Irama SMA

Irama SMA
Episode 10


__ADS_3

Pagi ini Laisa Sampai di sekolah lebih pagi. Dikelas hanya ada beberapa orang saja termasuk Kelvin yang sudah ada dikelas pagi ini.


"Pagi Lais" sapa Kelvin dari belakang


"Pagi" jawab Laisa tanpa menoleh ke belakang


Perlahan beberapa orang yang ada di kelas mulai keluar untuk pergi ke kantin, mungkin mereka akan sarapan.


Laisa menatap satu persatu teman-temannya yang keluar. Ada perasaan yang membuatnya tidak nyaman dengan kepergian mereka dan kehadiran Kelvin yang ada di belakangnya.


Laisa berusaha untuk acuh dan hanya memasangkan earphone ditelinga nya.


Degg. Tiba-tiba saja Kelvin duduk di kursi Zidny yang tepat ada didepan meja Laisa dan menghadap ke arah Laisa. Laisa berusaha terlihat biasa saja dan kemudian melepaskan satu earphonenya.


"Kenapa?" Tanya Laisa


"Gakpp. Cuma pengen liat kamu aja" jawab Kelvin dengan tatapan dan senyum menyeringai yang tak Laisa sukai.


"Mau ke kantin dulu" kata Laisa ketakutan


"Disini aja kali kan ada gue yang temenin" kata Kelvin. Mungkin itu kata-kata biasa saja tapi bagi Laisa kata-kata biasa yang keluar dari mulut laki-laki semuanya terasa menjijikan walaupun itu tidak berlaku untuk Altar.


Tanpa mempedulikan kata-kata Kelvin Laisa berdiri dan hendak pergi namun tangan Kelvin menggenggam erat tangannya yang membuat Laisa langsung geram dan ketakutan.


"Lepas" teriak Laisa dan Kelvin mengerutkan dahinya dengan masih menggenggam tangan Laisa.


"Lo kenapa?" Tanya Kelvin keheranan melihat Laisa yang marah dengan nafas yang tersengal sengal


"Lepas" sekali lagi Laisa mengatakan itu kepada Kelvin yang menggemggam tangannya semakin erat dengan nafas seperti akan habis.


"Lo gak denger dia bilang lepas?" Tanya Altar santai yang baru saja datang dan melepaskan tangan Kelvin dengan kasar.


Laisa segera pergi keluar kelas meninggalkan Altar yang kemudian menyusulnya dengan Kelvin yang masih kebingungan ditempatnya.


Altar berlari mencari kemana Laisa pergi setelah sempat membeli minum tapi rupanya Altar tau Laisa akan pergi ke taman samping sekolah. Altar segera menuju kesana dan mendapati Laisa yang duduk di sebuah bangku kayu dengan nafas tersengal.


"Kamu gakpp?" Tanya Altar tapi Laisa tidak menjawab dia hanya terus berusaha untuk bernafas normal "minum dulu." Lanjut Altar menyodorkan botol air yang dia pegang. Namun Laisa tetap diam dengan mata terpejam dengan nafas yang belum kembali normal


"Yaudah ayo ke UKS" kata Altar dan berdiri. Laisa menggelengkan kepalanya lalu berusaha berdiri dan langsung memeluk Altar, menenggelamkan setengah wajahnya di leher samping Altar.


"Sorry" ucap Laisa lirih


"Saya disini" kata Altar memeluknya balik.


Keadaan Laisa sudah jauh lebih baik. Dia sudah jauh lebih tenang.


"Mau pulang?" Tanya Altar


"Ke kelas aja." Jawab Laisa


"Mending ikut saya."


"Kemana?" Tanya Laisa


"Ya ikut aja. Cuma sama saya kan kamu gak takut?"


"Asal jangan aneh-aneh aja." Jawab Laisa dan Altar hanya tersenyum lalu berdiri dan berjalan diikuti Laisa.

__ADS_1


Altar berjalan masuk ke area kantin setelah sebelumnya menoleh ke arah Laisa yang kebingungan. Laisa diam di ambang pintu kantin melihat Altar yang memasukan beberapa makanan dan air kedalam kantong plastik lalu kembali dan menggenggam tangan Laisa lalu berjalan kembali.


Setelah menaiki banyak anak tangga akhirnya Laisa dan Altar sampai di atap gedung sekolah.


"Ngapain kesini?"


"Ya diem aja disini. Lebih enak mumpung mataharinya belum muncul."


"Aneh-aneh aja deh" kata Laisa sambil berjalan melihat kebawah dari puncak lantai empat sekolahnya.


"Lumayan bagus kan?" Tanya Altar


"Iya. Hah....." Laisa menarik nafas panjang menikmati udara pagi diatas ketinggian membuat Altar tersenyum. "Kamu sering kesini?" Tanya Laisa


"Tentu"


"Kalo bolos pasti disini yah?" Tebak Laisa


"Haha kata siapa hemh? Nggk ah."


