IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
37. Baku Hantam


__ADS_3

POV: Tyas III


"Ha apa!!!"


Suara mas said terdengar lantang, setelah mendengar ucapan dari seberang telepon.


"Kenapa yah?" Bisikku pelan ditelinga mas said.


Mas said melirikku sekilas, lalu mematikan sambungan telepon dengan bang Bandi.


"Ayo kita pulang!" Tampak wajah kesal diwajah suamiku kala itu.


Jujur aku penasaran dengan apa yang baru saja ia bicarakan dengan bang Bandi. Tapi saat ingin bertanya kembali, bibirku tidak mampu berucap kala melihat ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat.


Sesampainya dirumah, mas said tidak langsung memasukkan sepeda motornya. Ia hanya masuk kedalam bagian dapur untuk mengambil tali yang biasa untuk mengikat sapi.


Aku melihatnya merasa aneh, untuk apa dia membawa tali keluar rumah. Lalu kuhampiri mas said yang sedang memasukkan tali kedalam pelastik.


"Ayah kok bawa tali untuk apaan." Tanyaku, lalu dia tersenyum dan dengan cepat dia mengalihkan matanya ke bagian tangannya.


"Mau ikat keluarga bang Bandi lah!" Ucapnya dengan penuh semangat.


Aku tidak habis pikir, apa yang akan dilakukan suamiku. Dan apa sebenarnya yang diucapkan bang Bandi kala sedang berkomunikasi lewat telepon tadi.


"Ayah pergi dulu ya?" Ucapnya, lalu bersiap untuk menjalankan motornya.


"Emang ada apa sih yah? Kok harus bawa tali dan terburu-buru gitu." Karena aku masih merasa penasaran, jadi kuputuskan untuk bertanya kembali.


"Sudahlah Bun? Kalau bunda pengen tahu, cukup tunggu dirumah, dan terima hasil saja." Sungguh tidak dapat dipahami apa yang akan dilakukannya.


"Oh ya golok sedangnya tolong ambilin Bun, sama pisau Carter yang masih tajam ya?" Sambungnya kembali. Aku merasa takut melihatnya kala permintaannya sekarang terlihat aneh.


"Untuk apa lagi Bawak begituan sih! Sudah sana pergi." Sanggah ku menolak permintaannya.


Karena apa yang diinginkan tidak aku berikan, lantas kakinya cepatĀ  berjalan kearah belakang.


Setelah dapat apa yang dicarinya, diapun pergi meninggalkan pekarangan rumah.


Aku dirumah khawatir apa yang akan dilakukan terhadap suamiku. Aku berjalan mondar-mandir di teras depan rumah sembari menunggu kedatangan suami dan keluarga iparku.


'ya Allah sabarkanlah hati suamiku, jangan sampai ia berbuat suatu hal yang tidak baik. Lindungilah mereka semua ya Allah' gumamku sendiri dalam kecemasan.


"Yas...." Teriak kak murni dari seberang jalan. Lalu dia menghampiri aku.


"Kamu ngapain di luar sih? Mondar-mandir begitu." Kak murni tampak mengkhawatirkan aku.


Kuceritakan kejadian aku bertemu dengan kak Faedah dan bang Bandi sekeluarga. Hingga sampai dimana mas said pergi menghampiri mereka kembali.


"Ya Allah, jangan berpikir buruk tentang suamimu Yas? Sebaiknya kita tunggu didalam saja. Aku temani, ntar kalau mereka pulang baru kita hampiri." Saran kak murni, aku anggukan saja.


Setelah didalam rumah, kak murni mengambil air putih lalu ia berikan kepadaku.


Sesekali dia lihat khumay yang sedang aku baringkan didalam kamar. Tadinya ia meminta izin dahulu, sebelum masuk ke kamar untuk melihat putri kecilku.


"Kok mereka lama ya kak murni?" Keluhku, kala melihat jam di dinding sudah pukul 22:15 wib.


