IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
34. Air Susu dibalas dengan air Tuba


__ADS_3

"Terimakasih Lo Yas teraktiran ya? Kamu banyak banget ini beli nya." Murni tampak tidak enak dengan Tyas yang membelikan banyak mie ayam.


"Apaan si kak murni? Ini itu aku baru dapat rezeki, aku nggak mau rezekinya sia-sia." Jawab Tyas sekenanya.


Diperjalanan pulang Tyas bertanya dengan murni, untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya.


"Kak murni? Kok tadi itu kak faedah datang kerumah kakak. Ada masalah ya? Soalnya aku lihat Bang Nanang sampai melerai gitu."


"Jiwa kepoku menular ya sama kamu? Tumben amat perduli masalah orang lain," sindir murni sambil tertawa.


"Ya kak murni kan sahabat aku satu-satunya. Terus kak faedah kakak ipar aku juga kan?" Tyas merasa malu sendiri.


Akhirnya murni menceritakan kejadian yang membuat dirinya beradu mulut dengan tetangganya. Tyas yang mendengar juga ikut emosi dibuat kelakuan kakak iparnya. Dia masih tidak habis pikir dengan pemikiran yang dibuat faedah. Padahal sudah sangat jelas kalau selama ini faedahlah yang berambisi membuat namanya jelek.


"Aku pulang dulu ya kak murni? Oh ya sekalian mau ngomong sedikit deh," Tyas turun dari atas motornya, lalu duduk di teras milik murni.


"Dua hari lagi temenin aku kepasar ya kak? Soalnya aku mau ngadain syukuran. Bisa kan?"


"Syukuran apa Yas? Aku takut ni, kalau aku temenin kamu, pasti bakal jadi omongan buat kakak iparmu. Kenapa nggak sama kak Yani saja." Murni memberikan masukan lain kepaada Tyas, dia sendiri tidak mau jadi masalah.


"Dengar ya kak, kalau sama kak Yani, sudah jelas semangkin bermasalah. Kalaupun aku pergi sama mas said, atau sama bik inur, atau sama dia (faedah). Sudah jelas tetap menjadi bahan cerita." Sanggah Tyas kembali.


"Iya juga sih Yas, Alhamdulillah sih orang sini nggak banyak percaya sama mulut dia, ya sudah deh, biar aku temeni. Tapi ada teraktiran lagi nggak ni?" Goda murni.


"Tenang kak murni, sepuluh ribu tiga masih ada dipasar. Ntar aku beliin buat kak murni satu lusin." Tawa Tyas.


"Kamu mau traktir aku ****** *****, ogah aku. Dari pada satu lusin yang harganya sepuluh ribu tiga, mendingan beli satu aja tapi harganya seperti yang satu lusin." Geram murni.


"Sederhana lebih indah kak murni?" Tyas terkekeh menggoda temannya.


"Tapi nggak gitu amat lah Yas, kamu kan tahu sendiri bokongku besar, bisa-bisa belum sampai ke atas sudah lepas semua jahitannya."  Gelak tawa murni terdengar di telinga ketiga putranya yang bermain dihalaman belakang.


" Ibu Uda pulang ya? Abang pikir lama," ucap Vicky anak tertua murni. Sementara anak kembarnya asik membongkar isi kantongan plastik yang dibawa ibunya.


"Duh... Maaf ya Abang? Bunda adek khumay lupa beliin jajan. Lain kali ya?" Ucap Tyas yang sedang memperhatikan ketiga anak murni.


"Aish ini sudah banyak, jangan janjiin anak-anak aku Yas? Yang kamu beliin buat aku aja lebih banyak dari kamu." Murni tampak malu didepan Tyas.

__ADS_1


"Ya sudah aku pulang dulu ya kak murni? Soalnya dek khumay juga kalau ditinggal terlalu lama, rewel." Pamit Tyas kembali.


Sebelum sampai kerumahnya, Tyas lebih dulu mampir di rumah faedah. Ingin memberikan bungkusan untuk keponakan dari suaminya.


"Kak... Kak faedah...."


Suara Tyas memanggil faedah, lalu terdengar derap langkah kaki menuju tempat Tyas berdiri.


"Oh. Apa." Suara faedah terdengar ketus dan wajahnya terlihat tidak ramah sama sekali.


"Ini kak, buat Wika sama Arif. Ada rezeki sedikit." Tyas menyerahkan bungkusan kepada kakak iparnya.


"Sombong!!" Gumam faedah yang masih sedikit terdengar oleh Tyas. Namun Tyas tidak memperdulikan ucapan Faedah.


Faedah meraih apa yang diberikan Tyas, lalu membuka kantong itu didepan Tyas.


"Oh, mie ayam. Ck_ Kirain barang mahal. Eh tapi kami sudah makan Lo Yas? Bawa aja deh. Barusan Arif juga sudah makan pakai udang besar." Faedah menolak pemberian Tyas secara halus.


Tiba-tiba Arif datang menghampiri lalu dengan cepat membukakantong plastik yang disodorkan kearah Tyas.