"Ya nebak aja"


"So tau, kamu harus tau. Kalo saya bolos saya pasti dirumah saja. Itu fakta pertama dan yang kedua saya bolos kalo tawuran" kata Altar


"Hemmhhh kenapa si harus tawuran? Kalo punya masalah tuh ya omongin baik-baik aja. So jagoan tau gak."


"Lah emang saya jagoan"


"Massa?" Tanya Laisa dengan nada dibuat-buat


"Terus?" Tanya Laisa


"Ya kalo orang pake otot kenapa juga kita harus pake otak? Bukan hanya tentang siswa Brengsek, brandal dan semacamnya tapi pembelaan sebuah harga diri itu sedang memuncak dimasa sekarang. Ngerti kan maksud saya gimana?"


"Iya iya. Yaudah terserah kamu. Tapi kan bahaya. Kalo kamu kenapa-napa gimana? Kebacok apalah segala macem. Kalo kek gitu gimana? Jujur yah aku benci kekerasan."


"Kamu khawatir?" Tanya Altar dan Laisa salah tingkah


"Ya... Ya iya. Kan emang gitu kan bukan cuma buat kamu tapi buat semua orang yang tawuran tuh kan resikonya gitu jadi..."


"Jadi apa?" Tanya Altar membungkukan badannya yang tinggi untuk melihat lebih dekat wajah Laisa yang berbicara gelagapan


"Jadi.. jadi ya bahaya aja ih kenapa si ngeyel" kata Laisa dengan jantung yang berdetak lebih kencang melihat wajah Altar yang tak jauh dari wajahnya.


"Oh gitu yah?" Tanya Altar masih dengan posisi seperti itu


"I...iya gitu" kata Laisa "ah aku pegel aku mau duduk" lanjutnya dan pergi menuju sebuah kursi kayu dengan perasaan anehnya. Altar tersenyum lalu mengikuti Laisa


"Oke... Ayo makan ini" kata Altar dan mengeluarkan semua makanan ringan dan air yang sengaja dia beli. Dan keduanya mulai memakannya.


"Jadi kamu sering kesini kalo apa?" Tanya Laisa


"Ya kalo pengen aja." Jawab Altar


"Oh... Eh Al Bunda malem bilang apa tentang aku ke kamu?" Tanya Laisa


"Tentang kamu"

__ADS_1


"Apa?"


"Kamu"


"Iya apa?"


"Rahasia"


"Diihhh. Bunda cerita apa ih?" Tanya Laisa tapi Altar hanya diam mengunyah makanannya lalu tersenyum. "Ah nyebelin"


"Jadi kamu ngerasa baik-baik aja kalo sama saya?" Tanya Altar tiba-tiba


"Maksudnya?"


"Itu yang saya bicarakan sama bunda." Jawab Altar


"Traumaku?" Tanya Laisa dan berdiri


"Yahh kenapa? duduk duduk."


"Bunda bilang apa?" Tanya Laisa panik


"Kamu punya trauma. Intinya kamu gak bisa dekat-dekat dengan cowok dan kekerasan fisik." Jawab Altar. Laisa tertunduk


"Lah kenapa?" Tanya Altar


"Gakpp. Iya itulah keadaan aku sekarang. Maaf karena entah kenapa cuma sama kamu aku ngerasa baik-baik aja perihal laki-laki"


"It's oke saya seneng ko" jawab Altar


"Maksudnya?"


"Saya seneng berarti kamu gak bakalan sama cowok lain. Kan saya sudah bilang saya jatuh cinta sama kamu sejak hari itu. Dan dengan ini saya yakin suatu saat kamu bakalan jadi milik saya" jelas Altar girang


"Kamu ngemanfaatin situasi ini?" .


"Ya iya apalagi yang harus saya lakukan selain ngemanfaatin nya? Saya beruntung bisa terus deket dan ngejaga kamu. Tanpa membuat kamu risih"


"Dasar"


"Jadi kapan kita jadian?"


"Hah?"


"Iya jadian."


"Ngaco deh Al"


"Lah ko ngaco?"


"Udah deh ah" kata Laisa dengan pipi mulai memanas dan Altar hanya tersenyum gemas.


Kamu tau? Sejak semalam aku sudah memutuskan untuk berubah menjadi orang yang akan membiarkan harga dirinya jatuh jika ditantang tentang perkelahian. Semuanya demi kamu. Demi kamu yang harus merasa aman nyaman damai dan tentram di sampingku. Batin Altar


Bukan hanya tentang trauma nya saja Al tapi tentang harga diri dan martabatku sebagai seorang wanita yang sudah direnggut **** gila. Setelah nanti kamu tau. Apa kamu masih mau denganku?" Batin Laisa


🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2