"Kamu yang nggak sabaran banget, jadi berasa lama." Kak murni mencoba menghiburku. Tapi pikiran cemas sulit untuk diajak berdamai.


Tidak lama kemudian aku dan kak murni mendengar suara motor milik suamiku. Langsung aku bergegas berlari ke halaman milik kak Faedah dan bang Bandi.


"Loh kok...." Gantungku, kala melihat sebuah keranjang pengangkut beban berat sudah berada di atas jok belakang motor milik suamiku. Dan isinya sudah ada kak Faedah, bang Bandi, Wika dan Arif.


Ditambah keluarga itu juga sudah basah kuyup, dan seperti jatuh ke lumpur lalu dibasuh dengan air seadanya.

__ADS_1


Kak murni yang melihat juga terperanjat dan mimik wajahnya menahan tawa. Jujur pemandangan ini membuat perutku sakit karena menahan tawa.


Kak faedah yang menyadari kak murni, langsung bermuka masam dan menatap sinis ke arah aku dan mas said.


"Senang banget keluargamu mempermalukan kami. Padahal tadi kami sudah minta tolong agar jangan beri tahu siapapun." Ucap kak faedah padaku.


Aneh sekali dia, aku saja tidak tahu apa yang terjadi sampai detik ini. Bahkan suamiku sendiri saja belum memberitahukan apapun, bisa-bisanya menuduh tanpa sebab.


"Apa maksud kakak!" Ucapku tanpa basa-basi.


"Kamu kan yang bilang sama si murni, apa yang sudah kami alami!!" Suaranya terdengar lantang, serta mata yang sudah berkaca-kaca.


Itulah sebabnya dia sulit dapat pembelaan, belum tahu apa yang terjadi, sudah menuduh sembarangan.


"Hei! Kak Faedah, aku tadi datang kerumah Tyas, karena dia terlihat cemas, mondar-mandir di teras. Asal kakak tahu dia Mala takut kalau suaminya ngebacok bibir kakak sama bang Bandi. Nggak usah menuduh sembarangan kak, ntar kualat baru tahu rasa. Eh tapi wajar sih! Kakak kan nggak takut azab kan ya." Panjang lebar kak murni meluapkan emosinya.


Kini mas said yang sudah memandang kearaku. Akibat perkataan kak murni.


"Kok kamu bisa berpikir begitu Bun." Ucap mas said mengintrogasi aku.


"Ya habisnya kamu bilang mau ikat keluarga bang Bandi, habis itu minta golok sama pisau Carter. Kan bunda ngeri, wajah ayah juga kelihatan marah." Ungkapku polos.


Ya siapa yang tidak takut, jika seseorang yang sedang emosi, membawa benda tajam dan mendatangi akar yang menimbulkan emosinya.


Mas said tertawa kecil lalu memandang ke arahku.


"Ya tadinya emang niat begitu?" Ucap mas said menatap bang Bandi dan kak faedah secara bergantian.


Bang Bandi tidak banyak berkomentar, wajahnya hanya tertunduk. Sementara kak faedah tampak seperti ingin menantang kak murni.


Aku mencoba memberikan kode kepada mas said agar bisa membuat kak murni segera pulang. Karena bagaimanapun aku tidak enak jika keluarga suamiku tampak malu dihadapan orang lain.


"Kak murni, terimakasih ya sudah temani istriku. Sekarang tidak ada yang perlu dibahas kok, kami juga akan pulang."


"Oh, ya sudah, kalau begitu saya mau pulang dulu ya Id. Lain kali jangan sungkan kalau butuh bantuan. Oh ya Yas aku pulang dulu ya! Oh ya besok jadi kan ke pasarnya?"


Aku hanya mengangguk, menanggapi ucapan kak murni.


"Ya sudah aku tunggu besok, kamu jemput aku ya. Aku senang tahu, kalau jalan sama kamu, suka banget teraktirin, nggak pelit." Kini ucapan kak murni Mala seperti menyindir kak faedah.


Lalu kulihat wajah kak Faedah yang tampak merah menahan amarah.


