
"Jadi keputusan ayah apa?"
Said belum bisa menjawab pertanyaan istrinya. Karena disisi lain ia masih teringat akan perjuangan ibunya yang mencoba membelikan perkebunan untuk mereka anaknya, serta sepetak tanah untuk mendirikan rumah. Namun sialnya Bandi memiliki istri yang serakah.
"Apakah bisa jangan bahas ini sekarang?" Ucapan yang keluar dari bibir said mampu membuat wajah Tyas berubah seketika.
Tyas merasa bersalah atas keinginannya, yang membuat hati suaminya bingung memilih. Dengan ucapan yang dilontarkan said, membuat Tyas hanya mengangguk memberikan jawaban untuk suaminya.
Setelah tidak ada lagi percakapan dari mereka, said memutuskan pergi kebelakang melihat sapi-sapinya. Tyas pun kembali bergelut dengan kegiatan sehari-hari.
Setelah hampir selesai dia menidurkan putrinya yang sudah rewel, karena memang sudah waktunya tidur. Sesaat dia kembali teringat akan suaminya yang belum kembali disaat matahari sudah hampir dipuncaknya.
Selesai menidurkan putrinya, ia mengatur jarak agar tidak membangunkan khumay. Kakinya turun dari kasur dan beranjak kebelakang. Baru sampai kakinya melangkah di ruang belakang, kembali ia harus masuk ke kamar untuk mengambil bendah pipih yang terus berbunyi tanpa Jedah.
"Siapa sih yang telepon siang-siang begini." Umpatnya sambil jalan tergesa dan kembali kebelakang agar tidak menggangu istirahat khumay putrinya.
"Hallo assalamualaikum pak?"
"Waalaikum sallam..., Wah gimana kabar kamu Yas? Sudah lama kamu gakk ada kabar. Selamat ya?" Ucap suara pria di ujung telepon.
Tyas bingung dengan ucapan lawan bicaranya yang dipanggil bapak tersebut.
"Alhamdulillah baik pak..., Tapi maaf saya belum mengerti selamat atas apa ya pak?" Jawab Tyas sekenanya. Karena said juga sudah kembali dan menatap istrinya sedang berbicara dengan seseorang. Lantas dia hanya berlalu masuk kedalam kamar, melihat putrinya dan mengganggu dengan sentuhan kecil.
Dengan tergesa dia juga mengikuti suaminya. Karena dia tahu apa yang akan dilakukan suaminya saat putrinya sedang istirahat. Matanya terus menatap tajam kesuami saat tangan suaminya mulai usil pada tubuh khumay.
Dengan cepat Tyas mengklik tombol loud speaker pada benda pipih yang digenggamnya, lalu meletakkan sembarang. Dan kini tangannya mengunci pergerakan suaminya.
"Saya tahu semenjak kamu menikah, kamu jarang mengurus bisnis level yang kamu jalani. Ya walaupun uang terus mengalir, tapi apa kamu tidak pernah mengecek di peringkat berapa akunmu berada."
"Eh_ itu saya sudah lama tidak membuka webnya pak? Bahkan berapa pendapatannya pun saya belum pernah cek semenjak Dua bulan sebelum lahiran, ya hingga sekarang. Bank-ing saya juga kan belum diaktifin, wajar jika saya tidak pernah tahu. Sekarang saya sedikit repot pak Asep? Mungkin saya akan cuti sementara." Ungkap Tyas kepada pria yang dipanggil dengan sebutan pak Asep tersebut.
"Kamu yakin Yas. Bahkan posisimu saja mampu menggeser posisi saya." Pria itu kembali meyakinkan Tyas yang merupakan mitranya.
"Maksudnya pak? Bagaiman bisa? Sementara saya saja bawahan bapak, mengapa bisa menggeser posisi bapak?" Ucap Tyas bingung.
"Ck_ apa kamu masih belum memahami dengan apa yang pernah saya jelaskan tentang bisnis ini. Jika kamu mampu memasukkan tujuh orang dibawah kamu, dan tujuh orang dibawah kamu sukses. Otomatis kamu juga terima hasilnya."
