
Pov: Tyas
"Yas, Id.! Tyas! Said! Ya Allah lama sekali buka pintunya" terdengar suara kak faedah memanggil namaku dan suamiku dibalik pintu belakang.
Setidaknya aku masih bisa sedikit menghilangkan kecemasanku di depan mas said. Kedatangan mas Aryo membuatku sesak, rasanya ingin aku melempar wajahnya dengan sendok sayur yang tengah kupegang. Setelah apa yang dia lakukan, dia datang kemari entah apa yang menjadi tujuannya.
Aku melangkahkan kaki cepat ke ambang pintu untuk menghampiri faedah.
"Ada apa kak! Kok teriak-teriak" saat aku bertanya wajah kak faedah sangat terlihat cemas sekali, jari-jarinya juga saling meremas.
"Itu Yas, said mana. Ini penting?! Aku bingung ngomongnya gimana" sesekali kuperhatikan matanya menelisik ke arah ruang tamu. Walaupun terlihat cemas tapi jiwa keponya masih tidak berkurang.
Tanpa aku memanggil suamiku, mas said sudah lebih dulu menghampiri, dan meninggalkan mas Aryo sendiri.
"Kenapa kak dah? Apa ada sesuatu yang terjadi." Mas said juga memperhatikan mimik wajah kak faedah.
"Hiks... hiks...hiks..., bagaimana aku jelasin semuanya.." kak faedah masih bingung bagaimana dia harus berbicara. Tapi matanya masih terus melihat keruang tamu.
Aku beranjak mengambilkannya air minum, agar dia sedikit lebih tenang. Lalu kulirik sejenak ke arah ruang tamu, dimana kak faedah masih terus awas melihat ke arah mas Aryo.
"Kak dah minum dulu? Tenang dulu?" Ku berikan gelas berisi air untuknya.
Dia menerima gelas itu lalu menenggaknya hingga habis, lalu dia mulai menarik nafas dan mengeluarkannya kembali.
"Abangmu Bandi dikejar-kejar debt colector BANK id. Sekarang abangmu lagi ngumpet?" Rasanya aku ingin tersenyum atas musibah yang menimpanya. Tiba-tiba hatiku timbul perasaan dengki terhadapnya, dengan cepat aku mengucap istighfar didalam hatiku. Aku tidak ingin syaitan merusak imanku, didalam hatiku aku terus mengucap istighfar meminta ampun kepada-NYA, tapi itu lah hati jika sudah sangat terluka, perasaan yang kotor-kotor bisa langsung datang tiba-tiba. Aku masih terus mengucap istighfar walau hati kotor itu belum pergi dari sana.
"Kenapa harus ngumpet kak dah? Selesaikan dulu baik-baik minta keringanan waktu, mereka juga tidak akan marah jika nasabahnya bisa diajak kerjasama dan mematuhi prosedur" mas said terlihat tenang sekali menanggapi kak faedah, karena benar ucapannya jika masih bisa diajak kerjasama pasti tidak akan terlalu rumit.
"Itu masalahnya id, abangmu sudah menunggak 4 bulan lebih dan selalu kabur dari masalah ini. Bukan hanya itu," kak faedah terdiam sembari menatap suamiku dengan tangannya yang masih bertaut dan kini gemetar.
"Lalu?" Tanya suamiku Menyelidik ke arah kak faedah.
"Ehm-anu-ehm yang digadaikan abangmu, kebun sawit punya kamu id." Ucapnya lemah
"Astaghfirullah halazim!!" Ucap kami bersaaman. Sungguh kami terkejut dengan berita ini, aku semangkin menyesal mendatangkan pikiran kotor itu kehatiku, walau hanya sebentar. Ternyata Allah begitu cepat membalas hati dengki ku, biarpun aku tidak menginginkan dengki itu datang.
"Kenapa gak punya bang Bandi sendiri, kenapa harus punyaku kak!!" Wajah mas said terlihat berubah, Merah seperti ingin melampiaskan kemurkaannya.
"I-itu id, ehm kebun milik abangmu sudah dijual waktu pas Ibuk datang kesini. Dan uangnya sudah habis? Jadi pakai surat kebun milikmu. Karena kebunmu kan masih atas nama abangmu" sungguh kak faedah berucap tanpa merasa bersalah, tidak mungkin dia tidak tahu akan hal ini.
