IPAR BERMULUT SERIBU

IPAR BERMULUT SERIBU
42. Said Dilema


__ADS_3

"Yas... Tyas...."


Suara murni memanggil dengan cukup keras.


Said menghampiri murni diteras rumahnya.


"Oh... Kak murni, Tyas lagi kewarung sebentar kak, Cari minyak goreng."


"Kalau gitu saya pulang dulu ya id." Ucap murni dan berlalu pulang.


Tepat jam dua siang baru teringat akan ucapan suaminya, tentang murni yang bertamu dengan wajah tegang.


Ia berinisiatif untuk bertandang sebentar kerumah tetangga depan rumahnya itu.


Baru sampai kaki Tyas berada dihalaman rumah murni, murni sudah lebih dulu menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Sini buruan!" Murni menarik pergelangan tangan Tyas dan membawanya masuk kerumahnya.


"Kak ada apa?" Tyas bingung dan bertanya setelah didudukkan di sofa milik murni.


Murni tampak mengatur napasnya. Dan lebih tampak seperti orang yang mengatur napas saat ingin melahirkan.


"Sudah belum latihan pernapasannya!" Sungut Tyas kesal.


"Iss apaan sih kamu! Aku serius ni!"


Tyas memandang ke arah murni dan memberikan kode agar murni cepat bicara.


"Kamu harus tahu kabar hari ini Yas!"


Tyas menautkan kedua alisnya bingung.


"Kabar apa?"


"Si faedah sudah tahu tentang yang aku ceritakan ke kamu waktu itu!"


Jawab murni sambil meremas tangannya.


"Ha! Kok bisa kak? Terus-terus gimana? Jangan perang lagi deh kalau bisa?"


"Iss kamu! Seru tahu. Tapi aku heran aja. Kok sih faedah bisa tahu ya?"


"Ah kak murni apaan sih, kakak yang kasih kabar. Sekarang mala heran!"


"Ish aku tahu dari Yuni! Aduh kalau sampai dia tahu juga kelakuan suaminya sama kamu! Aduh... Entah deh Yas."


Murni bingung memikirkan masalah orang lain.


Tyas menanggapi ucapan murni hanya dengan senyuman yang mengembang sempurna.


Setelah mendengar berita itu Tyas pulang dan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, sembari menunggu suami dan anaknya yang entah kemana jalan-jalan.


Sedang nyamannya dia berada di alam mimpi, tiba-tiba Bandi masuk ke dalam rumahnya. Melihat Tyas yang tidur dengan pintu kamar yang terbuka membuat birahi Bandi naik dan masuk kedalam ruang privasi milik adiknya.


Tyas tersadar ketika mencium aroma asing berada di dekatnya.


"Astaghfirullah haladzim!! Dasar pria bangsat!!"


Teriak Tyas, karena mendapati Bandi sudah hampir memeluk tubuhnya dari belakang tubuhnya.


"Tolong... Tolong...." Tyas berusaha lari menghindari Bandi. Tubuh mungilnya dengan lincah menghindari Bandi yang berusaha mengejar.


"Hei Tyas, diam kamu! Aku kesini cuma mau bertanya soal faedah!"


Tyas tidak memperdulikan ucapan Bandi.


Karena teriakannya tidak satupun terdengar oleh orang sekitar, maka dia memutuskan untuk berlari kerumah murni.


"Kak murni... Kak murni... Cepat buka pintunya!"


Murni yang mendengar juga tergesa-gesa membuka pintu.


Melihat Tyas yang napasnya tidak beraturan segera murni mengambilkan segelas air dan menenangkannya.

__ADS_1


"Ya Allah... Tyas kenapa sih kamu!"


"Aku nggak mau pulang kerumah, kalau mas said belum pulang kak."


Ucapnya dengan napas yang masih terus di atur.


"Kenapa! Kamu cerita yang jelas." Desak murni kepada Tyas.


Tyas menceritakan semua kejadian yang baru saja dia alami. Itu mampu membuat murni terkejut dan tentunya mengucapkan banyak kata kasar.


"Ini sudah tidak bisa di biarkan Yas. Wah bahaya banget itu. Lagian said main kemana sih sama khumay, mana sudah siang begini. Emang kamu nggak tahu Yas mereka kemana?"


Murni bertanya keberadaan suami dan anak dari Tyas.


Tidak membutuhkan waktu lama. Orang yang Tyas dan murni tunggu akhirnya tiba di halaman rumahnya.


"Ayah...." Teriak Tyas dengan suara keras. Dan dengan memainkan lima jari untuk memanggil suaminya.