"Alhamdulillah... Apa saya tidak salah dengar pak? Bahkan saya belum pernah bermimpi untuk menggeser posisi bapak?" Ucap Tyas antusias.
" Tapi kenyataannya, kamu sudah menggeser posisi saya. Bersiaplah Tyas. Rumahmu akan dipenuhi barang beberapa hari lagi. Cepat berikan keputusan kepada pusat, karena mereka juga tidak mungkin mengirimkan barang jika belum mendapatkan persetujuanmu." Pak Asep memberikan gambaran agar Tyas tidak salah mengambil keputusan.
"Insyaallah Saya siap pak." Ucap Tyas tegas.
__ADS_1
"Alhamdulillah...." Sambung pak Asep menimpali ucapan Tyas.
Said yang mendengar hanya tersenyum melihat istrinya yang tengah bahagia. Dia raih pucuk kepala istrinya, lalu mengecup sedikit lama.
"Jika Bunda sukses, tolong jangan pernah meninggalkan ayah." Bisik said ditelinga sang istri.
Tyas yang mendengar bisikan itu, spontan melihat wajah suaminya yang tampak cemas akan keberhasilannya.
"Apa ayah tidak senang mendengar berita ini?"
"Ayah senang, hanya saja ayah khawatir. Jika pendapatan bunda lebih besar akan mempengaruhi perasaan bunda." Terlihat sangat jelas jika said mengkhawatirkan istrinya. Karena kebanyakan wanita mandiri akan cenderung keras, dan memilih sesukanya.
"Ayah? Nafkah yang ayah berikan akan bunda terima, berapapun jumlahnya. Dan uang yang bunda dapatkan itu semua juga atas ridha yang ayah berikan. Jika Bunda khilaf, tolong, tolong ingatkan bunda atas kesalahan itu." Tampak mata Tyas berkaca-kaca atas kekhawatiran suaminya.
Said tampak tersenyum sembari kembali meraih pucuk kepala istrinya.
"Boleh ayah cium sekali lagi?"
"Ck_ apa ayah akan menurut jika bunda bilang tidak?" Jawab Tyas dengan cepat.
Said lalu meraih dan merangkul istrinya.
'ayah takut, kamu terlena atas kesuksesanmu. Mengingat aku yang tidak banyak tahu tentang bisnis yang seperti kau jalani. Aku hanya mampu mengais rezeki dengan cara orang yang keterbelakang' bathin Said saat memeluk istrinya.
"Untuk apa?" Tanya said bingung.
"Apa ayah bisa bantu bunda untuk cek hasilnya? Bunda takut jika hasilnya tidak sesuai harapan bunda." Tyas masih belum yakin dengan ucapan rekannya yang sudah laama tidak menjalin komunikasi dengannya.
"Kenapa harus takut, rezeki itu sudah diatur sedemikian rupa bunda? Mengapa harus memikirkan itu. Apapun hasilnya, terima dengan ikhlas. Bukankah, ini yang selalu bunda bilang ke Ayah."
"Mengapa belakangan ayah semangkin bijak dalam berbicara sih? Selama ini selalu bercanda, dan tidak pernah serius." Rajuk Tyas melihat perubahan suaminya.
Namun said hanya diam dan tersenyum melihat tingkah istrinya. Karena sebenarnya said masih takut akan keberhasilan istrinya. Merasa dirinya belum baik menafkahi keluarganya. Mengingat mimpi-mimpi istrinya yang selalu ia dengar. Seketika rezeki menghampirinya, said takut dengan rezeki itu Tyas dapat melakukan segalanya.
"Ayah, tolong ya? Bunda sudah membuka aplikasinya, ayah tinggal klik bagian saldo. Bunda masih belum berani melihatnya?" Rengek Tyas kepada suaminya.
Said hanya mengangguk, lalu tersenyum melihat tingkah konyol istrinya. Yang sesekali melirik dari balik jari-jari tangan yang menutupi wajahnya.
"Ini mau lihat langsung apa ngintip ni?" Sindir said pada istrinya. Tyas hanya menyenggol sisi lengan suaminya.