__ADS_1
"Bukan berarti harus milikku yang kalian gadaikan. Arghh!!! Sudahlah kak dah, aku masih ada tamu, nanti kita pikirkan lagi. Kakak juga harus pikirkan bagaimana caranya. Kalau tidak akan aku beritahukan hal ini sama Ibuk" mas said malrah dan mengancam kak faedah. Aku tahu dia tidak akan mungkin memberikan kabar buruk kepada ibu mertua, sebab beliau sangat sensitif dan mudah sekali sakit jika terlalu banyak pikiran.
Kak faedah pulang, dan kami kembali masuk kedalam menemui mas Aryo. Sungguh hatiku kembali tegang saat ini, bagaimana tidak! Laki-laki yang bertamu adalah mantan tunanganku dulu. Dia pergi meninggalkan karena tidak ingin menikah di kampung halamanku, sebenarnya sah nikah bukan harus berada di tempat seperti apa? Namun sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara, membuat semua keluarga ingin melepaskan masa lajangku dirumah. Bahkan pihak keluargaku sudah banyak memberikan keringanan kepada pihak mas Aryo, pada saat acara lamaran di gelar di Jambi tempat dia tinggal.
Pihak mas Aryo mengatakan tidak punya banyak uang untuk mengadakan resepsi di Medan. Lalu pihak keluargaku tidak ingin melakukan resepsi, sederhana saja yang penting sah. Itulah yang selalu aku sampaikan padanya, namun dia kekeh mengikuti kata ibunya, dengan iming-iming, jika aku mau menikah dijambi, maka akan di adakan resepsi besar.
Karena aku sudah hampir 2 tahun tinggal dijambi bersama Abang nomor duaku, aku paham dengan harga dan tarif disana. Bahkan kalau aku perhitungkan lebih besar biaya resepsi di Jambi daripada di Medan. Dan jika keluarga mas Aryo mau melakukan pernikahan sederhana di Medan, masih ada sisa uang yang harus di tabung. Itulah yang selalu aku sampaikan padanya berharap dia mau mengikuti saranku.
Alih-alih dapat persetujuan, justru alasan lain dia lontarkan, berbulan-bulan aku memberikan kabar dan mempertanyakan kabar. Namun dia sama sekali tidak membalas, walaupun aku tahu pesanku sudah dibaca, tapi aku tetap tidak ingin menekannya.
Pada akhirnya dia mengatakan mundur dari hubungan itu, dengan alasan ibunya tidak ingin anaknya lupa pulang jika sudah sampai sumatera. Ya dia memang asli orang dari Jawa tengah yang merantau ke Jambi, untuk menyambung hidup. Alasan yang tidak berlogika bagiku, seketika itu aku membenci ibunya, dan dia. Orang yang pernah sangat aku rasakan kasih sayangnya termasuk ibunya.
Kini dia datang dengan alasan tidak tahu jika aku sudah menikah, justru kedatangannya kerumah kak Yani ingin melamar ku. Aku berfikir dia tidak punya komitmen dan tujuan dalam hidupnya. Apakah orang yang pergi dan hilang tanpa kabar, juga akan kembali tanpa mencari tahu kebenaran, aku tidak tahu itu. Hanya saja tujuannya datang ke rumahku bisa akan menjadi duri dalam rumah tanggaku.
Pada akhirnya kami mengobrol dan membicarakan semuanya, Alhamdulillah suamiku mas said dapat memahami dan memberikan waktu untuk dia sang pecundang menjelaskan sesuatu.
Kugenggam erat tangan suamiku agar dia merasakan bahwa hatiku hanya ada untuknya bukan lagi untuk pria lain. Alhamdulillah mas said membalas genggamanku, kami tidak perduli akan tatapan pria yang ada dihadapan kami.
"Kamu terlambat mas!" Balasku untuk penjelasannya dengan rasa kekecewaan.
"Apa karena kau sudah menikah, sehingga jawaban yang kau berikan terlambat" kini suamiku yang membalas ucapanku dengan kalimat penekanan.
"Saya rasa jawaban istri saya sudah cukup jelas. Mungkin jika anda bicara dengan Tyas untuk menungguh, saat ini bisa jadi kami belum menikah." Mas said memberikan kalimat menohok kepada mas Aryo.
"Hmm (mas Aryo berdecih dan tersenyum miring) mungkin jika saya tidak melakukan kesalahan itu, anda mungkin juga tidak akan mengenalnya" mas Aryo pun tidak mau kalah membalas sindiran dari mas said.
Setelah selesai semuanya, kami merasa lega dan dapat kembali bercanda, sampai kami lupa pada khumay yang sedang dititipkan di rumah kak Yani. Sejenak aku membathin ( jika tadi mas Aryo datang ke rumah kak Yani, bisa jadi dia sudah lihat khumay secara langsung).
