Irama SMA

Irama SMA
Episode 21


__ADS_3

Hari ini Laisa brangkat lebih pagi ke sekolah sudah dua hari Laisa berusaha meng acuhkan Altar karena kesal dengan prilaku Altar yang menurut Laisa dia misterius, menurut Laisa ada banyak hal yang Altar sembunyikan darinya, Laisa juga tidak merasa ada hak untuk itu tapi jauh dalam hatinya dia ingin Altar berbagi dengannya, dia ingin Altar bisa membagi apapun yang membuatnya tidak nyaman atau beban.


Hari pertama Laisa sengaja berangkat pagi, dan setelah pulang sekolah ibu Laisa mengatakan Altar sempat datang untuk berangkat bersama seperti pagi-pagi sebelumnya.


Dikelas Laisa hanya seperlunya, ditambah sudah tiga hari Laisa di biarkan bebas jam pelajaran untuk latihan festival band yang memang biasa diadakan setiap tahunnya. Altar mulai menyadari sikap Laisa yang memang membuatnya tidak nyaman sama sekali. Altar hanya bisa melihat Laisa dari warung yang tak jauh dari gerbang, rasanya dia ingin mengajak Laisa pulang tapi Altar tau Laisa akan menolaknya. Sebenarnya Altar ingin menjelaskan semuanya tapi ada yang lebih Altar takutkan dan akan berakibat fatal pada akhirnya.


"Pagi Laisa" sapa Zidny kemudian disusul Sinta yang baru saja datang.


"Pagi gengs" jawab Laisa dengan jahil.


"Hari ini Latihan juga?" Tanya Sinta


"Iya, ini udah tinggal 2 hari lagi kan acaranya, jadi harus bener-bener mateng." Jawab Laisa


"Semangat yah Laisa" potong seseorang yang baru saja datang. Itu Altar.


"Makasih" jawab Laisa dengan seulas senyum.


"Iya Lais, semangat" kata Mario dan Kelvin yang mengacungkan tangannya lalu menekuknya tanda semangat.


"Sahabat gue pasti semangat" sambung Zidny.


"Oke oke makasih yah temen-temen. Pokonya nanti kalian harus dateng" kata Laisa dan semuanya mengacungkan jempol nya.


Sedari tadi Altar hanya memperhatikan Laisa dengan seksama sambil memiliki niat untuk menjelaskan semuanya kepada Laisa.


Laisa yang menyadari tatapan Altar sedari tadi, berusaha untuk menghindar dan bersiap untuk segera pergi ke ruang latihan, lalu pamit kepada semuanya.


"Guys gue pergi latihan dulu yah" kata Laisa.


"Gue ikut pelajaran pertama dulu terus nyusul soalnya belum nyiapin dekorasi panggung" kata Zidny yang merupakan crew dari acara yang akan diadakan dan Laisa mengacungkan jempolnya.


Kata semangat terlontar dari teman-teman kelas Laisa dan Laisa menanggapinya dengan senyuman lalu ucapan terimakasih.


☘☘☘


Sudah ada Neta, Bintang dan semua yang terlibat didalam acara ini, bukan hanya tentang latihan yang akan ditampilkan tapi semuanya bersiap untuk mempersiapkan semuanya karena tahun ini adalah tahun yang menjadikan sekolah Laisa sebagai tuan rumah.


Festival ini akan diadakan di lapang utama sekolah, dan akan dimulai pukul 7 malam sampai dengan selesai. Akan ada banyak bintang tamu yang tak lain adalah band band dari sekolah lain yang menjadi partner kerjasama dalam acara festival band ini setiap tahunnya.


"Neta, soal panggung gimana?" Tanya Bintang

__ADS_1


"Oke itu udah siap" jawab Neta.


"Oke deh sip" kata Bintang.


Semua crew yang diambil dari sebagian anak OSIS juga ikut sibuk mempersiapkan semuanya. Acara dengan bintang tamu rahasia ini sangat dinantikan oleh seluruh siswa.


"Ini bintang tamu udah siap?" Tanya Neta.


"Gak usah pake bintang tamu segala lah, kan ada gue Bintang pribumi" kata Bintang receh.


"Receh bangs*t" cibir Neta dan semuanya hanya tertawa.