Kak murni pun melangkahkan kakinya untuk pulang, namun saat kakinya ingin melangkah lebih jauh tiba-tiba kak faedah mengejar dan menarik tangan kak murni secara paksa.


Saat tubuh kak murni sudah berbalik menghadap kak faedah.


Plak....


Tamparan melayang dari tangan kak faedah ke pipi kak murni. Lalu kak murni pun tak mau terlihat lemah.


Kak murni menarik rambut kak faedah yang tampak basah, dengan sekuat tenaga.


"Dasar gila!! Seenaknya kau pukul-pukul aku. Kau pikir kau siapa!! Ha!" Umpat kak murni yang sudah menindih kak faedah.


Namun kak Faedah yang lebih besar dari kak murni, mampu membalik serangan. Dan kini sudah menduduki tubuh kak murni.


Tangan mereka saling berebut untuk saling menyakiti.


Bang Bandi, dan mas said segera melerai mereka. Aku berlari memanggil bang Nanang untuk mengamankan istrinya.


Karena mas said juga bingung cara menarik tubuh kak murni. Apalagi baju daster yang dikenakan kak murni sudah terlepas semua kancing bagian atasnya.


"Faedah sudah! Jangan buat malu kamu!" Teriak bang Bandi sambil menghalangi tangan istrinya yang ingin mencakar wajah kak murni.

__ADS_1


Bang Nanang juga mencoba menarik tubuh istrinya dari tindihan kak faedah.


"Bang Bandi, cepat tarik istrimu. Badan gendutnya bisa membuat istriku mati." Ucap bang Nanang penuh emosi.


"Apa kamu bilang! Aku gendut! Iya. Kamu pikir aku seperti istrimu yang tidak punya daging! Yang isinya tulang semua, yang seperti tiang listrik, tak punya body aduhai. Seharusnya kamu aku laporin ke RT sedari dulu saat kamu dulu pernah meremas bokongku!"


Gara-gara ucapan kak faedah kami semua terperanjat menatap ke arahnya dan ke arah bang Nanang bergantian.


Waktu lengah itu langsung di ambil mas said untuk memisahkan keduanya. Tanpa disadari ternyata banyak orang yang sudah berkumpul di halaman rumah bang Bandi dan kak faedah. Yang menyaksikan langsung pergulatan antara kak faedah dan kak murni.


"Kamu ya mas! Bisa-bisanya naksir gentong beras kayak gitu. Lemak beleber kemana-mana. Mau kamu apa ha!" Bentak kak murni pada suaminya.


Aku jadi merasa bersalah, karena tadinya kak murni hanya berniat ingin menemaniku. Dan aku yakin, ucapannya menyinggung kak faedah itu karena ingin membelaku. Tapi justru dia mendapatkan musibah dan rasa sakit hati yang baru terbongkar.


"Biar kayak gentong tapi aku bohay, lah kamu, kurus kering keras begitu apa enaknya." Kak faedah pun tak mau kalah menyerang kak murni.


Kak murni kembali ingin memukul kak faedah. Namun tidak dapat, maka kancing baju atasan kak faedah yang menjadi sasarannya dan langsung terbuka semua karena di sobek paksa oleh kak murni.


Tampak lah payudara kak faedah yang menggantung tertutup bra merah.


Wajah para lelaki yang turut hadir pun tampak merah merona. Dan para wanita sebagian langsung menutupi tubuh kak faedah dengan apa yang ada.


"Jangan gitu lah murni? Kita sebagai perempuan malu, kalau saudara kita dulucuti seperti itu." Wak sari mencoba menengahi antara kak murni dan kak faedah.


"Biar orang disini semua tahu Wak. Te**k gelambir kayak Wewe gombel begitu saja bangga. Lagian aku mau bongkar saja rahasia disini. Nah perempuan ini (tunjuk kak murni ke arah kak faedah) sudah mencoba ganggu para lelaki di sini, dia pakai nomor baru untuk menghubungi, dan mintain duit, terus kirim-kirim gambar cewek ****."