Sedang asik bersenda gurau, kembali di kejutkan dengan suara kak faedah.
"Yas... Id.. cepat buka pintunya! Huuu.. huuu..." Kini suara kak faedah sudah terisak-isak beda dengan sebelumnya.
Kami saling memandang dan baru teringat akan masih ada masalah yang sempat kami lupakan, aku sedikit cepat melangkahkan kaki untuk menghampirinya, begitupun mas said.
Huuu...huuu... Bagaimana ini said?" tangis Kak faedah di depan suamiku.
Heran saja lihatnya, sudah dapat masalah baru mohon-mohon. Kenapa gak sadar sama ucapannya selama ini. Kami masih terdiam menunggu dia menjelaskan lebih banyak lagi.
" Debt collectornya datang lagi, katanya mau sita kebunnya id," sontak kami berdua terkejut dan berjalan mengikuti langkah kak faedah untuk kerumahnya.
__ADS_1
"Maaf! Apa bapak orang kedua yang bertanggung jawab dengan hutang pak Bandi." Ucap pria tegap di ruang tamu milik kak faedah.
"Maaf pak, Abang saya masih hidup, jadi saya tidak ingin bertanggung jawab soal ini, saya akan rundungkan dulu kepada kakak ipar saya" kini mas said memberikan kode kepada kak faedah untuk mengikutinya kebelakang.
"Kak dah, kemarikan surat tanah rumah ini.!" Ucap mas said membentak kak faedah.
"Loh gak bisa gitu id, itu milik kami, satu-satunya harta sekarang!" Tolak kak faedah.
"Kalau begitu bersiaplah kalian masuk penjara, karena suamimj pergi menghindari ini semua" mas said terlihat menakut-nakuti kak faedah.
"Kan bisa ambil kebun kamu aja id, jadi gak perlu masuk penjara,!" Astaga mulut kak faedah benar-benar membuat orang emosi. Dia tidak ingin hartanya habis, tapi dia membiarkan harta orang lain habis atas prilakunya dan suaminya.
"Oke kalau begitu, di surat utama milik ibu itu sudah tertera jika kebun itu milik aku, bersiap lah masuk ke sel tahanan" mas said ingin berlaku pergi, namun dicegah oleh kak faedah.
"Jangan!! Ya Uda aku ambilin dulu suratnya" wow ternyata gertakan mas said mampu membuat mentalnya turun. Aku masih belum paham, surat utama yang sudah dipecah apakah bisa di jadikan senjata.
Tidak lama kak faedah keluar membawa surat tanah miliknya.
"Ini id, tolong jangan sampai itu habis?" Kak faedah memohon kepada mas said dengan tangan yang hampir tidak rela melepaskan surat tersebut.
"Sekarang mana perhiasan kakak!" Kini mas said terlihat seperti seorang pemalak dihadapan kakak iparnya. Sementara aku tidak ingin ikut campur urusan itu, karena aku yakin mas said mampu menanganinya.
"Kenapa harus perhiasan lagi?" Kak faedah memelas.
"Apakah mau surat tanah ini yang terancam!!" Bentak mas said. Mendapatkan gertakan itu kak faedah kembali masuk membawa perhiasannya.
Setelah mas said menerima semuanya, mas said datang menemui pria yang mengaku debt collector tersebut.
"Maaf pak, lama menunggu. Jadi begini pak, kebetulan tanah itu sebenarnya milik saya, dan saya tidak tahu kalau sudah di gadaikan. Jadi ini saya ingin meringankan cicilannya agar tidak menumpuk bunga. Tapi ini masih berupa emas, apa bapak bisa ikut saya ke toko mas dan kita selesaikan di kantor saja." Mas said mengajukan solusinya, kebetulan tokoh mas tersebut tidak jauh dari BANK tersebut.
"Kak dah, ayo kita ke tokoh mas, " ajak mas said lalu di anggukkan oleh kak faedah.
"Ayah, bunda dirumah aja ya, takut khumay di antarin, kasian kalau gak ada orang dirumah" ucapku pada mas said yang sudah melangkah keluar rumah.
Dari arah depan rumah aku lihat kak murni sudah datang menghampiri, namun kak faedah berusaha menghindari, sembari menundukkan kepalanya.
"Loh kok ada orang BANK sih? Wah ada yang cairan ni, Ya kan Yas?" Kak murni memandang ke arahku. Sementara kak faedah juga langsung memandangku dan menggeleng kecil.
Aku menatap keduanya bergantian.
__ADS_1
"Ihhh kak murni kepo. Ini itu bukan cairan, tapi...." Gantungku.