Laisa yang baru saja selesai latihan ikut bergabung bersama mempersiapkan semuanya. Laisa sedikit canggung dengan Neta, walaupun sebaliknya begitu tapi Neta berusaha untuk bersikap seperti biasanya saja, padahal jauh dalam hatinya dia sangat malu dengan apa yang dikatakan Altar kepadanya hari itu. Bagaimanapun dia sadar bahwa apa yang dia lakukan kepada Laisa itu terlalu berlebih, terkesan sangat


norak dan kekanak-kanakan.


Laisa duduk lalu dihampiri Bintang dengan dua botol air putih.


"Nih buat biduan" kata Bintang.


"Makasih kak" jawab Laisa dan langsung meneguknya setelah Bintang mengangguk.


"Hah? Kata siapa? Nggk ko." Jawab Laisa.


"Masa?"


"Iya. Kenapa kak Bintang bisa nanya gitu? Emang ada yang bilang?"


"Gak ada si, nebak aja."


"Oh berarti tebakannya salah" jawab Laisa.


"Tapi kayanya Altar emang jatuh cinta sama kamu"


"Atas dasar apa kakak bilang gitu."


"Banyak lah"


"Banget?"


"Iya"

__ADS_1


"Sampe gak bisa nyebutin?"


"Iya" jawab Bintang.


"Udah kaya ngapal nama kuman aja saking banyaknya gak bisa nyebutin." Cibir Laisa.


"Haha kalau soal biologi percaya lah itu hanya alasan aslinya itu gak ngapalin. Eh tapi Altar baik ko Lais, walaupun dia nyebelin, tukang bikin onar, sering tawuran, pernah dua kali di skors. Tapi dia nakal wajar kan itu. Maksudnya ya dia gak nakal sampe nge drug kan nggk jadi gue tau dia baik. Oke ini bukan promosi tapi gue ngungkapin sesuatu hal yang baik aja tentang temen gue, eh lebih tepatnya tentang tetangga gue." Kata Bintang. Laisa hanya manggut-manggut lalu dahinya membuat lipatan setelah mendengar Bintang adalah tetangga Altar.


"Kak Bintang tetanggaan sama Altar?"


"Iya, gue juga liat pas Lo datang sama Zidny pas Altar sakit bela-belain nyuruh satpamnya jadi supir, padahal gue ada diatas liatin kalian. Lo panik bener si pas itu." Kata Bintang.


"Ya ampun Kak Bintang tau gitu aku panggil kak Bintang buat supirin. Lagian masa iya liat temennya pingsan aku gak panik ya panik, Zidny juga."


"Hahaha oke oke. Bukannya gue gak mau supirin pas itu, tapi Altar ngedip-ngedip terus kaya ngasih kode gitu."


"Maksudnya?"


"Intinya Altar pura-pura pingsan"


"Serius?"


"Iya, oke dia emang sakit, tapi pas kamu bopong sama Zidny dia ngedip-ngedip ke gue yang lagi dilantai dua rumah gue yang ada disebrang rumah dia."


"Ko jail banget si Altar"


"Hahaha namanya juga Altar. Dan oh oke salah satu dari sekian banyaknya alasan sampe gue nyimpulin dia suka sama Lo tuh itu."


"Altar yang pura-pura pingsan?"


"Hahaha bukan itunya, Lais, sejail apapun Altar kalau harus pura-pura pingsan biar dibopong dua cewek itu gak penting banget, intinya dia lagi cari perhatian kamu, itu aja tuh udah bukan Altar banget" jelas Bintang dan sedikit demi sedikit Laisa mengerti.


"Ko gitu."


"Ya faktanya gitu" jawab Bintang sambil cekikikan merasa lucu dengan ekspresi-ekspresi yang diperlihatkan Laisa menanggapi cerita Bintang soal Altar.


Sejak tadi Laisa memang mengerti dengan semua yang diceritakan Bintang, tapi Lais tidak ingin berfikir terlalu jauh sampai harus memikirkan ke hal yang lebih jauh lagi, dia terlalu takut berharap. Setiap kali ingin berharap fikiran Laisa jauh melayang memikirkan hal buruk dimasa lalunya dan itu membuat kepalanya sakit sampai seketika Laisa pingsan disamping Bintang yang sedang mengecek handphonenya mendapatkan pesan dari Malvin yang hari ini tidak hadir karena kurang enak badan.


"Laisa? Lo kenapa?" Bintang yang panik tanpa sadar menjatuhkan handphonenya bagitu saja.


☘☘☘

__ADS_1


__ADS_2