Said yang mendengar langsung menghampiri istrinya dengan khumay yang digendong dibagian belakang tubuhny.


"Kamu lama banget si Yah! Nggak kasih kabar! Ponsel nggak dibawa lagi!" Cecar Tyas dengan banyak pertanyaan.


"Dari tempat kak Yani Bun? Adek khumay tadi lagi main sama Zein. Habis itu makan, pas mau di ajak pulang mala, tertidur? Ya sudah jadi ayah juga keasikan ngobrol sama bang Ian.


"Duh kamu id, istrimu hampir saja di perkosa abangmu Bandi!"


Said terdiam mendengar ucapan murni. Kabar yang ia dengar mampu membuat hatinya terluka.


Said menatap istrinya yang wajahnya terlihat pucat Pasih.


"Apa benar itu Bun!" Ucap said datar.


Tyas mengangguk perlahan wajahnya ia tegakkan dan menatap mata suaminya.


Disana ia melihat suaminya sangat marah.


Said berjalan kerumah Bandi dengan tergesa-gesa dan tangannya mengepal erat.


Tanpa permisi, said langsung masuk kedalam rumah Bandi.


Said dan Tyas melihat lemari pakaian yang sedang terbuka, yang memperlihatkan sebagian isinya yang berhamburan ke lantai.


"Ayah yakin, bang Bandi sekarang pergi dari rumah Bun!" Ucap said dengan rona wajah yang belum redup. Menandakan amarah belum menemukan pelampiasannya.


"Bunda takut, kalau harus tinggal disini yah! Sekarang apa yang harus kita bicarakan sama Ibuk, dengan keadaan bang Bandi yang seperti itu! Apa ayah bisa mengatakan kalau bang Bandi berbuat tidak baik denganku. Sementara disisi lain ibu masih terus perduli dengan dia. Bahkan sekarang ibu terus menyalahkan kak faedah, tanpa tahu cerita utuhnya."


Said diam tak lagi mampu menjawab ucapan istrinya. Bahkan dia semankin dilema untuk bertindak.


Disisi lain istrinya terluka, disisi lain dia takut ibunya kecewa atas sikap abangnya dan akan mempengaruhi kesehatannya.


"Ayah setuju untuk pindah dari sini, Bun? Tapi ayah mohon jangan dari kampung ini, cukup rumahnya saja. Kita bisa tinggal tidak berdekatan dengan bang Bandi. Ayah janji akan buat bang Bandi jera dan buat perhitungan atas sikapnya terhadap bunda."


Ada hati yang melemah saat ucapan itu dikatakan dengan sebuah janji.


Tyas hanya mampu mengangguk untuk permintaan suaminya. Dia bersyukur atas apa yang akan diperbuat oleh suaminya, karena itu adalah bentuk perlindungan suami untuknya.


"Kak faedah sudah tahu atas perselingkuhan bang Bandi dengan Mak Eko yah?"


"Ha! Ayah sudah bilang sebelumnya! Kalau tindakan bang Bandi itu tidak bisa dibiarin. Tapi bunda maksa ayah untuk ikut jaga rahasia!"


"Bunda takut kak murni dibawa-bawa yah. Karena mereka yang melihat kejadian itu, pasti akan dijadikan saksi."


Tyas takut, kebaikan murni padanya justru membawa masalah terus-menerus.


"Tapi kalau kita lapor, kalau kita minta beberapa orang untuk cari bukti. Kak murni dan bang Nanang tidak akan terseret sendiri." Ucap said kesal.


"Bunda juga memikirkan kalau dia Abang kandung ayah, yang sedarah dan yang pasti juga memikirkan ibu."


Tyas menundukkan kepala dihadapan suaminya.


"Yang salah akan tetap salah! Sekalipun itu bunda yang melakukannya!" Ucap said tegas dan berlalu mengambil ponsel dan mencari sertifikat rumah milik Bandi.


Tyas memperhatikan gerakan suaminya yang membuka map cokelat yang sudah ada ditangannya.

__ADS_1


"Ayah mau apakan sertifikat rumah bang Bandi?"


"Mau ayah jadikan senjata untuk menakuti dia. Ayah yakin dia tidak akan berani pulang dalam waktu dekat." Ucap said yakin.


Ancaman demi ancaman said kirim untuk abangnya melalui aplikasi berwarna hijau. Namun pesannya tidak mendapatkan balasan dan hanya dibaca saja.


Bahkan Said mengancam untuk jual rumah mereka, jika Bandi tidak kunjung pulang menyelesaikan masalahnya.