Kali ini ucapan kak murni membuat semua orang terkejut.


Kejadian malam ini bukan hanya adu mulut dan adu tenaga. Ternyata saling membongkar aib lawan.


Aku sendiri tidak bisa menilai siapa yang benar, karena menurutku semuanya salah.


"Kamu jangan sok! Kamu juga ikut andil didalamnya. Kamu juga pernah menikmati hasilnya kan!" Ucap kak Faedah menunjuk kepala kak murni.


"Jadi yang dikatakan murni benar ma!" Bentak bang Bandi. Tampak kecewa diwajahnya.


"Kamu juga sama saja ya mur." Kini bang Nanang pun tampak kecewa melihat istrinya.


"Aku hanya sekali menikmati hasilnya mas! Itu juga awalnya aku nggak tahu sama sekali, kalau dia nggak cerita. Kamu nggak usah sok nyalahin aku lah mas. Lah kamu sendiri ngapain remas-remas bokong yang isinya lemak semua. Ha!!" Kak murni juga tampak kecewa. Dengan rahasia yang baru terungkap.


"Dia yang sengaja ngegodain duluan. Dia juga pernah mancing aku, biar aku mau selingkuh sama dia. Dia bilang punyaku besar, dan dia tahu dari cerita kamu. Jadi dia penasaran, tapi aku nggak sehina itu buat khianatin kamu." Bang Nanang kini sudah membongkar lanjutannya kembali.


Semua orang saling berusaha menahan emosi antara keluarga bang Bandi dan keluarga bang Nanang. Karena tidak baik membongkar aib di kerumunan orang banyak. Pak RT dan RW akhirnya datang untuk menyidang mereka berempat. Aku dan mas said juga dijadikan sebagai saksi, ada Bik Inur, dan Wak sari beserta keluarga yang juga dijadikan saksi, karena mereka juga orang yang pertama datang melihat kejadian, serta Wika dan Arif. Jika hanya kami dari pihak keluarga yang menjadi saksi pasti akan di anggap berat sebelah.


Dari kejadian ini aku dapat mengambil pelajaran, bahwa sebaik apapun kita berteman, tidak baik membuka aib keluarga, atau menceritakan hubungan antara kita dengan pasangan.


Karena teman akan bisa menjadi lawan ketika dia sudah merasa tersakiti oleh kita. Kita tidak pernah tahu, dan tidak pernah sadar kapan kita menyakiti mereka.


Tapi itulah kenyataannya.


Sebaik-baik tempat mengaduh hanya kepada-NYA. Tuhan kepercayaan kita.


"Ayah kok jadi bisa gini sih? Emang kamu tadi jemput bang Bandi gara-gara apa sih?" Cecarku kepada mas said, saat sedang berjalan mengarah kerumah pak RT. Jika saja mas said memberi tahu sedari awal pasti aku tidak panik dan memancing kak murni datang.


"panjang ceritanya? Ntar aja kalau sudah dirumah." Jawab mas said pelan ditelingaku. Agar tidak ada yang mendengar.


Akhirnya kami sampai dan berkumpul bersama. Didalam rumah hanya ada yang bersangkutan saja, serta tokoh masyarakat penting. Selebihnya tidak di ijinkan untuk masuk. Tapi sebagian menunggu di luar.


"Jadi siapa yang akan memulai menceritakan kejadian. Sepertinya kamu said dan juga istrimu. Jika yang bertengkar yang lebih dulu. Pasti tidak akan pernah selesai malam ini." Ucap pak RW kepadaku dan mas said.


Jam dinding juga sudah menunjukkan pukul 23:45 wib. Tapi masalah harus selesai malam ini.


"Awalnya saya ingin menjemput bang Bandi pak. Lalu...." Mas said melirik ke arah bang Bandi, dan tampak ragu ingin bercerita.

__ADS_1


***


Nah kan kok jadi murni sama faedah yang berantem... Yuklah pembaca setia kasih masukan lagi. Authornya lagi bingung ni mau dilanjut bagaimana hihihi


__ADS_2