"Astaghfirullah!" Ucap said tiba-tiba. Matanya belum berkedip dari layar ponsel milik istrinya.
Tyas yang terkejut mendengar pekikan said langsung membuka mata, dan ikut menatap. Matanya berkaca-kaca melihat nominal, dan peringkat akunnya.
__ADS_1
"Masyaallah... Ayah? Bahkan bunda tidak pernah mengira jika hasilnya sebanyak ini?" Takjub Tyas melihat Delapan deretan angka yang menunjukkan nominal puluhan juta.
'jika kau saja tidak percaya, apalagi aku yang tidak pernah melihat angka sebanyak itu' said kembali membathin pada dirinya, dia sendiri tidak mampu berkata dihadapan istrinya.
"Alhamdulillah ya Allah, mudah-mudahan rezeki ini bisa kita pergunakan sebaik mungkin ya Ayah?"
Said hanya mengangguk menjawab pertanyaan istrinya. Dia sulit untuk bertanya pada istrinya, harga dirinya sebagai kepala rumah tangga luruh begitu saja. Melihat kesuksesan istrinya membuatndirinya merasa gagal untuk membahagiakan keluarganya.
"Kira-kira hal pertama apa yang bunda inginkan dari uang itu?" Tanya said tiba-tiba.
"Perpustakaan. Bunda pengen bangun perpustakaan di desa ini yah, karena desa terpencil seperti ini selalu sulit menjangkau lebih luas pendidikan. Selalu keterbelakang. Bunda miris melihat anak kelas Enam SD belum dapat mengeja huruf untuk menyambungkannya." Antusias Tyas menceritakan keinginannya.
"Bagus? Tapi jangan lupa sedekahkan sebagian untuk anak yatim-piatu, dan fakir miskin." Kembali said mengingatkan istrinya.
"Tidak mungkin bunda lupa, karena sebagian memasang hak mereka?"
Tyas terus tersenyum, terlihat lebih semangat mengerjakan pekerjaannya. Sementara said lebih memilih kehalaman belakang melihat hewan ternaknya. Entah mengapa saat mendengar kabar baik itu, firasatnya tidak baik. Bahkan dia yang biasa mengganggu khumay sampai terbangun ia urungkan.
"Ciyee... yang lagi bahagia?" Sindir murni yang sudah menginjakkan kakinya di kediaman Tyas. Sementara Tyas tampak lebih santai, lalu mencubit tangan murni.
"Kak murni, kita beli mie ayam yuk, di warung Pak Jarwo." Ajak Tyas pada murni.
"Nggak ah, lagi ngirit, kamu kan tahu harga kelapa sawit lagi turun. Kamu mah enak beli Dua bungkus cukup." Tolak murni secara blak-blakan.
"Aku yang terakhir kak murni?"
"Lo Lo Lo, ada acara apa sih kok main teraktir-teraktiran." Murni bingung.
"Nggak ada kak murni? Anggap saja ini hadia buat kebaikan kakak."
Murni yang mendengar terlihat senang mendengar dapat teraktiran dari teman barunya. Dan kini justru menceritakan hal tidak penting tentang faedah, yang menurut penilaiannya pelit sekali. Bahkan tanpa sengaja dia kelepasan saat tertawa.
"Murni!! Kalau tertawa jangan terlalu keras, berisik! Kamu itu tambah buat sakit kepalaku mangkin parah." Tiba-tiba faedah marah-marah dari arah pintu belakangnya yang langsung menghadap pintu belakang milik Tyas.
"Kak murni sih?" Ucap Tyas merasa bersalah.
"Ya, dia sakit kepala tinggal minum obat kan. Apa susahnya coba, ini Mala pakai baby peper."
"Bye bye fever kak murni?" Ralat Tyas lucu.
Seketika suara murni kembali melengking, dan tertawa. Merasa lucu akan kebodohannya sendiri.
"Arggggghhhhhhhhhhh...." Terdengar kembali suara faedah yang mengerang seperti orang kesurupan.
__ADS_1