***


Berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan bahkan sudah hampir satu tahun Bandi hilang kabar. Terpaksa rumah dan tanah milik Bandi dijual untuk menyelamatkan perkebunan kelapa sawit milik said.


Ibu said kini jatuh sakit, karena mendengar kabar anak sulungnya dan apalagi yang sudah berbulan-bulan tidak kunjung memberikan kabar.


Ibu mana yang tidak kecewa atas perbuatan seorang putra yang menghabiskan semua perjuangan ibunda.


Ibu mana yang tidak sakit, mendengar kabar putranya yang begitu zina.


Ibu mana yang tidak menangis, melihat putranya yang meninggalkan tanggung jawab sebagai ayah.


Ibu tidak akan pernah rela melihat darah dagingnya sakit. Tapi bagaimana bisa dia mempertahankan kotoran di dalam rumahnya, yang dapat mengusik tamu lain.


"Ayah, hari ini bunda dapat kabar, katanya ibu dan kak faedah mau berkunjung kemari."


Hati said bahagia mendengar, ibu dan istri abangnya yang ingin berkunjung.


Namun kebahagiaan itu berlalu dari pikirannya. Mengingat hal-hal yang telah terjadi dengan keluarga abangnya.


"Apa kedatangan mereka ingin bahas tentang bang Bandi dan kak faedah Bun?"


Tyas mengangkat kedua bahunya. Menandakan ketidaktahuannya.


"Jangan bebankan hati ayah, kalau tidak bisa menceritakannya. Bunda akan tetap pada prinsip bunda, yang akan menceritakan semuanya.


Said menarik nafas panjang, dan menyadarkan kepalanya pada kursi berbaan pelastik yang selalu tersedia di teras samping rumah barunya.


Memandang ke... Entah. Berpikir akan dimana abangnya tinggal.


Ia meraih ponsel dari saku celananya, lalu mengirim pesan ke Abang kandungnya. Pria yang pernah menjadi pembimbing terbaik untuknya.


[Abang ada dimana? Minggu depan ibu dan kak faedah datang. Mereka akan menjual sisa hartamu.]


Said menunggu balasan, walaupun sudah sering kali dia menunggu, namun tidak pernah terbalas.


"Ayah? Minum dulu teh jahenya?" Tyas datang membawa secangkir kehangatan untuk suaminya.


"Ayah gagal menjaga harta milik ibu yang sudah diwariskan kesemua anaknya!"


Matanya berkaca-kaca, menatap langit yang awannya terus pergi dan tak pernah tahu akan hilang dimana.


"Ayah tidak gagal, Abang dan kakakmu yang gagal. Itu sebabnya Bunda masih berharap kalau ayah masih mau untuk memperjuangkannya."


Said tidak menjawab ucapan istrinya. Dia hanya mengambil secangkir teh, lalu menyesapnya sedikit dan kembali pada sandarannya sembari menatap langit kembali.


"Satu pohon tidak memiliki bentuk buah yang sama. Dari semua buah tidak semuanya terasa manis, dan tidak semuanya terasa asam. Kalaupun ada semua yang rasanya asam, maka tidak semua orang membuangnya. Pasti masih ada yang di ambil untuk di manfaatkan orang lain. Bunda harap ayah mengerti dengan ucapan bunda."


Tyas masuk, meninggalkan suaminya sendiri. Merutuki kebodohannya, merutuki ketidak tegasannya.


Karena berpikir dengan tenang juga dapat menemukan solusinya.


***


Buat pembaca....


Pernah nggak sih, kalian berada di posisi said, dimana kalian kecewa dengan orang yang memiliki darah yang sama.


Kecewa akan sikap iri dengki mereka....


Jika pembaca tidak keberatan mungkin bisa mampir kecerita aku yang lain. Yang membahas perjalanan cinta Putri Khumairah anak sulung dari Tyas dan said, yang mengidolakan sosok pemuda mapan dengan usia terpaut sepuluh tahun  lebih tua.


Cerita itu insyaallah aku lebih ke syariah alurnya. Mengajarkan tentang takdir hidup, Romansyah dan sudut pandang dari keunikan seseorang. Dan kisah Tyas tetap akan aku tuangkan tapi setelah akhir bulan


Saya harap pembaca mau meluangkan waktu untuk membaca sebagian isi di cerita ~Percaya Takdir~ di platform Fizzo

__ADS_1


Terimakasih, salam hangat buat pembaca Aku sayang kalian.


__ADS_2