"Wah mie ayam? Uda lama nggak makan mie ayam?" Antusias Arif ingin mengambil pemberian dari Tyas istri oomnya.


"Astaghfirullah haladzim...." Tyas bergegas lari kerumahnya dan meninggalkan motornya di halaman rumah Faedah.


Mengambil air dingin lalu menggosokkan telur ayam kampung yang sudah dikocok kekaki Arif.


"Apa-apaan sih kamu Yas? Masak diobati pakai begituan." Protes Faedah tidak yakin.


"Sudahlah kak Faedah saat begini mala banyak bicara, usaha dong. Nggak kasihan apa lihat Arif kakinya begini. Kalau cuma dielus terus dilihatin aja, itu juga nggak bakal ngurangi rasa sakitnya kan." Tyas bicara dengan melawan Faedah. Dia tampak jengkel melihat sikap kakak iparnya yang hanya banyak omong itu.


"Sudahlah aku mau pulang, maaf kalau memang kakak tidak ingin terima pemberian dari aku, ya setidaknya jangan di ambil secara paksa dari Arif yang ingin makan pemberianku. Lagian aku memberi untuk keponakan aku, bukan untuk kakak iparku."  Sindir Tyas kembali.


"Kalau cuma buat Arif dan Wika kenapa harus ada Empat bungkus yang kamu berikan. Lagian Arif dan Wika juga habis makan, pakai udang. Vitaminnya lebih terjamin." Balas faedah tidak mau kalah menanggapi ucapan Tyas.


"Tapi kan makannya pakai udang halus bunda? Mana ada vitaminnya?" Rengek Arif mengadu pada ibunya.


Seketika wajah faedah berubah merah, entah itu merah karena malu atau merah karena marah. Yang jelas marah dan malu saat ini yang tengah dia rasakan.

__ADS_1


Tyas mengelus punggung Arif.


"Satu bagian kan sudah jatuh, dan yang jatuhin kan bunda. Itu berarti bagian milik kamu masih ada.  Yang dua lagi berikan ke Ayah sama kak wika ya?" Ucap Tyas kepada Arif lalu matanya melirik ke arah faedah.


Tadinya kalau tidak ada Arif, jika faedah memang menolak, dia akan mengambilnya kembali dan memberikannya kepada bik inur. Tapi melihat rengekan Arif rasa tidak tega menghampirinya.


Dia bawa motornya keteras depan rumah miliknya. Lalu ia hempaskan bokongnya di atas karpet yang sudah ada khumay dan said sedang bermain.


Wajah emosi dan nafas memburu, memperlihatkan dada yang naik turun. Membuat said bertanya-tanya sendiri.


"Tadi katanya obatin Arif. Sekarang mala seperti orang mau kerasukan gitu. Teriak argghh gitu dong, biar mirip kak Faedah." Goda said pada istrinya.


Tyas langsung melihat kesamping tepat kearah suaminya dengan tatapan tajam menahan gejolak amarah.


"Sudahlah! Bunda lagi emosi sekarang, nggak usah ngerayu." Ketus Tyas.


"Kalau gitu berbaring sini, biar reda emosinya. Nggak baik, habis dari luar terus marahnya dibawa kerumah." Said mencoba menenangkan istrinya.


Lalu Tyas mengatur nafasnya dengan baik. Menarik lalu mengeluarkannya secara berlahan. Lalu dia mengucapkan istighfar sebanyak-banyaknya. Setelah itu dia mengecup dahi anaknya.


"Ayah. Bunda nggak jadi bangun perpustakaan deh. Uangnya mau bunda pakai untuk beli sepetak tanah buat bangun rumah. Ya lagian tanahnya lebih dekat dengan kebun ayah. Jadi didepan untuk buat rumah, dibelakang sudah kebun ayah." Kini Tyas tidak lagi meminta pendapat suaminya. Yang ia pikirkan bagaimana cara menghindari kakak iparnya.


Hemmm... Huuu....


Said hanya mampu diam, belum dapat mengeluarkan pendapatnya. Sebab emosi istrinya belum dapat dikendalikan. Said yakin ada sebab yang membuat istrinya begitu marah. Sampai harus membawanya masuk kedalam rumah.


Tyas melangkah kebelakang untuk membuka bungkusan dan memberikannya kepada said dan anaknya. Namun saat dipintu belakang dia mendengar sesuatu yang dilemparkan dari jarak yang sedikit jauh. Lalu setelah itu dia mendengar derit pintu milik faedah yang ditutup sekuat mungkin.


Tyas membuka pintu belakang, seketika jantungnya merasa sakit dan ia mengucap istighfar.


"Astaghfirullah haladzim... Ayah, ayah." Teriaknya kepada said.


Said berlari kearahnya dan langsung melihat ke arah dimana istrinya melihat.


***


Hayo kira-kira said sama Tyas lihat apa ya... Buat pembaca setia, tolong tinggalin komen ya? Biar authornya semangat update.

__ADS_1


Terimakasih... Selamat membaca


__ADS_2