan wajah iba kepada Ajid yang dipanggil mamang oleh orang sekitar.
Faedah tertunduk malu, karena disaksikan banyak orang yang ingin mengetahui akhir cerita tersebut.
'kenapa kini kisahku tidak seindah cerita dewasa yang ada di novel-novel sih' bathinnya dengan raut wajah yang masih menunduk.
Akhirnya hasil foto yang dikirimkan, dikumpulkan, lalu uang yang sudah dikirim juga di hitung keseluruhan.
Akhirnya didapatkan berbagai foto **** yang telah dikirim kak faedah. Semua bukan foto milik dia, dan kalau soal panggilan video, itu baru ia yang melakukannya.
"Dasar cewek gatell!! Bisa-bisanya kau jebak suami kami ya... Barangmu itu mintak dimasukin yang panas-panas, iya!! Biar kukasih sama kau yang panas-panas. Nampak kali kau gila kaw*n. Sampek lakik orang kau mau jamah iya!!" Mak Eko tidak terima jika suaminya yang melakukan panggilan video kepada faedah. Dia mengambil sendal bermerk swallow untuk di pukulkan ke semua tubuh faedah yang dapat ia pukul.
Pertengkaran kali ini Mala antara Mak Eko dengan faedah.
"Lakikmu yang telepon aku, biar kau tahu!" Faedah tampak tidak merasa malu melontarkan kata-kata.
"Tapi kau yang menggatal. Punyamu ini (Mak Eko menunjuk bagian sensitif faedah) cocoknya dimasukkan besi panas. Gila kau iya. Ha!! Gilak kau!!" Mak Eko akhirnya di peluk dari belakang oleh ibu-ibu yang lain. Kakinya terus meronta-ronta menendang kearah faedah.
"Tapi abis itu laki kau yang menggatal. Harusnya kau sadar!! Kenapa lakik kau bisa menggatal, kurasa kurang menggigit punya kau kan. Kekmanalah mau menggigit, bau badannya aja Uda macam belacan busuk."
Mulut faedah semangkin membuat semua orang murka dan merasa malu. Bagaimana bisa dia masih membanggakan diri, atas sebuah kesalahan yang dia buat.
Dcuh....
Mak Eko yang geram tidak dapat memukul, beraksi dengan meludahi wajah faedah yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Kau!!" Faedah geram dan langsung memukul kepala Mak Eko.
Mak Eko tidak dapat mengontrol emosinya, beberapa orang yang memegangi tubuhnya tidak mampu mengatasi tenaga Mak Eko.
Mak Eko meremas payud**ra milik faedah dari luar dengan sangat kencang.
"Ini ha!! Biar tambah panas kau Anji**. Ini ha!! Biar tambah pengalaman kau."
Terakhir Mak Eko memasukkan tangannya kedalam celana piyama yang dipakai oleh faedah.
Semua orang meyakini bahwa tangan Mak Eko sudah masuk kedalam bagian inti.
"Panas... panas... Air, air, pa tolong pa air." Faedah mengibah pada suaminya yang hanya terdiam tak mampu berkata sepatah kata.
"Apa yang kamu buat Mak Eko." Ucap Wak sari.
"Pas la aku siap makan pakai sambal belacan, belum sempat ku cuci tangan. Biar ada pengalaman dia." Umpatnya geram.
Para lelaki yang disidang tidak mampu berkata apapun, sampai faedah kembali.
Tampak faedah menggunakan sarung yang dililitkan oleh istri pak RW.
"Kalau sampai terjadi perkelahian terjadi kembali. Maka akan saya bawa kalian ke Polsek." Ucap pak RW.
"Sebaiknya memang harus kita bawa saja mereka ke Polsek." Mang Ajid juga tampak sudah tidak perduli.
Faedah tampak gelisah dan lang sung menangis sesenggukan.
"Tolong pak jangan pak... Mang Ajid tolong jangan. Saya akan mengakui semuanya di sini. Saya mohon." Iba faedah memohon kepada semua orang.
"Baiklah kalau begitu tunggu apa lagi." Suara datar mang Ajid mampu membuatnya ketakutan.
"Sebenarnya uang yang diberikan mas Bandi tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga kami. Lantas saya mencari cara, agar mendapatkan pemasukan pak. Akhirnya saya melakukan hal demikian. Dan mendapat ide dari group Facebook. Satu orang yang belum hadir, sebenarnya adalah suami Wak sari."
"Ohh jadi suamiku juga sasaranmu!" Wak sari juga sudah menahan emosi, tapi ia mencoba mengendalikan diri. Dan menangis sesenggukan.
Wak sari memilih pulang dan tidak mau mendengar kelanjutan cerita dari faedah.
Suami Wak sari juga sudah bergabung dengan keenam pria yang menjadi sasaran faedah.
"Tega kamu ya ma! Padahal uang yang aku berikan lebih dari cukup. Setiap penjualan sapi, selalu aku berikan padamu semua keuntungannya. Tapi kamu masih bilang masih kurang."
Bandi merasa tidak bejus menjaga rumah tangganya. Dia merasa gagal sebagai kepala ruma tangga.
***
Itulah manusia, janganlah terlalu menganggap diri sendiri benar dan tidak membutuhkan orang lain. Masalah selalu menghampiri, jika kamu tidak benar mendapatkan solusinya, maka kamu akan terjebak didalamnya.
Yuk besti tinggalin komentarmu....
Biar author semangat 45 menjelang hari kemerdekaan
__ADS_1